28.8.12

Klab Filsafat Tobucil: Filsafat Fisika


Senin, 27 Agustus 2012

Klab Filsafat Tobucil sore itu untuk pertama kalinya kedatangan dua narasumber sekaligus. Narasumber pertama, untuk kedua kalinya, Tayo Sandono bersedia untuk mengisinya –ini hampir selalu terjadi jika memang pembahasannya punya kaitan dengan sains-. Narasumber kedua adalah muka baru tapi lama. Joko Supriyadi sering hadir di pertemuan Madrasah Falsafah Sophia tahun-tahun silam, namun untuk Klab Filsafat Tobucil ini ia baru pertama menghadirinya. Datang dari Tangerang, ia mau menyempatkan untuk berbagi, bersama Tayo, tentang Filsafat Fisika.

Tayo diberi kesempatan untuk bicara duluan. Ia berpegang pada makalah yang ditulisnya sendiri dengan judul “10 Masalah Filsafat Fisika”. Pada mulanya Tayo membedakan antara fisika dan matematika. Perbedaan keduanya terutama, fisika berbicara tentang sesuatu yang ada, sedangkan matematika yang tidak ada (tentu saja ada dan tidak ada disini mengacu pada dunia empirik). Tayo kemudian memetakan bahwa ketika berbicara tentang sesuatu yang ada, maka fisika juga “berkawan” dengan kimia, biologi, psikologi, sosiologi dan juga kedokteran. Setelah menjernihkan istilah fisika itu sendiri, Tayo memasuki beberapa tema besar yang biasa dibahas dalam filsafat fisika:
  • Kritik Einstein terhadap fisika kuantum.
  • Pertanyaan: Mungkinkah rumus-rumus matematis bisa mewakili realitas fisika?
  • Apakah kosmologi merupakan sebuah bidang ilmu fisika? Jika ya mengapa? Jika tidak, apa alasannya?
  • Masalah penyatuan antara teori kuantum, teori Newton dan relativitas umum.
  • Masalah waktu. Meski sudah dibuat standarnya, namun apa itu waktu tetap tidak berhenti dijadikan perdebatan.
  • Kekaburan. Ilustrasinya seperti ini: Apakah seratus helai jerami dapat disebut satu tumpuk jerami? Jika bisa, bagaimana dengan 99 helai? Berapa helai yang dibutuhkan untuk status satu tumpuk jerami? 
  • Tentang kebermulaan alam semesta: Apakah ada awal waktu atau tidak?
  • Kontradiksi Karl Popper: Ia mengatakan bahwa sains hanya dapat mendekati realitas, tidak dapat menggambarkan realitas sepenuhnya. Tapi sebaliknya ia mengatakan juga ada teori sains yang sudah mapan dan tidak perlu diganti.
  • Penganut teori multijagad mengatakan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari tak terhingga alam semesta. Dalam arti kata lain, ada kembaran kita di alam semesta lain. 
  •  Masalah epistemologi: Apakah betul kita dapat mengetahui “keinginan” alam semesta?
Pemaparan cukup panjang ini mulanya dipahami secara tertatih-tatih terutama oleh peserta yang kurang akrab dengan istilah seperti “kuantum” atau “relativitas”. Maka itu, agar tidak terjebak pada istilah yang kurang umum bagi semua, pembahasan diawali dari hakikat matematika. Bagi Sadhra, salah seorang peserta yang menggeluti fisika, matematika adalah alat untuk melihat konsepsi di belakang sesuatu. Ketika konsepsi itu bisa dipahami, maka matematika bisa mengajak untuk memahami lebih jauh, misalnya: Menambahkan satu benda dengan benda lain, mengurangi, mengalikan, dsb. Hal yang kemudian juga menimbulkan pertanyaan bagi Fio, “Bagaimana dengan 1 + 1 = 2 sendiri? Apakah konsensus juga bermain di belakang matematika?” Kata Tayo, “Bisa saja 1 + 1 = 3, sah-sah saja. Tapi dampak bagi penghitungan yang lain bagaimana?”

Sophan Ajie, mentor Klab Nulis Tobucil yang kebetulan mengikuti diskusi, mengajukan beberapa pertanyaan, “Apa yang tertinggi dari fisika? Maksudnya, lapisan yang paling inti, paling keras. Dalam bahasa, yang tertinggi adalah diam. Dalam seni, yang tertinggi adalah absurditas. Pertanyaan kedua, bagaimana cara menghumanisasikan sains?” Tayo menjawab pertanyaan pertama Sophan dengan, “Determinisme. Paling ultimate dari fisika adalah kenyataan bahwa alam semesta ini harus dipandang sebagai deterministik sebelum kita masuk pada ranah hipotesis, eksperimen, dsb.” Sedangkan Mas Joko akhirnya angkat bicara dengan menjawab pertanyaan yang kedua, “Bagaimana dengan tawaran yang lain, alih-alih kita bicara humanisasi sains, mari mencoba saintifikasi humaniora. Ada penelitian yang mencoba memodifikasi respon emosi manusia terhadap apa yang membuatnya bahagia ataupun sedih. Pada titik ini, sesungguhnya humanisme malah bisa disaintifikasi.”

Mas Joko kemudian melanjutkan, bahwa fisika sebenarnya sudah merupakan filsafat bagi dirinya sendiri. Dalam arti kata lain, jika salah satu syarat filsafat haruslah menyentuh tiga problem yaitu ontologi (hakikatnya), epistemologi (batas-batasnya) dan aksiologi (manfaat praktisnya), maka dalam fisika ketiga-tiganya sudah terkandung. Orang pertama-tama punya curiousity, lalu melanjutkan kepenasaranannya dengan mengajukan hipotesis, lalu menyelidiki dan membuktikan, serta pada ujungnya, ia memberi makna atau hakikat pada apa yang sudah ia lakukan. Meski demikian, Ping kemudian menyinggung bahwa curiousity tidak semata-mata dipunyai fisika dan tidak semata-mata mesti dilanjutkan secara fisika. Ada banyak cara memenuhi curiosity, salah satunya juga dengan seni.

Meski diskusi ini berpusat pada sains, namun masing-masing peserta bisa mengungkapkan sudut pandangnya masing-masing. Misalnya, Liky yang kekuatan pemahamannya ada pada ideologi kiri, menyatakan bahwa dalam sains juga pastinya terkandung klaim-klaim kekuasaan. Hal yang diakui sendiri oleh Ibu Fitri yang berasal dari latar belakang sains, menyatakan bahwa diantara para saintis juga ada unsur-unsur politik dan ekonomi. Menyimak dua pernyataan terakhir ini, bisa direlevansikan dengan sebaris kalimat yang dicetuskan Nietzsche, “Penemuan sains didorong juga oleh emosi dan intuisi, sehingga hasilnya kadang bertentangan dengan hakikat sains itu sendiri,”

Minggu depan, Klab Filsafat Tobucil akan berkumpul di Layarkita. Lokasinya IFI Bandung, Jalan Purnawarman no. 32. Diskusi akan diawali dengan nonton bareng film garapan Garin Nugroho berjudul Mata Tertutup. Gratis dan terbuka untuk umum.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin