7.12.12

Pertemuan Perdana Klab Nulis Angkatan XIII

Jumat, 7 Desember 2012

Pertemuan perdana Klab Nulis Angkatan XIII pada mulanya tidak berlangsung lancar. Peserta yang sudah menanti dari pukul lima, ternyata menemukan bahwa sang tutor, Sophan Ajie, urung hadir. Kedongkolan empat peserta yang menunggu hampir satu jam tersebut menjadi tugas cukup berat bagi saya -yang secara mendadak diutus untuk menggantikan Ophan-, untuk menjadikan pertemuan pertama ini menyenangkan.

Untuk mencairkan suasana, pertama-tama diadakan perkenalan. Rizky, yang sepertinya paling muda, memperkenalkan diri sebagai "masih kuliah". Sedangkan Ibu Dewi dan Mba Maya, keduanya kompak berasal dari naungan institusi yang sama: LIPI. Peserta keempat adalah Ibu Shuan yang tidak asing lagi bagi Tobucil. Beliau pernah mengikuti kelas public speaking bimbingan Theoresia Rumthe dan meraih penghargaan peserta terbaik. Azis kemudian datang belakangan sebagai peserta kelima. Sayang sekali, karena obrolan sudah terlanjur menarik, saya lupa meminta dia memperkenalkan diri secara mendetail.

Pertanyaan pertama adalah tentang bacaan favorit masing-masing. Rizky menyukai cerita-cerita fantasi, walaupun dalam pengakuannya, "Saya baru-baru aja sih baca novel." Ibu Dewi menyukai John Grisham dan Agatha Christie, sedangkan Mba Maya menyukai tulisan-tulisan yang berhubungan dengan marketing. Ibu Shuan kemudian berkata, "Saya baru saja menyelesaikan novel karya Laksmi Pamuntjak." Aziz mengatakan bahwa ia senang cerita-cerita horor. Perbedaan referensi literatur dari kelimanya membuat satu sama lain menjadi sedikit demi sedikit kenal akan karakter..

Hal tersebut dipertebal dengan praktik menulis untuk pertama kali. Topiknya sederhana: Tuliskan suasana sekarang, ketika kita sedang berkumpul di Tobucil ini. Meski diberi waktu hanya sepuluh menit, ternyata kelima peserta butuh waktu dua puluh menit untuk menyelesaikan tulisan singkat ini. "Aduh, saya punya masalah serius, yaitu menuliskan kata pertama," ujar Rizky. Setelah dua puluh menit berlalu, masing-masing peserta diwajibkan membacakan tulisannya masing-masing.

Rizky, dengan latar belakang kuliah interior, ia menceritakan suasana tersebut dengan dimulai dari deskripsi interior seperti kursi kayu dan pajangan porselen. Meski demikian, ia sanggup menutup tulisannya dengan mengundang decak kagum lewat metafor-metafor cukup cerdas. Ibu Dewi terlihat sekali latar belakang penelitian saintifik membuat ia menulis dengan detail dan sistematis. Mba Maya, meski sama-sama dari LIPI, di luar dugaan menulis dengan gaya girly dan enerjik. Aziz, dengan referensi cerita-cerita horor, demikian terasa dalam tulisannya yang lebih banyak menyinggung gelapnya jalan menuju beranda Tobucil disertai pohon-pohon menjulang yang mungkin saja kapan-kapan menjadi hidup dan mencengkram. Tulisan Ibu Shuan bagai bangau di danau. Sangat tenang, dalam, meski beliau sendiri mengeluh: "Kering." Namun tulisannya membuat peserta lain bertepuk tangan. Rizky berkata dengan semangat, "Ibu bikin tulisan, saya bakal beli!"

Latihan pertama tersebut menjadi penutup pertemuan perdana. Setelah itu ada bincang-bincang singkat seperti pentingnya disiplin dalam menulis hingga manfaat apa saja yang bisa dipetik dari menulis. Aziz punya tujuan praktis, "Saya pengen bisa bikin cerita untuk film horror." Sedangkan Mba Maya ingin membangkitkan kemampuan lama ketika di masa SD hingga SMP ia sedemikian rajin membuat cerpen. Rizky, Ibu Dewi, dan Ibu Shuan mempunyai kemiripan motivasi, yaitu mencurahkan perasaan dan menertibkan pikiran.

Syarif Maulana

Klab Nulis Angkatan XIII pertemuan perdana: dari dongkol menjadi ceria.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin