Senin, 4 Juni 2012
Sepertinya akan menjadi rutin, Klab Filsafat Tobucil menyisihkan satu
kali dalam sebulan untuk bergabung dengan Layarkita. Layarkita adalah semacam
forum yang rajin mengadakan acara nonton dan apresiasi film bareng di beberapa
tempat di Bandung.
Kebetulan jadwal penyelenggaraannya adalah sama dengan Klab Filsafat Tobucil
yakni hari Senin. Senin kemarin, Klab Filsafat Tobucil berbondong-bondong
kumpul di Auditorium IFI Bandung
oleh sebab Layarkita memutar film yang cukup penting: Blue Kite (1993).
Blue Kite adalah film yang menceritakan tentang program-program
Republik Rakyat Cina ketika Mao Zedong berkuasa. Menariknya, Blue Kita berkisah
dari sudut pandang seorang anak kecil bernama Tietou. Film berdurasi 140 menit
tersebut membagi ceritanya menjadi tiga bagian, yakni father, uncle, dan stepfather. Judul itu mencerminkan sosok
ayah yang menjadi bagian dari keluarga Tietou (Ibunya menikah tiga kali). Pada tiga
“periode ayah” itu pula, tercermin tiga periode kebijakan politik RRC dan
dampaknya pada keluarga Tietou.
RRC di masa Mao, kata sang
pembahas di akhir acara yaitu Bapak Ronny P. Tjandra, memang dipenuhi
eksperimen politik. Semasa baru berdiri, setelah menggulingkan kaum nasionalis
pimpinan Chiang Kai Sek, RRC menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet pimpinan
Joseph Stalin. Terlihat di bagian father, pernikahan yang kelak melahirkan
Tietou, sempat diundur sepuluh hari karena hari-H nya bertepatan dengan
wafatnya Stalin. Setelah ayah kandung wafat karena dieksekusi pemerintah,
ibunya menikahi seseorang yang dipanggil Tietou sebagai “paman” (Ia adalah
kawan dari ayah kandung). Paman itu sendiri meninggal karena sakit, sekaligus
kelelahan akibat program pemerintah yang kala itu memang menguras tenaga
rakyat, yaitu Great Leap Forward.
Great Leap Forward adalah program yang dicanangkan pemerintah untuk
meningkatkan produksi baja. Dengan mengerahkan tenaga rakyat, produksi baja
memang meningkat pesat. Namun efeknya juga adalah kelaparan dan kelelahan
massal. Sedangkan pernikahan terakhir sang ibu, adalah pernikahannya dengan
seorang tua yang sepertinya pejabat. Pernikahan ini bukan didasari cinta, melainkan agar Tietou selamat dari
kemiskinan. Namun ayah angkatnya itu sendiri kemudian dieksekusi karena
dianggap bertentangan dengan nilai-nilai dari program pemerintah terbaru:
Revolusi Kebudayaan.
Meskipun hampir seisi film berisikan dialog, namun bagi mereka penyuka
sejarah pergolakan Cina, rasanya Blue Kite sama sekali tidak membosankan. Ini
terlihat dari diskusi yang cukup ramai di akhir acara nonton bareng yang
disaksikan sekitar tiga puluh orang itu. Albert Liang, yang juga aktif di Klab
Filsafat Tobucil, mencermati adanya satu lagu dalam film tersebut yang berisi
tentang harapan. Konten dari lagu tersebut menjadi amat mendalam jika dikaitkan
dengan konteks film itu sendiri yang bagi tafsir Pak Ronny bertitik berat pada
adegan layangan. Sesuai dengan judulnya, Blue Kite memang beberapa kali
menyajikan adegan layangan biru yang tersangkut di pohon. Seolah-olah, kata Pak
Ronny, ”Ada harapan ketika layangan itu diterbangkan. Semacam harapan terhadap
keberhasilan program pemerintah, namun biasanya yang terjadi malah tersangkut.”
Meski demikian, hubungan Tietou dengan ibunya bisa juga dianggap sebagai
kontra-ideologi terhadap Revolusi Kebudayaan. Pada masa itu, yang diberangus
oleh Revolusi Kebudayaan salah satunya adalah hubungan orangtua dan anak yang
dianggap sebagai perwujudan nilai-nilai Konfusianisme. Konfusianisme mesti
dihapuskan karena pemerintah ingin mengganti seluruh fondasi rakyatnya dengan
Komunisme. ”Orangtua menyayangimu, tapi ketua Mao menyayangimu lebih,” demikian
slogan yang sering didengungkan di jalan-jalan. Namun hubungan Tietou dan
ibunya sekadar menunjukkan, bahwa kehangatan ibu dan anak semacam ini masih
berharga, tidak bisa dipisahkan oleh program pemerintah apapun.
Bookmark this post: |

No comments:
Post a Comment