29.10.12

Kampanye Musik tanpa Jarak

Minggu, 29 Oktober 2012


Sore itu hujan teramat deras. Beranda Tobucil yang bersiap diwarnai suara gesekan biola Ammy Kurniawan, menjadi tertunda untuk beberapa saat.

Kang Ammy adalah pemain biola band 4 Peniti yang juga aktif sebagai pengajar di jalan Progo nomor 15. Ini bukan pertama kalinya ia menghangatkan Tobucil. Selain memberikan workshop seperti kemarin ini, Kang Ammy juga pernah tampil di Crafty Days bersama sejumlah anak didiknya. Pertemuan yang menjadi bagian dari agenda KlabKlassik kali ini, Kang Ammy juga mengusung tema: Tentang bagaimana mengapresiasi musik secara live. Yang hadir cukup banyak, sekitar lima belas orang. Hal tersebut terhitung lumayan karena hujan berlangsung deras sekali.

Kang Ammy memulainya dengan pembukaan sedikit. "Saya pernah berusaha merekam permainan seorang pemain biola dengan handycam. Namun karena terlalu terpesona, saya menjadi tidak peduli akan niat saya untuk merekam," ujar Ammy. Ia justru heran, hari ini orang-orang yang menonton konser musik begitu giat merekam, padahal tujuan musik live, kata Kang Ammy, "Agar kita bisa menghayati langsung musik dengan seluruh indra kita. Karena hal tersebut tidak bisa dinikmati sepenuhnya ketika di layar kaca ataupun radio. Tapi mengapa kita seringkali memberi jarak lagi dengan cara merekamnya? Apa karena gadget yang canggih?"

Selain penekanan pada apresiasi, kang Ammy juga menekankan pentingnya para musisi untuk berimprovisasi pada saat live. "Improvisasi ini tidak hanya dalam bentuk musik itu sendiri, tapi juga dalam bentuk performa," ujar Kang ammy yang mengingatkan bahwa ia pernah mengangkat telepon ketika di atas panggung dan berkata, "Saya sedang main!" Intinya, bermain musik, bagi Kang Ammy, berarti menghibur dengan berbagi. Lebih jauh lagi ia merenungkan, bahwa sangat bagus kalau berbagi itu tanpa jarak, "Ya seperti sekarang ini," katanya sambil menunjuk suasana di beranda Tobucil yang tidak ada panggung dan relatif egaliter. Kang Ammy ingin agar konser-konser berikutnya ia selenggarakan dari garasi ke garasi.

Kang Ammy tidak langsung bermain biola, ia terlebih dahulu memainkan gitar demi mengiringi orang-orang yang hadir. Shandieka mendapat gilirannya dengan memainkan All My Loving karya The Beatles. Kang Ammy memuji Shandieka karena keberaniannya untuk berimprovisasi di tengah-tengah lagu. Untuk menularkan keberanian ini ke peserta lainnya, Kang Ammy menyuruh para pemain untuk berimprovisasi satu per satu hanya dengan lima nada. Kang Ammy kemudian mengiringinya dengan progresi blues.


Suasana makin menghangat ketika Kang Ammy mulai beraksi dengan biolanya. Ia tidak hanya bermain akustik, melainkan menggunakan sejumlah efek. Efek ini, katanya, "Karena saya selalu sendirian kalau main, jadi saya menggunakan efek ini untuk mengiringi diri sendiri." Kang Ammy pun kemudian mendemonstrasikan permainan yang memukau, sangat orkestratif, meskipun sendirian. Kata Kang Ammy, "Nyesel kalau tidak mencoba alat ini, saya tidak akan mengajarkannya di saat les," Atas "ancaman" tersebut, satu per satu peserta yang tadinya pemalu pun mencoba satu per satu. Para peserta menjadi sadar akan satu hal: Bahwa hanya dalam kondisi musik tanpa jarak seperti ini, interaksi dan dialog intens terjadi.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin