23.7.12

Klab Filsafat Tobucil: Membahas Evolusi bersama Tayo Sandono



Senin, 23 Juli 2012


Tayo Sandono (merah)



Klab Filsafat Tobucil menggelar pertemuan perdananya di bulan Ramadhan. Meski dijadwalkan dimulai pukul lima, namun banyak peserta lebih memilih datang menjelang buka puasa. Walhasil, diskusi pun dimulai pukul enam.

Pada edisi kali ini, diundang pemasalah khusus bernama Romi Fattah a.k.a. Tayo Sandono. Materi yang dibahas adalah mengenai evolusi yang tadinya menurut Tayo, “Maunya evolusi secara umum, namun saya sempitkan menjadi evolusi Darwin saja dulu,” ujarnya merujuk pada judul makalahnya yang cukup komprehensif “Teori Evolusi Darwin dalam Sains dan Filsafat Sains”. Meski ketika pada awal pemaparan Tayo, peserta tidak terlalu banyak, namun lambat laun orang berduyun-duyun datang memenuhi beranda Tobucil hingga dua bangku terisi penuh. Hal yang tidak membuat Ping ataupun Albert terkejut, “Bang Tayo ini sudah menjadi legenda, pasti banyak yang mau mendengarkan ceramahnya.”

Sejalan dengan makalahnya, pemaparan Tayo juga sangat komprehensif. Ia menerangkan mulai dari definisi evolusi, perbedaan antara evolusi dengan perkembangan, serta perbedaan evolusi dan revolusi. Akhirnya definisi yang disepakati bagi evolusi adalah “perubahan biologis bertahap yang terjadi dalam generasi berbeda”. Tayo melanjutkan penjelasannya pada pemikiran filsuf klasik mengenai evolusi mulai dari Empedokles, Mulla Sadra, Guru Nanak, hingga Denis Diderot. Kemudian ia masuk ke abad ke-19 ketika Charles Darwin sudah menyuarakan teorinya. Tayo menyarikan pemikiran evolusi Darwinian dalam lima poin:

  1. Spesies mengalami perubahan seiring waktu (teori dasar evolusi – ketidaktetapan spesies)
  2. Seluruh makhluk hidup yang ada sekarang memiliki satu leluhur yang sama di masa lalu (evolusi bercabang)
  3. Dari leluhur bersama tersebut terjadi perubahan-perubahan bertahap secara populasi hingga ke bentuk sekarang (graduasi, bukan saltasi (mendadak) bukan pula transformasi (dari bentuk asal))
  4. Spesiasi terjadi karena kondisi yang ada sedemikian rupa (misalnya lewat isolasi geografi) hingga perubahan yang ada bersifat permanent dalam populasi (asal usul keanekaragaman)
  5. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh seleksi alam (seleksi alam)

Selain berkutat di wilayah sains, Tayo juga masuk ke wilayah filsafat. Ia melihat beberapa cara pikir filsafat yang diwariskan dari cara pikir Darwinian yang menyejarah (yang sebetulnya juga diwariskan oleh Hegel -red). Misalnya Karl Kautsy, filsuf Marxis yang memopulerkan ekonomi dan filsafat Marx dan merintis pertanyaan tentang agrarian dan asal usul Kristen dari perspektif evolusi. Tayo juga menyinggung Thomas Kuhn yang menggunakan cara pikir evolusi dalam kerangka perubahan sains. Terakhir, Tayo menutupnya dengan memaparkan kritik filsafat terhadap teori evolusi. Katanya, filsafat sering mengritik teori evolusi dalam tataran teori tersebut cuma membolak-balik eksplanasi dari akibat ke sebab. Misal: Sebelum ada teori evolusi, jika ada yang bertanya mengapa bulu beruang kutub berwarna putih? Jawabannya adalah agar dapat berkamuflasi. Setelah ada teori evolusi, jika ada yang bertanya hal serupa, jawabannya: karena ia berkamuflase. Hanya membolak-balik antara akibat menjadi sebab.

Pemaparan Tayo ini menimbulkan diskusi menarik. Irwan bertanya, “Apakah evolusi ini punya tujuan sebagaimana dialektika Hegel dan Marx?” Hal yang mula-mula dijawab Liky, katanya, “Marx punya tujuan yaitu sosialisme utopis, sedangkan Hegel punya tujuan yaitu roh absolut di Prussia.” Tayo menjawab bahwa evolusi tidak mempunyai tujuan, tapi buta, yang disebut sebagai blind watchmaker. Selain Tayo, Albert juga berperan menjawab pelbagai pertanyaan mengenai evolusi –yang tampaknya ia juga cukup menguasai-. Bahkan ia bisa melihat bahwa segala sesuatu punya cara pikir evolusi. Misalnya media, media juga sebagai “lingkungan” bisa mempengaruhi spesies untuk bertahan hidup, misalnya dengan memilihkan pasangan yang dianggap ideal.

Pertanyaan agak filosofis datang dari Kape, ia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang eksistensial. Artinya, ia bisa berkehendak bebas, bukan melulu dikendalikan oleh lingkungannya. Tayo menetralisir pertanyaan ini dengan mengiyakan pernyataan Kape, seandainya memang percaya bahwa kehendak bebas itu ada. Tapi ada juga yang percaya bahwa segala sesuatu ini deterministik, sudah ditentukan oleh rumusan alam semesta. Jika memang iya demikian adanya, maka pilihan-pilihan bebas itu tidak ada, atau pilihan bebas adalah sesuatu yang berguna untuk keberlangsungan evolusi.

Karena Tobucil tutup pukul delapan, maka diskusi seru ini tidak bisa dilanjutkan terlalu larut. Tayo menutupnya dengan kalimat yang bagus, “Sains adalah ilmu dengan aturan dan dengan tujuan. Agama juga merupakan ilmu dengan aturan dan dengan tujuan. Filsafat adalah satu-satunya yang tidak punya aturan meskipun ia tetap mempunyai tujuan. Jadi filsafat adalah elemen penting untuk mengritik sains ataupun agama, semata-mata karena baik sains maupun agama –karena punya aturan- seringkali terkungkung oleh aturannya sendiri.” Applaus panjang pun menutup Klab Filsafat Tobucil malam itu. 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin