19.11.12

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Absurditas Alphaville

Senin, 19 November 2012

Tidak hanya film yang ditontonnya yang absurd, melainkan bagaimana film tersebut ditayangkan. Oleh sebab sejumlah kesalahan teknis, acara nonton bareng Layarkita untuk pertama kalinya ditayangkan melalui layar laptop. Beruntung, peserta yang datang tidak terlalu banyak sehingga layar kecil pun menjadi cukup representatif.


Alphaville adalah film tahun 1965 yang digarap oleh sutradara French New Wave Jean Luc Godard. Film science-fiction itu bercerita tentang suatu komplek rahasia bernama Alphaville yang bermisi menciptakan manusia yang tidak punya perasaan. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi satu per satu setiap hari kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan seperti kesadaran, cinta, dan puisi. Sang detektif, Lemmy Caution, disusupkan ke dalam komplek Alphaville mempunyai misi untuk menghancurkan superkomputer bernama Alpha 60 yang mengotaki seluruh kegiatan. 

Meski jalan ceritanya sekilas terdengar seru, namun sebenarnya alur filmnya sangat lambat dan membosankan. Terdapat sejumlah adegan juga yang dirasa absurd. Peserta yang hanya tujuh itu terlihat beberapa di antaranya meninggalkan ruangan untuk beristirahat sejenak, sementara ada juga yang tertidur. Namun ada juga yang antusias, seperti Nadia Priatno, "Saya sebenarnya gak terlalu paham ceritanya, tapi saya menikmati banget gambar-gambarnya." 

Dalam khazanah French New Wave, apa yang dirasakan Nadia barangkali sudah sesuai dengan dogma sang sutradara. Godard ingin sebanyak mungkin melakukan eksperimen dalam gambar-gambar, sehingga jalan cerita tidak menjadi persoalan. Bahkan, salah satu kredo French New Wave adalah menjadikan sutradara sebagai sang seniman -bukan mengangkat peran penulis skenario yang mengetengahkan cerita ataupun produser yang pro-pasar-. Maka itu, gambar-gambar yang avant-garde dan eksperimental menjadi kekuatan utama. Misalnya, dalam salah satu adegan, Godard tiba-tiba menampilkan efek negatif beberapa detik, tanpa maksud dan tujuan tertentu.

Soal makna sendiri, ada renungan tentang bagaimana film tersebut ingin menghilangkan puisi. Kata Kape, "Memang ada kecenderungan bahasa modern adalah bahasa mesin yang prosedural. Puisi, di sisi lain, adalah bahasa yang bisa dibilang tidak mempunyai makna, tapi mempunyai satu nilai keindahan." Itu sebabnya, seringkali ada pertentangan antara bahasa sastra dengan bahasa ilmiah. Bunga-bunga sastra dituding tidak menggambarkan satu kenyataan apapun sehingga tak punya relevansi untuk penelitian. Pihak sastra mengklaim sebaliknya, justru kata-kata dalam sastra lah yang sanggup menggambarkan dunia yang absurd ini.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin