Minggu, 1 Juli 2012
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum
Narasumber: Rahardianto
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Pk. 15.00 - 17.00
Gratis dan Terbuka untuk Umum
Narasumber: Rahardianto
Salah satu genre musik yang sudah cukup familiar di telinga banyak
orang. Sekitar akhir tahun 90an, ska mengalami booming luar biasa di
Indonesia, kembali ke masa itu, ska bukan hanya menjadi konsumsi mereka
yang berada pada zona subkultur, tetapi juga menjadi konsumsi mainstream
sebagaimana boyband/girlband saat ini.
Sebagaimana musik yang laku
secara musiman (baca: trend), ska pun punah di tahun kedua eksistensi
mereka di media elektronik lokal. Tidak sedikit yang menyebut bahwa
musik ini hanyalah sekedar musik musiman, yang bahkan hingga detik ini,
hamper tidak pernah lagi terdengar gaungnya. Lalu benarkah ska
hanyalah sebuah genre musiman? Untuk di Indonesia, fenomenanya memang
demikian. Hal yang berbeda adalah ketika melihat ke akar kemunculannya,
Ska bukanlah genre musik tahun 90an, gelombang pertamanya sudah muncul
sejak akhir 1950an di Jamaica, bahkan sebelum kemunculan Reggae.
Dalam perkembangannya, ska telah banyak berevolusi bahkan hingga bentuk
yang sama sekali berbeda dengan embrio nya. Perkawinan silang sebagai
proses akulturasi dengan genre musik lain pun telah dilakukan sepanjang
perjalanannya, yang melahirkan belasan bentuk baru, lengkap dari yang
masih membawa gen nenek moyangnya hingga yang terdengar sebagai sebuah
genre musik yang sama sekali baru.
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment