3.7.12

Klab Filsafat Tobucil: Mari Menyambut Ramadhan!

Senin, 2 Juli 2012

Setelah membahas sains yang cukup ketat di minggu lalu, Klab Filsafat Tobucil kali ini membuka bahasan yang lebih santai yaitu tentang bulan Ramadhan. Ini bukan berarti perbincangan agama lebih santai dari sains, melainkan bulan ramadhan lebih bisa dibicarakan secara keseharian bagi mereka terutama yang tinggal di Indonesia.

Mengapa? Karena bulan Ramadhan di Indonesia adalah bulan yang begitu “mencolok”. Soal suruhan berpuasa tentu saja itu tidak perlu dibicarakan lagi. Namun yang tidak kalah menghebohkan tentu saja urusan konsumerisme. Bahkan kenyataannya ya, harga-harga barang menjadi naik di bulan Ramadhan, karena kata Mba Upi, “Kita kerapkali merasa bahwa momen berbuka itu mestilah spesial.” Hal seperti ini yang dibahas mula-mula, yaitu kontradiksi bulan Ramadhan di Indonesia: Di sisi lain kita disuruh-Nya menahan nafsu, di sisi lain justru kita mengumbar nafsu via mengonsumsi dan mengonsumsi. 

Bulan Ramadhan juga terkadang menjadi problem tersendiri bagi mereka yang non-muslim. Bulan Ramadhan membuat mereka terkadang menjadi kesulitan mencari makan dan minum di luar karena himbauan (tak tertulis) bahwa warung makan seyogianya menghormati yang sedang berpuasa dengan cara tutup di waktu siang. Hal tersebut disebut oleh Irwan sebagai, “Juga kontradiksi dengan nilai berpuasa itu sendiri. Jika keimanan kita kuat, tentunya tidak perlu khawatir dengan godaan makanan di sekitar. Kita tidak bisa menyuruh orang lain tidak makan dan minum dengan alasan mereka harus menghargai kita.” 

Lantas Mba Upi membuka wacana diskusi yang menarik, “Puasanya orang Islam, kita disarankan makan yang manis-manis di kala berbuka. Ada juga puasa yang lain, yaitu puasa yoga, yang justru kita dilarang makan yang manis-manis. Bahkan durasinya lebih panjang: delapan belas jam. Inikan menjadi berbeda.” Adi Marsiella menambahkan, “Bahkan umat Katolik punya puasa yang pantangannya adalah: Dilarang melakukan apapun yang kita paling suka.” Obrolan yang bergeser ke arah reinterpretasi puasa ini membuat para peserta menyadari bahwa ternyata puasa ada dimana-mana. Bahkan di Islam sendiri, ketentuan puasa itu seringkali punya penafsirannya masing-masing. Misalnya, Sunni dan Syiah punya perbedaan dalam menafsir waktu berbuka. Sunni menyunahkan untuk menyegerakan berbuka, sedang Syiah menunggu hingga langit gelap. 

Iwan Izukage Syah (kiri) memaparkan pengalaman beragamanya.

Karena bicara penafsiran, obrolan menjadi melebar ke penafsiran-penafsiran di dalam Islam tentang segala hal. Pada sesi ini, Irwan mendadak tampil ke permukaan. Rupanya ia punya sejarah cukup panjang bagaimana agama pernah begitu melekat menjadi bagian dari kehidupannya. Irwan berkata bahwa amat wajar Islam menjadi beberapa cabang, karena banyak kalimat dalam Al-Qur’an dan hadits, tidak mungkin hanya bisa ditafsirkan dengan satu cara. Hal yang disinggung oleh Adi Marsiella sebagai, “Pada titik itu, kekuasaanlah yang mengambil alih. Tafsir siapa yang harusnya diambil, adalah tafsir penguasanya.” Obrolan ini cukup menggalaukan Aisyah yang kemudian ia bertanya, “Jadinya, Islam terbagi dalam berapa cabang?” Ikhlas kemudian menjawab dengan heroik, sekaligus menjadi konklusi cukup melegakan bagi semuanya, “Cabang dalam Islam, adalah sebanyak pemeluknya itu sendiri. Karena inilah konsekuensi dari nalar dan pengalaman manusia yang otentik.”
Google Twitter FaceBook

1 comment:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin