17.9.12

Bredel 1994: Bersatu Mengingat Represi



Judul : Bredel 1994
Editor : Ayu Utami
Penulis : Ayu Utami, Stanley, Arief Budiman, Goenawan Muhamad, Julia I. Suryakusuma, Onghokham, Daniel Dhakidae, Rizal Ramli, Ulil Abshar-Abdalla, Mochtar Pabottingi, Rachlan Nhashidik
Penerbit : Aliansi Jurnalis Independen
Tahun : 2012
Jumlah halaman : 105
Harga : Rp. 50.000

"Orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, nampaknya, tetap ingin berkuasa dengan ketakutan kepada kebenaran." -Goenawan Mohamad

Cukilan kalimat dari Goenawan Mohamad itu adalah salah satu dari banyak tulisan yang mengisi buku Bredel 1994. Para penulis yang beragam latar belakangnya -ada jurnalis, sejarawan, akademisi, pengamat ekonomi, mantan aktivis, hingga alumni pesantren- bersama-sama menyuguhkan perspektifnya terhadap peristiwa dramatis di tahun 1994 ketika tiga media massa nasional yakni Tempo, Detik, dan Editor dibredel oleh pemerintah Orde Baru.

Ayu Utami, misalnya, ia menceritakan bagaimana para wartawan merespon pembredelan tersebut. Wartawan yang turun ke jalan untuk berdemonstrasi, disambut oleh pasukan berbaju "Operasi Bersih". Mereka menggunakan helm, tameng, dan cambuk rotan untuk kemudian memukuli para demonstran yang tidak bersenjata. Demonstran yang bagi penulis, dimasukkan ke dalam golongan "orang-orang yang tidak paham" karena pemerintah dengan sangat cerdik membungkus pembredelan tersebut dengan argumen-argumen yang canggih -sehingga para pelaku media menjadi tak terlalu yakin "dosa" apa yang sudah diperbuatnya-.

Arief Budiman dengan tajam menujukan kritiknya terhadap PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) yang pada masa orde baru, menjadi organisasi yang jauh dari membela kepentingan pers. PWI terbukti menjadi organisasi perpanjangan tangan pemerintah dilihat dari bagaimana mereka "mendukung" pembredelan dengan hanya mempersoalkan nasib para karyawan pers ketimbang masalah kebebasan pers. Ulil Abshar Abdalla sebagai alumni pesantren mempersamakan pemerintahan Soeharto dengan Fir'aun dalam sebutan Yudzabbihuna Abna'akum (Mereka membunuhi anak-anak kalian). Apa artinya, ada paranoia tak perlu dalam diri Fir'aun ketika satu per satu bayi lelaki yang lahir di negeri itu dibunuh agar kelak tak menggulingkannya ketika mereka dewasa. Satu bayi lelaki berhasil dikaburkan, yaitu Musa. Persamaan Soeharto dan Fir'aun menurut Ulil: Seorang penguasa, biasanya mudah sekali curiga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat meruntuhkan kekuasaannya, bahkan terhadap hal-hal yang remeh sekalipun. 

Buku yang relatif tipis ini merepresentasikan horor orde baru bukan semata-mata dari bobot tulisannya yang kritis dan tajam, melainkan juga bagaimana surat pembredelan yang datang dari pemerintah diwakili oleh Drs. Subrata, ikut dilampirkan untuk menunjukkan legitimasi kekuasaan yang represif tersebut. Buku ini, sekali lagi, meski tipis, punya kekuatan untuk mengingatkan kita akan sejarah kelam dalam republik: Ketika kebenaran ada dalam rangka menyokong penguasa yang lalim.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

1 comment:

Leadership Developmant Training said...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
nikmatilah hidupmu agar kamu tidak merasa bosan dalam setiap keadaan.,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin