12.6.12

Klab Filsafat Tobucil : Kerancuan Berpikir dan Logika Keseharian


Senin, 11 Juni 2012

Klab Filsafat Tobucil, atas saran Ping, sebaiknya ditambah bobotnya dengan diberi asupan semacam “teori tentang berdikusi”. Setelah dirundingkan, maka Syarif ditunjuk sebagai pemasalah dengan topik mengenai kerancuan berpikir.

Permasalahan kerancuan berpikir ini berkaitan dengan salah satu cabang filsafat yakni logika. Kerancuan berpikir yang dibahas lebih berkaitan dengan obrolan sehari-hari, atau disebut juga street-fighting logic. Intinya, suatu pernyataan menjadi rancu jika premis-premis yang diajukan tidak relevan, tidak nyambung, atau terlalu terburu-buru. Inilah beberapa bahasan yang dikemukakan (sumber disajikan dari buku Arief Sidharta berjudul Logika: Pengenalan Medan Telaah, disertai contoh-contoh yang sebagian diambil dari diskusi kemarin):

·         Ignorantio elenchi (Irrelevant conclusion/ konklusi tidak relevan)
Jika sebuah argument yang sesungguhnya dimaksudkan untuk mendukung sebuah kesimpulan tertentu, namun diarahkan dan digunakan untuk membenarkan kesimpulan yang lain. Contoh: Untuk membuktikan seorang tersangka itu bersalah, seorang jaksa malah membuktikan bahwa perkara pembunuhannya berlangsung secara keji dan biadab.
·         Argumentum ad Baculum (Appeal to force/ merujuk kekuatan)
Orang mendasarkan diri pada kekuatan atau ancaman penggunaan kekuatan memaksakan agar sebuah diterima atau disetujui. Contoh: “Saya ini pimpinan parpol, pernyataan bahwa kami ini selalu bersih, sudah pasti benar!”
·         Argumentum ad Hominem (Abusive)
Kerancuan ini terjadi jika suatu argumen diarahkan untuk menyerang pribadi orangnya, khususnya dengan menunjukkan kelemahan atau kejelekan orang yang bersangkutan, dan tidak berusaha untuk secara rasional membuktikan bahwa apa yang dikemukakan orang yang diserang itu adalah salah. Contoh: “Pandangan filsafat Bacon tidak dapat dipercaya karena ia pernah dipecat dari jabatannya sebagai akibat dari ketidakjujurannya (korupsi).”
·         Argumentum ad Hominem (Circumstantial)
Kerancuan ini terjadi, jika sebuah argument diarahkan pada pribadi orangnya dalam kaitan dengan situasi (keadaan) orang itu sendiri. Misalnya: “Tentu saja ia tidak akan setuju jika izin baru untuk membuka sebuah Nite Club diberikan, karena ia adalah seorang pendeta (ulama).”
·         Argumentum ad Ignorantiam
Kerancuan ini terjadi, jika sesuatu hal dinyatakan benar semata-mata karena belum dibuktikan bahwa hal itu salah, atau sebaliknya. Contoh: “Rudi adalah seorang homoseksual, bukan karena kita pernah memergoki ia berhubungan dengan pria, tapi semata-mata kami tidak pernah melihat ia bersama seorang wanita pun.”
·         Argumentum ad Misericordiam (Appeal to Pity; Menggugah Rasa Iba)
Kerancuan ini terjadi, jika rasa kasihan digugah untuk mendorong diterimanya atau disetujuinya suatu kesimpulan. Misalnya: “Cep, belilah semangkuk baso yang mang jual ini, kasihan anak mang belum makan.”
·         Argumentum ad Populum
Kerancuan ini terjadi jika orang berupaya untuk mengemukakan dan memenangkan dukungan untuk suatu pendapat (pendirian) dengan jalan menggugah perasaan atau emosi, membangkitkan semangat berkobar-kobar, membangkitkan rasa ingin memiliki yang menyala-nyala pada massa rakyat. Contoh ketika Italia juara dunia 2006, tapi di waktu yang sama diadili karena kasus calciopoli, pengacaranya membela seperti ini: “Mari kita kembali ke zaman Romawi Kuno, barangsiapa yang memberi kehormatan, maka ia patut mendapatkan kebebasan.”
·         Argumentum ad Verecundiam
Kerancuan ini terjadi jika usaha untuk memperoleh pembenaran atau dukungan atau kesimpulan dilakukan dengan jalan mendasarkan diri pada kewibawaan orang terkenal. Kerancuan ini terjadi, jika sebuah pendapat diajukan atas dasar pendapat orang yang terkenal namun yang keahliannya terletak di bidang lain. Misalnya: Iklan shampoo diyakinkan kualitasnya oleh seorang Cristiano Ronaldo.
·         False Cause (Kausa Palsu)
a.       Non Causa Pro Causa: Kerancuan ini terjadi jika sesuatu yang bukan sebab dinyatakan sebagai sebab dari sesuatu hal. Misalnya: Sejak Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris, Ekonomi Inggris mengalami krisis; jadi, wanita memang penyebab krisis ekonomi.
b.      Post Hoc Ergo Propter Hoc: Argumen yang menarik suatu kesimpulan bahwa suatu kejadian adalah sebab dari terjadinya suatu peristiwa tertentu semata-mata berdasarkan alasan bahwa kejadian yang disebut pertama itu terjadi lebih dahulu dari peristiwa tertentu tersebut. Contoh: Gempa terjadi di Aceh setelah Perdana Menteri Inggris datang ke Indonesia. Kata media Arrahmah.com, Perdana Menteri Inggris tersebut membawa gempa datang ke Indonesia.
·         Complex Questions (Pertanyaan Majemuk)
Kerancuan ini terjadi jika diajukan sebuah pertanyaan majemuk tetapi kemajemukannya tidak diketahui atau dikaburkan dan untuk pertanyaan tersebut hanya dituntut sebuah jawaban tunggal. Misalnya: “Apakah uang curian itu kamu gunakan untuk membeli sesuatu?” “Tidak,” “Nah, artinya kamu benar mencuri kan?”

Beberapa contoh kerancuan berpikir di atas membawa peserta Klab Filsafat Tobucil pada diskusi yang cukup menarik. Misalnya, kenyataan bahwa iklan-iklan di televisi memang menggunakan argumentum ad verecundiam untuk membuat produknya laku. Luis Figo untuk iklan Kacang Dua Kelinci misalnya, memang tidak relevan, namun tidak bisa dibilang rancu juga karena yang dimaksudkan si iklan adalah soal popularitas Luis Figo, bukan tingkat kepakarannya dalam menilai kualitas kacang.

Artinya, kerancuan ini terdapat dalam keseharian kita. Atau bahkan hidup tidak menarik jika tidak ada kerancuan berpikir dalam obrolan sehari-hari. Atau malah, hidup itu sendiri, sudah merupakan kerancuan! Apapun itu, Kape mengandaikan bahwa logika itu bersifat “dingin”, sedangkan perasaan itu bersifat “hangat”. Kehidupan yang dijalani dengan terlalu menggunakan rasio, akan menjadi “garing” alih-alih dinamis. Itu sebabnya, Kape menambahkan, bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan seni, salah satu tujuannya mengkontrakan logika dan lebih banyak bermain rasa. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin