Wednesday, February 29, 2012

Siapa Mau Ikut Bazaar Crafty Days #6, 5-6 Mei 2012 @tobucil ?



Tobucil & Klabs, kembali menyelenggarakan acara tahunan Crafty Days untuk keenam kalinya, pada tanggal 5-6 Mei 2012 meliputi kegiatan pameran, bazaar dan workshop.

Untuk itu, kami membuka pendaftaran untuk kegiatan bazaar dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

1. Barang yang dijual adalah karya kerajinan tangan buatan sendiri dan tidak diproduksi dalam jumlah masal. 

2. Peserta yang mendaftar mengirimkan data/foto/link contoh karya ke tobucil@gmail.com.

Untuk data silahkan copy form berikut ini:


-------
Formulir Pendaftaran Crafty Days #6

NAMA LENGKAP PESERTA:
NAMA LABEL/MEREK (jika ada):
ALAMAT LENGKAP:
NO TELEPON & NO. HP:
ALAMAT EMAIL:
ALAMAT BLOG (jika ada):
TWITTER:DESKRIPSIKAN BARANG YANG AKAN DIJUAL:
sertakan foto maksimal 5 foto
--------------


3. Pendaftaran peserta bazaar dibuka mulai: 1 Maret - 1 April  2012 (terbuka bagi peserta dari bandung maupun luar Bandung).

4. Formulir pendaftaran di serahkan selambat-lambatnya tanggal 1 April 2012, melalui email maupun datang langsung ke Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung. Formulir yang terlambat masuk tidak akan diikutsertakan dalam seleksi pemilihan peserta bazaar. 

5. Tobucil & Klabs akan menseleksi peserta yang mendaftarberdasarkan: keunikan desain dan bahan yang belum pernah ditampilkan di crafty days sebelumnya. Hanya tersedia 15 meja.

6. Peserta yang terpilih akan di hubungi selambat-lambatnya tanggal 16 April 2011 melalui email dan telepon.

7. Peserta yang terpilih membayar biaya sewa meja rp. 350.000 (untuk dua hari/meja)

8. TOBUCIL TIDAK MENGAMBIL PRESENTASE DARI PENJUALAN.

keterangan lebih lanjut silahkan hubungi:
tobucil 022 4261548 (senin-minggu, Pk. 9.00 - 20.00 wib)


Tentang Crafty Days Sebelumnya bisa di cek di sini
Google Twitter FaceBook

Friday, February 24, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Musik Psikedelik bersama Ismail Reza


Minggu, 26 Februari 2012
Jam 15.00 - 17.00
Tobucil & Klabs, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

Psikedelik Musik: Spiritualisme dan Budaya
oleh Diecky K. Indrapraja

Psikedelik atau Psychedelic (dalam bahasa inggris), berasal dari akar kata bahasa Yunani psihi (psyche, soul), dan dilosi (manifest), atau secara harfiah bisa disebut manifestasi dari jiwa-jiwa manusia. Manifestasi psikedelik berasar dari pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman manusia terhadap sesuatu yang tanpa sadar tidak disadarai (unknowing). Ketidaksadaran atas sesuatu tersebut sebenarnya ada dan tertanam dalam memori, hanya saja beragam belenggu (norma, adat, agama, logika, dsb) yang mengikatnya. Psikedelik memberi ruang kreatif untuk membebaskan belenggu tersebut. Psikedelik membuka seluas-luasnya persepsi manusia melalui halusinasi, trans, ataupun sinestesia, sebagai bentuk perlawanan dan penyanding akan kesadaran imajinasi yang terkekang.

Psikedelik Musik digandang-gandang sebagai respon dari fenomena budaya yang terjadi di Amerika dan Inggris, selanjutnya ditumpahkan dalam bahasa yang lebih musikal. Psikedelik musik dikenal pada akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an, bahkan hingga kini. Istilah Psychedelic Folk, Psychedelic Rock, Psychedelic Electronic Music, Trance, New Wave, Space Rock, Glam Rock, hingga Neo-Psychedelia, dan masih banyak lagi sub-genre yang melingkupinya, akan terus dan tetap berkembang sesuai dengan konteks budaya zamannya.

Diskusi musik kali ini akan membedah aspek sejarah Psikedelik sebagai ranah kreatif di dunia musik dan rupa? Bagaimana Psikedelik menstimulus manusia menjadi fana dan peka atas imajinasi dan intuisinya? Apakah Psikedelik musik itu gaya, genre, ataupan cara dalam bermusik? Musik seperti apa yang melingkupi Psikedelik? Mari berbagi, berdiskusi, dan menyimak obrolan sore bersama kami.

Narasumber dalam diskusi sore kali ini adalah Ismail Reza, senior urban desainer, konsultan urban desainer, kolektor piringan hitam, penggemar musik yang jarang digemari orang, dan psikedelik!

Jika realitas begitu menyedihkan dan menakutkan, serta rasionalitas yang ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain", psikedelik!
Google Twitter FaceBook

Klab Baca: Dodolitdodolitdodolibret

Rabu, 22 Februari 2012

Klab Baca Tobucil meski baru menginjak pertemuan kedua, namun terasa sekali begitu bergairah. Klab asuhan Azhar Rijal Fadhillah ini tugasnya sederhana saja: Membaca suatu karya keras-keras dan kemudian membicarakannya sama-sama. Kata Ijal, "Membaca keras-keras itu lebih masuk ke hati." 

Apa yang dibaca kemarin adalah cerpen karya Seno Gumira Ajidarma berjudul Dodolitdodolitdodolibret. Karya usulan Ping ini adalah karya yang cukup menarik karena mengundang interpretasi beragam. Deasy mengatakan bahwa tokoh dalam cerpen tersebut yang bernama Kiplik adalah seperti Mario Teguh yang mengajarkan motivasi namun sepertinya menganggap semua orang mempunyai problem yang sama. 

Mas Frino justru lebih mencermati gaya bertutur Seno yang begitu simpel dan mudah dimengerti. Katanya, "Yang simpel seperti ini justru lebih sulit untuk ditulis." Hal yang diamini juga oleh peserta lain. Memang iya, kata hampir semua peserta, cerpen Dodolitdodolitdodolibret bisa dibaca sekali jalan. Begitu ringan dan tidak perlu khawatir kelelahan. Meskipun demikian, maknanya begitu mendalam. Saya sendiri yang menjadi peserta menginterpretasi cerpen Seno tersebut sebagai "aktivitas yang menubuh". Bahwa berdoa yang benar adalah suatu kesadaran, sedangkan banyak hal yang dianggap sudah terserap ketika menjadi bagian dari keseharian tanpa disadari. Ijal memberi contoh, "Saya ingat Mas Iman Abda, dia solat bukan karena panggilan spiritual, tapi desakan tubuh. Desakan tubuh menurutnya sudah tidak terkait dengan kesadaran. Itu artinya solat sudah sangat menjadi bagian."

Meski ada beberapa kali momen-momen hening (karena diskusi mandeg), namun Klab Baca tetaplah asyik. Ada paksaan untuk membaca suatu karya minimal dua kali sebulan dan membicarakannya, menantikan orang lain berpendapat apa. Sampai jumpa dua minggu ke depan!

Google Twitter FaceBook

Kelas Filsafat untuk Pemula: Sains

Selasa, 21 Februari 2012


Kelas Filsafat untuk Pemula memasuki pertemuan keenam. Bertemakan "Isu-Isu Modernitas", hari itu kelas membicarakan suatu subtema yang tak kalah abadinya untuk dibicarakan, yaitu: sains.

Istilah sains itu sendiri begitu rancu jika dihadapkan pada Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris punya istilah knowledge dan science untuk membedakan istilah "ilmu" dan "ilmu pengetahuan". Sedangkan Bahasa mempunyai baik ilmu, ilmu pengetahuan, dan sains. Sains itu sendiri dalam khazanah peristilahan di kita, seringkali justru lebih condong ke "ilmu pengetahuan alam". Padahal sekali lagi, di Barat terdapat dua istilah yaitu natural sciences dan human sciences. Yang terakhir itu untuk menyebut ilmu sosial.

Sains baru mengalami suatu pemandirian memang pada jaman modern, tepatnya renaisans. Francis Bacon dan Galileo Galilei, yang hidup nyaris di waktu bersamaan, menjadi pionir dalam pemisahan sains dengan gereja. Sains di Abad Pertengahan bisa dibilang kurang berkembang karena fungsinya yang mesti menjadi "hamba teologi". Bacon menegaskan bahwa sains haruslah "bebas nilai", objektif, observatif, dan menghindari prasangka-prasangka yang tentu saja di dalamnya termasuk agama. Sedangkan Galileo, kita tahu, dia meneruskan ide heliosentris Copernican yang kala itu kontroversial. Terang saja sebuah kegoncangan jika bumi disebut mengelilingi matahari, karena jika memang iya, maka itu menjadi ancaman terhadap posisi Tuhan yang "seolah-olah" berada di bumi, ada untuk para manusia di bumi. 

Kang Ami kemudian maju membahas August Comte yang dianggap punya peran tak kalah pentingnya dalam memandirikan sains. Comte mengajukan suatu teori bernama law of three stages: Tahap pertama, manusia itu menganggap adanya kekuatan yang disebut Tuhan, Dewa, atau apapun yang secara simbolik berkuasa di atas sana. Yang seperti itu disebut tahap teologis. Tahap berikutnya, manusia menganggap adanya prinsip pertama, seperti alam semesta ini dari air, udara, atau apapun yang terdengar logis. Tahap itu dinamakan tahap metafisik. Sedangkan tahap puncak, yang disebut Comte sebagai ideal, adalah tahap positif. Pada tahap tersebut manusia menjadi sedemikian rasional dan apapun yang ada di alam bisa dijelaskan secara objektif.

Kritiknya justru, kata Ami, "Apakah iya, sains menjadi tahap tertinggi bagi kehidupan manusia?" Karena menarik ketika mencermati sains belakangan justru berpotensi juga membunuh manusia itu sendiri. "Buah misalnya, sudah mulai muncul tesis yang mengatakan bahwa buah yang berulat justru baik, karena artinya dia bisa dimakan. Justru buah yang steril itulah jangan-jangan yang beracun," ujar Ami. Atau ditambahkan pula bahwa di Inggris sekarang mulai ada taman khusus yang orang boleh buang air kecil di sana karena dianggap menyuburkan. 

Manakah yang benar? Sulit untuk dicari jawabannya sekarang. Yang pasti sains ternyata, tidak harus selalu identik dengan keberadaban manusia. Seperti halnya agama, filsafat, ataupun seni, ia juga mengandung kelemahan ketika disalahgunakan.

Google Twitter FaceBook

Thursday, February 23, 2012

Kami Punya Cerita #3 + Presentasi Kelas Public Speaking #2

Pameran & Presentasi Karya Kelas Foto Cerita
Kami Punya Cerita #3 
+
Presentasi Kelas Public Speaking #2

Jumat, 24 Februari 2012, Pk. 15.00
Tobucil & Klabs Jl. Aceh No. 56 Bandung

Menampilkan karya foto cerita:
Annisa Fardha Nabila
Ariana Hayyulia
Chandra Mirtamiharja
Deasy Esterina
Karina Linggarani
Maria Yosepha
Rininta Isdyani
Riszky Maulana Fahreza

Presentasi Public Speaking:
Melly Amalia
Fety Fathimah
Marisha Jonli
Luly R. Khusnah
Ardita Permata Sari

Pengisi Acara:
Mr. Bean And The Teddy Bear
Aditya Nugraha Feat: I. Gusti Krisnu Maruti

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis :)


Google Twitter FaceBook

Monday, February 20, 2012

Klab Filsafat: Kloning

Senin, 20 Februari 2012

Klab Filsafat Senin kemarin membahas suatu topik yang tak henti-hentinya menjadi perdebatan yaitu: kloning. Perdebatan tentang ini, yang paling paling sengit tentu saja terjadi antara agama versus sains. Dua pilar besar peradaban tersebut bukan sekali ini saja berdebat. Sesungguhnya keduanya sudah rajin bersinggungan sejak ratusan tahun silam, terutama ketika sains pelan-pelan mulai berprinsip "bebas nilai".

Kape, salah seorang peserta Klab Filsafat mendapat giliran bicara pertama. Katanya, harusnya agama dan sains tidak usah saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Agama menjaga sains untuk tetap pada "jalur etis", sedangkan sains pada titik tertentu bisa membuktikan dalil agama. Glenn punya pendapat lain lagi, katanya sains dan agama tidak perlu diperdamaikan karena kenyataannya, kedua pilar itu berjalan dengan jalannya sendiri-sendiri. Kata Glenn, "Kuncinya pun berbeda, maka itu ruangannya pun berbeda." 

Teh Dede yang sedang mengambil studi doktoral berpendapat lain. Bahwa agama semestinya membolehkan sains yang bermanfaat. Tapi sains yang tidak bermanfaat seperti mengkloning manusia harusnya dilarang. Pendapat tersebut ditengahi oleh Glenn yang katanya, "Kloning sebetulnya masih sangat bermanfaat hingga hari ini. Misalnya orang yang kehilangan tangannya, bisa tumbuh lagi. Atau kloning tanaman agar pertumbuhannya dipercepat, sehingga bisa menghasilkan makanan bagi umat manusia." 

Kloning itu sendiri tidak terlalu dibahas secara mendetail. Yang menjadi menarik untuk dibicarakan ya itu tadi, perihal agama versus sains. Saya memancing dengan membicarakan Fritjof Capra yang sangat bersemangat mensintesiskan fisika dengan kepercayaan timur. Kata Glenn, "Yang menarik justru Capra tidak mensintesiskan fisika dengan agama secara keseluruhan. Tapi hanya agama-agama ardhi (agama bumi) seperti Hindu, Buddha, Tao, dsb. Jangan-jangan agama ardhi memang sudah damai dengan sains. Yang menjadi persoalan justru, ada apa dengan agama samawi?" Ya, itu dia yang menjadi pekerjaan rumah para peserta Klab Filsafat: Mengapa hanya agama samawi yang begitu rajin bertentangan melawan sains?

Tema minggu depan: Kesetaraan gender (?)



Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #10 - Blacklist Wedding Song: Dari Sonata Artica hingga Kamelot

Minggu, 19 Februari 2012

KlabKlassik Edisi Playlist seperti biasa menghadirkan orang-orang yang mengitari laptop dan speaker. Mereka hendak apa lagi selain mendengarkan musik yang dibawa oleh masing-masing peserta. Musik yang dibawa kali ini mempunyai tema besar yaitu Blacklist Wedding Song. Artinya, ini lagu-lagu yang sekiranya tidak cocok atau tidak pantas dimainkan dalam pesta pernikahan manapun. Lagu yang diputar kemarin adalah ini dia (diurut berdasarkan urutan diputar):

  1. Kingdom of A Heart - Sonata Artica (Diputar oleh Rahardianto)
  2. Mighty and Love - Zeke and the Popo (Laressa Amaly)
  3. Nicole - Etron fou Leloublan (Ismail Reza)
  4. Love Story - Frank Zappa (Diecky K. Indrapraja)
  5. The Face of Love - Nusrat Fateh Ali Khan (Tarlen Handayani)
  6. Love you to Death - Kamelot (Rahardianto)
Dari keseluruhan lagu yang diputar ini, alasan ketidakbolehan untuk diputar di pernikahan beragam. Lagu pertama dari Rahar misalnya, dianggap tidak pantas karena iramanya yang ganjil. Hal yang berlaku juga bagi lagu dari Ismail Reza berjudul Nicole. Bahkan ketika lagu tersebut selesai diputar dan Diecky memberitahukannya via twitter, ada akun dari Prancis yang membalas: foufoufou yang artinya gila gila gila!

Sedangkan Laressa dengan Mighty and Love-nya, lebih meragukan untuk tampil di pesta pernikahan oleh sebab liriknya. Lain halnya dengan Mba Tarlen dengan The Face of Love yang dinyanyikan duet Nusrat Fateh Ali Khan dengan Eddie Vedder. Katanya, ini sangat tidak cocok karena bayangan Mba Tarlen pada lagu ini adalah sama ketika menonton film Dead Man Walking dimana ada adegan Sean Penn mendekati kursi listrik menjelang eksekusi mati. Sedangkan alasan sentimentil justru datang dari Diecky yang memutar Love Story, lagu berdurasi lima puluh tujuh detik saja. Katanya, "Jika aku menikah nanti, aku ingin agar orang mendoakanku dengan cara sejenak hening mendengarkan lagu ini." Loh, katanya jangan diputar di pernikahan? Memang iya, karena hanya pernikahan Diecky yang pantas diputarkan lagu Zappa ini.




Google Twitter FaceBook

Book Play, A Book Art Exhibition, 22/2/2012 @unkl_347




Book Play
A Book Art Exhibition
22 - 28 Februari 2012

U&KL 
Jl. Gudang Selatan No. 88
Bandung

Pembukaan pameran 
Rabu, 22 Februari 2012
Pk. 15.00 - 18.00 WIB

Menampilkan karya:
R.E. Hartanto
Tarlen Handayani
Dewi Aditia
Keni Soeriaatmadja

Live Cooking bersama:
Chef Downey

Pertunjukkan Hammond Organ & Drums spesial dari:
The Mission: Possible

"Tercetus dari sebuah obrolan ringan mengenai kefanatikan sekelompok orang terhadap buku, maka lahirlah ide untuk mengadakan sebuah proyek bersama yang berujung dengan menampilkan hasilnya dalam sebuah pameran. Pameran ini diinspirasi oleh buku, tepatnya oleh buku secara bentuk, bukan sebagai literatur. Alih-alih membaca 'isi' buku tersebut, di sini buku justru dikupas kemasannya, proses pembentukannya, bahkan proses 'penghancurannya'. Dalam pameran ini, bentuk buku yang biasa kita kenal diubah sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk yang lain sama sekali; ia bertransformasi menjadi ruang-ruang tiga dimensi, menjadi seekor naga dengan panjang 2,5 meter dan lipatan-lipatan seperti akordeon. Yang menarik adalah, walaupun buku-buku ini sudah berubah bentuk dan tidak lagi menyerupai buku pada umumnya, kita tetap bisa menemukan ‘kisah’ di dalamnya. Dalam pameran ini kita bisa melihat bagaimana sebuah kisah bisa dirangkai tidak hanya dengan kata-kata atau teks, tetapi juga oleh bangun-rupa.

Pameran ini menampilkan karya-karya dari Tarlen Handayani, Keni Soeriaatmadja, Dewi Aditia dan R.E. Hartanto. Keempat perupa ini bertemu dan berkumpul di Tobucil & Klabs, sebuah toko buku dan hobi sekaligus ruang komunitas di Bandung. Pameran Book Play dirumuskan dan karya-karyanya dibuat bersama di tempat ini.

R.E. Hartanto
Perupa lulusan Jurusan Seni Lukis, FSRD ITB. Dalam perjalanan kekaryaannya, Tanto panggilan akrab R.E. Hartanto, banyak mengeksplorasi tema-tema kecemasan. Tanto pernah mengikuti program artist in residence di Rijksakademie v.B.K., Amsterdam, Belanda, selama 2 tahun. Pernikahan Tanto dengan Fini Kania, di tahun 2009, dikarunia seorang putra bernama Cakrawala Hartanto. Tanto bersama keluarganya kini  tinggal, bermain dan bekerja di Bandung. Lebih jauh tentang R.E. Hartanto: http://rehartanto.info

Keni Soeriaatmadja
Kesibukkannya sebagai ibu dari dua orang putra dan kegiatannya mengajar di kelas Creative-Movement untuk anak-anak, tidak membuat lulusan Seni Keramik, FSRD ITB ini kehilangan semangat untuk berkarya. Bercita-cita memiliki homemade book bakery  dan ingin menekuni book art, meski olah gerak dan tari Bali di Bengkel Tari Ayu Bulan telah menjadi bagian dari kesehariannya. 

Dewi Aditia
Perupa 'non full time' lulusan Jurusan Seni Lukis, FSRD ITB, crafter dan juga desainer tas. 

Tarlen Handayani
Pendiri dan pengelola Tobucil & Klabs, penulis lepas dan crafter. Setelah mengikuti kelas book binding di Etsy Lab, Brooklyn, USA, tahun 2008, Tarlen memutuskan untuk mendalami book binding dan handmade notebook juga mendirikan label 'Vitarlenology' untuk handmade notebook buatannya. Lebih jauh tentang Vitarlenology: http://designbyvitarlenology.blogspot.com
_

Pameran ini didukung penuh oleh UNKL347, yang pada saat bersamaan meluncurkan proyek terbarunya yang bertajuk 'U&KL/ Us&KindOfLife', sebuah penawaran untuk menikmati gaya hidup dengan kecerdasan visual; sebuah ruang yang dapat digunakan untuk bersantai, berkarya, membentuk komunitas, bersosialisasi, atau bahkan sekedar mengabadikan momen untuk diupload ke dalam lingkup jejaring sosial. U&KL adalah upaya pembuktian bahwa sebuah 'produk' merupakan representasi dari gaya hidup masyarakat dan komunitas di sekitarnya, bahwa baju, sepatu, dan meja-kursi bukan sekedar berfungsi untuk melindungi tubuh dan melayani manusia, tapi juga menyuarakan 'siapa' penggunanya. Ia bukan sekedar ruang untuk berkembang, tapi ia juga mengisi ruang tersebut dengan karya yang rendah hati, mudah diraih, dan bersahabat dengan lingkungan tempatnya berkembang. Namun sesungguhnya, tak perlulah kita berpanjang-kata merumuskan semua ini, nikmati saja keberadaannya dan menjadi bagian daripadanya. After all, it's for us, and our kind of life..
_
Google Twitter FaceBook

Saturday, February 18, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #10: Blacklist Wedding Song



Tentang Edisi Playlist
Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Tatacara
Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini
Bulan Februari adalah bulan cinta, katanya. Penyebabnya sudah jelas, adanya perayaan hari Valentine pada tanggal 14 lalu. Berbicara cinta dan musik, playlist kali ini hendak menyikapinya dengan sedikit berbeda.
Ada yang berpendapat bahwa acara pernikahan adalah perayaan cinta (sah-sah saja jika anda hendak didebat). Musik pun jadi bagian penting, terlihat dari populernya "genre" Wedding Song. Namun apa sejatinya wedding song? Mengapa dalam sejumlah pernikahan yang penulis hadiri dalam beberapa tahun terakhir selalu lagu yang sama dimainkan terus menerus? "L - O - V - E", "The Prayer", "Cinta", dan sejumlah lagu wajib lainnya. Apakah memang ada norma yang harus dipatuhi?
Nah, dalam edisi playlist kali ini, peserta diwajibkan membawa sebuah lagu yang menurut peserta pas untuk dimainkan dalam sebuah pernikahan, namun karena berbagai alasan, tidak bisa dimainkan begitu saja. 

Silakan! Mari kita rayakan dengan musik-musik yang kita bawa!
Google Twitter FaceBook

Tuesday, February 14, 2012

Klab Filsafat: Rokok dan Etika di Ruang Publik

Senin, 13 Februari 2012

Klab Filsafat sore itu penuh dengan kepulan asap rokok. Para peserta hampir semuanya adalah sekaligus para perokok. Ini menjadi relevan dengan topiknya karena tengah membahas rokok kaitannya dengan etika di ruang publik.

 Suasana Klab Filsafat, membahas rokok ditemani asap rokok. Foto oleh Dini Zakia.



Ada tiga topik bahasan artinya: Rokok, etika, dan ruang publik. Pembahasan mulai dari ruang publik itu sendiri apa. Ternyata, untuk memahami ruang publik tidak semudah kelihatannya. Kata Ijal, "Ruang yang di dalamnya terdapat lebih dari satu orang bisa mulai disebut ruang publik." Meskipun jadinya, itu termasuk rumah dan dalam mobil. Atau mungkinkah, ruang publik itu adalah ruang yang isinya kita bayangkan termasuk di antaranya kerumunan orang-orang yang kita tidak ketahui, sehingga kita simplifikasi sebagai "publik"? Ketika kita masuk sebuah ruangan, tapi kita mengenal dengan baik semua orang di dalamnya, maka barangkali kita tidak memasukkan itu sebagai ruang publik, karena asumsinya kita mengetahui tetek bengek etika di dalamnya. Tapi ruang publik biasanya berkaitan dengan suatu ruang yang "kita tidak tahu siapa saja di dalamnya" sehingga kita menyebutnya dengan publik. Bisa jadi.


Pembicaraan menjadi menarik ketika masuk pembahasan mengenai rokok. Bagi para perokok, terang saja rokok mempunyai makna mendalam. Bagi Fredi, "Saya merokok itu dari SD, dan awalnya karena mengusir nyamuk ketika saya sedang memancing bersama." Yang lain beda lagi, "Saya kesel sama bapak saya karena suatu hari dituduh merokok padahal kawan saya yang merokok, saya cuma kena asapnya. Akhirnya karena kesel, saya merokok beneran deh, ketagihan hingga sekarang." Ijal bahkan punya alasan lebih ilmiah, katanya dalam suatu dokumenter ia pernah melihat bahwa rokok mengandung antioksidan. Jika suatu hari dunia mengalami perang nuklir sehingga dimana-mana terdapat radiasi, maka orang yang merokoklah yang selamat. Satrio juga mengemukakan hal yang tak kalah ilmiah, katanya ia pernah mendengarkan suatu seminar yang mengatakan, "Rokok mengurangi usia orang satu menit, tapi kebahagiaan menambah usia orang tiga menit. Jadi kalau merokok menimbulkan kebahagiaan, sebenarnya usianya bertambah!"

Meskipun pada akhirnya tetap kesulitan menemukan kesimpulan yang betul-betul mengerucut, namun ada satu hal yang menarik: bahwa alasan seseorang merokok, berdasarkan diskusi kemarin, adalah selalu alasan eksistensial dan personal. Ini justru berkebalikan dengan orang yang tidak merokok, kebanyakan dari mereka alasan tidak merokok adalah bahwa merokok itu tidak sehat. Alasan bahwa merokok tidak sehat belum tentu sebuah alasan pribadi, bisa jadi itu alasan dogmatis, berdasarkan sandaran pada otoritas sains semata. Tutup Ijal, "Kalau memang merokok tidak sehat, kenapa tidak disematkan juga larangan pada asap pabrik, asap knalpot, dan MSG?"

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Saturday, February 11, 2012

KLAB BACA: ‘Tanto Tani’, Dari Bulir Padi Hingga Segenggam Arti



Meskipun diluar udara dingin bekas hujan yang tadi mampir, pertemuan pertama Klab Baca hari rabu, 8 Februari 2012 cukup hangat. Teman-teman yang hadir diantaranya ada Ijal, Ping, Desy, Tarlen, Adi, Dini, Nanda dan tiga orang dari Klab Klasik—yang kebetulan saat itu janjian bertemu di Tobucil—‘dipaksa’ ikut agar pertemuan pertama terkesan gempita.

‘Mas Tanto’, sebuah obituari karya Puthut EA terbilang berhasil menghidupkan kembali klab ini dari ‘mati suri’nya yang cukup lama. Ijal, selaku moderator membuka pertemuan dengan perkenalan satu persatu peserta dan memaparkan secara singkat mengapa klab ini dihidupkan kembali, lalu Tarlen melanjutkannya dengan sejarah Tobucil yang ternyata berawal dari Klab Baca. “Dulu, sebelum Tobucil terbentuk, saya dan beberapa teman lainnya yang suka buku mengadakan pertemuan rutin untuk membicarakan dan mengapresiasi cerpen, novel, atau karya-karya tulis lainnya. Setelah itu, barulah terbentuk Tobucil. Jadi, Klab Baca dulu, baru Tobucil.” Papar Tarlen, Founder sekaligus pengurus Tobucil N Klabs.

Kami membaca dengan suara keras dan gaya yang berbeda-beda secara bergantian. Hal ini juga salah satu upaya menghidupkan kembali cara baca dengan suara terbuka yang harus kita akui, kita sudah kehilangan kebiasaan itu. Ternyata dampaknya cukup baik, selain membaca, kita juga belajar untuk mendengarkan oranglain. Setelah semua selesai dibaca, satu persatu mengeluarkan pendapatnya tentang karya tersebut. “Bagi saya, ini gaya penulisan obituari yang baik. Jarang sekali ada penulis yang mampu menulis obituari dengan gaya seperti ini.” Ungkap Adi, segera setelah pembacaan karya ini selesai. “Biasanya, penulisan obituari sangat kental dengan emosi yang meluap-luap. Hasilnya, pembaca hanya akan mendapati sebuah ‘tangisan’ atas kehilangan. Tidak lebih. Berbeda dengan karya Puthut ini, ia cukup bisa membuat obituari mengalir. Puthut berhasil memaparkan momen-momen penting selama hidup Mas Tanto, memperlihatkan ‘hal-hal kecil’ yang telah dilakukan dan ditinggalkan Mas Tanto. Dengan untaian yang proporsional, kita seakan begitu mengenal Mas Tanto melalui tulisan ini.” Lanjut Tarlen dengan semangat.

“Energi itu kekal” begitu tulis Puthut. Ia seolah ingin menyampaikan pada publik bahwa apa yang ditinggalkan Mas Tanto masih mengalir dalam dirinya dan orang-orang yang kenal dengan Mas Tanto.

Nanda yang baru datang juga menimpali obrolan “Dalam tulisannya yang ini, Puthut sangat terlihat cair. Tidak seperti cerpen-cerpennya yang meskipun bernada keseharian, seringkali membuat kita mengerinyitkan dahi. Diksinya pun pas, tidak menggunakan metafor seperti yang biasa ia lakukan pada cerpen-cerpennya.”

Lalu, ada semacam kesadaran baru bahwa menulis obituari sepertinya harus mulai dibiasakan di kultur kita, karena dengan begitu, yang ditinggalkanpun akan sedikit berlega (mungkin) karena menyadari betapa sudah banyak yang dilakukan oleh almarhum. Karena jangan-jangan tujuan hidup hanyalah itu, memberi makna dan meninggalkannya untuk orang-orang setelah kita.



11 Februari 2012,
-------------------------------------
*Untuk tulisan asli Puthut EA, ‘Mas Tanto’ bisa langsung dilihat di website pribadi Puthut http://www.puthutea.com/baca/2011/09/20/mas-tanto


Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Film: Manuel Barruecco “A Gift and a life”

 
Minggu, 12 Februari 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis!
Alangkah indahnya ketika di masa tua bisa berbagi pengalaman hidup, romantika, karir, itulah yang disajikan di film kali ini: Manuel Barruecco “A Gift and a life” sebuah dokumentasi perjalanan karir gitaris klasik dari kuba Manuel Barruecco yang harus eksodus ke amerika sejak berumur 6 tahun, kuba di masa itu ialah negara dibawah kepemimpinan rezim fidel castro, barruecco berkisah bahwa hidup di negaranya sangatlah tidak bebas dan terintimidasi sehingga keluarganya memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya kuba.
Berkarir sebagai gitaris klasik profesional di amerika tidaklah mudah, barruecco harus menjajal kemampuannya dalam berbagai kompetisi gitar klasik, barruecco muda perlahan mendekati ketenaran John Williams gitaris australia yang skil dan tekniknya mendekati sempurna saat itu berdasarkan interview David Tannenbaum teman sesama gitaris.
Kini di usianya yang flamboyant barruecco menikmati karirnya sebagai gitaris konser, artist recording dan pengajar masterclass, juga collaborator music yang sukses, kolaborasinya dengan seniman diluar ranah klasik antara lain dengan gitaris jazz Al dimeola mengikuti jejak Kazuhito Yamashita yang pernah berkolaborasi dengan Larry Coryell, kemudian dengan former The Police Andy Summer, dan album non klasiknya yang sukses ialah “Manuel Barruecco Plays Lennon and McCartney” direkam di studio yang sama dengan the Beatles di Abbey Road, barruecco ialah fans The Beatles sejak kecil ia sangat menyukai lagu Penny Lane, tetapi di negaranya Kuba dilarang keras untuk mendengarkan The Beatles. Scene yang sangat menarik ialah ketika kunjungan gitaris klasik David Russell, Assad Brothers dan David Tannenbaum ke rumahnya di Baltimore, para gitaris ini ber jam session ria dan memainkan Etude No.1 villa lobos berlima dalam satu gitar.
 
Film besutan Michael Lawrence ini berdurasi 59 menit, dan didalamnya banyak berisikan interview, rekaman masterclass dan sesekali diselingi dengan footage konser.
Google Twitter FaceBook

Thursday, February 9, 2012

Vitamin A[rt] Vol. 03. 02.12 Holy Water


Gambar karya R.E. Hartanto
Sabtu, 11 Februari 2012
Pk. 16.00 -18.00 Wib
@Tobucil & Klabs 
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Setelah lama vakum, program Vitamin A[rt] kembali hadir kehadapan teman-teman semua. Program ini merupakan presentasi karya-karya seniman, desainer, arsitek, musisi, programer, fotografer, ilustrator, handmade artist, crafter yang memiliki karakter dan cita rasa seni, kepada khalayak umum.

Presentasi ini dimaksudkan untuk membangun komunikasi dan jembatan antara kreator dan audiencenya, serta menumbuhkan kemampuan saling mengapresiasi satu sama lain.

Presenter di Vol. 03 kali ini adalah Holy Water, sebuah grup di facebook yang berisikan orang-orang yang mendalami cat air sebagai teknik untuk berkarya. Presentasi kali ini akan menampilkan karya-karya cat air dari anggota grup Holy Water dan cerita tentang proses di balik karya tersebut.
Tentang Holy Water bisa di akses di sini

Presentasi ini terbuka untuk umum dan gratis.



Google Twitter FaceBook

Sunday, February 5, 2012

Menghidupkan Kembali Klab Baca yang Sempat ‘Mati Suri’


Setiap Rabu Sore, Pk. 17.00 (mulai Rabu, 8 Februari 2012)
Di Tobucil Jl. Aceh 56 Bandung

Rabu sore di Tobucil akan jadi Rabu yang kosong. Melihat ada kekosongan jadwal itu, tobucilers berniat menghidupkan kembali Klab Baca yang dulu menjadi tonggak awal kemunculan klab-klab di tobucil.
Sebagai langkah awal, karya Puthut EA akan disuguhkan di meja beranda tobucil. Pemilihan karya-karya Puthut EA pun bukan tanpa sebab, selain ketertarikan subjektif dari pengusul, karya penulis muda Indonesia dipercaya mampu merangsang anak-anak muda untuk berkarya, setidaknya mengapresiasi sebuah karya.

Sistematikanya sampai saat ini belum rampung dan mapan karena klab ini terbilang baru (dihidupkan kembali). Meski begitu, setidaknya untuk Rabu ini, teman-teman cukup datang untuk membaca bersama sebuah karya (pada tahap awal ini, akan coba dimulai dengan cerpen) kemudian kita bersama-sama mengapresiasi karya tersebut. Hasilnya boleh jadi sebuah kritik, resensi, ataupun menuliskan karya sendiri.

Tidak perlu persiapan khusus, teman-teman cukup datang dengan niat yang lurus. Tidak juga harus mengerti sastra, ekonomi, politik, ataupun budaya, yang penting bisa membaca. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis. Ateis boleh hadir, asal bukan kader parpol apalagi MLM.

Sekilas Mengenal Puthut EA*



Saya: Puthut EA. Tidak mewakili siapa-siapa, selain diri saya sendiri. Saya takut naik pesawat terbang, susah tidur malam, tidak menyukai kerumunan manusia, dan saya punya selera yang buruk tentang musik, senirupa dan bahkan sastra. Saya tergolong pelupa yang akut, terutama untuk mengingat nama-nama, nomor telepon, nama jalan, alamat surat elektronik, istilah-istilah, rumus-rumus, termasuk kutipan-kutipan di dalam buku-buku dan kitab-kitab suci. Pengetahuan saya buruk sekali menyangkut otomotif dan komputer.

Saya suka membaca buku, dan suka menulis. Buku-buku yang saya sukai adalah buku-buku sejarah, termasuk biografi, dan buku-buku ekonomi-politik. Saya menulis beragam tema, bahkan tema-tema yang tidak saya ketahui, sebab di proses itulah saya bisa belajar. Seorang penulis yang baik, menurut saya, adalah seorang pekerja keras dan mau belajar, terutama belajar mengenal dirinya sendiri dan batas-batas kemampuannya. Jika mengerjakan proyek penulisan, saya suka tenggat yang mepet. Di saat seperti itulah, di dalam tekanan waktu dan tanggungjawab, saya merasa menemukan diri saya dan kekuatan-kekuatan yang saya miliki, yang kerap kali tidak saya sadari. Saya tidak suka proyek-proyek jangka panjang, karena kadang-kadang saya gila kerja, dan tidak punya cukup kesabaran untuk mengikuti itu semua.

Saya bukan jenis orang yang bisa melakukan sesuatu dengan serbaserempak. Saya tidak bisa makan sambil membaca koran atau menonton televisi. Bahkan saya tidak bisa menulis sambil mendengarkan musik atau membaca sambil mendengarkan musik.

Saya penikmat kopi, terutama kopi hasil racikan saya sendiri. Saya suka memasak apalagi jika berbahan ikan laut. Tempat favorit saya adalah kamar saya sendiri dan stasiun kereta api. Saya tahan berminggu-minggu berada di dalam kamar, sendirian. Saya juga sangat menikmati kesendirian di stasiun kereta api, bisa sampai beberapa hari, terutama di stasiun kereta api Gubeng, Surabaya.

Saya gampang sekali suntuk. Jika sudah seperti itu, paling-paling yang bisa saya kerjakan hanyalah menonton televisi dan film di dalam kamar, atau pergi ke toko buku, berkeliling dari satu rak ke rak yang lain, berbelanja buku sebanyak-banyaknya, capek, lalu pulang.

Saya menyukai perjalanan, terutama dengan menggunakan moda transportasi darat dan laut. Saya suka naik kereta api dan kapal laut. Di dalam hal ini, saya suka kelambatan, saya menikmati perjalanan itu sendiri dan bukan tujuan, peristiwa-peristiwa di sekitar, dan momen-momen yang bergerak lambat.

Untuk menjaga kesehatan, saya hanya melakukan dua hal: rajin minum air putih dan rajin melakukan yoga. Tentu saja, dua hal itu kadang tidak cukup untuk menghadang datangnya penyakit ke tubuh saya. Sejak kecil, saya selalu terobsesi kepada orang-orang yang sedang merokok, dan dalam usia yang relatif muda saya sudah menghisap kretek. Sampai sekarang saya masih merokok, dan tidak pernah punya sedikit pun keinginan untuk berhenti melakukannya.

Saya penggemar tontonan sepakbola yang saya nikmati lewat layar kaca. Dan saya punya hubungan emosional yang kuat dengan kesebelasan AS Roma, Italia. Jika AS Roma berlaga, perasaan saya berkecamuk. Dan jika AS Roma memenangi pertandingan, saya merasa hidup saya luar biasa, sebaliknya jika kalah, saya merasa hidup ini menyedihkan.

Saya percaya kepada pengaruh energi positif, kebaikan manusia dan solidaritas sosial demi masa depan kehidupan yang lebih baik, juga kebalikannya. Saya percaya kepada karma, dan kadang-kadang saya percaya kepada reinkarnasi. Saya suka berkenalan dan bekerjasama dengan orang, terutama yang merasa punya tanggungjawab dan agenda sosial. Saya suka berkenalan dengan orang-orang baru yang berenergi positif, sekaligus saya tidak pernah menyesal untuk meninggalkan orang-orang lama yang saya anggap berenergi negatif dalam hidup saya. Di dalam hidup ini, saya berusaha menjaga sikap optimistis sekalipun saya kerap didera pesimistis. Sebagaimana banyak manusia yang lain, di dalam diri saya mengeram ironi, paradoks dan ambiguitas. Merenangi itu semua, kutub-kutub yang berseberangan serta wilayah yang mendua, sering kali membuat saya letih dan sedih. Tetapi saya yakin, keletihan dan kesedihan itu bisa membuat saya dewasa secara spiritual.

Sejak kecil sampai sekarang, entah kenapa, saya selalu menyimpan sejenis cita-cita untuk menjadi seorang detektif sekaligus seorang pembunuh bayaran.
*) Diambil dari website pribadi Puthut EA http://www.puthutea.com

Beberapa Karya Puthut EA

Karya Tulis

The Show Must Go On Bencana Ketidakadilan (2010) 154 Questions for Alfie (2010)Menanam Padi di Langit (2008)

Kumpulan Cerpen

Dua Tangisan pada Satu Malam (2005) Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006) Sebuah Kitab yang Tak Suci (2001) Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (2009) Sarapan pagi penuh Dusta (2004)  Makelar Politik: Kumpulan Bola Liar (2009)

Novel

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (2009) Bunda (2005) berdasarkan screen play Cristantra Beli Cinta dalam Karung

Naskah Drama

Orang-orang yang Bergegas (2004) Jam Sembilan Kita Bertemu (2009) Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (2009)

Prosa Liris

Tanpa Tanda Seru

Biografi

Jejak Air (Biografi Politik Nani Zulminarni)
Google Twitter FaceBook

Warung


Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012 oleh Syarif Maulana

Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja."

Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai "type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia." Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata bawah sekalipun. Tentunya juga secara fisik ukurannya harus relatif kecil. Karena kita semua tidak menyebut Alfamart, Circle K, atau Indomaret sebagai warung meskipun menjual barang-barang harian. Dekat rumah saya pun syahdan ada warung namanya Warung Ibu Yana, tapi ketika dalam perkembangannya ia menjadi ekspansif, memakan lahan lebih, kami menamakannya: Toko Ibu Yana.

Kesadaran saya tentang warung dimulai pada suatu pagi sekitar setahun lalu ketika mencari-cari tempat yang asyik untuk mengerjakan tesis. Saya memilih sebuah kafe di Burangrang yaitu Ngopi Doeloe. Sebelum masuk ke kafe tersebut, ada pemandangan lucu tepat di depan pagar kafe itu. Ada warung kopi teronggok dengan nama yang sama: Ngopi Doeloe. Bedanya jelas jauh, yang satu besar yang satu kecil. Yang satu menunjukkan identitas via plang menjulang ditopang tiang, satu lagi hanya dicat saja di dinding kayunya. Tanpa harus membandingkan, common sense saya langsung tahu: harganya juga jelas beda berjauhan. Tapi satu hal yang saya tidak berani melakukan penilaian buru-buru adalah: Apakah "Ngopi Doeloe besar" rasa kopinya lebih enak dari "Ngopi Doeloe kecil"? Apakah "Ngopi Doeloe besar" pelayanannya lebih ramah dari "Ngopi Doeloe kecil"?

Kapitalisme menjawab itu semua. Bahwa memang yang besar belum tentu lebih enak dari yang kecil, memang yang besar belum tentu lebih ramah dari yang kecil, tapi satu hal yang pasti: Yang besar bergaya hidup lebih eksklusif, yang besar lebih menunjukkan kamu punya uang dan citarasa daripada yang kecil. Eksklusifisme itu, entah dibangun dari mana, bisa jadi dari tembok beton dan plang yang menjulang, atau memang harga yang sekalian dimahalkan. Saudara saya yang kerja di Starbucks mengatakan, "Tidak masuk akal kopi tubruk pakai mesin 40.000 per gelas." Ada fakta yang tak bisa diganggu gugat: Orang tetap minum seharga 40.000 meski rasanya sama dengan yang 2.000. Meski secara hitung-hitungan ekonomi jelas tidak masuk akal!

Tak hanya itu, kapitalisme juga mengadopsi "sari-sari" warung. Warung, karena ukurannya yang kecil, tidak bisa tidak penjual dan pembeli bertemu bertatap muka. Ada trust disana, ada pembacaan gestur menyeluruh, ada kegiatan yang sama sekali tidak mereduksi hubungan kemanusiaan, seperti kata Levinas, "Wajah adalah aku yang lain." Di "warung besar" hal seperti itu juga dilakukan. Para pelayan wajib ramah, menampilkan wajah yang sumringah, dan bersikap seolah-olah ini semua adalah warung keseharian, warung rakyat Indonesia yang bermodalkan kejujuran.

Dalam balutan keangkuhan kapitalisme, warung-warung besar menampilkan sisi "kiri" dan "proletariat"-nya justru lewat para pelayan. Padahal kita semua tahu, para pelayan restoran pastilah bisa ramah hingga terlihat alamiah karena di-training berbulan-bulan. Sedangkan pemilik warung bisa ramah karena memang ingin ramah, bisa juga kalau dia ingin judes. Bisa saja jika pemilik warung cantik dan dia digoda pria bujang, maka sang pemilik menampakkan muka jutek untuk menolak godaan. Tapi di warung besar itu mustahil, semerasa dilecehkan apapun pelayan perempuan, ia haruslah punya cara menampik yang tidak merugikan pasaran perusahaan. Keramahan macam ini jelas mengasyikkan bagi para konsumen yang tidak suka realita. Tapi sekaligus kita juga tahu bahwa keramahan para pelayan yang sedang dalam posisi proletariat, selalu atas nama perusahaan, bukan atas dasar hati nuraninya yang paling dalam.

Warung kecil, pada titik ini, punya martabat kemanusiaan yang adiluhung. Tidak ada suatu kepalsuan serius di dalam lingkup transaksinya. Bahkan banyak ibu-ibu warung makan yang tidak pernah mengecek apa saja yang konsumen makan, ia hanya bertanya langsung dan berharap kejujuran. Konsumen bohong bisa saja, tapi si ibu tak ambil pusing, ia pasti berpikir, "Kejujuran selalu menang. Yang dusta pasti ada balasannya." Hanya warung kecil yang punya kemungkinan seseorang dapat gratis rokok karena bisa memberikan suatu obrolan memikat di petang itu, yang punya kemungkinan dua manusia ribut oleh sebab problem tatapan mata yang nyalang antara keduanya, yang punya kemungkinan dihutangi dengan jaminan kepercayaan semata. Dalam warung kecil ada dinamika kehidupan yang mini, yang memang pada kenyataannya hidup sekompleks itu. Yang sungguh disederhanakan persoalannya di warung besar. Di warung besar kamu tinggal bayar maka segala-gala realitas kehidupan disembunyikan. Hidup itu manis ketika kamu bayar!

Harusnya kita sedikit berkaca pada proses kelahiran dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat, yaitu Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Mereka lahir bukan dari kepalsuan warung-warung kapitalistik, tapi di sebuah warung kecil bernama Café de Flore. Kafé, sebelum dimiskonsepsikan jadi sarang para borjuis, dulunya menjadi tempat para proletar bertukar pikir dan melahirkan ide-ide brilian. Harusnya, dengan harga makanan murah dan tampilan dunia apa adanya, sudah seyogianya warung kecil menjadi tempat orang membangun fondasi untuk merubah dunia. Di warung kapitalistik, orang tak bisa melihat dunia, orang tak bisa berpikir terlalu jauh. Mereka terhalang tembok yang terlalu tinggi, mereka sibuk memikirkan citra apa yang melekat.
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin