10.12.12

Klab Filsafat Tobucil: Pembuka Tutup Botol

Senin, 11 Desember 2012

Air sudah ada pada diri kita, tapi seperti layaknya minuman botol yang tak bisa dinikmati bila tutupnya belum dibuka, begitu pula manusia.

Buku ini bukan buku tentang cara membuka botol, namun lebih pada mencari pembuka botol itu sendiri. Nyelip dimana? Tempat mana yang belum dicari?

Demikian beberapa baris yang menunjukkan bahwa "pembuka tutup botol" yang dimaksud dalam judul adalah sebuah tema buku -bukan tutup botol dalam arti sesungguhnya-. Arden alias Ayam Salam bin Alam (nama pena) menjadi narasumber untuk membahas buku yang ia tulis sendiri, yang kebetulan temanya adalah juga judulnya: Pembuka Tutup Botol.

Buku ini bukan buku yang secara layout menarik. Selain itu, Arden juga masih belum berniat sepenuh hati untuk menjualnya. Ia, secara malu-malu, mengatakan bahwa buku ini sebaiknya dibagikan saja. "Kalau sudah selesai membaca, berikan lagi pada orang lain ya," ujarnya suatu hari. Meski dengan sejumlah kekurangan tampilan luar maupun pemasaran, buku ini mengandung sesuatu yang mendalam. Setidaknya itu yang diakui Ping maupun Rudy. "Buku ini mengingatkan saya pada tulisan Al Hallaj dalam bukunya, Tawasin," ujarnya merujuk pada seorang sufi kontroversial yang dibenci sekaligus dikagumi oleh perkataannya: ana al-haqq (akulah kebenaran).

Walhasil, disebabkan oleh ketertarikan yang tinggi, buku Pembuka Tutup Botol yang sebelumnya sudah dibagikan ke beberapa peserta via email pun dibahas di Klab Filsafat Tobucil beserta sang penulisnya langsung.  "Buku ini," kata Arden, "Adalah renungan saya, hasil pengalaman membaca kalam yang bertebaran di alam." "Al-Qur'an adalah salah satu jenis kalam juga. Tapi dalam jenis tulisan yang dibukukan. Namun jika mau lebih memerhatikan, sekalipun sedotan yang jatuh, itupun sesungguhnya mengandung kalam."

Agar lebih menarik, pembahasan dilakukan dengan masing-masing peserta diskusi membaca bab favorit mereka (isi dari buku ini adalah 49 bab). Rudy mendapat giliran pertama. Ia membaca bab pertama:

Bukan Ini Bukan Itu

Sheng Ren dari Cina berkata, selama Tuhan bisa diungkapkan, itu bukanlah Tuhan.
Oh, saya mengerti ... sekarang saya mengerti ...
Tuhan itu ... anu ... anu dan anu ...

Dan Brahmana dari India berkata ...
neti .. neti .. bukan itu ... bukan itu ...

Kemudian Nabi dari Arab berkata, "tiada" tuhan selain Allah ...
Oh saya mengerti ... sekarang saya mengerti ...
Jadi Tuhan itu Allah ...

Dan mereka pun berkata ... kamu susah sekali mengerti ...
Allah yang bisa dijelaskan bukanlah Allah ...
Bukan ini ... Bukan itu ...
Bukan pula Allah yang kamu ungkapkan dengan cara kamu mengungkapkannya ...

Tiadakan yang kamu ungkapkan sebagai Allah! 
Dan kamu akan berjabat tangan dengan-Nya ...
Namun setelah itu ... tetap kamu tak mampu menjelaskannya ...
Irwan tengah membaca salah satu bab.

Acara membaca bergantian ini hanya sanggup hingga empat peserta -walaupun yang hadir di beranda Tobucil ada sekitar lima belas orang- karena pembahasan yang panjang dalam setiap bab nya. Arden berulangkali mengatakan -termasuk dalam menanggapi apa yang dibaca Rudy-, "Pemahaman kita tentang Tuhan, adalah tergantung pembawaannya. Orang yang lahir dalam budaya dan latar belakang berbeda, punya cara yang berbeda dalam menjelaskan konsep Tuhan. Keberbedaan itu seringkali membuat kita luput bahwa sesungguhnya ada yang sama." Seperti yang sering juga ditukas Arden, "Segala sesuatu diciptakan berpasangan, maka itu secara matematis dia berjumlah dua. Namun biasanya pikiran manusia kerapkali memilih satu diantara dua itu. Otomatis, jika kita memilih salah satu, berarti menolak pilihan lainnya. Padahal, semestinya manusia bisa berada di tengahnya. Karena seyogianya, diantara yang dua, ada yang tengah yang tidak harus dikontradiksikan dengan yang manapun."
Arden berbicara panjang lebar tentang konsep angka-angka yang mempunyai maknanya tersendiri.
Bahasa yang diungkapkan Arden, sebagaimana tulisan dalam bukunya, bisa dikatakan cukup sulit dipahami. Hal ini cukup wajar melihat cara berpikir Arden yang sangat sufistik. Sesekali ia melompat ke matematika, fisika, hingga kosmologi Tao untuk menjelaskan konsep yang sekilas sederhana seperti "angka tujuh". Namun sebagaimana dinetralisir oleh Arden sendiri, ia berkata, "Ada kejadian sederhana masa kini, seperti misalnya cuma minum kopi, yang bisa menjadi  penjelasan tentang apa yang terjadi pada diri kita sepuluh tahun lalu. Jadi jangan takut untuk tidak mengerti. Selama kita mencari terus, suatu saat kalam yang tertulis di alam, akan membeberkan dirinya sendiri."

Setelah pertemuan yang bergizi tersebut, buku Pembuka Tutup Botol ditawarkan pada Mba Tarlen, pemilik Tobucil, untuk diterbitkan. Mba Tarlen mengatakan setuju.


Google Twitter FaceBook

1 comment:

Aang Noviyana Umbara said...

pengen ikuuuut yang kaya gini, cuma ga tau caranya :(

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin