Ada yang berbeda
pada hari minggu di Tobucil, jika bisanya beranda tobucil di hari minggu diisi
oleh para crafter untuk saling
berbagi ilmu kreasi karya, tidak begitu dengan minggu ini. Minggu ini Madrasah
Falsafah (MadFal) merayakan PESTA FILSUF ke-2 dengan tema Etika di Media.
Perayaan kali ini
sedikit berbeda dengan pesta filsuf pertama, kali ini pemasalah (begitulah
MadFal menyebutnya sebagai pengganti ‘pemakalah’) dibuka luas untuk umum,
siapapun boleh memasukan tulisannya untuk kemudian ditelaah bersama dan
ditentukan tiga tulisan terbaik yang akan menjadi pemasalah pada Pesta Filsuf,
sesuai dengan semangat Merayakan Filsafat Dalam Keseharian yang diusung
Madrasah Falsafah bahwa Setiap Orang
Adalah Filsuf.
Presentasi dari Ketiga Pemasalah
Pemasalah pertama
Syarif Maulana, seorang dosen logika di UNPAD, musikus sekaligus pengelola Klab
Klasik yang juga pada taraf tertentu menggiati filsafat, membawakan masalah
‘Menonton Televisi’ Studi Fenomenologi Husserlian Terhadap Tayangan RCTI.
Penelitiannya tersebut dilakukan selama kurang lebih 23 jam dalam tiga hari.
Pendekatan
Fenomenologi ini mendekati objek sebagai mana objek dalam dirinya sendiri atau Lebenswelt kalau kata Husserl yang dalam
bahasa sederhana berusaha melihat pengalaman sebagaimana adanya. “Saya
bermaksud menghindari kekeliruan induksi dengan menggunakan metode pendekatan
fenomenologi, seperti jika kamu bilang restoran paling enak di Bandung adalah
Ampera, padahal kamu baru makan sekali di Ampera SukarnoHatta, memesan ayam
goreng.” Tutur Syarif ketika membuka presentasi. Barangkali yang ditawarkan
Syarif ada baiknya juga dalam memahami media hari-hari ini. Ketika kita baru
menonton salah satu program RCTI, tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa
RCTI tidak bermutu dan tidak mendidik. “Meskipun setelah penelitian saya selama
23 jam dalam tiga hari ini hasilnya sesuai dengan hipotesa saya itu lain soal,
yang jelas, setelahnya saya langsung menjalani detox dengan menonton Godfather
Trilogy”
Dalam penelitiannya,
Syarif mendapati bahwa dari sekian banyak sinetron yang ada di RCTI, penonton
tidak membutuhkan visual, tidak jauh berbeda dengan drama radio bahkan pada
tataran tertentu masih lebih baik drama radio. RCTI pun melakukan semacam
pembodohan dengan mengkonstruksi stereotif citra diri manusia hari-hari ini.
Cantik itu putih, mancung, langsing, berambut panjang, dan setertusnya
merupakan stereotif yang berusaha dibangun RCTI melalui sinetron-sinetronnya.
Yang tidak kalah pentingnya, sinetron seperti ini membatasi visual karena semua
sudah serba diinterpretasikan dengan gamblang dan banal. Tidak ada lagi ruang
interpretasi yang disisakan untuk penonton. “Ya bayangkan saja apa yang bisa
kita dapat dari melihat adegan Nikita Willy mengenakan mukena mengangkat kedua tangan lalu berakata ‘saya sedang sedih ya
Allah, tolong dekatkan saya dengan si A, kami harus berjodoh...’ dari petikan
narasi itu saja jelas bahwa kesedihan dan harapan di artikulasikan dengan
vulgar, tidak ada permainan mimik dan gestur, apalagi trik cara pengambilan
gambar dan latar” ketus Syarif.
Pemasalah kedua,
Soeria Disastra yang cukup dikenal sebagai seorang penyair dan penerjemah
karya-karya sastra Tionghoa membawakan masalah Ketidakseimbangan Media di
Indonesia. Ia menuturkan bahwa informasi bagi masyarakat kita hari ini adalah
santapan wajib setiap harinya, jika ada ketidakseimbangan dalam penyampaian
informasi tersebut maka media menyiapkan santapan yang tidak sehat. Maka dari
itu, untuk tetap berada di jalurnya, media selalu membutuhkan etika. Pada
kesempatan kali ini Soeria Disastra menyoroti masalah minimnya Seni dan Budaya
dalam media kita, “Lihat saja contohnya di Pikiran Rakyat atau Kompas,
bandingkan antara kolom politik ekonomi dan kolom seni budaya” baginya ini lah
yang membuat karakter bangsa ini kehilangan arah, terkesan limbung dan kalut,
akhirnya ‘mengikuti’ arus pasar merupakan jalan yang ditempuhnya, semata-mata
alasan ekonomi atau politik.
“Pembangunan
karakter dan integritas inilah yang sepertinya harus didahulukan” tutup Soeria
Disastra.
Pemasalah terakhir
Miraj Dodi Kurniawan, seorang peminat studi filsafat, pengamat media, dan
pernah magang sebagai jurnalis Media Indonesia Biro Bandung mengangkat masalah
‘Media Diatas Rel Etika; Quo Vadis Media Massa’. Ia mengatakan bahwa dosa
terbesar media ialah menyampaikan agitasi dan propaganda pihak/golongan
tertentu dengan maksud dibelakangnya. Sebuah narasi besar yang tentu ditumpangi
kepentingan kelompok kecil.
Persoalannya jadi
kian meruncing justru ketika publik menganggap media massa sebagai satu-satunya
saluran informasi dan dianggap benar tanpa mengkritisinya terlebih dahulu.
Sementara harapan publik yang semakin membengkak itu, media justru semakin
sering melakukan ‘buka-tutup’ informasi atau ‘angkat-tenggelam’ isu. Sejauh ini
justru media yang katanya merupakan pilar keempat demokrasi itu menjadi
penjahat demokrasi nomor satu.
Tanggapan dari Penanggap dan Sesi Diskusi
Rudi Setiawan,
seorang dosen Fakultas Filsafat UNPAR yang juga penggiat Filsafat mengatakan
bahwa manusia modern ditandai dengan cara berpikir yang kadang terlalu alergi
dengan kecepatan, kebaruan, dan akurasi. Semua ingin serba cepat, siaran
langsung televisi akan terasa lebih ‘berwibawa’ dibandingkan dengan siaran
tunda, apalagi menyangkut siaran sepakbola. Semua ingin serba baru, isu-isu
ekonomi politik budaya selalu diangkat terus menerus tanpa kedalaman. Juga
akurasi, dengan angka-angka statistik yang pasti. Efeknya jelas langsung terasa
pada publik sebagai penonton ‘modern’, kita semua terkepung oleh derasnya arus
informasi masif hingga tidak memiliki ‘waktu reflektif’ yang digunakan untuk
mengambil jarak dan mengkritisi setiap arus informasi yang ada. Hasilnya media
pun memiliki kecenderungan dangkal dan artifisial sebagai alat survival di pasar konsumen.
Persoalan lainnya,
masih menurut Rudi Setiawan adalah terjadi dilema besar media kita hari-hari
ini. “Disatu sisi media idealnya berupaya memanusiakan manusia dengan kebebasan
berekspresinya namun disisi lain kebebasan berekspresi dikekang dan dikebiri
oleh batasan-batasan regulasi etik.”
“Bisakah kebebasan
bereskpresi itu dibatasi? Melihat pengalaman para praktisi media yang bercerita
tentang kasus Tukul dengan Bukan Empat Mata-nya dan mungkin masih banyak contoh
kasus lainnya” sahut Bambang Q’ Annes.
Nur Syawal sebagai
pengamat media yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia mengatakan “justru
kuncinya ada di penerimaan publik yang cenderung bersepakat dengan isu-isu dan
gagasan yang ditawarkan media, disitulah media menjadi kuat. Lalu jika kita
berbicara tentang etika, etika siapa atau etika mana yang kita pakai? Maka
pertanyaan saya justru di tataran etikanya, adakah/perlukah etika universal?”
“Bagi saya justru
ketika jalan lembaga sudah tidak dapat ditempuh, ya ‘anarkis’ saja, buatlah
semacam ‘media baru’ atau ‘media alternatif’ yang akan mencerdaskan publik dan
menjadi konsumen yang selektif.” Masih menurut Nur Syawal yang akrab dipanggil
Al.
Meskipun begitu,
akses keuasaan gerakan-gerakan alternatif itu biasanya tidak kuat dan hasilnya
tidak akan masif, jangan harap gerakan seperti ini bisa dalam satu minggu
membuat RCTI bangkrut. Persoalan-persoalan seperti Universalitas, Manusia,
Etika, Media, hangat dibicarakan siang ini. Bambang Q’ Annes menanggapi
pertanyaan Al “Apakah harus universal? Bukankah universalitas mengingkari
perbedaan yang partikular?”
Lalu ada pertanyaan
menarik di awal sesi diskusi yang ditanyakan oleh Heru Hikayat menyoal siapa di
balik pasar? Lalu apakah kritisisme harus selalu disebrang pasar? Juga Ma’mun
yang berpendapat bahwa sinetron itu akan selalu ada selama ibu-ibu rumah tangga
masih tidak berkegiatan di rumah. Pertanyaan Ma’mun ini dijawab dengan nada
santai dan humoris oleh Iqbal “Jangan salahkan ibu-ibu, salahkan saja
bapak-bapaknya yang tidak memberikan pilihan lain, kalau dirumah dipasang TV
berbayar kan ibu bisa nonton BBC. Pasang internet dan varian media lainnya.”
“Sebenarnya yang
dimaksud pasar oleh media itu bukan kita (publik) sebagai penonton, kita jagan
dulu ge-er karena yang mereka
maksudkan itu adalah para pengiklan (korporasi). Dari survei yang dilakukan,
rating program televisi itu untuk memudahkan para pengiklan membaca kondisi
penonton. Mereka tidak akan peduli apakah program tersebut dianggap bagus oleh
publik atau tidak. Kita (publik) tidak termasuk dalam lingkaran setan itu”
Kemudian suasana
diskusi menjadi semakin cair ketika moderator, M.Syafari Firdaus yang akrab di
panggil Daus membuka permasalahan ini pada seluruh peserta pesta filsuf yang
hadir saat itu. Jual-beli argumen terjadi dengan riuh-rendah yang tentu saja
diselingi humor-humor cerdas yang membuat siang itu tidak begitu terasa panas
meskipun beranda Tobucil dipenuhi sesak pengunjung.
Barangkali
universalitas itu sendiri merupakan dialog terus menerus, bukan sebuah konsepsi
tertinggi yang mapan dan anti kritik, universalitas selalu tertunda dan selalu
yang akan datang. Media, dalam hal ini memang cukup menjadi mengerikan ketika
menampilkan wajah yang serba kontradiktif, tapi sejauh ini barangkali hanya
jalan ‘mencerdaskan ibu jari’ (selektif memilih media dalam kasus televisi) saja
yang dapat dilakukan, Iqbal berkata “Jangan pukul besi dengan besi, karatkan
dengan air!”
Meski pertanyaan semakin
banyak dan tidak terbendung, waktu sudah membawa acara pada akhirnya. Inilah
barangkali MadFal, ketika pulang kita dibekali pertanyaan-pertanyaan yang
semakin banyak, bukan jawaban.
Lalu saya pulang ke
rumah dan mendapati ibu saya menonton televisi di kamar saya yang letaknya di
lantai dua. Seorang master di bidang Manajemen Pendidikan itu sedang menonton
“Boys And Girl Band Indonesia” sebuah acara pencarian bakat boyband dan girlband Indonesia.
Saya hanya
menggerutu dalam hati “mah, ijal anter ibu jarinya ke sekolah yuk”
***