30.7.12

Klab Filsafat Tobucil: Memahami Absurditas lewat Waiting for Godot (2001)


Senin, 30 Juli 2012


Berbeda dengan pertemuan biasanya, Klab Filsafat kali ini mengadakan nonton bareng sebelum memulai diskusi. Filmnya adalah usulan Kape, judulnya Waiting for Godot. Film ini diadaptasi dari naskah drama tahun 1953 karya Samuel Beckett dengan judul yang sama.  

Kenapa film ini yang dipilih? Jawab Kape, “Karena eksistensialisme banget.” Setelah itu diputarlah Waiting for Godot yang berdurasi satu jam 53 menit itu. Apa isinya? Film ini berkisah tentang Vladimir dan Estragon yang keduanya menanti seseorang bernama Godot. Namun apa yang terjadi? Godot yang ditunggu tak pernah datang. Ada Pozzo dan Lucky muncul di tengah-tengah mereka, namun itu bukan Godot. Ada seorang anak membawa kabar berita dari tuan Godot bahwa tuannya baru akan datang besok. Tapi keesokan harinya anak itu datang kembali memberi tahu bahwa tuannya baru akan datang besok. Ad infinitum.

Film ini, tentu saja membosankan, karena memang demikianlah yang ingin ditawarkan Beckett. Atau apa yang Mas Daus katakan sebagai, “Non-referensial, diskontinyu, dan fragmentaris.” Non-referensial artinya, kita tidak tahu baik Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan si anak, datang darimana dan mau kemana. Bahkan kita tidak tahu lokasi tempat menunggu Godot itu dimana. Kita hanya tahu mereka ada di sana, terlempat, dan begitu adanya. Diskontinyu artinya percakapan mereka tidak ada yang berkelanjutan, hanya berputar-putar saja. “Coba saksikan film tersebut hingga dua puluh menit saja, kita akan tahu apa yang mereka bicarakan adalah meaningless, nonsense, tidak membawa kemanapun.” Sedangkan fragmentaris berarti, masing-masing punya pemikiran sendiri tentang siapa Godot di kepalanya. Bahkan secara mendalam dapat diartikan, bahwa obrolan antar orang per orang bisa jadi sedang membicarakan sesuatu yang berbeda di kepalanya.

Albert mencium film itu sebagai, “Ajakan agar kita merasakan betul bagaimana perasaan keberulangan hidup yang absurd dan kadang memuakkan. Seperti mitos Sisifus-nya Albert Camus.” Sedangkan Ping menyebut film itu sebagai Nietzschean, “Selain curiga bahwa Godot adalah akronim dari Got is tott-nya Nietzsche, film ini juga valueless, seolah-olah menunjukkan absence of god. Kita juga bisa melihat tokoh Lucky sebagai apa yang disebut dalam Zarathustra-nya Nietzsche sebagai fase unta.” Namun kenirmaknaan Waiting for Godot dinetralisasi oleh Kang Ami. Katanya, “Justru tugas kita adalah memaknai ulang hidup ini adalah apa. Menihilkan segala sesuatu bukanlah tahap final. Setelah semuanya nihil, kita membangun sesuatu yang baru diatas puing-puingnya.”



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin