12.11.12

Klab Filsafat Tobucil: Perang

Prinsip utama
Untuk menang dalam perang
Adalah membuat prajurit
Mati bahagia

Senin, 12 November 2012

Kalimat di atas dikutip dari novel Taiko karya Eiji Yoshikawa. Kata novel itu sendiri, kalimat tersebut juga dikutip dari ucapan Sun Tzu dalam bukunya, Seni Perang. Untaian kata itu diungkapkan dalam forum diskusi kemarin sebagai respon atas pernyataan menarik dari Nino, "Setidaknya, mempelajari filsafat membuat kita bisa berperang, membunuh, dan mati dengan sadar. Dengan prinsip."

Pernyataan pembuka datang dari Liky Ardianto, "Perang biasanya disembunyikan dalam bahasa. Kata-kata seperti agresi, invasi, ekspansi, kemudian mendapat pembenaran lewat kata-kata yang lebih halus seperti 'intervensi humanitarian'."Hal tersebut diamini Arul sebagai wartawan, "Iya, sekarang perang semakin mempunyai sinonim yang lebih halus. Sinonim halus tersebut tentu saja datang dari agresor."Perang selalu mempunyai dua sisi, ujar Kape, "Napoleon bagi Prancis menjadi semacam pahlawan. Namun bagi wilayah-wilayah yang ditaklukannya, ia dituduh sebagai keji, bengis, dan haus kekuasaan. Jadi, statusnya sekarang sering dinetralkan saja sebagai 'tokoh'."

Lantas, bagaimana dengan damai? Apakah perang adalah syarat untuk kondisi damai? Atau perang adalah cacat dari damai? Mas Adi disitu menukas dengan merujuk pada agama, "Dalam Islam, kiamat terjadi ketika seluruh dunia sudah damai." Maka, lanjut Mas Adi, jangan-jangan perang sudah merupakan fitrah manusia. Hal itu dibenarkan oleh Irwan yang menunjukkan bahwa perang, dalam konteks apapun, mendapatkan tempatnya dalam setiap kultur, "Suku-suku di Meksiko menjadikan perang sebagai pembuktian kedewasaan." Merujuk jauh ke penciptaan alam semesta yang ada di kitab suci pun, jika perang diibaratkan khaos dan damai diibaratkan kosmos, maka yang tertulis biasanya: selalu ada khaos sebelum kosmos.

Lantas, kondisi apa yang disebut perang? Nino mengajukan tesisnya, "Ketika ada deklarasi, bahwa saya dan kamu berperang." Namun hal ini dibantah oleh Liky yang merujuk pada Perang Dingin, "Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet tidak mendeklarasikan diri. Mereka saling berdiam dan berlomba secara mengerikan. Jikapun harus perang, perangnya dinamakan perang proxy. Kenapa? Karena yang terlibat adalah negara lain, mereka cuma menyokong dari belakang." Junaedi kemudian menyinggung isu gender, "Rasanya perang merupakan kecenderungan laki-laki yang bersifat teritorial dan cenderung ingin menguasai." Maka itu, kata Irwan, menyambung isu Perang Dingin, "Perang Dingin adalah perang yang sifatnya feminin, karena kedua kubu tidak saling terbuka mengungkap maksud-maksudnya."

Sekarang urusan senjata. Perang, dalam kacamata paradigma realis, adalah urusan senjata. Pertanyaannya, jika semua senjata di dunia dilucuti, apakah masih akan terjadi perang? Irwan kembali menukas, "Rasanya iya. Karena jika isunya adalah alat, manusia masih mempunyai alat dalam dirinya sendiri, yaitu tangan dan kaki." Liky juga menambahkan, "Manusia akan selalu berperang. Jika tidak terbuka, kita akan berperang secara diam-diam. Dulu manusia berperang atas nama negara, sekarang perusahaan. Tapi intinya sama, agresi dan kekuasaan."

Diskusi pun ditutup dengan membacakan beberapa ayat tentang perang dari Sun Tzu.

Syarif Maulana


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin