15.10.12

Klab Filsafat Tobucil: Ateisme, Tren Intelektual?!

Senin, 15 Oktober 2012


Pada suatu hari Kang Nietzsche berteriak keliling kampung, "Tuhan sudah mati... !!" 

Teriakannya begitu keras sehingga semua orang di kampung itu bisa mendengarnya, "Tuhan sudah mati...!! Tuhan sudah mati…!!", ulangnya berkali-kali. 

Karena kesal dengan teriakannya, seorang Pemuka Agama yang mendengarnya membalas, "Kang Nietzsche lagi pusing ya mau membuang mayat-Nya dimana ?" 

*** 

Ateisme secara singkat didefinisikan sebagai ketidakpercayaan terhadap eksistensi Tuhan (titik). Definisi yang lebih luasnya sangat beragam, karena tiap individu pastilah mempunyai latar belakang dan argumen yang berbeda satu sama lain ketika menjelaskan alasan ketidakpercayaannya terhadap keberadaan Tuhan. Sejak akhir abad ke-19, Ateisme mulai rajin dideklarasikan secara intelektual. Ludwig Feuerbach memulai tradisi ini dengan pernyataannya yang terkenal, "Tuhan adalah proyeksi dari ketidakberdayaan manusia." Apa yang ia suarakan adalah juga protes terhadap idealisme G.W.F Hegel yang menempatkan manusia sebagai "alat" untuk menyadarkan roh alam semesta. 

Pasca Feuerbach, Franz Magnis Suseno dalam bukunya, Menalar Tuhan, berturut-turut menyebut empat "pendekar Ateis" lain yang tak kalah sangarnya di belantara abad ke-20. Mereka adalah Karl Marx, Friedrich Nietzche, Sigmund Freud dan Jean-Paul Sartre. Meski kesemuanya sepintas berbeda dalam mengungkapkan pernyataan ateistiknya, namun ada satu benang merah yang penting: bahwa manusia berada di atas segalanya. Para Ateis bukannya hidup tentram dengan penolakannya terhadap Tuhan. Mereka juga gelisah. Sartre menggambarkannya bagai orang yang tidak punya tiket kereta, menghindari kondektur, tapi tidak ada yang menantinya di Stasiun Gijon. Namun apa daya harus konsisten demi berdikarinya manusia. 

Hari ini deklarasi ateisme sudah lumrah dimana-mana. Ateisme yang tadinya menjadi kritik terhadap sikap kebertuhanan yang mereduksi kemanusiaan, menjadi seperti sikap massal yang justru mirip dengan sikap kebertuhanan yang sebelumnya mereka kritik. Ateisme menjadi tidak melulu pro-kemanusiaan, melainkan kadang terjebak juga menjadi pro-institusi seperti halnya penyakit dalam agama-agama besar. Apakah ini berarti ateisme sudah menjadi gejala yang seolah intelektual padahal hanya semacam trend musiman dimana orang hanya berbondong-bondong ikut suara kebanyakan? 

Diskusi pun dimulai dengan Syarif Maulana selaku moderator meminta para ateis yang hadir untuk menceritakan latar belakang dan alasan mengapa mereka memilih menjadi seorang ateis. Setiap hadirin mendengarkan dengan cermat setiap cerita. Ada yang murtad dari Islam karena merasa terlalu banyak kontradiksi dalam Al-quran dan Hadis. Bahkan yang cukup mengejutkan, ada seorang yang hadir malam itu adalah mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia; Ada juga yang ex-Kristen dan Katolik; Ada yang membawa argumen betapa rancunya agama ditinjau dari sisi historis. "Terlalu banyak paradoks dalam Agama", sebut salah satu ateis yang hadir malam itu. 

Tapi tidak semua peserta menjawab dengan serius, salah satunya ada yang menyebut dirinya seorang Islam-Deis. Maksudnya, pemahamannya akan konsep ketuhanan adalah deistik, sedangkan kolom Agama pada KTP-nya adalah Islam. "Saya melihat Tuhan yang ada dalam Agama terlalu manusiawi", tukas salah seorang hadirin yang lain. 

Cerita dari pihak teis pun tak kalah menariknya. Ada peserta yang bercerita bahwa dia pun sebenarnya pernah mempertanyakan dengan kritis tentang banyak hal dalam agama, seperti misalnya fungsi dari shalat, ibadah naik haji, termasuk kontradiksi-kontradiksi yang ada dalam teks-teks suci, tapi tidak sampai membuat dirinya menjadi seorang ateis. Suasana awal diskusi malam itu cukup hangat dengan sesi saling sharing antar peserta, baik teis maupun ateis. Suasana diskusi pun semakin seru tapi tidak terlalu serius. "Menghubung-hubungkan ateisme dengan humanisme itu menurut saya paradoks", jelas Kape, "Tentu saja karena jadinya akan mirip seperti agama. Jika kita beragama A karena kebetulan saja orang tua kita beragama A, maka begitu pula dengan Humanisme. Ateis menggadang-gadangkan humanisme itu hanya karena mereka kebetulan saja terlahir sebagai manusia. Coba seandainya mereka terlahir sebagai ayam, mungkin mereka akan memperjuangkan nilai-nilai ayamisme", lanjutnya dan diakhiri oleh ledakan tawa para hadirin. 

Liem Freddy mulai ikut memberikan komentar, "Mengklaim diri sebagai seorang ateis sebetulnya secara tak langsung membebani diri sendiri. Karena kita secara sadar atau tidak, akan selalu berusaha membuktikan pada pihak teis bahwa kita bisa hidup dengan baik tanpa perlu embel-embel Agama" 

Syarif melanjutkan diskusi dengan melemparkan pertanyaan pada Liky, yang terkenal di Klab karena ke-'kiri'-an-nya. "Seberapa besar pengaruh Filsafat Marx untuk Liky ?" Liky pun menjawab dengan ringan pertanyaan itu, "Oh, Marx tidak pernah membahas Ateisme. Alasan mengapa ia menyisihkan agama, ya karena agama menurutnya bisa jadi candu yang berbahaya" 

Ada sedikit perbedaan pendapat ketika arah pembicaraan sampai pada pertanyaan 'Tuhan mana yang sebenarnya ditolak oleh kaum ateis ?'. Ambil contoh: Jika Tuhan Islam adalah yang ditolak oleh seorang ateis, maka patut dipertanyakan: Apakah dia sudah mempelajari Tuhan-Tuhan dari agama lain ? Jika belum maka bisa dikatakan dia belum "kaffah" sebagai seorang Ateis. Tapi akan berbeda jikalau yang ditolaknya adalah konsep Tuhan secara universal, misalnya menolak konsep Kreasionisme yang digunakan oleh kebanyakan agama, khususnya Agama Samawi. "Ateisme seharusnya adalah kesimpulan," tegas Satrio. Skeptisme adalah salah satu alasan utama mengapa seorang ateis menolak konsep Tuhan dalam agama, yang menurut mereka adalah tidak masuk akal. Tapi patut dipertanyakan pula, apa yang mendasari keraguan seseorang terhadap konsep ketuhanan ? Bukankah diperlukan pengetahuan yang sebanding dan kontradiktif yang mampu membantah konsep Tuhan dalam Agama ? Misalnya: ketika seorang Ateis menolak konsep penciptaan karena memiliki argumen saintifik yang lebih bisa menjelaskan asal mula makhluk hidup secara lebih rasional. Dalam hal ini, Ateis bertolak pada teori abiogenesis dan teori evolusi sebagai dasar penolakan mereka terhadap konsep penciptaan. 

Lalu bagaimana Ateisme dilihat dari kacamata spiritual? Sebenarnya jika dilihat dari sisi spiritualisme, ateisme bukanlah pemahaman yang bisa dikatakan 'matang', karena ia masih berada pada ranah pembuktian ada-tidaknya Tuhan. Meskipun pada dasarnya burden of proof berada di pihak teis sebagai pengaju klaim adanya Tuhan. Seorang spiritualis cenderung memilih berposisi sebagai agnostik, sebagai penegasan bahwa Tuhan tidak bisa dibuktikan ada atau tidaknya. Tentu saja karena mereka telah sampai pemahaman yang lebih sederhana dan bijaksana, bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menalar Tuhan. Pun salah satunya adalah keterbasan bahasa. Rudy yang adalah seorang muslim sufistik menjelaskan bahwa menyebut nama Allah sendiri bisa dikatakan musyrik, karena secara tak langsung telah memberhalakan Tuhan dengan bahasa. “Apakah ateis mempunyai iman ?”, tanya seorang hadirin. Pertanyaan ini cukup menggelitik para Ateis yang hadir, dan akhirnya dijawab dengan cukup menggelitik juga, “Iman seorang Ateis adalah ketika ia merasa dirinya lebih pintar dari Teis, lalu merasa berhak mengoblok-goblokan mereka. Padahal dari pihak Ateis sendiri banyak kok yang tidak cerdas.” 

Liem Freddy
Google Twitter FaceBook

1 comment:

avenk27 said...

Well, orang2 IA terlalu ngeribetin label, mereka hampir lupa ngehidupin hidupnya.

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin