24.9.12

Klab Filsafat Tobucil: Menuliskan Sejarah

Senin, 25 September 2012

Klab Filsafat Tobucil seharusnya kedatangan lagi seorang narasumber yakni Sophan Ajie. Ia semestinya berbagi tentang penulisan sejarah. Hanya saja, Sophan yang aktif juga sebagai mentor Klab Nulis Tobucil urung hadir karena kesibukan. Namun ketidakhadirannya tidak membuat diskusi menjadi melempem. Para peserta tetap bisa membahas wacana ini secara menarik.

Obrolan dimulai dengan yang ringan-ringan, seperti pengalaman belajar sejarah di sekolah masing-masing. "Guru sejarah saya dijuluki jam kosong karena apa yang dia sampaikan sering membuat ngantuk akibat terlalu textbook," kata Dini membuka wacana. Hal sama diiyakan oleh Rudy yang mengaku punya guru sejarah yang ketat, "Guru sejarah saya tidak mau dibantah, dia menganggap sejarah adalah ilmu pasti.". Rachmat malah kebalikannya, "Guru sejarah saya malah asyik, dia mengajak diskusi. Melihat sejarah sebagai sesuatu yang bisa diwacanakan."

Meski dimulai dengan ringan, namun ucapan-ucapan Rudy, Dini, dan Rachmat bisa menjadi titik awal pembahasan: Bagaimana sesungguhnya posisi sejarah, apakah dia ilmu pasti atau terbuka kemungkinan terhadap utak-atik? Liky memulainya dengan cukup tajam, "Ada yang bilang -saya lupa namanya-, tentang sejarah yang selalu berpihak pada kaum borjuis. Sejarah adalah selalu tentang 'golongan atas'. Padahal para buruh punya andil misalnya dalam membangun piramida. Tapi yang dikenang selalu yang menjadi pharaoh."Hal ini dibenarkan oleh Irwan yang mengutip dari sejarawan Islam, Ibnu Khaldun, "Sejarah adalah selalu sejarah kekuasaan, maka itu penting untuk mengecek berbagai versi sejarah sebelum mengambil kesimpulan."

Adi Marsiella, jurnalis, tentu saja punya peran dalam menuliskan sesuatu yang bisa menjadi sejarah. Ia sering menulis dengan teknik feature, yaitu tulisan yang relevansinya berlaku lebih lama daripada liputan jurnalistik biasa. "Misalnya, liputan jurnalistik biasa akan menulis tentang bahaya gempa ketika memang bahaya itu ada, tapi feature akan tetap menuliskan tentang bahaya gempa meski kondisi sedang damai-damai saja. Maksudnya, untuk memberi semacam kesadaran yang sifatnya lebih lama," kata Adi. Dari pernyataan tersebut, jika penulisan feature adalah juga sebagai satu "tindakan sejarah", maka sebenarnya sejarah selalu dituliskan untuk tujuan tertentu. Artinya, sejarah bisa dikonstruksi sesuai kebutuhan. "Misalnya, ada kejadian terkenal ketika Soekarno foto berpelukan dengan Jenderal Soedirman. Sebenarnya Jenderal Soedirman tengah marah pada Soekarno, tapi di foto itu tergambar tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Sebagai catatan, adegan dalam foto itu tidak alami karena momen berpelukan yang pertama tidak terambil oleh fotografer. Soekarno pun mengulanginya lagi untuk mendapatkan citra yang ia mau," lanjut Adi panjang lebar.

Jika demikian, secara epistemologis sebenarnya kita tidak punya kemampuan untuk mengetahui validitas sejarah. Pertama, oleh sebab sejarah itu sendiri selalu dikonstruksi. Kedua, sejarah diciptakan oleh kekuasaan untuk melanggengkan. Misalnya, Rudy menyinggung soal Syekh Siti Jenar yang dituduh sesat oleh Wali Songo. "Konon," kata Adi, "Siti Jenar dieksekusi bukan semata-mata konsep wahdatul wujud-nya, melainkan karena ia Syi'ah dan sembilan wali itu beraliran Sunni. Ada faktor kuasa di baliknya." Hal yang sama juga terjadi di film 300 ketika raja Persia, Xerxes, meminta orang-orang untuk tidak lagi menyebut Leonidas, musuhnya, hingga keturunan-keturunan berikutnya. Artinya, Xerxes tidak hanya ingin membunuh lawannya saat itu, tapi ingin menghapuskan namanya dari sejarah.

Jika kemudian sejarah tidak bisa dipercaya, lantas untuk apa kita masih mempelajari sejarah? "Entah benar atau tidak validitasnya, tapi sejarah adalah pedoman untuk hidup kita hari ini," jawab Irwan pendek. Atau boleh juga dikata, bahwa segala gerak gerik kita sesungguhnya -sadar atau tidak- dalam tujuan bereksistensi dalam sejarah.

Imam Al-Ghazali berkata, "Sesungguhnya yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Apa yang paling jauh dari manusia? Jawabnya: masa lalu."




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin