14.8.12

Klab Filsafat Tobucil: Antara Peradaban dan Kebudayaan

Senin, 13 Agustus 2012

Klab Filsafat Tobucil sore itu menghadirkan Fio Alberta sebagai pemasalah. Pemuda yang baru saja diterima di FSRD ITB itu mengetengahkan tema Hilangnya Sebuah Peradaban. Tema ini menarik minat cukup banyak orang untuk hadir. Dua meja di beranda Tobucil pun terisi penuh oleh diskusi yang dimulai pukul setengah enam tersebut,.


Pemaparan dimulai dari Fio sendiri. Ia berbicara sekitar lima belas menit tentang bagaimana peradaban pada mulanya dan juga ada hal-hal yang lambat laun hilang. Namun pemaparan pembuka ini, karena dirasa terlalu luas dan bercampur aduk antara peradaban dan kebudayaan, maka terlebih dahulu didiskusikan apa perbedaan peradaban dan kebudayaan? Irwan berpendapat, "Peradaban adalah kumpulan manusianya secara fisik dan material, sedang kebudayaan adalah produk dari peradaban. Agama? Agama adalah produk dari kebudayaan." Kebudayaan, lanjut Fio, adalah sebuah sistem sosial yang membuat kumpulan manusia bisa bersatu di dalamnya. Maka itulah agama, pada titik tertentu, kata Albert, adalah sebuah pengejawantahan dari kecenderungan manusia yang kerapkali mengincar kenyamanan dalam status quo dan kawanan.

Selanjutnya, setiap orang ditanyai tentang kecenderungan budaya apa yang "terasa" dalam dirinya. Misalnya, Irwan mengaku merasa mempunyai banyak percampuran dalam dirinya. Namun identitas budayanya menjadi terpanggil ketika ada yang menghina ke-Padang-an-nya. Ada juga Ping yang keturunan Cina, tapi ketika berkumpul dengan teman-temannya yang juga keturunan Cina, sebaliknya, justru merasa tidak menjadi bagian darinya. Pada titik ini, kebudayaan menjadi semacam proyeksi tentang apa yang kita bayangkan sebagai sistem sosial yang mengikat kita. Meski tidak ada kedekatan fisik, seperti misalnya di sekeliling kita banyak orang Sunda sedangkan kita sendiri orang Jawa, namun kebudayaan yang menubuh itu sendiri tidak akan serta merta terpengaruh oleh lingkungannya secara behavioristik.

Perbincangan sendiri menjadi maju ke arah unsur-unsur yang membentuk kebudayaan. Albert menyebut adanya keberadaan otoritas. Kekuasaan adalah faktor pembentuk kebudayaan yang krusial, selain juga diantaranya ekonomi. Bahkan binatang sendiri membentuk "kebudayaannya" berdasarkan teritori wilayahnya, yang juga sebetulnya didasari oleh pertimbangan akan kepemilikan sumber makanan. Pembicaraan juga masuk ke wilayah otentisitas, tentang keberadaan suatu sumber budaya. Seperti misalnya, Sokrates ada atau tidak? Jawaban ini bisa dijawab dengan dua jalan: Yang dimaksud ada, apakah ada-nya secara eksistensial, atau ada-nya secara esensial? Jika menjawab secara eksistensial, maka sudah barang tentu tidak ada bukti kuburan dari Sokrates. Namun secara esensial dia ada, karena pemikirannya dituangkan oleh Plato dalam buku-bukunya. Atau pertanyaan lebih kritisnya, mana yang lebih penting: Ada secara bukti-bukti historis, atau cukup kita bayangkan sebagai ada?

Diskusi yang menarik dan panjang ini rupanya tidak terlalu sesuai dengan apa yang dicita-citakan Fio dalam temanya: Hilangnya sebuah Peradaban. Namun yang demikian tak terlalu jadi soal karena yang lebih penting adalah terjadinya suatu interaksi aktif diantara forum diskusi. Yang sesungguhnya jika mau ditelaah pun, dari diskusi mengenai kebudayaan tadi, kita bisa pelan-pelan menganalisis tentang mengapa suatu peradaban bisa hilang.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin