9.10.12

Klab Filsafat Tobucil: Hyper-Cocotism bersama Yusrila Kerlooza

Topik Klab Filsafat Tobucil sore itu agak membuat orang-orang bertanya: Apa sesungguhnya hyper-cocotism? Apakah pemikiran sejenis hiper-realitas atau hiper-metafisika? Terminologi hyper-cocotism memang belum dikenal luas, maka itu diperkenalkan oleh sang pembicara: Yusrila Kerlooza.
Yusrila Kerlooza, dosen UNIKOM yang membimbing murid-muridnya menjuarai kompetisi robot tiga kali berturut-turut.

Yusrila alias Mas Yus membuka diskusi dengan sedikit pengantar tentang hyper-cocotism, "Kita biasa mengutip ucapan seseorang untuk dijadikan referensi baik dalam tulisan ilmiah, seminar, hingga obrolan sehari-hari. Namun ada bahaya di balik mengutip tersebut. Seringkali, pertama, pengutipan itu tidak bertanggungjawab karena tidak mencantumkan sumber aslinya. Nah, yang lebih berbahaya, pengutipan itu dituliskan sumbernya, tapi sumbernya sendiri tidak bisa dipercaya sumber ucapan itu darimana!" Itu sebabnya, lanjut Yusrila, kita namai hyper-cocotism. Rupanya kata 'cocot' disini mengacu pada kata dalam bahasa Jawa yang artinya 'mulut'. Bisa kita terjemahkan secara bebas, bahwa hyper-cocotism diartikan sebagai: Paham yang mengedepankan penggunaan mulut secara berlebihan.

Ping langsung bertanya, "Mengapa Mas Yus menganggap penting untuk membahas ini semua?" Mas Yus menjawab, "Saya mengenal seseorang yang di rumahnya terpajang foto-foto ia bersalaman dengan orang-orang terkenal semisal Hatta Rajasa. Sepintas, kita akan menganggapnya orang ternama. Tapi setelah diselidiki, memang orang itu hobinya salaman! Ia bertemu dengan Hatta Rajasa di suatu tempat dan langsung mendatangi, menyalami, dan meminta rekannya untuk lekas memoto. Foto-foto ia bersama orang terkenal itu dijadikan senjata untuk berbisnis." Hal yang kemudian diamini Freddy, "Saya juga sering dibekali oleh babeh nama-nama orang tertentu. Katanya, 'Kalau ke perusahaan ini, bilang kamu kenal nama-nama ini ya.' Hal seperti ini memang memudahkan bisnis banget!"

Mas Yus kemudian mencontohkan Imam Bukhari, sang pengumpul hadits. Kata Mas Yus, "Beliau ada di jaman ketika hadits-hadits ramai dipalsukan untuk berbagai kepentingan. Beliau, yang hafal ribuan hadits, kemudian melakukan ricek. Imam Bukhari melacak asal muasal ucapan ini darimana, kata siapa, bagaimana orangnya, apakah bisa dipercaya atau tidak? Ia melakukannya dengan betul-betul teliti hingga akhirnya hadits-hadits bisa tersaring antara yang palsu dan asli. Atau setidaknya, yang kuat dan lemah bisa cukup jelas." Persoalannya, dengan sedemikian mudahnya hari ini orang melacak asal-muasal sumber referensi oleh sebab bantuan internet, namun hyper-cocotism malah semakin merajalela. Mas Yus mencontohkan maraknya motivator di televisi belakangan. Motivator tertentu banyak mengutip omongan seseorang yang kemudian diklaim sebagai omongan dia sendri. Parahnya, para penonton kemudian mengutip ulang omongan motivator itu seolah-olah dia lah sumber primernya. "Kembali lagi," lanjut Yusrila, "Mengutip cocot para pengutip cocot."

Pada akhirnya, teknologi kembali menghadirkan dua sisi mata uangnya. Di satu sisi, dengan keberadaan internet, orang semakin mudah untuk mengutip sana-sini dan diklaim sebagai ucapannya. Di sisi lain, dengan internet pula, orang semakin mudah untuk melacak mana yang digolongkan hyper-cocotism dan mana yang tidak. "Disini pula," tambah Mas Yus, "Pentingnya filsafat." Mengapa? "Karena filsafat mengajarkan fondasi skeptis dan logis. Orang bisa meragukan kebenaran dan tidak mudah percaya oleh hyper-cocotism sebelum diuji."

Semua hening sejenak sebelum Mas Yus menutup diskusinya dengan kesimpulan yang bertolak belakang dari diksusi, "Sebenarnya, hyper-cocotism tidak apa-apa juga. Karena banyak orang menyukainya. Bukankah ignorance is a bliss?" Kalimat tersebut disambut derai tawa para peserta diskusi.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin