KlabKlassik Edisi Nonton kali ini, Yunus Suhendar sebagai koordinator
membawa film klasik Nosferatu karya
F. W. Murnau. Karena di waktu yang sama, di beranda Tobucil sedang ada acara
Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maka acara nonton dipindahkan ke bagian
dalam Tobucil.
Nosferatu adalah film bisu berdurasi 97 menit yang diambil dari
novel Bram Stoker yang terkenal berjudul Dracula.
Berkisah tentang Jonathon Harker yang mendapat surat dari Count Dracula untuk berkunjung ke
kastilnya. Untuk apa? Dracula ingin mencari rumah di dekat warga, ia meminta
orang untuk membantu surveinya. Namun Harker mencium ada banyak keanehan dari
Dracula ini, misalnya, ketika tangannya berdarah karena tergores pisau, Dracula
terlihat bergairah dan langsung mengisap darah itu dari tangan Harker. Harker
juga di suatu pagi menemukan bahwa lehernya ada dua tanda bekas digigit.
Beruntung ada istri Harker bernama Ellen yang sedemikian punya firasat kuat
terhadap apa yang terjadi pada suaminya. Setelah membaca buku panduan Dracula,
ia menemukan bahwa Dracula bisa dimusnahkan jika seorang wanita dengan hati
bersih menyerahkan darahnya untuk dihisap. Ellen berkorban, Count Dracula mati,
Harker pun selamat.
Meski musiknya terbilang datar
dan tidak ada kejutan-kejutan khas film horror, namun Nosferatu membuat kita tercekam lewat sosok drakula-nya itu sendiri.
Ditambah lagi, film yang hitam-putih membuat fokus menjadi lebih tertuju pada
sosoknya, bukan dilapisi oleh pesona warna-warni seperti dalam Dracula versi Francis Ford Coppola. Dracula yang disebut terakhir ini,
memang juga memiliki sosok Drakula yang menakutkan, namun “keberwarnaan” si
film membuat sosoknya tetap nyaman bagi mata.
Hal ini menjadi bahan diskusi
yang menarik. Kata Yunus, “Film horror Indonesia misalnya, lebih
menekankan pada efek kejut lewat audio. Sehingga jika kita ingin menghindari
rasa takut, lebih baik menutup telinga daripada menutup mata. Namun Nosferatu ini kita begitu dihantui oleh
visualisasi Count Dracula yang diperankan Max Schreck.” Ia sendiri mengaku
mendapat rekomendasi film ini dari Ismail Reza, yang mengatakan bahwa inilah
Drakula paling seram sepanjang masa. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri
bagi Tobing Jr., penggiat komunitas Layarkita yang juga menjadi peserta nonton
bareng kemarin, bahwa film horror Indonesia sudah diwarnai
ketidakbermutuan seperti Nenek Gayung
atau Mama Minta Pulsa. “Mereka
semestinya belajar dari film horror seperti Nosferatu
ini. Kebanyakan sutradara lokal minim referensi. Hanya berkarya dan berkarya,
tapi jarang mengacu pada film-film bagus. Sehingga karyanya menjadi kurang
baik. Efeknya? Apresiasi penonton menjadi rendah. Lihat betapa kosongnya
bioskop ketika Lewat Djam Malam-nya
Usmar Ismail diputar. Berbanding terbalik ketika film-film seperti Pocong diputar.”
Pernyataan kritis seperti ini
selalu direspon secara klasik: Realistis
dong, hidup ini kan butuh uang. Siapa yang mau bayar untuk nonton film seperti
Nosferatu?
Syarif Maulana
Bookmark this post: |
No comments:
Post a Comment