17.9.12

Klab Filsafat Tobucil: Avant-Garde!

Senin, 17 September 2012

Klab Filsafat Tobucil berkumpul lagi di tempat "yang seharusnya" setelah dua minggu kemarin menghadiri acara nonton di IFI-Bandung bersama Layarkita. Di Tobucil ini, Klab Filsafat membahas satu tema yang agaknya tidak biasa dibincangkan di forum tersebut, yakni: avant-garde!

Heru Hikayat (kiri) dan Ismail Reza
Untuk membicarakan topik cukup sulit ini, dihadirkan dua narasumber yaitu Ismail Reza dan Heru Hikayat. Ismail Reza, seorang arsitek, ia merupakan penggemar musik, komik, dan film-film "aneh" jika tidak bisa dibilang kolektor. Heru Hikayat adalah kurator independen yang mengetahui dengan cukup bagaimana spirit avant-garde dalam seni rupa. Pertimbangan mengadakan topik ini juga adalah mengimbangi kebiasaan Klab Filsafat Tobucil yang belakangan agak lebih sering bicara hal-hal yang berkaitan dengan sains.

Pembahasan ini dimulai langsung dengan mengapresiasi karya musik John Cage berjudul 4'33''. Ditulis untuk orkestra, karya ini adalah "musik tanpa musik": Diam selama empat menit tiga puluh tiga detik!  "Karya ini saya golongkan sebagai performance art, karena saya tidak mau beli CD yang salah satu track-nya 4'33''," ujar Mas Reza sambil tertawa, sekaligus membuka obrolan. Mas Heru kemudian angkat bicara, agak panjang, "Avant-garde, atau garda depan, adalah istilah yang mula-mulanya muncul di militer. Anggap saja untuk kita mau masuk ke suatu wilayah, ada regu pendahulunya. Regu pendahulu ini, yang bertugas mengecek, nasibnya bisa dua: Kembali dengan selamat, mendapat pujian, dan bisa menjadi acuan untuk perjalanan berikutnya. Atau dia mati, tidak kembali, dan tidak mendapat penghargaan apapun." Analogi yang dibangun oleh Mas Heru ini, memberi gambaran bagaimana semangat avant-garde yang dimaksud dalam dunia seni. "Bayangkanlah ujung dari seni itu seperti apa," lanjut Mas Heru.

John Cage dalam karyanya tersebut, tentu saja mengadakan satu pertaruhan tentang nasibnya sebagai seorang "pembuka jalan". Namun Cage ini masuk dalam kategori berhasil karena kemudian namanya diakui dan karyanya mendapat pujian pada akhirnya. Selain mempertontonkan Cage, Mas Reza juga memperdengarkan karya dari Frank Zappa yang cukup avant-garde. "Karya ini membicarakan sayuran ketika orang-orang pada jamannya rajin menuliskan lirik tentang cinta," kata Mas Reza. Namun bukan soal lirik yang membuat Zappa dalam lagu tersebut menjadi avant-garde, melainkan bagaimana Zappa menciptakan komposisi dimana rekaman orang-orang yang berbincang tentang musik, dimasukkan dan menjadi bagian dari karya!

Dalam diskusi, terlontar beberapa pertanyaan, misalnya Andri, "Kangen Band misalnya, mungkin industri menjualnya karena dianggap avant-garde. Dengan penampilan seadanya, plus konsep rock melayu, itu barangkali semacam perlawanan juga terhadap main-stream." Tanpa berpanjang lebar, Mas Heru bertanya balik pada forum, "Apakah Kangen Band ini cukup pantas didiskusikan secara intelektual?"Rata-rata peserta di situ menjawabnya dengan tertawa terkikik. "Artinya, ada seni tertentu yang memang ada di tataran yang kita tidak bisa mendiskusikannya secara serius. Ini bisa jadi disebut kitsch (kampungan, seolah-olah seni padahal bukan) karena produksinya yang massal. Kalau Kangen Band dipaksakan masuk ke tataran avant-garde, bisa saja, tapi orang-orang serius akan marah."

Diskusi kemudian masuk ke bagaimana memisahkan seni tinggi dan seni rendah, jika itu ada. "Kan yang seperti itu bisa jadi semacam kesewenang-wenangan estetik saja," ungkap Liky. "Ya, itu bisa dibilang begitu. Tapi untuk mengapresiasi suatu seni bisa disebut tinggi atau rendah, tentunya butuh pemahaman akan sejarah," kata Mas Heru. Hal yang disambut langsung oleh Mas Reza, "Dalam musik, ya tak ada jalan lain, ketika kita mendengarkan banyak, kita tahu mana yang baru dan mana yang usang."Mas Heru menimpali lagi, "Ketika seseorang, misalnya, menemukan musik rap sebagai bentuk pemberontakan, dan setelah itu banyak rapper yang menjadi kaya karena musik rap. Kita bisa curigai rapper-rapper kaya ini memperlakukan rap sebagai sesuatu yang fungsional, bukan sesuatu demi pencapaian artistik. Nah dari situ, secara kodrati, sebagaimana halnya manusia yang selalu membandingkan segala sesuatu mana yang lebih baik dan tidak, maka seni pun otomatis akan masuk ada kategori-kategori itu."

Diskusi ditutup dengan denting piano karya komposer Minimalis, Philip Glass: Metamorphosis.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin