10.9.12

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Dari Teknik Multi-Narasi hingga Fungsi Ganja

Senin, 10 September 2012

Klab Filsafat Tobucil dua minggu berturut-turut tidak berkumpul di Tobucil. Kenapa? Karena dalam dua minggu tersebut, film yang diputar di LayarKita (di IFI Bandung) terlalu sayang untuk ditinggalkan. Minggu kemarin, yang diputar adalah film Mata Tertutup karya Garin Nugroho. Sedangkan kemarin yang disajikan adalah film Babel yang disutradarai Alejandro González Iñárritu.

Film tahun 2006 itu berlangsung cukup panjang, sekitar dua jam setengah. Mengambil latar di Jepang, Maroko, Amerika Serikat, dan Meksiko, yang menjadikan film tersebut menarik adalah gaya penceritaannya yang lompat-lompat dan multi-naratif -tidak seperti kebanyakan film Hollywood yang linear-. Ceritanya sendiri tidak terlalu rumit: Diawali dengan keisengan dua anak penggembala di Maroko yang menembak bus turis dari kejauhan (tanpa bermaksud melukai), ternyata berbuntut panjang. Ujung-ujungnya, persoalannya menjadi global dan meruncing ke hubungan antar negara. Masalah tersebut kemudian ditarik ke sebelum dan sesudah kejadian di wilayah lain, yang ternyata punya hubungan dengan apa yang terjadi di Jepang dan juga Meksiko.

Meski film tersebut cukup panjang, namun peserta yang hadir di Auditorium IFI -sekitar lima belas orang- tidak kehabisan stamina untuk berdiskusi. Rudy pertama angkat bicara. Ia melihat bahwa Babel punya kandungan filosofi Sartre dan Hegel. Ia mengutip Sartre, "Keputusan yang kita ambil, adalah keputusan yang berlaku untuk seluruh umat manusia." Juga Hegel, "Roh Absolut mengenali dirinya lewat dialektika: lewat tesa, antitesa, sintesa."  Pemahaman ini ada benarnya juga, jika merunut awal mula terjadinya konflik besar di film Babel, sesungguhnya diawali dari pemberian senapan dari Yasujiro Wataya ke Hassan Ibrahim di Maroko. Pemberian yang atas niat persahabatan itu, ternyata berujung petaka antar-negara. Seperti kata Sartre: Keputusan-keputusan kecil seperti itu berdampak pada seluruh umat manusia. Juga seperti filsafat Hegel, film Babel menunjukkan bahwa dalam rangkaian peristiwa yang dilihat secara holistik, maka tidak ada yang betul-betul bersalah dan benar. Segala sesuatu saling mendukung sesuatu yang lain.

Ibu Lina menyatakan kekagumannya terhadap sang sutradara, Iñárritu. Katanya, "Film ini sungguh cerdas dan mengandung banyak pesan. Misalnya, tentang bagaimana negara-negara seperti Maroko dan Meksiko kerapkali dipojokkan karena posisinya sebagai negara Dunia Ketiga." Ibu Lina juga menyatakan kepenasarannya pada dua film sebelum Babel -karena Babel adalah film ketiga dari trilogi, dua film pertama berjudul Amores Perros dan 21 Grams-, "Apakah ada kesamaan tema antara ketiganya?" tanyanya. Mas Daus mencoba menanggapinya dengan menceritakan bahwa Iñárritu mungkin membedakan ketiga tema dalam film-film tersebut. Namun satu hal yang pasti diangkat sebagai karakteristik sang sutradara adalah gayanya yang multi-naratif tersebut. Pertanyaan berikutnya? Jika dibuat gaya linear, apakah efek dari film Babel akan sama? "Tidak," kata Albert, "Film ini akan sangat membosankan."

Setelah Liky dengan kritis mempertanyakan konsep negara -sejalan dengan Irwan yang melihat Babel sebagai film tentang kemanusiaan yang kerdil di hadapan negara-, pembahasan agak sedikit meluas ke wilayah legalitas ganja. Benny yang memulainya, "Saya tertarik lihat adegan dimana wanita tua menyodorkan ganja ke Sarah Jones dan akhirnya dia menjadi tenang. Itu menunjukkan fungsi ganja yang -tanpa disalahgunakan- menjadi penting untuk pengobatan." Hal tersebut diiyakan Albert yang memang belum pernah mendengar efek samping serius yang ditimbulkan oleh ganja. "Kecuali mungkin dalam jangka panjang," tambahnya.

Diskusi tersebut berakhir jam sembilan lebih, atau berlangsung kurang lebih sejam sejak film selesai diputar.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin