9.7.12

Klab Filsafat Tobucil @Layarkita: Mishima (1985) dan Jeritan Anti-Modernitas

Senin, 9 Juli 2012



Klab Filsafat Tobucil, seperti biasa, menyempatkan diri sekali dalam sebulan untuk bergabung bersama komunitas Layarkita. Apa yang mereka selenggarakan? Yaitu acara nonton bareng rutin. Yang menjadi menarik bukanlah semata-mata nonton barengnya, tapi kualitas film yang sering disajikan oleh Layarkita itu sendiri. Filmnya bukan tipikal box office, melainkan film yang agaknya jauh dari hingar bingar pop-culture. Film yang bagus untuk dijadikan renungan. Film yang filosofis. 

Untuk tanggal 9 Juli itu, yang diputar adalah film garapan Paul Schrader yang berjudul Mishima. Film tahun 1985 itu adalah semacam autobiografi novelis Jepang yang cukup kontroversial bernama Yukio Mishima. Film berdurasi 121 menit ini, -yang musiknya digarap oleh komposer kenamaan Amerika, Philip Glass- dibagi dalam empat bagian: pertama, yaitu Beauty. Kedua, bagian Art. Ketiga, bagian Action. Lalu ditutup dengan bagian Harmony of Pen and Sword.

Film dimulai dengan adegan dimana Mishima tengah menjalani hari terakhirnya. Ia bersiap untuk melakukan coup d'etat terhadap militer Jepang yang dianggap pro-kapitalisme dan tidak lagi menganut nilai-nilai tradisi jepang seperti semangat bushido ataupun rasa hormat terhadap kaisar. Setelah itu,alur cerita menjadi flashback. Schrader hendak menjelaskan pelan-pelan bagaimana latar belakang hidup Mishima dari ia kecil, membentuk karakter, filosofi, jiwa seni, dan juga keputusan ia untuk mati dalam usia relatif muda.

Meskipun Mishima dikenal sebagai seorang penulis, namun Schrader tidak hendak memperlihatkan sisi karirnya yang itu. Schrader lebih suka menunjukkan bagaimana Mishima terus menerus merenungkan tentang tubuhnya. Mulai dari kegagapan ia di masa kecil, pengalamannya bersentuhan dengan wanita -mulai dari yang berstatus kekasih, hingga wanita tua yang "membeli" Mishima demi pembebasan hutang ibundanya-, ketekunannya dalam body building, hingga pembentukan ideologi anti-kapitalismenya. Di akhir cerita, ia berupaya menggoyang kapitalisme dengan melakukan persuasi terhadap militer. Ia gagal, dicemooh, dan sebagai konsekuensinya, Mishima melakukan seppuku (bunuh diri terhormat dengan menancapkan belati ke perut).

Hal tersebut menjadi bahasan cukup menarik. Pembahas dari Layarkita yakni Ronny P. Tjandra, memaparkan lebih banyak soal bagaimana etos kerja orang Jepang dari sisi nilai-nilai tradisi Samurai. Kata Pak Ronny, "Samurai itu, jika ia terbangun di pagi hari, ia harus merasa bahwa hari itu adalah hari kematiannya." Pak Ronny juga melanjutkan tesisnya tentang seppuku, "Hanya Jepang, yang mempunyai alasan bunuh diri bukan atas dasar putus asa, melainkan kehormatan." Pembicaraan berlanjut, hingga masuk ke pengaruh Mishima bagi orang Jepang hari ini. Bagaimanapun, kata Pak Ronny, meski novelnya cukup diakui, namun tindakan Mishima untuk melakukan seppuku, tetap menjadi pertanyaan banyak orang. Itulah yang menyebabkan, salah satunya, mengapa film Mishima baru boleh diputar di Jepang tahun 2005.

Mishima bukan film yang terlalu mudah untuk dicerna. Alurnya maju mundur secara cepat (kadang tanpa ancang-ancang) dengan cara berkisah yang tidak lazim untuk sebuah penceritaan autobiografi. Kita tidak akan menemukan perasaan-perasaan "tergugahkan" seperti selesai menonton film Gandhi, Che, atau bahkan Spartacus. Ada perasaan bingung bagaimana menyikapi "heroisme" Mishima yang begitu absurd dan seolah-olah meaningless

Namun ada konsep yang barangkali bisa dijadikan suplemen untuk memahami Mishima. Gerakannya menunjukkan suatu kritik tidak hanya bagi kapitalisme, tapi juga terhadap seni itu sendiri. Mengingatkan saya pada Rudolf Schwarzkogler dari aliran Austrian Actionism pada tahun 1969 (tepat setahun sebelum Mishima bunuh diri). Kala itu, ia memotong kemaluannya hingga meninggal. Ini bukan semata-mata suatu sikap sensasional, melainkan suatu bentuk protes terhadap tubuh yang oleh kapitalisme sudah dikooptasi, dijadikan apa yang disebut Herbert Marcuse sebagai one-dimensional-man. Ini juga suatu serangan terhadap kredo art for art's sake yang mewabah di Eropa,yang membuat seni seolah terpisah dan eksklusif dari masyarakat. Maka itu aksi menjadi tema utama, dengan tubuh manusia (tubuh sendiri) sebagai media ekspresinya. 

Inilah juga sekaligus "jalan terakhir" yang ditempuh Mishima dalam rangka menyelamatkan Jepang dari sikap anti-spiritualitas dan nilai-nilai tradisi. Mishima adalah satu dari sedikit orang yang masih mau berteriak menyuarakan kegilaan modernitas, meskipun jaring-jaring yang menjeratnya sudah terlalu kencang.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin