10.7.12

Kelas Filsafat Manusia (Penutupan): Apakah Manusia Masih Pusat Segala Sesuatu?

Selasa, 10 Juli 2012



Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan keempat ini memang secara kuantitas tidak sebergairah angkatan-angkatan sebelumnya. Pesertanya bertiga, itupun yang hadir kerapkali timbul tenggelam. Yang rajin datang hanya satu, namanya Jae Aditia. Namun hal tersebut tidak menyurutkan kedua tutor, yakni Rosihan Fahmi dan Syarif Maulana untuk tetap menyelesaikan proyek yang sudah dijanjikan, yakni buku kecil yang isinya adalah hasil refleksi peserta. 

Pertemuan pamungkas, Kang Ami lebih banyak mengajak refleksi ketimbang memaparkan teori. Katanya, “Setelah memahami manusia dari jaman Yunani, Abad Pertengahan, Renaisans, hingga Posmodern dan menyeberang ke Timur, apakah Jae akan memilih salah satunya?” Jae menggeleng. “Apa yang akan Jae lakukan?” tanya Kang Ami kembali, seperti dialog Plato dan Sokrates. “Tergantung situasi,” jawab Jae. Jawaban tersebut memberi kesimpulan bahwa Jae cukup memahami apa yang sudah dipelajari dalam tujuh pertemuan: Bahwa manusia adalah makhluk yang menjadi terus menerus. Mempelajari manusia Renaisans bukan berarti kita harus membekukan diri dalam figur manusia semacam itu, pun dengan hal yang lainnya. 

Ada suatu paradigma yang rasanya bisa diusangkan, yakni manusia sebagai sentral segala sesuatu (seperti yang didengungkan Rene Descartes dan pemahaman Renaisans). Hal tersebut, dibahas Kang Ami, menjadikan manusia dan alam terpisah. Manusia melihat alam semesta sekitarnya hanya sebagai objek yang bisa diekploitasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Disinilah jalan masuk filsafat timur dan filsafat Heideggerian, yang mengritik bahwa kehancuran alam semesta hari demi hari, justru diakibatkan tidak adanya kesadaran tentang alam semesta ini sesungguhnya punya “rasa”, bisa bertindak sebagai subjek yang saling mengisi dengan subjek lainnya yaitu manusia. 

Orangtua jaman dahulu, seringkali dikisahkan, mereka menebar benih sambil menyanyi; membuat tahu sambil main kecapi. Hal yang oleh masyarakat modern dikatakan sebagai irasional, kata Kang Ami, justru punya nilai tersendiri. “Coba baca Celestine Prophecy untuk lebih memahami,” kata Kang Ami menyarankan pada Jae. Dari bacaan tersebut dan pengalaman-pengalaman lainnya, kita bisa tahu, -lanjut Kang Ami- bahwa ada tanaman yang hijau, yang tumbuh lebat, namun “kering”, dalam artian tidak ada cinta di dalamnya; tidak ada chemistry antara tanaman dan perawat (hal yang disebut Heidegger sebagai hubungan Besorgen, bukan Fuersorgen). Namun ada juga satu tanaman, misalnya bawang saja, yang dirawat dengan cinta kasih, maka bawang tersebut juga akan menimbulkan rasa nyaman bagi seluruh rumah tersebut. Hal tersebut, sekali lagi, hanya irasional dalam kacamata modernis. 

Kelas Filsafat untuk Pemula, mulai dari angkatan keempat ini, tidak akan menutup kelasnya hanya dengan pembagian sertifikat. Kang Ami mewanti-wanti dari awal, bahwa para peserta wajib menutupnya dengan tulisan renungan tentang re-definisi manusia itu sendiri. Kumpulan tulisan itu kemudian akan dibukukan. Sampai jumpa di angkatan berikutnya! 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin