16.7.12

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Blue Velvet (1986) dan Krisis Oedipal

Senin, 16 Juli 2012

Klab Filsafat Tobucil, oleh sebab perubahan jadwal yang dilakukan oleh Layarkita, kembali mengadakan diskusinya di Auditorium IFI-Bandung. Ini lebih tepatnya disebabkan oleh tanggal 16 Juli yang sebelumnya Layarkita tidak ada kegiatan, jadinya ada. Pada kesempatan ini, film yang diputar dan dibahas adalah Blue Velvet karya David Lynch tahun 1986.

Blue Velvet adalah film yang berkisah tentang pemuda bernama Jeffrey Beaumont yang tengah berada di kota kecil bernama Lumberton. Keberadaan dia di kota tersebut adalah dalam rangka menjenguk ayahnya yang sakit. Kehadiran dia di Lumberton membawanya pada suatu petualangan yang tak terkira. Mulai dari menemukan kuping manusia, melakukan kegiatan mengintip (voyeurism) dua orang yang bercinta dengan kasar, terlibat percintaan di antara dua wanita, hingga Jeffrey sendiri membunuh pria bernama Frank Booth dengan pistol.

Keseluruhan kisah yang dikarang Lynch ini, membelah penonton menjadi dua bagian, ada yang paham dan ada yang tidak. Sekilas film ini memang ada plot yang cukup sederhana, namun jika memahami karakter film-film Lynch sebelumnya, ia seringkali tidak membiarkan penonton bisa memahami secara sederhana. Film Blue Velvet ini bahkan menjadi yang paling banyak dibahas dalam film dokumenter Pervert’s Guide to Cinema yang isinya adalah analisis film oleh Slavoj Zizek.

Analisis Zizek sendiri tidaklah simpel. Ia menilai bahwa Blue Velvet adalah film yang sangat berbau krisis Oedipal Freudian. Sigmund Freud, pakar psikoanalisis, pernah memaparkan tentang anak laki-laki yang di waktu lahir pada mulanya amat mencintai ibunya (karena pengalaman seksual pertama bayi adalah menyusui yang mana adalah persentuhan pertamanya dengan “yang lain”), namun lama kelamaan ia merasa terancam dengan keberadaan ayah yang senantiasa “merebut” perhatian ibunya dari dia. Inilah momen yang bagi Zizek, begitu terekam dari bagaimana kelakuan Jeffrey dalam memperlakukan Dorothy Vallens (yang dicap Zizek sebagai ibunya) secara penuh cinta, berbalik dengan perlakuannya terhadap Frank Booth (yang dicap sebagai ayahnya).

Selain soal krisis Oedipal, Blue Velvet juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah film yang dipenuhi unsur voyeurism. Adegan mengintip Jeffrey, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang membawa ia ke dunia lainnya. Karena pada hakikatnya, voyeurism bukanlah sekadar mengintip, sesungguhnya kita melibatkan fantasi kita ke dalamnya. Hal tersebut membuat voyeurism dianggap sebagai hiburan seksual paling menyenangkan dan tidak menimbulkan rasa bersalah. Voyeurism juga pada titik tertentu adalah semacam petualangan ke dunia yang kita ciptakan sendiri. 





Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin