29.10.12

Klab Filsafat Tobucil: Orientasi Seksual dan Legalitasnya di Mata Negara

Senin, 29 Oktober 2012

Klab Filsafat Tobucil sore itu mengusung tema orientasi seksual. Semestinya yang menjadi pemasalah adalah Junaedi. Namun ia datang terlambat sehingga diskusi mula-mula berlangsung secara independen. 

Pertanyaan pertama yang disodorkan untuk masing-masing peserta adalah: Pernahkah mempunyai pengalaman bersentuhan dengan fenomena orientasi sosial yang menyimpang? Irwan maju duluan, ia cerita masa-masa SMA tentang dua kawannya yang pria yang ternyata salah satu menyukai satunya lagi. Karena kaget dan heran, teman yang "ditembak" itu memutuskan untuk menjauh. Hal tersebut juga diakui oleh Etsa dan Mayang. Keduanya punya pengalaman serupa ketika ada sahabat dekatnya yang mendadak mengaku suka padahal sesama jenis. Pada kasus Etsa, akhirnya perempuan yang mengaku menyukainya itu dijauhi dan sekarang sudah menikah sesama jenis di Australia. Dalam kasus Mayang, mereka tetap bersahabat.

Dalam diskusi kemarin, ada seorang mahasiswa lulusan Unair yang ia punya pengalaman menarik karena pernah tinggal di sebuah pondok pesantren. Katanya, di pondok khusus putri tersebut, suka sesama jenis menjadi hal yang lumrah. "Bahkan saya pun pernah menyukai kawan saya," akunya. Cecep dan Ping juga mempunyai kasus yang mirip seperti Etsa dan Mayang, hanya dalam konteks pria. "Kawan saya itu malah sangat macho dan tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda akan menjadi penyuka sesama," aku Cecep. Namun Cecep menyelidiki asal mula mengapa perilaku kawannya itu menjadi menyimpang. "Dulu, ibunya ingin anak perempuan, sehingga si anak didandaninya seperti perempuan. Sebaliknya, si bapak tidak setuju. Jadinya si bapak sering menyiksa si anak jika main-mainan anak perempuan. Akhirnya, anak tumbuh dalam ketidakstabilan, mau jadi lelaki atau perempuan?"

Junaedi yang ditunggu akhirnya tiba juga. Ia langsung mengungkapkan ketidaksetujuannya pada penyuka sesama jenis kategori pria. "Kalau perempuan sih, saya suka-suka aja," ujarnya tersipu, disambut tawa peserta lain. Hanya saja ia memeroleh satu peristiwa yang membuat ketidaksetujuannya pada kaum ini melunak. Tukasnya, "Saya pernah menemukan bahwa mereka-mereka berlaku sangat santun. Mereka tidak demonstratif mempertunjukkan kemesraan dan juga bersikap biasa-biasa saja pada saya." Pertanyaan berikutnya, apakah yang dipermasalahkan oleh Junaedi adalah status orientasi seksualnya, atau tata kramanya?

Untuk urusan ini, Junaedi juga cukup bingung karena di satu sisi ia tidak suka dalam arti yang amat mendalam, di sisi lain, ia juga bisa berbalik menyukai selama kaum tersebut bersikap baik. Tanpa mengatasi kebingungannya, ia berbalik bertanya, "Jika kalian punya kuasa, sebagai pejabat negara misalnya, apakah kalian akan mengesahkan pernikahan untuk kaum LGBT?" Liky menjawab, secara rasa keadilan, tentu saja hak-hak mereka patut disetarakan. Namun dari segi politik, di Indonesia, citra seperti itu tidak populer sama sekali. Difa menutupnya dengan, "Saya sih akan menyetarakan hak-haknya. Yang terpenting adalah tidak terjadi kekerasan."

Kegalauan Junaedi akan ketidaksetujuannya pada kaum LGBT tidak terjawab sama sekali. Tapi bukankah daya refleksi kita dipakai bukan untuk menemukan jawaban, melainkan pertanyaan yang baru?

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin