5.9.12

Stefanus Ping Setiadi: Pejuang Pluralis yang Multi-klab-is

Ping (tengah, merokok) di kegiatan Tobucil.


Dalam kurun waktu tertentu, Tobucil kerapkali ada pengunjung tetap yang mempunyai sifat “multi-klab-is”. Istilah tersebut dibuat-buat saja, untuk menunjukkan seseorang yang aktif mengikuti berbagai kegiatan klab di Tobucil. Multi-klab-is belakangan ini adalah Stefanus Ping Setiadi. Bermula dari kedatangannya di acara Pesta Filsuf: Etika di Media yang diselenggarakan di Tobucil Januari lalu, sejak itu ia nyaris mencicipi seluruh kegiatan yang terbentang di Tobucil. Berikut adalah petikan wawancara dengan pria bertato yang lahir dengan nama Yap She Ping ini: 

Tobucil (T) : Ping sejak kapan namanya Stefanus Ping Setiadi? Bukannya aslinya Yap She Ping? 

Ping (P) : Iya sejak lulus SMA. Saya tetap mempertahankan nama Ping karena Ping artinya pembawa damai. 

T : Ping pertama datang ke Tobucil kan di acara Pesta Filsuf. Tahu acara itu dari mana? 

P : Bulan Januari 2012 ada teman yang mem-posting di IA (Indonesian Atheist), tentang adanya acara pesta filsuf di Tobucil. Dia mention saya katanya saya pasti tertarik dengan acara itu. Dia sendiri gak ikut. Jarang-jarang soalnya anak IA yang suka filsafat. 

T : Itu artinya, kamu aktif di grup ateis? 

P : Tidak hanya di kelompok ateis, tapi di kelompok-kelompok yg peduli dengan pluralitas, dialog lintas agama dan keyakinan. 

T : Waw, kenapa kamu tertarik dengan isu-isu seperti ini? 

P : Saya lahir dari dan di lingkungan keluarga keturunan di tengah keberagaman masyarakat di negeri ini. Tentunya banyak cerita di sana yang bisa dituang dengan kecinaan saya, dengan tetangga-tetangga saya yg beragam jenis, dengan teman-teman bermain masa kecil saya yang beragam juga, dengan kehidupan diskriminasi yang saya dan keluarga saya dapatkan, dengan kehidupan keberagaman yang ternyata sebenarnya menyulut banyak masalah horizontal bagi masyarakat kita.

 T : Soal pluralitas ya. Hmmmm. 

P : Iya, utamanya persoalan rasial dan agama. Ketika orang-orang yang sekaum dengan garis darah saya membatasi pergaulan karena ekslusivitasnya, ketika agama mengajarkan bahwa menjadi orang baik adalah seperti agama yang saat itu saya yakini. Eh ternyata, di kehidupan sehari-hari, kok malah membentur dengan fakta bahwa orang-orang di luar suku saya, orang-orang di luar agama saya yang berbeda kok ada juga yg baik dan bisa menerima saya dan saya bisa nyaman bergaul dengan mereka. 

T : Sebentar Ping, sebelum lanjut, ceritakan dulu dong keseharian kamu ngapain aja? 

P : Sehari-hari mengajar di sanggar, sekolah, dan mengerjakan orderan-orderan “lacur” seputar melukis, ilustrasi, desain, dan sejenisnya. Sisanya berkegiatan menjalani passion lain selain mencari nafkah, seperti di Tobucil dan Garasi10. 

T : Memang kegiatan-kegiatan apa aja yang pernah kamu ikuti di Tobucil? 

P : Sekarang sedang aktif di Klab Filsafat Tobucil. Pernah ikut Klab Baca dan KlabKlassik juga. Pernah juga ikut kelas melukis Mas Tanto (R.E. Hartanto –red). 

T : Ada niatan ikut kelas merajut juga? 

P : Kenapa tidak? Sayangnya belum ada waktu. Lagian terlalu banyak bidang nanti jadi gak fokus hehe. 

T : Sekarang mari hubungkan kegiatan-kegiatan seperti di Tobucil ini dengan apa yang tadi kita bahas, yaitu tentang pluralitas. Kira-kira apa pengaruh ruang-ruang alternatif seperti Tobucil ini terhadap pluralitas? ada gak kontribusinya? 

P : Jelas ada! Di ruang alternatif kan kita belajar mewacana dan mendialogkannya. Ini penting buat mengisi amunisi untuk bisa dibawa ke medan tempur Sekali lagi, ruang non alternatif (baca: ruang mainstream) sepertinya tidak memfasilitasi itu. Terlalu banyak batasan-batasan dan tidak membebaskan krb berbentur dengan kepentingan-kepentingan. 

T: Ping? (sambil memandangi lengan Ping yang penuh tato)

P: Ya?

T: Coba deskripsikan tato-tato yang ada di badanmu!

P: Ada tato nama diri dalam bahasa mandarin di dada, ada tulisan kanji Cina lain juga di lengan atas kanan dan kiri yg berarti seputar kenarsisan dan cinta. Ada tato salib, malaikat di punuk dan punggung. Ada tato gajah baris di lengan kiri. Ada tato naga yg membentuk simbol Yin & Yang di tangan kiri. Insya Allah nanti nambah lagi yg lain.

T: Apakah ada hubungannya tato dengan pluralitas?

P: Tentunya. Sebenernya soal tato itu pertama karena jadi media curah energi. Seperti anak-anak yang suka mencorat-coret ruang kosong di mana saja mereka berada. Tato saat ini yang melekat di badan saya ya bentuk edukasi juga sama orang-orang, bahwa ini loh ada makhluk seperti saya tapi bisa hidup berdampingan bersama kalian. Mengenalkan keragaman bentuk manusia yang salah satunya ada guru yang bertato (baca: ada Ping yang bertato). Ketika mereka sudah terbiasa, dan lama-lama bisa menerima - yg harapannya tulus untuk bisa menerima tentunya. Memang butuh "usaha" untuk bisa mewacanakannya. "Usaha-usaha" seperti ini menarik minat saya, menjadi passion saya dlm hidup haha. 

T : Ping, kita ngobrol serius lagi. Tentunya kita tahu ada kelompok-kelompok tertentu yang tidak suka pluralitas hadir di Indonesia. Upaya apa nih yang kira-kira bisa dilakukan untuk "menahan serbuan" orang-orang yang tidak suka keragaman?

P: Untuk menahan serbuan anti pluralitas untuk saat ini saya baru bisa melakukan di ruang-ruang yang baru terjangkau. Misalnya, di sekolah tempat saya mengajar, saya selalu menebarkan virus-virus keberagaman dalam bahasa anak-anak. Kebetulan saya mengajar di sekolah yayasan kristen yang di sana kurang kemajemukannya juga. Selain itu, saya juga sering membuat tulisan, utamanya status (baru di facebook) di jejaring sosial untuk bisa menebarkan virus-virus keberagaman atau isu-isu lain yang aktual dan esensial. Saya juga cukup aktif berbagi olah pikir di kelompok-kelompok diskusi, misalnya ikut aktivitas dialog lintas agama seperti Jakatarub dan grup diskusi Bhinneka. Pokoknya, terus mengedukasi orang-orang awam di sekitar kehidupan saya dengan bahasa yang mudah diterima mereka dan tentunya dengan cara yang tidak menggurui. Ini cukup menantang untuk bisa diulik yaitu bagaimana kita bisa menyampaikan ide dengan cara berbahasa menurut segmen yang kita tuju.

T: Oke Ping, pertanyaan terakhir. Dengan identitas yang tanggung melekat padamu seperti misalnya tato, pluralis, ateis, apakah pernah dikucilkan?

P: Satu hal absolut yang paling saya yakini dalam hidup : Canda itu membuat lebur, canda itu menyatukan, canda itu menyelamatkan. Canda itu jauh lebih tinggi derajatnya dari agama! Alhamdulilah bahasa canda menyelamatkan saya hingga hari ini. Saya tidak pernah mengalami keterkucilan karenanya.

T: Mantap Ping, haturnuhun!

P: Sami-sami!



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin