5.11.12

Klab Filsafat Tobucil: Suami-Suami Takut Istri

Senin, 5 November 2012

Beranda Tobucil, meski waktu sudah memasuki pukul lima, baru diduduki oleh sedikit orang. Walhasil, diskusi bari dimulai ketika waktu menunjukkan setengah enam. Tadinya, yang akan dibicarakan adalah tentang "Suami-Suami Takut Istri". Namun karena hanya dua orang yang sudah menikah diantara para peserta diskusi, maka obrolan diperluas menjadi tentang dominasi perempuan dalam sebuah hubungan.

Irwan dan Kape sama-sama berpendapat serupa, biasanya mereka yang lebih aktif ataupun posesif dalam hubungan, seperti mempertanyakan, "Kamu dimana?" "Lagi apa?" dsb, sesungguhnya menegaskan bahwa ia berada dalam dominasi. Mayang dan Rachmat merasa bahwa bisa terhindari tentang yang namanya dominan-subdominan. "Saya sih asik-asik aja," kata Rachmat. "Saya ada cerita dari Kang Ibing," kata Adi Marsiella mencoba menyegarkan suasana. "Dalam satu kampung, dibuat dua barisan. Satu barisan isinya suami-suami yang takut istri. Di barisan kedua, isinya suami-suami yang tidak takut istri. Berbondong-bondong semua pria di kampung itu masuk barisan pertama. Yang berdiri di barisan kedua hanya satu orang. Satu itu dipuji seisi kampung. Tapi ia buru-buru menukas, 'Saya berdiri disini disuruh istri saya.'," kata Adi yang langsung disambut tawa renyah para peserta.

Diskusi menjadi lebih menarik setelah Yunita bergabung dalam obrolan dengan mempresentasikan satu tayangan power point tentang kekerasan dalam hubungan. Tayangan ini pernah ia hadirkan di sebuah SMA dan mendapat respon yang cukup baik. Kemudian terdapat sejumlah pertanyaan yang ditujukan pada seisi beranda Tobucil. Kata Yunita, "Jawab dalam hati. Nanti jawaban itu akan bisa menentukan apakah kalian ini dominan atau subdominan."Pertanyaan-pertanyaan itu seputar: Apakah kalian merasa khawatir jika tidak setuju dengan pasangan? Apakah kalian termasuk yang menerapkan sistem "wajib lapor" dalam berhubungan? Apakah kalian pernah melakukan kekerasan secara fisik pada pasangan?

Kesimpulan Yunita, jika suatu hubungan sudah dicampuri sejumlah kekerasan baik itu emosional, verbal, fisik, ataupun emosional, maka, "Hubungan itu sendiri sudah tidak sehat, dan biasanya berlanjut pula ke pernikahan." Hal demikian mendapat pertentangan dari Junaedi yang menuding presentasi semacam ini adalah bentuk "propaganda feminisme". Katanya, "Pernikahan itu adalah sebuah komitmen. Ia mengikat diri secara sakral, jauh daripada pacaran yang hanya berpusat pada desire. Kita tidak bisa mengatakan tentang akhir hubungan hanya disebabkan misalnya, satu pihak merasa dirugikan. Harusnya tidak sesederhana itu. Seringkali hal-hal seperti bentrok ataupun konflik adalah bagian dari proses pematangan pernikahan itu sendiri."

Nunu kemudian berbagi tentang skripsinya yang meneliti tentang buku Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Katanya, "Perempuan, dengan menunjukkan kepasifan atau pasrah, justru disitu merupakan titik dimana ia melakukan perlawanan. Menempatkan dominan-subdominan dalam konteks yang abu-abu." Hal tersebut disetujui oleh Freddy yang melihat bahwa feminisme sesungguhnya kontekstual di wilayah kritik, bukan praksis. "Agar patriarkisme tidak kebablasan," ujarnya. Karena, bagi Freddy, jika feminisme kemudian menjadi pemikiran yang dominan dan kemudian menguasai, maka nilai-nilai semacam itu sesungguhnya malah cenderung maskulinisme. Ia, ditegaskan kembali oleh Freddy, menjadi seperti antitesis, sebagaimana komunisme yang terus menerus mengingatkan kapitalisme untuk tidak nyaman duduk di singgasananya.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin