26.11.12

Klab Filsafat Tobucil: Prostitusi

Senin, 26 November 2012

Meski sore itu tidak hujan, yang hadir ternyata lebih sedikit dari biasanya. Awal mulai diskusi sekitar pukul setengah enam, peserta tidak sampai memenuhi dua meja. Sedikit orang tidak berarti diskusi menjadi tidak seru. Lebih sedikit seringkali malah lebih intens. Masing-masing orang lebih leluasa mengemukakan pendapatnya.

Tentang pengalaman bersentuhan dengan prostitusi, setiap peserta punya sendiri-sendiri. Meski demikian, tiada satupun yang mengaku pernah mengonsumsi produk yang ditawarkan PSK. Rudy dan Andri mengaku hampir terlibat, namun tidak jadi. Kata Rudy, "Saya malah mengajaknya ngobrol. Katanya si PSK mengaku ketagihan seks sejak dengan pacarnya. Namun setelah itu, ia diputuskan oleh si pacar dan akhirnya melampiaskan ketagihannya ini dengan melacur." Alasan ini, ditimpali Andri, adalah klise. "Para PSK tahu biasanya tamu selalu bertanya tentang hal-hal seperti ini, mereka pun sudah punya jawaban yang standar."

Tentang definisi prostitusi sendiri, tidak banyak berbantahan bahwa prostitusi adalah transaksi tubuh. Tentu saja, uang atau apapun yang material, terlibat di dalamnya. Pertanyaan berikutnya, apakah prostitusi bisa dihilangkan? "Tidak," tegas Irwan, "Kita tidak bisa menghilangkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan primer manusia seperti makan, minum, tidur, ataupun seks." Lantas, jika memang ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan primer, mengapa pekerjaan PSK kerapkali dilematis secara moral? Prostitusi, bagaimanapun, mendapat larangan dari agama-agama karena dianggap immoral. Tapi jika isunya kebutuhan primer, harusnya para PSK tidak ada beda dengan pedagang makanan, minuman, atau pengusaha hotel. Iyakah?

"Konstruksi sosial," Kape menukas, "PSK dianggap immoral tidak disebabkan oleh dirinya sendiri, karena setiap strata sosial mempunyai prostitusinya sendiri." Irwan setuju, prostitusi selalu mempunyai cara tersendiri untuk menyelinap di balik keseharian. Bahkan ia hadir di tengah-tengah wilayah kehidupan yang paling bermoral sekalipun. "Seperti misalnya," tambah Andri, "Di kampus-kampus, sekolah, gedung pemerintahan, hingga di tempat kesehatan seperti panti pijat, prostitusi selalu punya peluang untuk hadir." Bahkan, tambah Donat, seorang pendatang baru, ada prostitusi juga yang menyelinap di balik aturan agama, yaitu kawin kontrak. 

Namun, adakah prostitusi buruk pada dirinya sendiri, terlepas dari konstruksi sosial? "Mungkin ada juga," tukas Irwan, "Kata Kant, 'segala sesuatu bernilai rendah jika digunakan untuk tujuan-tujuan praktis'."Kant berujar bahwa sesuatu bernilai tinggi ketika kita melepaskan sesuatu dari fungsi praktisnya, melihat ia sebagai dirinya sendiri. Donat juga kemudian mereferensikan diri pada film Malena yang diperankan Monica Bellucci. "Ada semacam anggapan umum bahwa perempuan dapat dikatakan normal jika menikah. Dalam film tersebut, Malena menjadi cacian karena tidak menikah dan menjadi wanita penghibur bagi tentara Jerman. Ada ungkapan juga, bahwa pada hakikatnya, perempuan itu monogami, sedangkan lelaki itu poligami. Itu sebabnya, jika lelaki berprofesi sebagai gigolo, ia jarang sekali dihinakan."

Selain itu, pekerjaan sebagai PSK juga barangkali, tidak membutuhkan ketrampilan khusus. Berbeda dengan pemain musik, pemahat patung, ataupun pekerjaan lainnya yang membutuhkan sekolah ataupun penerimaan pelajaran tertentu secara disiplin, bekerja sebagai PSK barangkali mengandalkan tubuh itu sendiri. Meski demikian, kita tentu bisa memperdebatkan bahwa ada PSK yang juga dibekali ketrampilan tambahan tertentu agar bisa melayani konsumennya dengan lebih berkualitas.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin