Monday, January 30, 2012

Kelas Filsafat: Manusia Dalam Kajian Modernisme


Menurut pemahaman yang paling awam, manusia bisa diartikan sebagai mahluk hidup yang berpikir. Benarkah manusia merupakan satu-satunya mahluk hidup yang berpikir? Dengan itukah spesies bernama manusia membangun peradabannya? Lantas bagaimana isu-isu modern pada kajian manusia dapat kita bedah?

Kelas filsafat hari ini cukup meriah meskipun tidak digawangi langsung oleh kedua mentornya, Rosihan Fahmi berhalangan hadir. Hari ini hanya ada Syarif Maulana yang berusaha mengupas manusia dalam prespektif modern.
Jauh sebelum zaman dikatakan modern, manusia telah mengenal semesta raya dengan caranya, zaman itu bisa ditandai dengan satu kata kunci: teosentris. Semua gejala-gejala alam seringkali dikaitkan dengan tangan tuhan yang ikut berperan, alih-alih tuhan jadi segalanya, tuhan jadi pusatnya. Puncaknya pada abad pertengahan dimana gereja berkuasa, praktis para pemikir zaman itu mengalami ‘mati suri’. Belum lagi holocaust yang menjadi dampak begitu digjayanya gereja (agama) saat itu membuat manusia menjadi geram dengan agama dan premis-premis supra-rasional. Dalam filsafat sendiri, lahirnya Descartes dengan cogito ergo sum nya digadang-gadang sebagai godam yang membangunkan para filsuf dari tidur panjangnya, Descartes sebagai bapak filsafat modern.

Manusia di era modern dijadikan pusat segalanya, antroposentris. Pemikiran-pemikiran besar dan penemuan-penemuan mutakhir pun mengalir dengan deras. Manusia menjadi bebas, bebas melakukan apapun tanpa takut lagi pemikiran dan penemuannya bertentangan dengan doktrin agama. Jika kita lihat kebelakang, kita bisa melihat bagaimana Copernicus yang dibakar gereja karena teori Heliosentrisnya.

Lahirnya kebebasan itu pun membawa konsekuensi logis bagi manusia, sejak era modern para tokoh besar mulai berani mengumumkan dirinya ateis di depan publik. Sebut saja lima tokoh ateist terbesar sepanjang zaman (Franz Magnis Suseno): Fuerbach, Marx, Freud, Nietzsche, Sartre. Kelima tokoh ini meskipun dalam ‘pembunuhan’ tuhannya memiliki berbagai argumen yang berbeda, namun nadanya kurang lebih sama. Bahwa manusia merdeka dan bebas maka tidak ada yang namanya tuhan. Nietzsche mengatakan lebih lanjut bahwa orang yang beragama berarti ia masih kekanak-kanakan yang ketika keinginannya tidak tercapai, ia akan merengek pada orangtuanya sebagai simbol kekuatan yang lebih besar.

Pembahasan berlanjut dengan terfokus pada gagasan-gagasan kelima tokoh ateis tersebut, Syarif Maulana mengupasnya satu-persatu dengan cermat. Membandingkannya dan mencari narasi besar yang menaunginya. Karena memang di era modern ini, semua isu memiliki grand narative yang dibangun demi otoritas kebenaran. Termasuk kita perlu mencurigai narasi besar itu, jangan-jangan memang kekuasaanlah yang justru paling berperan dalam membangun otoritas kebenaran tersebut. Rasio, sebagaimana sering dijadikan tuhan baru jangan sampai menjadi berhala seperti halnya tuhan di abad pertengahan. Karena sesungguhnya pengetahuan rasional tentang harga marmer seratus ribu di kota tidak membuat tukang batu di desa bisa menjual marmer kampung halaman dengan harga lebih daripada seribu.

Seperti halnya kelas filsafat sore ini di beranda Tobucil, jangan sampai Syarif Maulana lah yang memiliki kekuasaan atas kebenaran membuat para peserta lumpuh dan mati suri, karena sedari awal tujuan filsafat modern sesungguhnya hanyalah pembebasan dan memanusiakan manusia.


25 Januari 2012
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 29, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Shoegaze, Sikap atau Style?

Minggu, 29 Januari 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang hari itu diisi oleh sebuah topik tentang musik shoegaze. Diecky K. Indrapraja selaku koordinator mengundang Riyan Hidayat untuk membicarakan topik yang bagi sebagian dari anak-anak KlabKlassik tergolong asing. Yang hadir pada diskusi itu ada sekitar enam orang.

My Bloody Valentine, contoh band shoegaze yang melakukan gaya khas "melihat sepatu". Gambar diambil dari sini.


Riyan yang cukup aktif di komunitas KlabJazz ini, memulai presentasinya dengan membicarakan sejarah shoegaze itu sendiri. Riyan menyebutkan awal berkembangnya shoegaze dimulai dari sekelompok band yang tampil dalam satu kafe. Seorang pengamat yang duduk di antara penonton dengan jeli melihat kesamaan diantara kelompok band yang tampil tersebut, yaitu: Semuanya beraksi panggung dengan diam, melihat ke bawah, seolah pada sepatunya sendiri! Itulah cikal bakal kenapa disebut dengan shoegaze. Pertanyaan berikutnya: Apakah shoegaze itu sikap (melihat sepatu) atau suatu style (punya ciri musikal)?

Pertanyaan ini mengemuka setelah Riyan menemukan bahwa band shoegaze kontemporer tidak lagi bersikap "melihat sepatu", artinya suatu musik disebut shoegaze pastilah punya ciri khas musikal. Untuk mendiskusikan ini, Riyan memutar empat contoh musik shoegaze dari empat kelompok yang berbeda, salah satunya yang terkenal adalah My Bloody Valentine. Berdasarkan apa yang didengarkan, diperoleh beberapa kesimpulan tentang apakah shoegaze itu, misalnya Diecky, "Ada riff gitar yang diulang-ulang.", lalu Afifa, "Vokal yang terdengar seperti mengawang-awang," Galih menyebutkan, "Sedikit monoton."

Apapun itu, tapi setidaknya pengetahuan tentang shoegaze mulai terfondasikan pada para peserta. Sebelum datang ke tempat diskusi, Rahar dan Afifa mengeluhkan hal yang sama, "Pengetahuan tentang shoegaze nol banget nih." Loh, bukannya hanya gelas kosong yang bisa diisi?

Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Status Online

Senin, 23 Januari 2012

Sesuai kesepakatan sebelumnya, Klab Filsafat edisi kedua membahas "status online". Ini tidak lepas dari pembahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa yang tengah membahas subtopik "agama". Kata Bang Iqbal, sang pengusul, status online adalah semisterius wahyu, kita tidak bisa tahu darimana datangnya, namun ia terpampang di hadapan sebagai fenomena yang dibaca dan diwartakan. Meski demikian, Bang Iqbal sang pengusul tidak datang di hari diskusi, maka itu pembahasan tentang status online ini menjadi tidak terbatas dikaitkan dengan agama.

Klab hari itu dihadiri delapan orang, masing-masing mulai bercerita tentang apa yang mendasari dirinya menulis status online, dimulai dari jaringan sosial Facebook. Diecky punya jawaban menarik, "Aku ingin dengan orang membaca status-status aku, orang jadi tahu siapa aku." Artinya, Diecky menjadikan status sebagai identitas diri. Sedangkan beberapa lainnya tidak punya pakem tentang status itu harus seperti apa. Grace misalnya, "Gue sih kadang status pendek, kadang panjang. Tergantung mood aja."

Pembicaraan mulai masuk pada pembedaan antara status di Facebook dengan Twitter. Di Facebook, status bisa ditulis dengan ribuan karakter (kabar terakhir bahkan menyebutkan bisa hingga 63.206 karakter!) sedangkan Twitter hanya 140 karakter. Perbedaan jumlah karakter ini tentu saja membedakan cara berekspresi, ibarat sempit luasnya kanvas bagi seorang seniman. Kata Pirhot, "Keterbatasan twitter yang 140 karakter itu harusnya tidak dijadikan miss-use bagi sebagian orang yang suka membuat kultwit (kuliah twitter-red)." Maksudnya, masing-masing jaringan sosial punya fungsinya masing-masing. "Atau misalnya pengen bikin tulisan yang panjang, kan udah ada blog atau Facebook. Twitter harusnya memang difungsikan untuk menuangkan tulisan-tulisan pendek." Argumen Iyok ini mendapat pro dan kontra, menjadikan diskusi semakin hidup.

Meski demikian, di tengah-tengah pro dan kontra tentang "etika menulis status", Theo menyiratkan kerinduannya terhadap diari. Kenapa? "Karena diari itu adalah tempat curhat yang personal. Sekarang orang sudah tidak bisa lagi membedakan tempat curhat personal dan publik karena adanya status. Maka itu sebetulnya ada keuntungan tersendiri dari generasi orang yang pernah menulis diari, yaitu punya pengetahuan tentang mana yang harus dicurhatkan dan mana yang tidak." 

Generasi diari, hmmm.






Google Twitter FaceBook

Monday, January 23, 2012

Resital Empat Gitar


Kamis, 26 Januari 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30 - 21.00
Info Tiket:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program acara:

Polonaise Concertante Op. 137 no. 2 (Mauro Giuliani) - Royke, Syarif
Brandenburg Concertos no.3 BWV 1048 (Johann Sebastian Bach, arr. Jeremy Sparks) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Danza Espanola no. 2 "Oriental" (Enrique Granados) - Bilawa, Widjaja
La Cumparsita (Matos Rodrigues, arr. Diecky K. Indrapraja) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja

Interval

Carawitta & Fugue (Fauzie Wiriadisastra) - Royke, Syarif
Danza de "La Vida Breve" (Manuel de Falla) - Bilawa, Widjaja
Carmen Suite: Introduction, Habanera, Entr'act (George Bizet) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Obituari (Bilawa Ade Respati) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja



Profil pemain:

Bilawa Ade Respati (Balikpapan, 24 Mei 1987) mulai belajar gitar klasik pada Benjamin Limanauw di sekolah musik Dita Corona Balikpapan dari tahun 2000-2002. Sempat belajar secara otodidak dan kemudian melanjutkan belajar gitar pada Ridwan B. Tjiptahardja di Bandung tahun 2005-2010. Selain belajar gitar, juga sempat mempelajari komposisi musik pada Fauzie Wiriadisastra. Beberapa kali mengadakan resital bersama grup trio Tiga Gitar dalam Resital Tiga Gitar (Bandung, 2008), dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu (Bandung, 2009), dan duet dengan Widjaja Martokusumo dalam Romantic Music at Kerkhoven (Bandung, 2009). Bilawa juga sering berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta baik sebagai solois atau duet dengan violinis Fiola Christina Rondonuwu. Masterclass yang pernah diikuti yaitu dengan Iwan Tanzil (2006) dan Miguel Trapaga (2010). Baru saja menyelesaikan studinya di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 2011, kini aktif di komunitas Klabklassik Tobucil, Ririungan Gitar Bandung, sebagai program manager Garasi 10 dan mengajar gitar klasik.

Royke Ng (Bandung, 11 Januari 1982) pertama kali belajar gitar klasik kepada Bapak Joko. Lalu ia belajar pula kepada Bapak John Korompis, Bapak Krishnan Mohammad, Bapak Kadar, dan Bapak Ridwan B. T. Prestasi yang pernah diraih oleh lulusan Matematika ITB ini adalah: Juara I BTC Guitar Competition kategori klasik senior (2003), Juara I BTC Guitar Competition kategori pop (2003 & 2005), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Jawa Barat (2003 & 2004), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Nasional (2004). Selain itu, ia adalah semifinalis Spanish Guitar Awards (2001) dan Singapore International Guitar Competition (2006). Selain mengajar gitar, ia juga menjadi juri di beberapa kompetisi musik dan penguji. Masterclass oleh gitaris dalam dan luar negeri pun ia ikuti. Royke Ng juga tampil dalam Acara Beasiswa Nias, ITB Untuk Indonesia, dan lain-lain. Pada tahum 2009, dia bersama rekan-rekannya malam ini menggelar Konser Tiga Gitar Plus Satu. Di tahun 2011 Royke Ng dan rekan-rekan mendirikan Stretto (klab hobi bermain musik klasik) dan Musici Parvi (2012, wadah untuk pemusik klasik anak dan remaja).

Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat. Syarif pernah mengadakan empat kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori.

Widjaja Martokusumo (Jakarta, September 1966) belajar gitar klasik pertama kali tahun 1978, kemudian 1979-1982 berguru pada David H. di Yayasan Pembinaan Musik Indonesia, Jakarta. 1982-1984 melanjutkan pendidikan musik di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) yang dikelola oleh pianis Rudi Laban. Di sini, dia belajar gitar pada Adis Sugata dan teori/sejarah musik pada Alex Paat, dan ikut pagelaran Konser 30 Tahun berdirinya YPM dan Sekolah YPM (Jakarta, 1983) dan Konser Musik Remaja YPM I (RRI Bandung, 1984). 1984-1986 ia belajar privat gitar klasik dengan Reiner Chaidir Wildt dan mengikuti beberapa masterclass gitaris Suzuki dan Julian Byzantine. Bergabung dengan Klabklassik sejak Classical Guitar Fiesta (CGF) Agustus 2006 dan menjadi anggota juri dalam CGF 2008. Sejumlah resital yang dilakukan meliputi Resital Tiga Gitar (Gramedia, Bandung, 2008), Quintet Gitar (acara International Year of Astronomy 2009) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (CCF Bandung, 2009). Ia juga bermain duet bersama Bilawa Ade Respati (Wisma Kerkhoven, Lembang, 2009) dan acara pembukaan Pameran Dua Arsitektur Jerman 1949-1989 (Campus Centre ITB, September 2011). Widjaja Martokusumo adalah dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik SAPPK.
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #9: Dari OST Final Fantasy #8 sampai King Crimson

Minggu, 22 Januari 2012

Setelah berbulan-bulan edisi playlist tidak muncul, hari Minggu kemarin akhirnya muncul lagi. Yang hadir tidak terlalu banyak, namun pembahasan melebar hingga dua setengah jam. Ditambah lagi, di tengah-tengah kegiatan, operator Adrian Benn mempresentasikan hal yang menarik: Musik Video Game.

The Fragment of Memory Theme of Final Fantasy 8
Lagu yang dibawa oleh violinis Angsa dan Serigala, Afifa Ayu ini, adalah musik yang keluar dari format string quartet. Katanya, "Karena saya sering dengar kakak saya main game tersebut, jadi terngiang-ngiang." Mas Ismail Reza menyebutkan, "Final Fantasy memang selalu menggarap musik di game secara serius, sehingga impresi pemain menjadi kuat." Musik bawaan Afifa ini menimbulkan diskusi segar yang digagas Benn. Ternyata diam-diam ia membawa materi presentasi tentang evolusi musik dalam game mulai dari console Atari, Nes, SEGA, hingga PC. "Keterbatasan hardware," kata Benn, "Membuat musik pada mulanya hanya dua suara saja, hingga lanjut empat suara, dan akhirnya bisa digital recording." Presentasi Benn ini membuat para peserta playlist jadi diwawaas, ingat masa kecilnya.

 Presentasi Adrian Benn. Foto oleh Ismail Reza.

Nessun Dorma and Joy to the World (Twelve Girl Band)
Lagu yang diputar oleh Benn ini, menampilkan orkestra instrumen Cina yang tampil di Shanghai. Pembahasan menjadi masuk ke perbandingan orkestra instrumen Barat dan instrumen Cina. Kata Diecky, "Bagaimanapun orkestra Barat lebih kompleks daripada Cina. Namun perlu diingat bahwa Cina dalam satu oktaf punya 24 nada yang dua kali lipat lebih banyak dari Barat. Artinya, Cina punya kompleksitas yang lain daripada Barat."

Amazing Grace between Violin and Erhu Instruments
Lagu yang dibawa oleh saya ini adalah lagu Amazing Grace yang ditampilkan oleh dua instrumen yang berbeda dari dua peradaban yang berbeda, yaitu biola dan erhu. Meski sama-sama instrumen gesek, namun nuansa yang hadir berbeda. Kata Afifa, "Biola adalah instrumen ekspresif, namun erhu ternyata lebih ekspresif." Kedua instrumen tersebut memang terdengar berbeda, namun pertanyaan dalam forum itu adalah: apakah cuma bahan dan konstruksinya yang membuat berbeda, atau lebih dari itu, idiom, dialek, cengkok bangsanya juga menentukan instrumen musik apa yang dianggap pantas mewakilinya?

Red (King Crimson)
Menjelang tahun baru Imlek, Mas Reza memutar satu lagu yang mengambil esensi "merah" yang memang terasosiasi dengan perayaan Imlek. "Bedanya", kata Reza sambil menunjukkan sampul album King Crimson, "Di sampul album ini yang dominan justru warna hitam, warna merahnya hanya ada di tulisan Red." Yang ditampilkan oleh Reza adalah progressive rock yang katanya, "Satu dari seratus lagu gitar paling penting versi majalah Rolling Stones." Gara-gara diputarnya lagu ini, pembahasan menjadi melebar, yaitu membahas geliat progressive rock di Indonesia, termasuk keberadaan RIO alias Rock In Opposition yang sangat bersemangat untuk dibahas Diecky di bulan depan.

Minggu depan tanggal 29 Januari, KlabKlassik akan menghadirkan bintang tamu Riyan Hidayat untuk mempresentasikan apa itu musik "Shoegaze". Hadirilah!


 
Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Motivator

Senin, 16 Januari 2012

Klab Filsafat Tobucil edisi perdana, meski dihadiri enam orang saja, namun pembicaraan tetap menarik dan beragam. "Motivator" diangkat sebagai topik karena ada korelasi dengan bahasan Kelas Filsafat untuk Pemula hari Selasa, yaitu "Isu-Isu Modernitas". 

Motivator yang profesinya marak belakangan, ternyata tidak semuanya diterima secara positif. Belakangan ada semacam tagline yang mengritik keberadaan motivator, yaitu "Hidup itu Tak Semudah Cocot Mario Teguh". Plus minus kehadiran mereka inilah yang menjadi bahan diskusi Klab Filsafat edisi perdana. Satu per satu ditanyai tentang mengapa motivator ini, yang jelas-jelas melakukan hal yang positif yaitu memotivasi, tidak semuanya merasa senang dengan kehadirannya.

  • Theoresia Rumthe, yang juga tutor kelas Public Speaking, mengaku bahwa salah satu metode dalam menggali kepercayaan diri para peserta adalah curhat, membiarkan mereka mengeluarkan uneg-uneg dan keluhan. Ketika ditanya, "Apakah ini adalah sebentuk motivasi?". Jawab Theo, "Bukan, karena motivator biasanya tidak memberi kesempatan pesertanya untuk bicara, menggali ke dalam diri. Motivator menyamaratakan para peserta, seolah-olah masalahnya sama semua."
  • Permata Andika Rahardja alias Mata punya pendapat bahwa motivator seringkali tidak murni memberi motivasi untuk hidup. Para motivator biasanya ditunggangi kepentingan perusahaan. Ada banyak diantaranya yang memang disusupkan oleh perusahaan tertentu agar karyawannya menjadi lebih produktif. 
  • Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal berkata bahwa motivator bisa saja membuat orang bersemangat, tapi belum tentu sanggup menemukan potensi dalam diri seseorang, "Jika engkau ingin seseorang menjadi yang kamu inginkan, maka paling hebat adalah dia menjadi seseorang yang kamu inginkan. Namun jika engkau ingin seseorang menjadi diri sendiri, maka dia akan berkembang lebih hebat dari apa yang kau bayangkan."
Yang dicurigai berikutnya adalah, jangan-jangan motivator ini tidak disukai oleh sebab "tampilan kapitalisme"-nya. Kenyataan bahwa motivator selalu tampil dengan jas, setting panggung yang megah, massa yang banyak, serta harga untuk mengonsumsinya yang seringkali mahal, membuat motivator menjadi instrumen kapitalis yang baru. "Padahal," kata Mata, "yang mereka paparkan sangat normatif, tidak ada hal yang baru sama sekali."

Mari kita pertanyakan diri kita sendiri, perlukah motivator untuk menyemangati diri?


Syarif Maulana





Google Twitter FaceBook

Tuesday, January 17, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #9: Menyambut Tahun Baru Imlek



Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Waktu dan Tempat

KlabKlassik Edisi Playlist #9 akan dilakukan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 pada hari Minggu, 22 Januari 2012 pukul 15.00 - 17.00 (waktu berakhir bisa berubah tergantung jumlah peserta).

Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tersebut dikenal juga dengan nama "Spring Festival" (penanda berakhirnya musim dingin) atau "Lunar New Year" (karena penanggalan Tionghoa mengacu pada siklus bulan).

Alkisah, adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan bernama Nián (年), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Guò nián, yang berarti "menyambut tahun baru", secara harafiah berarti "mengusir Nian".

Di Indonesia sendiri perayaan Tahun Baru Imlek baru bebas dilaksanakan mulai tahun 2000, setelah puluhan tahun dilarang oleh rezim orde baru. Baru mulai tahun 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Pertemuan KlabKlassik edisi Playlist turut menyambut hari raya Imlek yang jatuh pada keesokan harinya. Peserta dipersilakan membawa satu lagu favoritnya yang berhubungan (atau dihubung-hubungkan) dengan peringatan Tahun Baru Imlek, boleh tentang naga, merah, angpao, keluarga, hujan, ramalan, tahun baru, atau apapun yang asyik. Pertemuan dipandu oleh Adrian Benn, dan nantikan juga komentar-komentar seru dari Ismail Reza yang seringkali mencengangkan.
Google Twitter FaceBook

Sunday, January 15, 2012

KlabKlassik: Nonton Bareng "Amadeus" (1984)

Minggu, 15 Januari 2012


Pertemuan pertama KlabKlassik tahun ini diawali dengan nonton bareng. Sang koordinator, Mas Yunus memilih film Amadeus (1984) yang menceritakan tentang perjalanan dua komposer besar era Klasik yaitu W.A. Mozart dan Antonio Salieri. Film tersebut lebih menyoroti dari sudut pandang Salieri yang terjebak pada rasa bersalah karena merasa telah membunuh Mozart. Film Amadeus kemudian menjadi flashback, cerita bagaimana awal pertemuan Salieri dan Mozart, disertai perjalanan tumbuhnya rasa cemburu Salieri pada karir Mozart. Film berdurasi 161 menit yang disutradarai oleh Milos Forman itu sebetulnya diangkat dari karya drama tulisan Peter Shaffer. Pemeran Salieri yaitu F. Murray Abraham meraih Oscar karena penampilan gemilangnya.

Setelah film tersebut selesai diputar, ada diskusi singkat seputar film itu sendiri. Misalnya, Jazzy mengomentari logat para pemain dalam dialog tersebut yang seringkali terjebak pada logat American. Padahal biasanya jika latarnya Eropa, ketika dialog berbahasa Inggris biasanya menjadi agak British. Sedangkan Pirhot sangat suka dengan berbagai tagline dalam filmnya, seperti "Mediocrity is everywhere" atau "Kamu tidak bisa menulis ulang apa yang sudah sempurna". Kang Beben melihat Mozart yang dalam film itu digambarkan nyleneh dan bengal, sebagai hal yang dibutuhkan jika seseorang mau maju dan ingin menjadi sesuatu. Harus ada upaya mendobrak tatanan meski berisiko dimusuhi.

Perbincangan menjadi berkembang membahas opera, misa, serta perkembangan piano. Kemudian juga menjadi membahas hubungan antara seni dan kekuasaan. Dalam film itu terlihat adanya intervensi terlalu banyak dari Joseph II, Holy Roman Emperor kala itu, pada karya-karya Mozart. Artinya, agar kesenian itu diakui, barangkali akses terhadap kekuasaan harus ada. Seperti misalnya Salieri yang waktu itu menjadi salah satu orang dekat Joseph II, sehingga karya-karya begitu mudah diakui.

KlabKlassik minggu depan (tanggal 22 Januari) akan menampilkan edisi Playlist. Bawa satu lagu favoritmu apa saja, kita dengarkan sama-sama! 



Google Twitter FaceBook

Terima Kasih, Madfal!

Rabu, 11 Januari 2012

Madrasah Falsafah sore itu cukup seru. Tema yang diangkat adalah stand-up tragedy cetusan Lioni Beatrik. Pembahasan ini tidak lepas dari acara yang diadakan oleh Lioni sendiri di kafe Beat n Bite beberapa minggu sebelumnya dengan judul yang sama. Acara stand up tragedy tersebut persis kebalikan dari stand-up comedy yang cukup populer di Indonesia belakangan. Dari judulnya sudah kelihatan, stand-up comedy menampilkan orang melawak di atas panggung, stand-up tragedy menampilkan orang yang berkeluh kesah soal keburukan yang menimpa hidupnya.

Sayang sekali obrolan hangat yang berlangsung sekitar dua jam tersebut ternyata menjadi pertemuan terakhir Madfal. Madfal yang dicetuskan oleh Rosihan Fahmi dan Bambang Q-Anees pada tahun 2007 itu mengalami reformasi. Reformasi itu dilakukan sebagai bentuk penyegaran, sekaligus mengembalikan cita-cita Madfal ke awal mula pendiriannya: "Semua orang adalah filsuf". Adapun reformasi itu juga untuk menyinkronkan pertemuan semacam itu dengan Kelas Filsafat untuk Pemula yang hadir setiap Selasa. Kata Mba Tarlen, pemilik Tobucil, "Namanya akan diubah jadi Klab Filsafat dan diselenggarakan setiap Senin. Nah yang Selasa itu seperti kuliah, Senin itu ngobrol-ngobrolnya. Tapi keduanya punya keselarasan topik." Meski demikian, Tobucil tidak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk berbincang secara bebas di Tobucil. Ada hari Jumat sore yang disediakan dengan nama "Klab Jumat Sore". Bebas untuk siapa saja selama tidak membicarakan MLM, doktrin agama, atau partai politik. 

Klab Filsafat sendiri akan dimulai Senin tanggal 16 Januari hari ini jam 17.00-19.00 dengan tema "Motivator". 
Terima kasih sekali lagi untuk Madfal yang sudah menghangatkan Rabu sore di Tobucil! Seperti kata status Kang Fahmi suatu hari: "Pesta Filsuf ke-2 sudah usai. Yang tersisa hanya rindu"







Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Motivator


Tulisan ini adalah pengantar Klab Filsafat edisi perdana yang akan digelar Senin, 16 Januari 2012 di Tobucil jam 17.00 - 19.00. Klab Filsafat adalah sesi bincang-bincang yang mencoba mengupas lebih dalam tema-tema keseharian. Tema yang diangkat disesuaikan dengan Kelas Filsafat untuk Pemula yang diadakan setiap hari Selasa di Tobucil. Jika Selasa bentuknya kuliah, maka Senin bentuknya ngobrol santai. Kelas Filsafat untuk Pemula sedang membahas "Isu-Isu Modernitas", maka itu ada asyiknya Senin besok membahas topik "Motivator". Adakah hubungannya?

Salah satu sumbangsih peradaban modern terbesar adalah "standar". Tentang bagaimana mereka menciptakan suatu takaran yang dipercaya "universal". Misalnya tes IQ (Intelligence Quotient), bagi banyak orang masih dipercaya sebagai cara terbaik mengukur kecerdasan seseorang. Tes IQ ini sah-sah saja, namun implikasinya adalah pernyataan oposisi bener, "Yang tes IQ nya di atas sekian berarti cerdas, yang tes IQ nya di bawah sekian berarti bodoh." Bisa saja yang bermasalah bukan orang yang dites, tapi justru standar itu sendiri, takaran itu sendiri. Bahwa tes IQ barangkali hanya mengukur satu jenis kecerdasan diantara kecerdasan-kecerdasan lain yang dimiliki manusia yang tidak sanggup diukur dengan barometer tersebut. Kata Alfred Binet,

"The scale, properly speaking, does not permit the measure of intelligence, because intellectual qualities are not superposable, and therefore cannot be measured as linear surfaces are measured"

Tes IQ tersebut sekadar contoh saja, bahwa "sisa-sisa" peradaban modern masih sangat terasa dalam kehidupan sekarang, yang menunjukkan bahwa manusia kerap menyandarkan diri pada standar di luar sana tentang kemampuan serta potensi dirinya. Masih banyak contoh-contoh "kepraktisan" yang membuat manusia kehilangan kemampuan merefleksikan diri, seperti self help book atau yang sedang marak belakangan: motivator.

Motivator (Ing: Motivational Speaker) dalam KBBI diartikan sebagai "orang (perangsang) yang menyebabkan timbulnya motivasi pada orang lain untuk melaksanakan sesuatu; pendorong; penggerak". Berdasarkan definisi ini, motivator bisa siapa saja: Orangtua, sahabat, pacar, dll. Namun hari ini motivator itu sendiri menjadi profesi, sebuah pekerjaan yang memang dibayar untuk menyemangati orang lain. Contoh paling mutakhir di negara kita tentu saja Mario Teguh atau Bong Chandra.

Sisi positif motivator tentu saja tidak perlu kita bahas, yang perlu kita lakukan justru mengurainya secara kritis:
  • Motivasi selalu berkaitan dengan tujuan, jika motivasi dilakukan oleh orang lain, jangan-jangan tujuan kita juga dirumuskan oleh orang lain, mungkinkah?
  • Apakah motivator adalah sebuah respon alamiah dari gejala masyarakat modern yang konon sering disebut-sebut sebagai "kekosongan batin"?
  • Motivasi tidak selalu berkaitan dengan hal yang general, adapun motivasi yang memang punya kepentingan, seperti meningkatkan kinerja karyawan agar perusahaan tambah produktif, bukankah itu manipulasi?
  • Filsafat kerapkali tidak menghasilkan suasana hati yang "positif" seperti halnya ucapan-ucapan para motivator, filsafat lebih sering menimbulkan kegelisahan dan kebimbangan hidup. Jika demikian adanya, maka betulkah seyogianya umat hari ini sebaiknya memperbanyak pergi ke seminar motivasi daripada ke tempat diskusi filsafat?

Semoga bisa menemukan jawabannya di sesi diskusi Senin, 16 Januari jam 17-19 di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Klab Filsafat: Gratis!

Google Twitter FaceBook

Pesta Filsuf ke-2: Etika di Media


Minggu, 8 Januari 2012

Ada yang berbeda pada hari minggu di Tobucil, jika bisanya beranda tobucil di hari minggu diisi oleh para crafter untuk saling berbagi ilmu kreasi karya, tidak begitu dengan minggu ini. Minggu ini Madrasah Falsafah (MadFal) merayakan PESTA FILSUF ke-2 dengan tema Etika di Media.

Perayaan kali ini sedikit berbeda dengan pesta filsuf pertama, kali ini pemasalah (begitulah MadFal menyebutnya sebagai pengganti ‘pemakalah’) dibuka luas untuk umum, siapapun boleh memasukan tulisannya untuk kemudian ditelaah bersama dan ditentukan tiga tulisan terbaik yang akan menjadi pemasalah pada Pesta Filsuf, sesuai dengan semangat Merayakan Filsafat Dalam Keseharian yang diusung Madrasah Falsafah bahwa Setiap Orang Adalah Filsuf.




Presentasi dari Ketiga Pemasalah

Pemasalah pertama Syarif Maulana, seorang dosen logika di UNPAD, musikus sekaligus pengelola Klab Klasik yang juga pada taraf tertentu menggiati filsafat, membawakan masalah ‘Menonton Televisi’ Studi Fenomenologi Husserlian Terhadap Tayangan RCTI. Penelitiannya tersebut dilakukan selama kurang lebih 23 jam dalam tiga hari.

Pendekatan Fenomenologi ini mendekati objek sebagai mana objek dalam dirinya sendiri atau Lebenswelt kalau kata Husserl yang dalam bahasa sederhana berusaha melihat pengalaman sebagaimana adanya. “Saya bermaksud menghindari kekeliruan induksi dengan menggunakan metode pendekatan fenomenologi, seperti jika kamu bilang restoran paling enak di Bandung adalah Ampera, padahal kamu baru makan sekali di Ampera SukarnoHatta, memesan ayam goreng.” Tutur Syarif ketika membuka presentasi. Barangkali yang ditawarkan Syarif ada baiknya juga dalam memahami media hari-hari ini. Ketika kita baru menonton salah satu program RCTI, tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa RCTI tidak bermutu dan tidak mendidik. “Meskipun setelah penelitian saya selama 23 jam dalam tiga hari ini hasilnya sesuai dengan hipotesa saya itu lain soal, yang jelas, setelahnya saya langsung menjalani detox dengan menonton Godfather Trilogy

Dalam penelitiannya, Syarif mendapati bahwa dari sekian banyak sinetron yang ada di RCTI, penonton tidak membutuhkan visual, tidak jauh berbeda dengan drama radio bahkan pada tataran tertentu masih lebih baik drama radio. RCTI pun melakukan semacam pembodohan dengan mengkonstruksi stereotif citra diri manusia hari-hari ini. Cantik itu putih, mancung, langsing, berambut panjang, dan setertusnya merupakan stereotif yang berusaha dibangun RCTI melalui sinetron-sinetronnya. Yang tidak kalah pentingnya, sinetron seperti ini membatasi visual karena semua sudah serba diinterpretasikan dengan gamblang dan banal. Tidak ada lagi ruang interpretasi yang disisakan untuk penonton. “Ya bayangkan saja apa yang bisa kita dapat dari melihat adegan Nikita Willy mengenakan mukena mengangkat kedua tangan lalu berakata ‘saya sedang sedih ya Allah, tolong dekatkan saya dengan si A, kami harus berjodoh...’ dari petikan narasi itu saja jelas bahwa kesedihan dan harapan di artikulasikan dengan vulgar, tidak ada permainan mimik dan gestur, apalagi trik cara pengambilan gambar dan latar” ketus Syarif.

Pemasalah kedua, Soeria Disastra yang cukup dikenal sebagai seorang penyair dan penerjemah karya-karya sastra Tionghoa membawakan masalah Ketidakseimbangan Media di Indonesia. Ia menuturkan bahwa informasi bagi masyarakat kita hari ini adalah santapan wajib setiap harinya, jika ada ketidakseimbangan dalam penyampaian informasi tersebut maka media menyiapkan santapan yang tidak sehat. Maka dari itu, untuk tetap berada di jalurnya, media selalu membutuhkan etika. Pada kesempatan kali ini Soeria Disastra menyoroti masalah minimnya Seni dan Budaya dalam media kita, “Lihat saja contohnya di Pikiran Rakyat atau Kompas, bandingkan antara kolom politik ekonomi dan kolom seni budaya” baginya ini lah yang membuat karakter bangsa ini kehilangan arah, terkesan limbung dan kalut, akhirnya ‘mengikuti’ arus pasar merupakan jalan yang ditempuhnya, semata-mata alasan ekonomi atau politik.


“Pembangunan karakter dan integritas inilah yang sepertinya harus didahulukan” tutup Soeria Disastra.
Pemasalah terakhir Miraj Dodi Kurniawan, seorang peminat studi filsafat, pengamat media, dan pernah magang sebagai jurnalis Media Indonesia Biro Bandung mengangkat masalah ‘Media Diatas Rel Etika; Quo Vadis Media Massa’. Ia mengatakan bahwa dosa terbesar media ialah menyampaikan agitasi dan propaganda pihak/golongan tertentu dengan maksud dibelakangnya. Sebuah narasi besar yang tentu ditumpangi kepentingan kelompok kecil.
Persoalannya jadi kian meruncing justru ketika publik menganggap media massa sebagai satu-satunya saluran informasi dan dianggap benar tanpa mengkritisinya terlebih dahulu. Sementara harapan publik yang semakin membengkak itu, media justru semakin sering melakukan ‘buka-tutup’ informasi atau ‘angkat-tenggelam’ isu. Sejauh ini justru media yang katanya merupakan pilar keempat demokrasi itu menjadi penjahat demokrasi nomor satu.

Tanggapan dari Penanggap dan Sesi Diskusi

Rudi Setiawan, seorang dosen Fakultas Filsafat UNPAR yang juga penggiat Filsafat mengatakan bahwa manusia modern ditandai dengan cara berpikir yang kadang terlalu alergi dengan kecepatan, kebaruan, dan akurasi. Semua ingin serba cepat, siaran langsung televisi akan terasa lebih ‘berwibawa’ dibandingkan dengan siaran tunda, apalagi menyangkut siaran sepakbola. Semua ingin serba baru, isu-isu ekonomi politik budaya selalu diangkat terus menerus tanpa kedalaman. Juga akurasi, dengan angka-angka statistik yang pasti. Efeknya jelas langsung terasa pada publik sebagai penonton ‘modern’, kita semua terkepung oleh derasnya arus informasi masif hingga tidak memiliki ‘waktu reflektif’ yang digunakan untuk mengambil jarak dan mengkritisi setiap arus informasi yang ada. Hasilnya media pun memiliki kecenderungan dangkal dan artifisial sebagai alat survival di pasar konsumen.

Persoalan lainnya, masih menurut Rudi Setiawan adalah terjadi dilema besar media kita hari-hari ini. “Disatu sisi media idealnya berupaya memanusiakan manusia dengan kebebasan berekspresinya namun disisi lain kebebasan berekspresi dikekang dan dikebiri oleh batasan-batasan regulasi etik.”
“Bisakah kebebasan bereskpresi itu dibatasi? Melihat pengalaman para praktisi media yang bercerita tentang kasus Tukul dengan Bukan Empat Mata-nya dan mungkin masih banyak contoh kasus lainnya” sahut Bambang Q’ Annes.


Nur Syawal sebagai pengamat media yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia mengatakan “justru kuncinya ada di penerimaan publik yang cenderung bersepakat dengan isu-isu dan gagasan yang ditawarkan media, disitulah media menjadi kuat. Lalu jika kita berbicara tentang etika, etika siapa atau etika mana yang kita pakai? Maka pertanyaan saya justru di tataran etikanya, adakah/perlukah etika universal?”
“Bagi saya justru ketika jalan lembaga sudah tidak dapat ditempuh, ya ‘anarkis’ saja, buatlah semacam ‘media baru’ atau ‘media alternatif’ yang akan mencerdaskan publik dan menjadi konsumen yang selektif.” Masih menurut Nur Syawal yang akrab dipanggil Al.

Meskipun begitu, akses keuasaan gerakan-gerakan alternatif itu biasanya tidak kuat dan hasilnya tidak akan masif, jangan harap gerakan seperti ini bisa dalam satu minggu membuat RCTI bangkrut. Persoalan-persoalan seperti Universalitas, Manusia, Etika, Media, hangat dibicarakan siang ini. Bambang Q’ Annes menanggapi pertanyaan Al “Apakah harus universal? Bukankah universalitas mengingkari perbedaan yang partikular?”
Lalu ada pertanyaan menarik di awal sesi diskusi yang ditanyakan oleh Heru Hikayat menyoal siapa di balik pasar? Lalu apakah kritisisme harus selalu disebrang pasar? Juga Ma’mun yang berpendapat bahwa sinetron itu akan selalu ada selama ibu-ibu rumah tangga masih tidak berkegiatan di rumah. Pertanyaan Ma’mun ini dijawab dengan nada santai dan humoris oleh Iqbal “Jangan salahkan ibu-ibu, salahkan saja bapak-bapaknya yang tidak memberikan pilihan lain, kalau dirumah dipasang TV berbayar kan ibu bisa nonton BBC. Pasang internet dan varian media lainnya.” 

“Sebenarnya yang dimaksud pasar oleh media itu bukan kita (publik) sebagai penonton, kita jagan dulu ge-er karena yang mereka maksudkan itu adalah para pengiklan (korporasi). Dari survei yang dilakukan, rating program televisi itu untuk memudahkan para pengiklan membaca kondisi penonton. Mereka tidak akan peduli apakah program tersebut dianggap bagus oleh publik atau tidak. Kita (publik) tidak termasuk dalam lingkaran setan itu”
Kemudian suasana diskusi menjadi semakin cair ketika moderator, M.Syafari Firdaus yang akrab di panggil Daus membuka permasalahan ini pada seluruh peserta pesta filsuf yang hadir saat itu. Jual-beli argumen terjadi dengan riuh-rendah yang tentu saja diselingi humor-humor cerdas yang membuat siang itu tidak begitu terasa panas meskipun beranda Tobucil dipenuhi sesak pengunjung.

Barangkali universalitas itu sendiri merupakan dialog terus menerus, bukan sebuah konsepsi tertinggi yang mapan dan anti kritik, universalitas selalu tertunda dan selalu yang akan datang. Media, dalam hal ini memang cukup menjadi mengerikan ketika menampilkan wajah yang serba kontradiktif, tapi sejauh ini barangkali hanya jalan ‘mencerdaskan ibu jari’ (selektif memilih media dalam kasus televisi) saja yang dapat dilakukan, Iqbal berkata “Jangan pukul besi dengan besi, karatkan dengan air!”

Meski pertanyaan semakin banyak dan tidak terbendung, waktu sudah membawa acara pada akhirnya. Inilah barangkali MadFal, ketika pulang kita dibekali pertanyaan-pertanyaan yang semakin banyak, bukan jawaban.
Lalu saya pulang ke rumah dan mendapati ibu saya menonton televisi di kamar saya yang letaknya di lantai dua. Seorang master di bidang Manajemen Pendidikan itu sedang menonton “Boys And Girl Band Indonesia” sebuah acara pencarian bakat boyband dan girlband Indonesia.

Saya hanya menggerutu dalam hati “mah, ijal anter ibu jarinya ke sekolah yuk”
***

Google Twitter FaceBook

Sunday, January 8, 2012

Madrasah Falsafah: Membahas Kematian

Rabu, 4 Januari 2012

Di kumpul-kumpul pertama tahun 2012 ini, Madrasah Falsafah mengangkat tema kematian. Tema ini diusulkan oleh Diecky yang sekaligus membuka diskusi tersebut, "Aku memilih tema ini karena baru-baru ini aku sempat begitu akrab dengan kematian. Aku melaju kencang malam-malam di jalanan dan mendadak, sedikit lagi, aku hampir tertabrak mobil." Meskipun ceritanya relatif singkat, namun diskusi menjadi sangat berkembang dan padat. 

Beberapa orang yang hadir, yang diantaranya mewakili komunitas Warung Imajinasi, menyebutkan bahwa sebagai anak muda, kematian itu belum terlalu terpikirkan dan merasa masih jauh. Namun masa muda bukan berarti tidak tahu kematian, beberapa diantaranya malah sempat menginginkan oleh sebab kegalauan dan depresi tak tertahankan, seperti Beni contohnya. Anak muda lainnya berkisah tentang kematian tetangganya yang misterius oleh sebab adanya kehadiran tiga orang berjubah beberapa hari sebelum kematiannya.

Mata menceritakan hal yang lain lagi. Ia berkisah tentang kematian kucing di rumahnya. Katanya, "Meski itu cuma seekor kucing, tapi sangat membekas dalam ingatanku." Hadi kemudian berkisah tentang penyesalan, penyesalan atas kematian temannya yang ia sebut sebagai, "Kalau aku ada di situ, mungkin ceritanya akan lain. Penyesalan itu selalu menghantui." Mas Daus juga punya cerita tentang neneknya yang sulit meninggal oleh sebab mempunyai susuk, padahal secara fisik sudah tidak mungkin survive. Lioni berbeda lagi, ia bercerita tentang roh pamannya yang sering merasuki salah seorang keluarganya jika sedang pesta-pesta.

Diawali dengan kumpulan curhat, Iqbal mencoba "merapihkan" dengan mengatakan bahwa, "Mati selalu diselimuti mistifikasi. Manusia tidak pernah berhenti berspekulasi tentang apa yang terjadi setelah kematian." Namun kemudian, yang terpenting jangan-jangan bukanlah apakah mistifikasi itu benar atau salah, melainkan bagaimana mistifikasi tersebut punya pengaruh bagi yang masih hidup.

Usut punya usut tentang kematian, betulkah pertemuan Rabu kemarin menandai juga "kematian" Madfal, yang konon akan sedikit direformasi ke arah yang lebih baik? Mari kita nantikan.


Google Twitter FaceBook

Program KlabKlassik Bulan Januari

Tahun 2012 ini KlabKlassik akan kembali rutin dengan program mingguannya. Program mingguan dalam satu bulan akan selalu terdiri dari:
1. Edisi Film: Berisikan acara nonton film yang bisa bermuatan sejarah musik klasik, tokoh-tokoh dalam musik klasik, atau bisa juga membahas music scoring dalam sebuah film. Pemandu: Yunus Suhendar.
2. Edisi Playlist: Berisikan apresiasi musik bersama dengan cara masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya (bebas, tidak usah musik klasik loh!) dalam format mp3. Lagu favorit masing-masing akan didengar serta dikomentari secara santai oleh Ismail Reza. Pemandu: Adrian Benn.
3. Edisi Bincang-Bincang: Berisikan diskusi santai tentang isu-isu musik yang kekinian. Untuk edisi ini, selalu diupayakan kehadiran narasumber untuk berbagi pengalaman secara lebih luas. Pemandu: Diecky K. Indrapraja.
4. Edisi Panggung Gembira: Berisikan performa musik klasik yang ditujukan bagi apresiator yang ingin merasakan suasana pertunjukkan yang hangat, dekat, dan tidak berjarak seperti di gedung-gedung pertunjukkan pada umumnya. Pemandu: Bilawa Ade Respati.

Semua edisi diselenggarakan setiap hari Minggu di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 umumnya pukul 15.00 (perubahan jam akan diberitahukan kemudian). Semua edisi adalah TERBUKA UNTUK UMUM dan GRATIS!

Untuk januari ini, edisi yang hadir beserta temanya adalah sebagai berikut:

15 Januari jam 15.00: Edisi Film akan mengetengahkan film produksi tahun 1984 berjudul Amadeus. Film yang berkisah tentang hidup W.A. Mozart dan Antonio Salieri ini, masuk dalam urutan ke-53 dari 100 film terbaik sepanjang masa versi American Film Institute. Durasi film yang disutradarai Milos Forman tersebut adalah 161 menit.



22 Januari jam 15.00: Edisi Playlist, oleh karena esok harinya adalah Tahun Baru Imlek, maka temanya adalah "Enter The Dragon". Peserta silakan membawa satu lagu favoritnya yang berhubungan (atau dihubung-hubung-kan) dengan peringatan Tahun Baru Imlek, boleh tentang naga, merah, angpao, keluarga, hujan, ramalan, tahun baru, atau apapun yang asyik. Nantikan juga komentar-komentar seru dari Ismail Reza yang seringkali mencengangkan.



29 Januari jam 15.00: Edisi Bincang-Bincang akan menghadirkan Riyan Hidayat yang siap menampilkan topik bahasan "Membedah Shoegaze Music". Dinamai Shoegaze karena setiap tampil, para pemain bandnya seringkali melihat pada sepatunya sendiri. Tentu saja kita perlu informasi lebih daripada itu. Maka itu datangilah!




Ingat bahwa musisi klasik bukanlah alien yang hanya hidup di tumpukan partitur!
Google Twitter FaceBook

Friday, January 6, 2012

Dibuka Kelas Menggambar dengan 'Teknik Tracing'


karya vitarlenology



Tobucil membuka pendaftaran 
kelas menggambar dengan teknik 'carbon tracing' 
bersama R.E. Hartanto
Minggu, 15 Januari Pk. 10.00 - 12.00 Wib
di Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung

Biaya pendaftaran Rp. 50.000 per peserta
Informasi dan pendaftaran Tobucil & Klabs  022 4261548

"Tracing/menjiplak sudah dilakukan sejak masa Rennaissance, terutama ketika orang harus memindahkan gambar kecil ke bidang besar seperti dinding. Dalam praktiknya, kita memilih gambar contoh lalu menjiplaknya ke atas kertas kita sendiri. Tapi contoh bukan hanya gambar, kita bisa menjiplak berbagai jenis huruf dan tulisan, potret wajah, lanscape, cityscape, ragam hias dan sebagainya. Ini bisa berguna untuk visual diary, scrapbook, surat menyurat indah, poster-leaflet, berbagai macam aplikasi dekorasi dan tentu termasuk: membuat karya seni. Lukisan-lukisan saya banyak memakai teknik ini. Jadi bagi yang tidak punya pengalaman menggambar, termasuk juga yagn sudah jago gambar, kelas ini pasti berguna. Yuk, ikutan! :) "  ~ R. E. Hartanto ~



Google Twitter FaceBook

Sunday, January 1, 2012

Pesta Filsuf ke-2: Etika di Media




Madrasah Falsafah Sophia bekerjasama dengan Tobucil & Klabs menyelenggarakan


Pesta Filsuf ke-2 dengan tema Etika di Media
Minggu, 8 Januari 2012
@Tobucil, Jl. Aceh no. 56 Bandung 022 4261548
Pk. 13.00 - 17.00

Pembicara:
Soeria Disastra
Ketidakseimbangan Media di Indonesia 
Miraj Dodi Kurniawan
Media di atas Rel Etika, Quo Vadis Media Massa
Syarif Maulana
Menonton Televisi (Studi Fenomenologi tentang Tayangan Rajawali Citra Televisi Indonesia)


Penanggap:
Rudi Setiawan (Dosen FF Unpar)
Nur Syawal (Pengamat Media)


Terbuka untuk umum dan gratis!


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin