3.11.12

Wisuda Hangat dari Klab Nulis XII

Jumat, 3 November 2012

Beranda Tobucil sore itu dipadati banyak orang. Dari penampilannya, mereka sepertinya masih berstatus mahasiswa. Ketika ditanya, memang iya, kata Sophan Ajie, "Saya menyuruh mahasiswa-mahasiswa saya untuk datang." Mahasiswa yang dimaksud, secara spesifik, adalah mahasiswa mata kuliah Estetika yang diajarkan oleh Ophan di kampus UNPAR. Mereka diwajibkan dosennya untuk melihat prosesi wisuda Klab Nulis angkatan XII. Ophan, tidak terasa, sudah menutori dua belas angkatan Klab Nulis di Tobucil dalam kurun waktu enam tahun terakhir. 

Prosesi wisuda ini dibuka dengan diskusi singkat tentang sastra kontemporer. Ketika ditanyakan pada para mahasiswa, "Apa itu kontemporer?" Mereka menjawab secara beragam:"Aneh," "Sekarang," "Populer," dsb. Lalu Ophan memaparkan tentang bagaimana kekontemporeran itu sendiri ada di posisi yang genting untuk didefinisikan. "Karya seperti Raditya Dika kita bisa sebut kontemporer karena menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Ketika karya sastra sebelumnya berlomba-lomba membuat tema yang filosofis dengan bahasa yang berat, Raditya Dika tampil dengan tulisan ringan dan menceritakan keseharian. Tapi kita juga bisa perdebatkan, apakah yang seperti itu yang disebut kontemporer? Karena jika dipertanyakan apakah Raditya Dika menyuguhkan sesuatu yang baru, tidak juga."

Di paling depan, Ophan "memajang" dua calon wisudawati yang dianggap punya kemampuan public speaking paling bagus untuk menjawab sejumlah pertanyaan sekaligus mempresentasikan karya tulisnya yang berbentuk cerpen. Iffah membuat cerpen berjudul Semu, sedangkan Aulia menulis cerita dengan judul Bisakah Aku Marah pada Mimpi?. Iffah kemudian menjawab pertanyaan dari salah seorang mahasiswa bernama Jovan yang menanyakan tentang bagaimana cara membagi waktu antara menulis dengan kesibukan harian, "Kembali ke orangnya masing-masing. Jika menulis sudah menjadi kebutuhan, maka ia pasti menyisihkan waktunya." 

Setelah itu Ophan membuat game singkat yang cukup menarik. Ia menunjuk empat orang mahasiswa untuk mengatakan satu kata yang terlintas di pikirannya. Ada yang mengatakan "Aneh," "Duduk," "Menlin", serta "Minum". Keempat kata tersebut kemudian digambarkan kembali oleh musik yang dimainkan oleh Syarif. Setelah permainan yang menyebabkan beranda Tobucil menjadi hangat oleh tawa para hadirin pun, Ophan menutup acara dengan menganugerahkan titel cerpen terbaik pada Ayu yang berjudul Untold Rain.

Berduyun-duyun hadirin pulang. Berharap tidak hujan.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin