Monday, March 26, 2012

Pelatihan Subtitling Video Online, Bandung 6 & 7 April 2012


Engage Media bekerjasama dengan Tobucil & Klabs akan menyelenggarakan workshop subtitling video di Bandung. Bertempat di Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung, 6 & 7 April 2012, Pk. 17.00 - 19.00Workshop ini gratis, segera daftarkan dirimu karena tempat terbatas.Daftar Di sini:Segera mendaftar melalui formulir pendaftaran online.Untuk workshop di Bandung, informasi lebih lanjut silahkan hubungi:Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandungtelp. 022 4261548atau  Seelan at lingua@engagemedia.org

------

Bulan April ini, EngageMedia akan berkunjung ke Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta dan selama dua minggu mengadakan pelatihan online subtitling video dan kami berharap anda semua turut berpartisipasi!Dalam rangkaian pelatihan ini, kami memperkenalkan sebuah teknologi yang menarik, untuk melakukan subtitling video secara online di wilayah ini Universal SubtitlesUniversal Subtitles adalah sebuah platform online yang mudah untuk membubuhkan keterangan dan menerjemahkan yang saat ini digunakan sejumlah organisasi lain seperti Al-Jazeera, TED dan PBS NewsHour.


Dengan bantuan alat ini, para pengkampnye bagi isu keadilan sosial dan lingkungan hidup di wilayah ini dapat berkolaborasi, berbagi, dan mengunakan karya-karya video berbeda dari waktu-waktu sebelumnya.

Anda semua bisa menyaksikan kehebatan sistem ini dalam video '

Dengan bantuan alat ini, para pengkampnye bagi isu keadilan sosial dan lingkungan hidup di wilayah ini dapat berkolaborasi, berbagi, dan mengunakan karya-karya video berbeda dari waktu-waktu sebelumnya.
Anda semua bisa menyaksikan kehebatan sistem ini dalam video 'Dengan bantuan alat ini, para pengkampnye bagi isu keadilan sosial dan lingkungan hidup di wilayah ini dapat berkolaborasi, berbagi, dan mengunakan karya-karya video berbeda dari waktu-waktu sebelumnya.
Anda semua bisa menyaksikan kehebatan sistem ini dalam video 'Love Letter to the Solider' yang saat ini tersedia dalam 8 bahasa.

Dalam pelatihan ini kami akan mengantarkan anda melalui 3 proses subtitling dan memperkenalkan anda kepada komunitas subtitling di Asia Tenggara. Dengan berpartisipasi di dalam pelatihan ini, anda dapat membantu mengkomunikasikan isu-isu dan permasalahan yang penting kehadapan pemirsa yang jauh lebih besar, dan dapat pula mensubtitling dan membagikan video anda secara lebih
luas pula.

Pelatihan Universal Subtitles akan diadakan di luar hari kerja dan dibatasi hanya 15 partisipan. Bagi anda, pembuat video, penulis, aktivis, blogger, jurnalis, mahasiswa, penerjemah, penulis, dan mereka yang tertarik pada isu-isu keadilan sosial, HAM, dan lingkungan hidup silahkan bergabung.

Dalam pelatihan ini kami akan mengantarkan anda melalui 3 proses subtitling dan memperkenalkan anda kepada komunitas subtitling di Asia Tenggara. Dengan berpartisipasi di dalam pelatihan ini, anda dapat membantu mengkomunikasikan isu-isu dan permasalahan yang penting kehadapan pemirsa yang jauh lebih besar, dan dapat pula mensubtitling dan membagikan video anda secara lebih luas pula.


Pelatihan Universal Subtitles akan diadakan di luar hari kerja dan dibatasi hanya 15 partisipan. Bagi anda, pembuat video, penulis, aktivis, blogger, jurnalis, mahasiswa, penerjemah, penulis, dan mereka yang tertarik pada isu-isu keadilan sosial, HAM, dan lingkungan hidup silahkan bergabung.


Dalam pelatihan ini kami akan mengantarkan anda melalui 3 proses subtitling dan memperkenalkan anda kepada komunitas subtitling di Asia Tenggara. Dengan berpartisipasi di dalam pelatihan ini, anda dapat membantu mengkomunikasikan isu-isu dan permasalahan yang penting kehadapan pemirsa yang jauh lebih besar, dan dapat pula mensubtitling dan membagikan video anda secara lebih luas pula.


Pelatihan Universal Subtitles akan diadakan di luar hari kerja dan dibatasi hanya 15 partisipan. Bagi anda, pembuat video, penulis, aktivis, blogger, jurnalis, mahasiswa, penerjemah, penulis, dan mereka yang tertarik pada isu-isu keadilan sosial, HAM, dan lingkungan hidup silahkan bergabung.

Jadwal PelatihanJakarta: 31 Maret dan 1 AprilBandung: 6 dan 7 AprilYogyakarta: 14 April


Untuk informasi selanjutnya, kontak koordinator kami Seelan at lingua@engagemedia.org
Tim EngageMediahttp://engagemedia.org


Google Twitter FaceBook

Klab Nulis & Sastra Angkatan XII Berbahagia Karena Sastra dan Menulis


Periode : April-Juni 2012

 Disaat kita memutuskan menulis, apapun itu bentuknya, percaya atau tidak, kita akan terlibat pada suatu pemainan yang membingungankan, menjengkelkan, hingga mungkin tak henti-hentinya kita berdecak kagum ‘kok bisa ya begitu?weiisss bener juga tuh.Ahaa…setuju!’ Pengalaman-pengalaman seperti itu, tentunya akan benar-benar sangat terasa dibatin, barangkali akan menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi yang pertama kali menulis. Bagi segilintir orang yang lain, pengalaman seperti itu, adalah sesuatu yang dinanti-nanti saat bermain dalam permainan menulis.
Kini Klab Nulis angkatan XII akan mengambil tema Berbahagia Karena Menulis. Tema itu diambil bedasarkan pertimbangan ketika melihat banyak orang yang pusing tidak selesai-selesai tulisannya, tertawa bahagia dan berjalan dengan percaya diri, karena tulisannya selesai dan banya orang suka. Maka, kini Angkatan XII Klab Nulis ingin mengajak Anda semua, bisa tertawa dan percaya diri, berbahagia karena menulis dan bersastra ria dengan cara kontemporer.

Materi ;
Pertemuan 1 – Filsafat dan Keberpihakan Sastra Kontemporer Dalam Perspektif Baru
A.              Semesta Kata : Dunia kelihatan dan yang tak kelihatan
B.              Menggugah perasaan dalam karya
Pertemuan 2 – Filsafat Menulis (Penulis sekaligus juga Pelukis Cerita)
A.              Membangun Nilai Fiksi Dalam Karya
B.              Originilatas Karya
Pertemuan 3- Strategi Menulis Karya Kontemporer I
A.              Tiga langkah bercerita yaitu baik, bagus, dan benar menurut George Sentayana
B.                Membuat grafik alur dan menilai secara jitu
Pertemuan 4-  Strategi Menulis Karya Kontemporer II
A.              Teknik” muncul” pengisahan dan In Medias Res
B.              Aneka logika yang mendukung penciptaan gagasan, maksud, hingga cerita
Pertemuan 5- Dinamika Kelompok “Power Words Game”
Permainan imajinasi , rasa, dan studi literatur
Pertemuan 6- Dinamika Kelompok “Games sebelum Menulis Karya”
Undian persiapan sidang karya
Pertemuan 7- Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 8-Mentoring
Setiap peserta mendapatkan kesempatan untuk konsultasi perihal karya seni yang sedang dikerjakan
Pertemuan 9-Sidang Karya I
Pertemuan 10- Sidang Karya II
Pertemuan 11-Sidang Karya III
Pertemuan 12-Penutupan
Pengumuman karya terbaik dan pesta sastra

Model kursus ini adalah original dan dibuat oleh Sophan Ajie bekerjasama dengan Tobucil
Untuk sahabat terbaik, kritikus, dan praktisi Klab Nulis Tobucil Paskalis Trikaritasanto

Google Twitter FaceBook

Klab Filsafat: Menyoal Humor

Senin, 26 Maret 2012

Klab Filsafat Senin itu di Tobucil membahas hal yang bisa jadi kontradiktif: Humor. Mengapa kontradiktif? Karena humor yang melegakan urat saraf, mesti dibicarakan secara filosofis yang notabene serius dan justru menegangkan urat saraf. Untuk merangsang masuk ke wilayah pembicaraan humor, dimulai tidak dengan filosofi, melainkan langsung dengan humor. Selama kurang lebih satu jam lima belas menit, para peserta disuguhi penampilan stand up comedian asal Kanada bernama Russell Peters. Ditayangkan via proyektor, peserta Klab terbahak-bahak menyaksikan aksi komedian yang berlangsung di Madison Square Garden, New York itu. Sambil terbahak sambil merenung: Apakah yang membuat ia begitu lucu?

Albert Liang selaku pemasalah, yakin bahwa ada yang universal dalam humor. Kenyataan bahwa Russell Peters melakukan humor-humor dengan cara menyinggung pelbagai isu ras, kebudayaan, serta agama, Albert percayai sebagai, "Di manapun yang seperti itu bisa jadi lucu." Tapi Mba Tarlen menolak ide universal itu, termasuk juga Azhari dan Teddy, yang mensyaratkan adanya pengetahuan serta kepekaan tertentu dalam memahami komedi. Teddy mengatakan, bahwa dalam komedi The Office, ia tidak mengerti pada awalnya, namun seiring dengan pemahaman ia terhadap kondisi sosio-kultural Amerika, maka lama-lama Teddy jadi paham mengapa hal-hal tersebut menjadi lucu. Kata Mba Tarlen, "Gaya komedi Russell Peters adalah sarkas khas Kanada, dan itu bisa sangat dimaklumi bagi orang New York. Namun belum tentu gaya lawak ala Peters ini ditertawakan juga oleh orang di budaya lainnya, bisa jadi malah tersinggung."

Meski demikian, Albert tetap percaya bahwa ada yang universal, yaitu satu persyaratan bahwa humor haruslah, "Tidak mengancam." Katanya, bagaimanapun, sudah ada setting tentang Russell Peters tersebut. Orang datang untuk kemudian memosisikan diri sebagai seseorang yang siap tertawa dan menyadari tiada potensi ancaman apapun yang muncul dari Peters. Secara tidak langsung Albert juga mensyaratkan adanya setting untuk setiap adegan komedi. Persis seperti Marcel Duchamp yang seolah mensyaratkan segala sesuatu jadi seni ketika ia berada di dalam galeri. Artinya, komedi sendiri harus memiliki prasyarat rasa aman sebelum diungkapkan. Seperti kata Mba Tarlen, "Ricky Gervais gagal melawak di sebuah forum, kemungkinan diakibatkan tidak berhasilnya menciptakan rasa aman."

Perbedaan pendapat apakah humor itu universal atau partikular, dicoba didamaikan dengan kemungkinan bahwa universalitas humor itu terletak pada kenyataan bahwa humor adalah fenomena universal. Maksudnya, di peradaban manapun pasti ada humor, sebagaimana pasti ada musik, seni, pengetahuan, ataupun filosofi. Namun humor dari peradaban Yunani, belum tentu bisa dipahami oleh peradaban Afrika, pun sebaliknya. Pada titik ini, dalam diri humor ada yang partikular dan juga universal. Kata Mba Theo, "Untuk isunya, kemungkinan partikular. Orang Bandung belum tentu ngerti humor orang Jakarta, pun sebaliknya. Tapi ada satu yang bisa ditangkap, yaitu mimik dan body languange. Barangkali di situ titik universalitasnya. Orang bisa tidak tertawa oleh konten, tapi bisa terhibur oleh gerakan."

Tentang yang partikular dan universal, tidak dibincangkan lebih jauh, diserahkan pada apa yang dianggap masing-masing sebagai lucu. Yang lebih penting daripada itu, adalah kenyataan bahwa penutupan Klab Filsafat ditutup oleh lontaran humor-humor dari beberapa peserta. Pada titik itu, filsafat menjadi keseharian, praktis, dan senda gurau belaka. 


Google Twitter FaceBook

Friday, March 23, 2012

Anime String Orchestra: 2nd Concert



















Senin, 9 April 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.00 - 21.00

Tiket seharga 30.000 (early bird) dan 40.000 (on the spot) dapat diperoleh di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548) atau Syarif (0817-212-404)

Mengetengahkan orkestra yang akan menampilkan karya-karya legendaris seperti:

1. Roundabout (Yes)
2. Long Distance Runaround (Yes)
3. Trilogy (Emerson Lake & Palmer)
4. Rocker juga Manusia (Seurieus)
5. Kashmir (Led Zeppelin)
6. Stairway To Heaven (Led Zeppelin)
7. Immigrant Song (Led Zeppelin)
8. Crosstown Traffic (Jimi Hendrix)
9. Spanish Castle Magic (Jimi Hendrix)
10. Hey Jude (The Beatles)
11. Rollover Beethoven (The Beatles)
12. And I Love Her (The Beatles)
13. Silvia & Hocus Pocus (Focus)
14. Bohemian Rhapsody (Queen)
15. Love Of My Life (Queen)
16. Nakal (Gigi)
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Menyelisik Khazanah Musik Blues

 
Minggu, 25 Maret 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan terbuka untuk umum
 
PROLOG
Oleh: Rully S. Ramdani

Blues merupakan ruh yang dihembuskan pada raga dari berbagai genre musik populer Amerika. Sebut saja Rock n'Roll, R & B, Soul, Funk, Hip Hop, Rap, dan bahkan saudara satu darahnya Jazz.

Beberapa mempertanyakan lebih dahulu mana Blues dan Jazz? Lalu kenapa Jazz terkesan lebih elegan, sedangkan Blues terkesan begitu kampungan dan rendah?

Semua berawal dari perbudakan, dan itu tidak akan pernah berakhir sampai dunia berakhir. Para budak yang membawa ruh musikal Afrika ke Amerika, dunia baru mereka. Bangsa kulit putih, yang tidak cukup mengeksploitasi dalam bentuk fisik saja, mereka mencuri kehebatan musik kulit hitam tersebut, dan tidak mau mengakuinya.

Ada esensi yang seringkali tidak bisa ditangkap oleh musisi Blues kulit hitam sekalipun, apalagi manusia Indonesia, yang sama sekali jauh dari asal Blues itu. Lalu seperti apa Blues itu sesungguhnya, apakah Bluesman di Indonesia sudah cukup kuat dan yakin merasa dirinya Bluesman? Apakah cukup sebatas memainkan musiknya saja?

Sangat disayangkan jika hanya menyenangi Blues karena musiknya saja, sementara di dalamnya banyak hal positif yang bisa jadi pelajaran hidup bagi kita. Sementara itu, kita memandang Blues identik dengan hidup menderita, gitar, blue notes, minuman beralkohol, sex, dan drugs.

Ironi, saya rasa bukan itu...


Narasumber dalam diskusi sore kali ini adalah Abah Blues. Baginya, Blues sudah terkonstruksi dalam diri semenjak SMP. Karya tulis Tugas Akhirnya berjudul "Woman Blues" dan "Sejarah Perkembangan Musik Blues di Kota Bandung". Aktivitas musiknya saat ini sebagai penggiat komunitas Blues di Bandung, peneliti musik, dan juga gitaris grup musik "Uncle Traff".
Google Twitter FaceBook

Monday, March 19, 2012

Klab Filsafat: Menyingkap Absurditas Arti "Seni"

Senin, 19 Maret 2012

Setelah berkutat dengan pikiran di minggu sebelumnya dalam topik skripsi, Klab Filsafat kemarin membahas sesuatu yang berkaitan dengan rasa, yaitu mengenai seni. Meskipun terlambat, namun sang pemasalah yaitu Harun tetap sukses membuat galau para peserta, terutama mereka yang terus menerus mempertanyakan: Apa itu seni dan dimana batas-batasnya?

Kata Harun, mempertanyakan batas-batas seni itu seringkali absurd dan bahkan tidak penting lagi. Bahkan katanya, "Dosen saya pun bingung katanya." Tapi Harun sekaligus juga berusaha mengatasi keabsurdan diskusi, dengan mengangkat optimismenya, "Namun ada loh, banyak yang percaya, ada yang bisa ditangkap dalam fenomena seni itu, definisi dan pengertiannya." Optimisme Harun itu kemudian yang menjadikan sesi diskusi tetap berjalan.

Sebetulnya pernah ada masa dimana mendefinisikan seni itu tidak susah-susah amat. Plato dan Aristoteles nyaris sepakat bahwa seni itu adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan nikmat-indah. Namun, kata Harun, menjadi agak sulit ketika kemudian muncul kredo seni untuk seni. Seni menjadi ekspresi pribadi dan cenderung "kumaha aing". Pada titik itu seni menempatkan dirinya terpisah dari masyarakat, dan tidak peduli lagi pada efek nikmat-indah bagi apresiatornya. Hal tersebut diperparah oleh keberadaan Marcel Duchamp yang memamerkan karyanya berjudul The Fountain. Karya tersebut adalah urinoir yang dipajang dan diberi tandatangan. Pada titik itu orang mulai mempertanyakan: Apakah seni itu punya nilai keindahan pada objeknya, atau justru subjek yang membentuk keindahan itu?

Diskusi menjadi bergeser pada hubungan antara seni dan kekuasaan. Seni, jangan-jangan adalah tergantung siapa yang mengatakan itu seni, bukan lagi soal karya atau si senimannya. Harun mengakui bahwa kerja kurator juga salah satunya ada pada wilayah itu, "Mengumpulkan karya, memamerkan, dan memberi intellectual framework. Intellectual framework inilah yang membuat karya-karya tersebut seolah punya nilai dan makna." Kurator juga punya pergeseran peran, dulu dia adalah semacam pengelola galeri dengan kantornya di belakang. Sekarang kurator seolah "berkantor di paling depan", ia menjadi garda depan dalam legitimasi seni atau medan sosial seni.

Sebelum diskusi diakhiri, Albert mencoba melakukan saintifikasi arti seni dengan mengaitkan pada definisi humor, katanya, "Humor adalah sesuatu yang tidak terduga, tapi tidak mengancam. Seni barangkali juga adalah sesuatu yang tidak terduga, tidak pernah dipikirkan orang-orang sebelumnya, dan dia punya wilayah techne atau ketrampilan." Pendapat Albert ini diamini sebagian orang, namun masih belum sanggup menangkap fenomena seni itu sendiri, karena faktanya, ada seni yang tanpa ketrampilan, yang justru begitu konseptual. 

Namun setidaknya, diskusi kemarin menunjukkan bahwa upaya menangkap seni dalam kata-kata adalah sekaligus sia-sia, karena seperti kata Heidegger, "Kita ada di dalam dunia sebelum memikirkannya." 

Topik minggu depan terinspirasi dari celetukan Albert yang terakhir, yaitu: Humor. Diskusi dimulai jam 16.00 karena sebelum diskusi mari kita saksikan dulu seorang stand-up comedian internasional bernama Russell Peters sebagai stimulus obrolan.

Google Twitter FaceBook

KlabKlassik: Mabuk bersama 2001: A Space Odyssey

Minggu, 11 April 2012

Setelah terakhir kali menyimak music scoring film Taxi Driver (1976) hampir enam bulan silam, KlabKlassik kembali mengadakan acara serupa dengan film berbeda. Yang sekarang adalah film besutan Stanley Kubrick tahun 1968 yang berjudul 2001: A Space Odyssey.


Film berjudul 142 menit itu cukup unik. Selain karena maknanya yang sulit ditangkap karena dialog yang sedikit, film 2001 juga menghadirkan elemen visualisasi yang tajam dan begitu canggih di masanya. Selain itu, tentu saja, yang menjadi menarik adalah signifikansi peran music scoring yang terasa sekali begitu dominan. Ada musik dari Richard Strauss berjudul Also Sprach Zarathustra, musik dari Johann Strauss berjudul Blue Danube, dan musik avant-garde dari Gyorgy Ligeti berjudul Requiem. Film ini tergolong unik, karena terasa sekali tempo dalam scene filmnya sangat menyesuaikan diri dengan tempo si musik. Seperti misalnya ada adegan ketika seorang awak kapal ruang angkasa menyajikan makanan bagi awak kapal lainnya, ia berjalan seperti halnya mengikuti irama waltz di lagu Blue Danube.

Meskipun bagi peserta cukup melelahkan untuk menyaksikan film bernarasi lambat ini, namun sebagian besar bertahan sampai akhir dan berdiskusi mengenainya. Mas Daus, seorang penikmat film, membagi referensinya yaitu satu music scoring dari Alex North. Ketika Mas Daus bertanya, "Ada gak musik ini di film tadi?" Para peserta bersamaan menggeleng. "Ya, tadinya musik ini yang bakalan dipakai. Tapi Stanley Kubrick berubah pikiran, dan memilih musik-musik yang sudah jadi saja. Tapi Kubrick sendiri tidak bicara pada North sampai North mengetahuinya pas premiere film."

Yang menjadi perhatian Diecky justru ada dua: Pertama, ia begitu menyukai pemilihan Kubrick pada musik-musik Ligeti. Ini dianggap sangat cocok dan menimbulkan sensasi tersendiri. Kedua, dalam film tersebut ada tokoh bernama HAL 9000, semacam komputer yang punya karakter antagonis. Kata Diecky, "Menarik sekali, kenapa HAL 9000 bersuara laki-laki dan bukan perempuan? Apakah punya efek tersendiri? Padahal kita tahu di manapun, entah bioskop, stasiun, atau voice-mail, pengisi suara itu kerapkali perempuan."

Ketika membicarakan makna film, para peserta merasa kesulitan. Memang, Kubrick sendiri tidak berbicara gamblang, katanya bebas saja untuk menafsirkan aspek filosofis dari film tersebut. Kata Mas Daus, "Mungkin saja, di adegan-adegan awal, ada monyet yang memenangkan pertarungan dengan alat, itu simbol bahwa manusia kelak akan menggunakan alat untuk menguasai segalanya. Pada akhirnya, ribuan tahun kemudian memang iya, manusia terbang ke angkasa dengan alat, tapi juga alat itu sendiri mengontrol manusia." Alat yang dimaksud tentu saja adalah sang komputer antagonis: HAL 9000.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Wednesday, March 14, 2012

Klab Filsafat: Membahas Dilema Skripsi

Senin, 12 Maret 2012

Klab Filsafat Senin itu bertemakan "Skripsi dan Saintis Gadungan". Beranda Tobucil cukup disesaki orang-orang yang beberapa diantaranya, sialnya, tengah melaksanakan skripsi. Pembahasan kemudian ditarik ke wilayah filosofis. Apalagi kalau bukan membahas filsafat yang sangat berkaitan dengan keilmuan: Filsafat ilmu.

Untuk pertama kalinya, Klab Filsafat mengangkat pemasalah. Hari itu, pemasalahnya adalah Syarif Maulana, yang diskusinya sendiri dimoderatori oleh Azhar Rijal Fadlillah. Diskusi dimulai dari paparan pemasalah tentang kenyataan bahwa ketika skripsi, banyak sekali mahasiswa yang ingin "meraup keseluruhan". Membahas sesuatu secara luas tanpa fokus pada kedalaman. Contohnya ada pada peserta yang kebetulan sedang skripsi, namanya Rudy. "Rudy ingin membahas pluralisme dan pengaruhnya terhadap perkembangan Timur Tengah. Itu sepertinya terlalu luas, mestinya ada Timur Tengah yang difokuskan," tutur Syarif. 

Selain Rudy, ada juga yang tengah skripsi, seorang mahasiswa komunikasi bernama Kedot. Ia ingin membahas konsumerisme di Bandung. Kesulitannya adalah mencari sampel. Bagaimana ia harus mencari orang-orang yang tepat, yang dianggap mewakili masyarakat Bandung? Kemudian Liki dan Harun mengajak diskusi soal objektivitas. Jika ilmu-ilmu sosial "menyerah" pada objektivitas dan pada akhirnya fokus pada "melukiskan keunikan", jadi bagaimana ilmu sosial bisa dipertanggungjawabkan?

Diskusi menjadi meluas, ketika Difa berbicara soal peneliti di Indonesia yang kurang mendapat perhatian pemerintah. Hal tersebut menyebabkan penelitian menjadi hal yang kurang berkembang di Indonesia. "Tidak berprospek dari segi finansial,"ujar Difa. Hal tersebut juga dicurigai, kata Azhar, menjadi penyebab banyaknya skripsi-skripsi kurang berkualitas. Kasus plagiat semakin marak, jasa pembuatan skripsi seperti yang juga dirintis oleh salah seorang peserta, Kharisma Putra, semakin diminati!

Di akhir diskusi, ada keprihatinan bahwa kelulusan tidak semata-mata disebabkan oleh hasil penelitian alias kedalaman skripsi. Namun perlu dipertimbangkan juga "kecerdikan" mahasiswa dalam bernegosiasi dengan pembimbing. Pengetahuan filsafat ilmu menjadi tidak begitu bermanfaat karena banyak pembimbing perguruan tinggi yang juga tidak terlalu paham tentang metodologi. Pembimbing hanya mau membimbing hal yang ia pahami, dan tidak tertarik untuk penelitian-penelitian baru. Pada titik ini nyaris semua setuju, "Sepertinya boleh saja bikin penelitian yang baru dan unik, namun siap-siap menerima resiko susah lulusnya. Kadang lebih baik kita penelitian yang simpel namun dijamin cepat lulus." 

Keprihatinan akan dunia kampus menimbulkan pragmatisme.

Google Twitter FaceBook

KLAB BACA: Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya


Gambar diambil dari sini

Rabu sore ini ada yang berbeda di meja beranda tobucil. Sore yang biasanya hanya dihadiri oleh para ‘pembaca’ dan ‘penikmat’ karya, hari ini klab baca berkesempatan berbincang langsung dengan penulisnya. Zaky Yamani, seorang wartawan Pikiran Rakyat yang mendapatkan gelar Master of Art and Journalism dari Ateneo de Manila University, Filipina pada tahun 2008 yang lalu.

Sesuai dengan tema bulan Maret sebagai bulan baca absurditas, pada kesempatan pertama, cerpen berjudul Insomnia Bersama Johnny Walker yang dilanjut dengan Saturday Night’s Lullaby dibacai bersama-sama dengan cara ‘membaca nyaring’—suatu kebiasaan membaca yang sudah jarang, bahkan mulai ditinggalkan para pembaca—satu persatu diantara yang hadir sore itu. Disela-sela proses membaca, kita seringkali tersenyum tipis, tertawa malu, hingga terbahak-bahak sebab tidak bisa menahan rasa yang didapat ketika membaca. Tidak jarang juga kita menemui sejenis tawa yang lain, sebentuk cara menertawakan diri sendiri melalui tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Sebuah cerpen yang tanpa pretensi apapun dalam penulisannya, bertutur ringan, dan menampakkan fenomena urban sebagaimana adanya.

“Hanya serupa upaya pemetaan antropologis masyarakat urban pada suatu masa, tidak ada tendensi mengajarkan apalagi berpesan hal-ihwal moral” sambar Tarlen ketika Zaky menjelaskan latar belakang peristiwa yang membidani lahirnya kumpulan cerpen ini. Ada yang menarik dalam penjelasan Zaky mengenai Insomnia Bersama Johnny Walker, tulisan itu dibuatnya ketika ia hangover sehabis meminum si Johnny di kamarnya, sendiri. Ia baru sadar ketika terjaga paginya dan melihat di layar laptop sudah ada beberapa paragraf. Tidak ada proses editing, paling-paling hanya membetulkan ‘selip kata’. “Psikedelik banget lah!” tambah Tarlen.

“Saya pikir, kumpulan cerpen ini bisa hadir seperti ini tidak lepas dari pergaulan saya dengan teman-teman. Keseharian saya. Sebab, jika saya—atau para pembaca—cermati kembali, seluruh cerpen dalam Johnny Mushroom adalah ekstraksi keseharian yang mengendap.” Zaky menjelaskan maksudnya. Mungkin, bagi para pembaca yang selalu menantikan ‘hikmah’, pesan moral, narasi besar, atau embel-embel fiksi lainnya—yang seringkali dianggap wajib ada dalam setiap cerita—akan kecewa dan segera meremehkan ‘daya magis’ Johnny Mushroom

Dalam kumpulan cerpen ini, Zaky memarkirkan dulu etika dan soal-soal moralitas pada tempatnya, lalu dengan mabuk ia mengendarai fenomena-fenomena urban, membawanya pada agora, tempat masyarakat berkumpul. Menunjukkan realitas yang seringkali terpinggirkan, terlipat oleh gempita sebuah komoditas kota.
Sebab realitas kadang lebih absurd dari cerita fiksi paling gelap seperti sisifus-nya Albert Camus sekalipun.
Pertemuan ditutup dengan quote pembuka dalam buku Johnny Mushroom, kami membacanya dengan kepala yang mulai limbung, mabuk.

“Taukah kau dimana kita hidup?” tanya seorang kakek kepada cucunya. Si cucu menggelengkan kepala. Dia tak paham maksud pertanyaan itu. Si kakek memberikan jawaban, “Ditengah keramaian dunia yang mejadi akar dari segala kesepian kita.”  –Zaki Yamani


Yang menulis notulensi ini, sumpah! Tidak sedang mabuk atau dalam pengaruh mushroom. Hanya ditemani kopi dan Lucky Strike.

Azhar Rijal Fadlillah, 15 Maret 2012
-------------------------------------

*KLAB BACA pertemuan selanjutnya masih akan membicarakan karya-karya bertema serupa, sementara ini pilihan masih condong ke tulisan-tulisan di majalah aktuil.
*Mengenai proyek ‘tulisan berantai’, deadline nya per-satu minggu ya. Minggu pertama Stefanus Ping Setiadi yang mendapat mandat untuk membuka cerita. Selamat menyelami bangkai ingatan yang menyerupai karya fiksi.
Sampai bertemu dua minggu lagi.
Google Twitter FaceBook

Monday, March 12, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #11: Galau yang Merindukan Damai

Minggu, 11 Maret 2012

Berbeda dengan biasanya, KlabKlassik Edisi Playlist kemarin mulai pukul 13.00 oleh sebab adanya suatu urusan. Royke, Benn, Syarif, AM, Nita, Rudy, dan Desy menjadi peserta kali ini. Kecuali Desy, yang lain membawa lagunya, yang bagi mereka masing-masing memberikan kedamaian. Karena topiknya adalah One Day of Peace and Music.

1. (Suara Hujan)
Suara hujan ini diunduh langsung oleh Royke Ng di tempat. Ia memilih suara itu karena sederhana saja: Suara hujan selalu membuatnya tenang, apalagi di waktu malam. Deskripsi sampel suara itu adalah: Light summer rainstorm falling on St. Paul. The thunder was interesting, rumbling and echoing in the distance. "Lagu" ini menarik karena tanpa sadar selalu kita temukan dalam keseharian, namun jarang sekali diapresiasi secara pribadi. Jika mendengar hujan, Royke biasanya langsung bersantai dan menikmati secara mendalam. Meskipun demikian, tentu saja ada perbedaan antara "hujan audio" dengan hujan betulan. Pada hujan betulan, kita merasakannya dengan seluruh panca indera: Ada bau tanah, rasa dingin, dan rintik air dari langit.

2. Joe Pass - Georgia
Lagu yang dibawa oleh AM ini (inisial dari Muhammad Al Mukhlisiddin) berisikan melodi gitar jazz yang amat manis. AM memilih Joe Pass setelah membaca buku yang isinya daftar gitaris jazz terbaik. Joe Pass masuk hitungan karena kebiasaannya menggunakan suara clean tanpa efek. Lagu Georgia ini terbilang menenangkan, karena meski suara gitarnya dinamis, suara bassnya sedemikian statis, lambat, dan menyentuh "bawah" batin.

3. Michael Franks - Antonio's Song
Lagu yang dibawa Syarif ini adalah bossanova. Isinya percakapan antara Michael dan gurunya, salah satu Bapak Bossanova yaitu Michael Franks. Seperti lagu sebelumnya, Antonio's Song juga cukup membuat galau. Kata Nita, "Mendengarkan bossanova itu membuat dunia menjadi berwarna sephia." 

4. Frank Zappa - Worms from Hell
Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya yang memang menenangkan, lagu yang ini membingungkan, karena begitu dinamis, tidak stabil, dan "meracau". Rudy bilang, "Lagu ini bikin saya panik." Sementara AM menganalogikan lagu ini sebagai, "Sesuatu yang mencoba keluar tapi tidak bisa." Sisi damainya kemudian dijelaskan oleh si pembawa lagu, Diecky, "Zappa sudah meninggal ketika lagu ini dirilis. Maksudnya, karya-karya Zappa sedemikian banyaknya sehingga setelah dia meninggal pun masih ada yang dirilis. Tapi interpretasi lainnya, bisa saja Zappa menulis karya ini di neraka. Artinya, dia cukup tenang bukan sehingga bisa memperhatikan cacing di alam sana?" 

5. The Korgiz - Everybody's Gotta Learn Sometimes
Lagu yang dibawa Nita ini terbilang sederhana. Liriknya cuma itu-itu aja: 

I need your loving like the sunshine
And everybody's got to learn sometime
Everybody's got to learn sometime
Everybody's got to learn sometime

Change your heart

Look around you
Change your heart
It will astound you

Namun lirik yang pasif dan irama yang statis ini justru menimbulkan efek yang meditatif: menenangkan.

6. Celtic Women - Danny Boy
Lagu yang dibawa oleh operator Adrian Benn ini didaulat sebagai lagu yang "menenangkan pada dirinya sendiri". Jika lagu sebelumnya ada yang galau dan meracau, maka lagu ini betul-betul membuat syahdu suasana. Danny Boy adalah lagu tradisional Irlandia, namun kata Benn, "Sering dimiskonsepsikan jadi lagu Gereja."

7. Dhafer Youssef - Al Hallaj
Lagu terakhir ini dibawa oleh Rudy. "Ditemukan secara tidak sengaja ketika ngetik keyword 'Al-Hallaj' di google," aku Rudy." Mendengarkan lagu ini, aku seperti sedang sendiri di gereja," lanjutnya. Lagunya memang berirama timur tengah. Msskipun liriknya tidak dipahami, namun semua setuju bahwa lagunya teramat mendamaikan dan sufistik.

Berakhir sudah tujuh lagu yang diputar sebagai ritual edisi playlist #11. Ada satu kalimat yang menjadi kesimpulan pertemuan tersebut, diambil dari kata-kata Diecky: "Ketika damai, orang akan tindu kegalauan. Namun ketika galau, orang akan merindukan kedamaian."

Google Twitter FaceBook

Dibuka Pendaftaran Kelas Filsafat untuk Pemula Angkatan V: Re-Definisi Manusia

Kelas Filsafat Angkatan V
Setiap Selasa Pk. 17.00 -19.00 Wib

Kelas dimulai 3 April 2012

Mentor: Rosihan Fahmi, Syarif Maulana, 
biaya per angkatan/peserta Rp. 250.000 (sudah termasuk materi dan sertifikat)
Materi:
Pertemuan ke-1: Pendahuluan
Pertemuan ke-2: Manusia Yunani
Pertemuan ke-3: Manusia Abad Pertengahan
Pertemuan ke-4: Manusia Renaisans
Pertemuan ke-5: Manusia Eksistensialis
Pertemuan ke-6: Manusia Posmodern
Pertemuan ke-7: Manusia Timur
Pertemuan ke-8: Penutup: Manusia Indonesia?
Google Twitter FaceBook

Sunday, March 11, 2012

Yuk, Nonton SeeBlink di Penutupan Kelas Feature Angkatan III



Mengundang teman-teman semua untuk hadir di acara penutupan Kelas Penulisan Feature Angkatan III yang akan diselenggarakan pada hari

Kamis, 15 Maret 2012 
di Tobucil & Klabs 
Jl. Aceh 56 Bandung
Pk. 17.00 - selesai.

Teman-teman juga bakal dihibur oleh penampilan duo See Blink
Tiada kesan tanpa kehadiran teman-teman semua :)

salam hangat,
Kelas Penulisan Feature Angkatan III + Tobucil & Klabs
Google Twitter FaceBook

Dibuka Pendaftaran Kelas-kelas @tobucil Periode Maret s/d Mei 2012

Kelas Filsafat Angkatan V
Setiap Selasa Pk. 17.00 -19.00 Wib
Kelas di mulai tgl 3 April 2012

Mentor: Rosihan Fahmi, Syarif Maulana, 
biaya per angkatan/peserta Rp. 250.000 (sudah termasuk materi dan sertifikat)

-------

Kelas Penulisan Feature Angkatan IV
Setiap Kamis Pk. 17.00 - 19.00 Wib
kelas dimulai April 2012
Mentor: Adi Marsiela, Zaky Yamani, Rana Akbari Fitriawan (AJI Bandung)
Biaya per angkatan/peserta Rp. 250.000 (sudah termasuk materi dan sertifikat)

Materi:
Mengetahui bentuk-bentuk penulisan nonfiksi, bentuk dan etika penulisan nonfiksi
Mengenal dasar-dasar penulisan nonfiksi
Mengenal dan memahami bentuk penulisan feature
Memahami teori penulisan feature
Mengenal dan memahami teknik liputan
mengenal dan memahami teknis penulisan feature
Evaluasi karya tulis peserta
Review kegiatan

-------

Kelas Foto Cerita Angkatan IV
Setiap Selasa dan Kamis Pk. 15.00 - 17.00 Wib
Kelas dimulai tanggal Akhir Maret 2012
Biaya Rp. 250.000/angkatan/peserta 

Tujuan dari kelas ini adalah peserta dapat memahami proses pembuatan foto dokumenter dengan konsep story telling. Kelas dilaksanakan dalam waktu satu bulan, sebanyak 8 pertemuan serta bimbingan pembuatan foto dokumenter. Di akhir kelas, setiap peserta diharapkan mampu menghasilkan satu foto cerita yang nantinya akan dipamerkan dan dipresentasikan berupa slide show di Tobucil. 

Materi yang akan diberikan :
Pengenalan foto dokumenter ( 2 x pertemuan)
Menggagas cerita untuk foto dokumenter (1x pertemuan)
Riset dan observasi ide cerita (2 x pertemuan)
Praktik pembuatan foto dokumenter (3x pertemuan)
Kelas ini merupakan workshop kecil yang akan melatih peserta untuk bercerita melalui fotografi. Peserta diberi kebebasan memilih tema cerita. Kelas berisi pemberian materi, diskusi ide cerita, referensi foto dokumenter dan praktek membuat foto dokumenter.

-----

Kelas Menulis Angkatan XIII
Mentor: Sophan Adjie
pendaftaran dibuka  Maret 2012

--

Kelas Public Speaking Angkatan III
Setiap Senin dan Jumat Pk. 15.00 - 17.00
Kelas dimulai Akhir Maret 2012
Biaya Rp. 250.000/perangkatan/peserta

Materi kelas:
Minggu 1: Apa itu Public Speaking? 
Minggu 2: Menguasai teknik rahasia berbicara, olah vokal, gesture. 
Minggu 3: Menuliskan kerangka pemikiran, diskusi mengenai penghalang bicara di depan umum. 
Minggu 4: Mengenal audience. 
Minggu 5: Radio announcer 
Minggu 6: Scriptwriting. 
Minggu 7 & 8: Latihan, Presentasi.

----

Kelas Merajut
Setiap Sabtu dan Minggu Pk. 13.00 -15.00 Wib

Biaya 

Rp. 35.000,00/pertemuan.
Rp. 200.000,00/ bulan (termasuk benang)
Rp. 500.000,00/ 3 bulan (termasuk benang dan jarum)

-----

Kelas Merenda
Setiap Sabtu dan Minggu, Pk. 13.00 - 15.00 Wib
Mentor: Galuh Ageng Dyah

Paket Reguler:
Rp. 35.000,00/pertemuan.
Rp. 200.000,00/ bulan (termasuk benang)
Rp. 500.000,00/ 3 bulan (termasuk benang dan jarum)

Paket Amigurumi: Belajar amigurumi 
(crochet 3 demensi 4 pertemuan)
Rp. 200.000

---

Kelas Scrapbook
Setiap Sabtu, Pk. 10.00 - 12.00 Wib
Kelas mulai 10 Maret 2012

Biaya Rp. 300.000/paket (4 pertemuan termasuk bahan)

------

Kelas Crafty Kids
Setiap Minggy,Pk. 10.00 - 12.00 Wib

----

Kelas Sulam Pita
Setiap Minggu Pk. 13.00 - 15.00
Mentor: Kenti Prahmanti
Paket menghias aneka boks
biaya Rp. 250.000/paket/4 pertemuan termasuk bahan 

----

Kelas Book Binding Untuk Pemula 
Minggu, 25 Maret 2012, Pk. 10.00 Wib

Biaya Rp. 75.000/ paket 1 kali pertemuan alat dan bahan disediakan
Kelas Terbatas maksimal 10 orang.
---

Kelas Gitar Untuk Pemula
Senin s/d Jumat Pk. 10.00 - 15.00 Wib (Hari dan waktu menyesuaikan kesanggupan peserta)
Mentor: Bilawa Andarespati dkk (Klab Klassik)
Biaya Rp. 250.000/bulan

Mulai tahun 2012, Tobucil akan membuka kelas gitar. Kelas gitar ini bentuknya adalah privat dan dibuka setiap hari mulai jam sembilan sampai jam tiga sore (9-15). Biaya kelas ini adalah Rp. 250.000 / bulan untuk empat kali pertemuan dengan satu pertemuannya enam puluh menit alias satu jam. Syarat belajar adalah membawa gitar sendiri yaitu gitar akustik yang disarankan dengan senar berbahan nilon. Kelas gitar ini akan dibimbing oleh Bilawa Ade Respati, Syarif Maulana, Aldi Rudianto, Kristianus Triadisusanto dan Yunus Suhendar. Nantinya setiap murid akan mendapatkan satu guru tetap untuk seterusnya (tidak akan berubah-ubah). 
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin