22.10.12

Klab Filsafat Tobucil: Solidnya Konstruksi K-Pop

Senin, 22 Oktober 2012

Sore itu Klab Filsafat Tobucil mengembalikan topiknya ke hal-hal yang lebih keseharian. Apa tujuannya? Agar setiap orang bisa bercerita banyak oleh sebab diasumsikan semuanya pernah mengalami atau setidaknya bersinggungan dengan fenomena yang akan dibicarakan. Yang dibahas adalah sesuatu yang sedang meledak belakangan, yaitu K-Pop alias musik pop yang berasal dari Korea Selatan.

K-Pop memang sedang mengguncang. Buktinya, beberapa penampilan grup musiknya yang datang ke tanah air (misal: Super Junior, SMTown, Bigbang) membuat tiket ludes terjual kurang dari satu jam! "Tapi sebenarnya bukan cuma K-Pop. Kemarin di Surabaya, tiket band Sepultura pun habis kurang dari sejam," timpal Fredy. Pembicaraan kemudian diawali dengan berbagi pengalaman tentang kesukaannya akan budaya pop. "Saya sukanya Yanni," kata Kharisma Prima alias Kape, pendek. Irwan mengakui bahwa dulu pernah sangat suka Backstreet Boys dan Westlife, hal yang juga diamini Mayang.

Lantas, apakah yang membuat K-Pop berbeda dibanding pop sebelumnya yang notabene berkiblat ke AS dan Jepang? Fio menganggap tidak ada bedanya, "Sama aja, budaya pop rata-rata bukan menjual musiknya, melainkan seluruh kemasan perfroma dan yang paling utama: tampang."Hal tersebut diiyakan Mayang yang ketika jaman menyukai boyband dulu, memang alasan utamanya adalah tampang. Namun alasan tampang semata ditolak Irwan, "Artis musik Korea diseleksi secara ketat, bahkan dilatih dulu hingga ke luar negeri. Mereka memang punya skill mumpuni."Selain itu, kata Tubagus, "Pemerintah rasanya juga mendukung penuh ekspansi budaya pop ini sebagai bentuk daya tarik pariwisata. Walhasil, lagu-lagu dan film Korea mudah sekali diunduh karena proteksinya yang tidak seketat AS maupun Jepang. Selain itu, operasi plastik juga dimudahkan untuk mengatasi kekurangan." 

Selain itu, lanjut Hamal, "Ada semacam 'kesengajaan' tentang bagaimana K-Pop dikonstruksi agar mendunia. Beda dengan fenomena budaya pop Jepang yang pada masanya difokuskan untuk menjadi konsumsi lokal saja, namun tanpa sengaja terekspor ke luar. Strategi K-Pop ini dianggap berhasil karena mampu belajar dari kekurangan-kekurangan apa yang dipunyai oleh budaya pop AS dan Jepang sebelumnya." Iya, misalnya, kata Irwan, "K-Pop menampilkan musiknya secara live dan mengurangi lip-sync, hal yang di masa lalu membuat boyband sering direndahkan karena penggunaan lip-sync dan minus-one."


Pembahasan menjadi masuk ke wilayah konstruksi. Bagaimanapun, kritik terhadap K-Pop dirasa sangat sulit karena sistemnya sudah sangat solid untuk melindungi reputasi K-Pop itu sendiri. Berbeda dengan dunia keartisan AS yang mana ada paparazzi sebagai antitesis reputasi para selebriti, Korea Selatan seolah-olah kebal kritik karena pers disana seolah memihak para artis sepenuhnya. Apakah ini semacam proteksi diri dari Korea Utara yang menjadi ancaman abadinya? Yang seolah-olah dengan mendunianya budaya pop, akan membuat dunia mendukungnya jika berperang dengan Korut?


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin