1.7.12

Ketika Industri Indonesia Menodai Ska

Minggu, 1 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan pembicara Rahardianto. Ia adalah orang yang sama yang juga mempresentasikan tentang black metal dua bulan silam. Kali ini, pengetahuan musiknya yang luas mengajak para peserta untuk menyelami sejarah musik ska.

Rahardianto (Kanan)
Pada mulanya, pembahasan mengenai musik ska ini tidak menimbulkan ketertarikan. Alasannya, imej ska di Indonesia sudah dinodai oleh industri yang menghasilkan band-band seperti Tipe-X dan Tiger Clan. Namun kata Rahar, "Jangan khawatir, band seperti Tipe-X pun tidak terlalu dianggap serius di antara scene anak-anak ska." Dalam arti kata lain, Rahar akan memperlihatkan sejarah ska yang panjang dan tidak jarang juga mengusung misi-misi yang ideologis. Pada titik itu, barangkali kita bisa menilai bahwa ska pada mulanya tidak sedemikian punya imej hipster, setidaknya sebelum dijatuhkan oleh industri musik Indonesia.

Seperti biasa, Rahar menjelaskan kronologi musik ska ini secara runut. Pertama, ia hendak meluruskan persepsi kita bahwa reggae bukanlah akar segala musik di Jamaika. Justru ska lah yang menjadi akar dari reggae. Bahkan ska sendiri diawali oleh jenis musik lain yang bernama shuffle. Shuffle ini muncul di Jamaika dari sejak tahun 1950-an dan merupakan respons terhadap pengaruh-pengaruh "Barat" seperti jazz dan blues. Apa yang membuatnya jadi ska, adalah ditengarai sebagai hasil buah pikir Prince Buster. Ia mengubah musik yang tadinya downbeat menjadi upbeat, inilah yang menjadi kekuatan ska hingga hari ini. "Ska kekuatannya bukan di brass section, itu yang menjadi kekeliruan persepsi banyak orang," tambah Rahar. 

Prince Buster tadi memelopori apa yang dinamakan sebagai ska gelombang pertama (1st wave). Band lainnya, kata Rahar, adalah Desmond Dekker, Toot and The Maytals, dan Lord Tanamo. Setelah itu, Rahar sendiri masuk ke gelombang kedua (2nd wave) yang sering disebut juga sebagai two tone ska. Ska yang ini dikembangkan di Inggris dan digabungkan dengan punk. Band-band seperti The Specials, Madness, dan Bad Manners adalah beberapa pengusungnya. Two tone ska ini yang menurut Rahar punya pesan-pesan anti-rasisme. Two tone melambangkan hitam dan putih yang menggambarkan warna kulit. Terlihat dari personil band-nya yang memang seringkali diisi oleh personil dari kulit hitam maupun putih.

The Specials

Penjelasan Rahar yang berlangsung kurang lebih sejam ini, mengandung pengetahuan yang bergizi. Misalnya, ia menyelipkan skank, yaitu istilah untuk gaya tarian dalam merespon musik ska (bukan pogo yang selama ini kita kenal). Lalu juga istilah rude boys yang mengacu pada penggemar ska yang pada masa itu sering berdandan ala american gangster dan terlibat kriminal. Rahar juga menyinggung kemunculan 3rd wave yang muncul di AS pada sekitar tahun 80-an. 3rd wave ini pun terbagi dua wilayah, yang pertama adalah wilayah Bay Area yang lebih independen, yang kedua adalah wilayah Orange County yang notabene lebih ke arah industri. Setelah itu disinggung lebih banyak tentang perpaduan ska dengan musik-musik lain seperti skacore dan skajazz, sekaligus mempertanyakan kehadiran 4th wave yang belum sanggup dirumuskan oleh para kritikus.

Pemaparan Rahar ini membawa pada diskusi yang tak kalah menarik. Misalnya, Diecky begitu curiga bahwa musik seringkali direspon secara kreatif justru dari para kulit hitam. Ini sudah mulai sering didengungkan sejak perbincangan tentang blues, ragtime, dan jazz. Sekarang, cukup mengejutkan setelah ska ternyata juga dikembangkan oleh orang-orang kulit hitam. Jazzy mempercayai hal tersebut sebagai, "Setiap ada manusia berkumpul, pasti mereka menciptakan kultur. Ini agaknya lumrah dalam segala kondisi. Hanya patut diakui bahwa apa yang diusung oleh orang-orang kulit hitam ini survive. Menurut saya, ada kok kebudayaan yang tidak survive karena selain tidak dilanggengkan oleh kekuasaan, mereka sendiri tidak mempunyai 'kebagusan' dalam dirinya sendiri."

Memang pada akhirnya mesti diakui. Jika berbicara soal kekuasaan, biasanya kita bicara orang-orang kulit putih. Orang kulit putih seringkali "berjasa" dalam melakukan resureksi musik-musik orang kulit hitam. Dan tidak seperti dugaan banyak orang bahwa musik orang kulit hitam itu lantas dijadikan musik borjuis orang-orang kulit putih, kata Rahar justru orang kulit putih itu juga memakainya di kalangan working class alias buruh. 

Apa yang dipaparkan Rahar panjang lebar mengubah mindset para peserta diskusi 180 derajat. Membuat ska yang sempat dicap sebagai musik hipster di kalangan penggemar di Indonesia, ternyata punya sejarah panjang dan bernilai. Ini lagi-lagi sebuah kritik serius terhadap industri musik Indonesia yang seringkali tidak pernah menghasilkan band-band yang "mengerti" betul nilai-nilai historis. Walaupun ada, kata Rahar, seperti Jun Fan Gung Foo yang katanya cukup punya banyak referensi. Sekali lagi, ketika musik hanya ditujukan agar menjadi ledakan sesaat diantara para hipster, maka jangan sedih jika selera musik masyarakat juga timbul tenggelam, tidak ajek, dan -yang paling parah- tergantung pada apa yang dimaui industri.


Google Twitter FaceBook

1 comment:

Wasdikaokanino said...

Ingin sekali datang, tapi sayang hari minggu....

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin