17.12.12

Klab Filsafat Tobucil: Eksistensi Mereka yang Non-Eksistensial

Senin, 17 Desember 2012

Klab Filsafat Tobucil sore itu kedatangan narasumber yang tidak biasa. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari topiknya yang juga tidak biasa. Istilah filsafat berhasil membungkusnya dengan bahasa filosofis yakni 'eksistensi mereka yang non-eksistensial'. Namun bahasa kesehariannya bisa kita sebut sebagai 'hantu'. Yang menjadi pembicara adalah seorang instruktur yoga yang juga merangkap sebagai 'pemburu hantu', namanya Gito Upoyo.

Pak Gito, yang rela hadir di tengah hujan cukup deras, membukanya dengan paparan cukup menarik. "Apa yang disebut hantu, sesungguhnya adalah energi cerdas. Ia bisa juga sebuah vibrasi ketakutan, kecemasan, atau kegelisahan yang direkam oleh bumi selama berabad-abad lamanya. Ketika kita mengatakan telah melihat hantu secara visual, maka apa yang kita tangkap tersebut berasal dari gambaran memori kita sendiri, atau dari sejumlah kesan-kesan yang pernah kita tangkap," ujarnya. Kemudian Pak Gito menambahkan dengan bertanya, "Pernah gak kita menemukan hantu pocong di Amerika Serikat, atau hantu drakula di, misalnya, Kebumen?" Jika tidak, lanjutnya, maka betul bahwa 'hantu' adalah energi yang tervisualisasi lewat pikiran kita sendiri. Bagaimana bentuk hantu itu muncul, kurang lebih dipengaruhi oleh kultur masyarakatnya.

Artinya, menurut Pak Gito, sebuah rumah yang dirasa tidak nyaman, sedikit banyak dipengaruhi oleh vibrasi, oleh apa yang sering terpancar oleh penghuninya. Misalnya, jika sang penghuni lebih sering bertengkar, atau pernah terjadi pembunuhan, maka otomatis rumah tersebut memancarkan energi kurang baik. Satu poin penting menurutnya adalah: "Energi ketakutan jauh lebih kuat daripada energi kegembiraan." Maka itu dibutuhkan lebih dari sekedar energi kegembiraan untuk mengharmonisasikan rumah yang 'dipenuhi keganjilan'. Pak Gito mencontohkan penggunaan mangkuk tibetan -biasa digunakan untuk meditasi- untuk membersihkan sejumlah energi negatif. 

Apa yang diungkapkan Pak Gito bermuara pada semacam kesimpulan bahwa ada yang mutlak bernama energi di alam semesta ini, namun bagaimana energi tersebut dikelola atau bahkan tervisualisasi, semuanya tergantung pada pikiran kita. "Bahkan, orang yang sering fokus dan konsentrasi, kemungkinannya untuk mengalami penglihatan-penglihatan mata ketiga adalah kecil. Penglihatan tersebut hanya terjadi pada gelombang otak yang rendah," lanjutnya. Walhasil, perbincangan yang tadinya mungkin dibayangkan ada di seputar wujud-wujud hantu seperti pocong, kuntilanak, tuyul, dsb, berubah menjadi perbincangan yang lebih rasional dan sama-sekali tidak menebarkan aura keueung seperti biasanya jika sedang dikisahkan cerita hantu.

Tak lupa, Pak Gito pun berbagi tentang kebijaksanannya. "Dalam upaya-upaya penjinakkan energi negatif, kita harus mempertimbangkan faktor kepercayaan si penghuni. Misalnya, penghuninya lebih percaya pada hal mistis, maka sebaiknya kita menggunakan metode-metode yang secara bahasa lebih mistis. Tapi jika penghuninya rasional, maka kita juga lebih rasional. Dengan demikian, si penghuni sedikitnya akan lebih tersugestikan secara positif. Sugesti positif tentu saja penting dalam harmonisasi sebuah rumah," katanya panjang lebar. Selain itu Pak Gito berkali-kali mengingatkan bahwa meski segala yang terjadi ini rasional, namun seringkali butuh latihan yang cukup untuk memahami dan mempraktekkan. 

Kehadiran Pak Gito ini menarik minat para peserta untuk bertanya lebih jauh. Misalnya, Mba Upi soal mimpi, Arden soal terapi, sedangkan Ping, Hamal, dan Nino sangat tertarik untuk dibaca auranya.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin