6.8.12

Klab Filsafat Tobucil: BDSM dan Naluri Dasar Manusia


Senin, 6 Agustus 2012


Klab Filsafat Tobucil kembali mengundang narasumber untuk bahasan yang satu ini. Rahardianto, yang biasa berbagi ilmunya di KlabKlassik, kali ini mendapat giliran untuk bicara di KlabFilsafat Tobucil mengenai BDSM. Apa itu BDSM?

“BDSM itu bisa dibagi-bagi lagi,” buka Rahar, “BD atau Bondage and Discipline, DS atau Dominance and Submission, dan SM atau Sadism dan Masochism.” Namun dari kesemuanya, kata Rahar, intinya adalah DS atau Dominance and Submission. Apa yang sedang kita bicarakan? BDSM adalah semacam perilaku seksual yang “ganjil”. Tidak seperti intercourse pada umumnya, BDSM mensyaratkan semacam pergantian peran pria-wanita, serta juga melibatkan rasa sakit sebagai bumbu seksualitas. Bahkan, BDSM lebih cocok disebut sebagai kegiatan erotik daripada semata-mata seksual.
Lanjut Rahar, apa yang dinamakan DS berlaku bagi manusia pada umumnya. “Orang yang sering diinjak-injak, mereka ingin mempunyai kekuatan dalam suatu komunitas tertentu, atau paling tidak di hadapan istri atau partnernya sendiri. Sedangkan orang yang berkuasa, sering ingin punya pengalaman powerless, entah di hadapan komunitas tertentu, atau minimal istri atau partnernya,” kata Rahar.

Albert menimpali pergantian role-play ini sebagai bentuk pemberontakan terhadap norma-norma yang berkembang di masyarakat. Misalnya, ada suatu kegiatan agak janggal di Mesir, ketika buruh-buruh di jaman Fir’aun kerapkali menjebol tembok piramida tak lama setelah sang ratu meninggal. Untuk apa? Mereka ingin menyetubuhi mayat sang ratu. Yang dibayangkan para buruh adalah sang ratu masih hidup dan mereka menjadi tuan atas ratunya sendiri. Hal yang dalam norma keseharian ganjil, tapi dalam bayangan pelaku BDSM menjadi kepuasan yang tak ternilai.

Liky kemudian mengisahkan sedikit tentang seorang Prancis bernama Marquis de Sade, yang namanya jadi inspirasi untuk istilah sadisme. Bagi Simone de Beauvoir, filsuf feminis Prancis, de Sade adalah manusia yang bebas karena ia tak terbatas dalam melakukan kehendak-kehendaknya. Hal tersebut tentu bertentangan dengan para filsuf Prancis yang menginspirasi Abad Pencerahan seperti Voltaire dan Rousseau yang begitu yakin manusia pada dasarnya baik. Sehingga perilaku menyimpang seksual seperti yang dilakukan de Sade adalah suatu bentuk “degradasi moral”.

Hal demikianlah yang ditentang Rahar, yang mengaku sangat terinpirasi Michel Foucault dalam memandang apa yang normal. Foucault tidak percaya bahwa dalam masyarakat ada yang menyimpang secara an sich. Apa yang menyimpang dan tidak sesungguhnya ditentukan oleh kekuasaan. Rahar bahkan memercayai bahwa perilaku BDSM pada tingkat tertentu ada dalam masing-masing orang, “Ingat cewek-cewek kalau lagi stress sering menjambak rambutnya sendiri? Itu tentu saja perilaku masokhis yang ternikmati.” BDSM justru harus jujur dan diakui dalam diri sendiri sebagai suatu penyaluran dari apa yang Sigmund Freud sebagai id atau hasrat yang sifatnya tribalistik. “Hati-hati,” kata seorang guru Yoga, “Orang yang tidak pernah bersenandung atau bersiul, ia kemungkinan punya kecenderungan penganut sadisme.”    

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin