14.10.12

Dari Beranda Mengintip Malena

Minggu, 14 Oktober 2012


Setelah bulan September tidak ada kegiatan sama sekali, KlabKlassik memulai lagi kumpul-kumpulnya bulan ini. Kekosongan di bulan September disebabkan oleh kepergian tiga punggawa KlabKlassik, yang salah satunya adalah yang paling aktif dalam mengkoordinasi kegiatan mingguan, yaitu Diecky K. Indrapraja. Setelah beristirahat sejenak, KlabKlassik memulai aktivitasnya dengan Edisi Nonton. Mas Yunus Suhendar sebagai koordinator membawakan film yang cukup segar: Malena (2000)

Mas Yunus memilih film ini karena selain cukup ringan secara alur cerita, music scoring-nya digarap oleh komposer kenamaan Ennio Morricone. “Ada beberapa karya opera yang ditampilkan dalam film ini,” kata Mas Yunus merujuk pada karya Morricone, komposer yang karyanya cukup terkenal di beberapa film seperti Fistful of Dollars, For a Few Dollars More; The Good, The Bad and The Ugly; The Mission, dan The Untouchables. “Ini adalah film yang Italia banget. Sutradaranya, pemainnya, penata musik, hingga bahasanya adalah Italia,” tambah Mas Yunus beberapa saat sebelum film mulai diputar. 

Film Malena yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore ini berpusat pada seorang anak bernama Renato (diperankan oleh Giuseppe Sulfaro) yang sedemikian terobsesi pada seorang wanita cantik di kotanya, Castelcuto. Wanita bernama Malena Scordia (Monica Bellucci) tersebut tidak hanya menjadi idaman si anak, melainkan hampir seluruh pria di Castelcuto. Malena, meski jadi incaran, namun ia tampak setia pada suaminya, seorang serdadu bernama Nino Scordia. Setelah sang suami dikabarkan tewas di medan perang, perhatian seisi kota semakin menjadi-jadi pada Malena. Pun Renato, ia menjadi tambah terobsesi. Ia rajin mengintip Malena di rumahnya, pernah mencuri celana dalamnya, dan membayangkannya hampir di setiap waktu. Meski membuat penonton tertawa-tawa dalam enam puluh menit pertama, namun film ini menjadi tragis menjelang akhir. Terutama oleh pupusnya obsesi anak karena suami Malena, Nino Scordia, ternyata tidak gugur di medan perang. 

Selesai menonton film berdurasi 94 menit tersebut, terjadi diskusi kecil. “Penampilan si anak, Renato, begitu fantastis. Menunjukkan gelora yang. belum bisa membedakan mana yang hasrat dan mana yang cinta. Tapi tampak begitu alamiah."ujar Tubagus. Rendy kemudian membandingan dengan film Malena versi yang lain, “Di versi ini, banyak adegan yang disensor karena sedikit porno. Namun adegan yang disensor tersebut, bagi saya, justru penting, Karena harus dieksploitasi bagaimana kegalauan si anak, Renato, yang belum bisa menyeimbangkan antara nafsu dan logikanya.” Mas Yunus kemudian mengomentari musiknya yang digarap Morricone, "Lagu utamanya, yaitu Ma L'Amore No sangat kuat dan menopang film secara keseluruhan. Suara klarinetnya sangat khas."

Pembahasan menjadi masuk sedikit tentang voyeurism. Bagaimanapun, aktivitas Renato terhadap Malena bisa dikategorikan sebagai mengintip. Renato mengendap-endap dan melihat Malena di rumahnya lewat lubang kecil, untuk kemudian berfantasi seorang diri di kamarnya. Namun mengintip sendiri bukanlah semata-mata melihat dari lubang kecil. Orang yang menyaksikan televisi punya esensi sama dengan mengintip: Melihat seseorang, menikmati membayangkan kehidupannya, tapi tanpa perlu khawatir orang yang dilihat kemudian balas melihat balik. Apakah hal tersebut hanya terjadi di usia labil seperti Renato? "Tidak," jawab Mas Yunus, "Kawan-kawan saya yang sudah menikah, berfantasi lebih gila daripada remaja." Rudy melanjutkan, "Voyeurism bukan penyimpangan. Ia dimiliki semua pria. Bahkan norma kesusilaan tidak sanggup mengadili hal-hal semacam ini," tutup Rudy.   

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin