Thursday, May 31, 2012

MWATHIRIKA @papermoonpuppet Manggung di Bandung


Untuk kamu .. yang tak pernah bertemu mereka sebelumnya...
atau kamu, yang ingin menjumpai mereka lagi..

 Baba,
Seorang ayah yang rendah hati, orang tua tunggal, bertangan satu, dan mencintai keluarganya melebihi apapun yang ada di dunia ini...

Moyo,
Anak lelaki sulung dalam keluarga Baba. Masih belia.. berusia 10 tahun.. yang menjaga saudaranya dengan segenap kemampuannya...

 Tupu, 
Anak bungsu keluarga Baba.. 
berusia 4 tahun dan selalu merasa bahagia...

Haki,
Tetangga Baba, orang tua tunggal... yang mengurus anak perempuannya..
Haki seperti halnya kita.. 
hanya menginginkan kehidupan yang aman tentram..

Lacuna,
Anak Haki satu-satunya.. selalu duduk di kursi roda, dan hatinya selembut aromanis..

Dengan seting baru, material baru dan warna yang berbeda, semua itu dapat disaksikan dalam pentas  MWATHIRIKA 

15 & 16 JUNE 2012
di IFI (dulu CCF)
Jl. Purnawarman No. 32
Bandung 40117

15 Juni 2012 pertunjukan mulai Pk. 15.00 (boleh memotret) & 
Pk. 19.30 (tidak boleh memotret)
16 Juni 2012 pertunjukan mulai Pk. 19.30 (tidak boleh memotret)

HTM Hanya Rp. 30.000,- 

Tiket dapat dibeli di: 
Tobucil & Klabs Jl. Aceh no.56 Bandung
Telp. 022 4261548
mulai 1 Juni 2012



Pembelian tiket secara online dapat di lakukan dengan mengirimkan email ke:
tobucil@gmail.com atau twitter @tobucil or @vitarlenology



 'MWATHIRIKA' mendapatkan anugrah  Empowering Women Artists 2010 
dari Kelola Foundation, HIVOS, dan FORD Foundation.
 Pada bulan September dan Oktober 2012, 'MWATHIRIKA' akan menggelar pertunjukan keliling selama 1 bulan di Amerika Serikat bekerjasama dengan  Center Stage ..

Pertunjukan MWATHIRIKA di Bandung di sponsori oleh IFI Bandung,
serta didukung penuh oleh:
Tobucil, Vitarlenology, S 14

Untuk membaca apresiasi pertunjukan MWATHIRIKA sebelumnya:
www.mwathirika-puppet.blogspot.com  www.mwathirika-puppet.blogspot.com



dipublikasikan ulang dari www.papermoonpuppet.com




Google Twitter FaceBook

Monday, May 28, 2012

Klab Filsafat: Manusia Hari Ini Sudah Percaya Logos atau Masih Mitos?

Senin, 28 Mei 2012

Gambar diambil dari sini.

Klab Filsafat Tobucil kemarin membahas tentang “Konsumerisme”. Pemasalahnya adalah Kedot, mahasiswa yang tengah deg-degan menanti sidang skripsinya yang memang membahas tentang topik tersebut. 

Diawali dengan pemaparan Kedot tentang konsumerisme secara teoritik mulai dari Marx hingga Baudrillard, diskusi berlangsung lebih cair dan ramai ketimbang teori itu sendiri. Masalah mulai hadir ketika membadakan istilah ”konsumsi” dan ”konsumtif”. Jika konsumtif adalah sudah pasti konsumerisme, berarti konsumerisme itu sendiri adalah berbeda dari konsumsi biasa. Lantas apa yang menjadi beda? 

Konsumerisme dipercaya sebagai emotional buying. ”Membeli bukan disebabkan oleh fungsi, melainkan karena tindakan membeli itu sendiri,” demikian yang diusulkan Irwan. Dari sisi konsumen memang iya, tapi ada pandangan dari sisi produsen sendiri yang menjadikan perilaku semacam itu terbentuk. Harun misalnya, ia menyorotinya dari sisi medan sosial seni, ”Tidak ada hal yang terlalu rasional dalam penentuan harga suatu lukisan. Memang ada yang namanya profil seniman, konsistensi, dan harga material yang menyusun si karya. Tapi selebihnya ditentukan dengan semena-mena saja.” Sehingga bikin berkerut kening ketika mengetahui ada karya hiu yang diawetkan bisa seharga 12 juta dollar! Namun para kolektor, yang memang punya uang, biasanya membeli saja karena semata-mata harganya yang mahal. Harga mahal itu meningkatkan citra dirinya, terlepas dari apakah lukisan tersebut betul-betul layak dihargai seperti itu atau tidak. Walaupun agaknya kita tidak bisa sepenuhnya tahu, apakah yang disebut ”layak”? 

 Irwan punya cerita tentang keberadaan air mineral pada mulanya di Indonesia. Reaksi masyarakat adalah menolak, karena mengapa air mineral harus dijual? Taktiknya kemudian dari si produsen adalah meningkatkan harganya. Ternyata, tanpa diduga, taktik semacam itu berhasil. Artinya, tidak sepenuhnya, atau bahkan seringnya, masyarakat memang punya dasar konsumeristik, karena membeli adalah berdasarkan mitos saja: Karena harganya mahal, maka patut dibeli. Jika murah, mesti diragukan. 

Diskusi menjadi berujung pada tingkat rasionalitas masyarakat modern. Dulu, kata filsafat, peralihan dari masyarakat mitis ke rasional adalah kepercayaan pada mitos berubah menjadi logos. Dimulai dari Thales yang berkata, ”Alam semesta itu jangan-jangan dari air,” alih-alih ia mencari sebab musabab dari dewa-dewi mitologi. Namun agaknya rasionalitas belum sepenuhnya menjadi pijakan masyarakat hari ini. Seperti halnya percaya akan mitologi, kebanyakan dari kita masih percaya mitos-mitos dalam konsumsi. Ketika membeli yang ini lebih membahagiakan dari yang itu, tanpa tahu sebab musababnya! Bahkan sains sendiri dikooptasi menjadi bagian dari mitos konsumsi. Seperti tutup Satrio: ”Oksigen dalam air itu cuma bisa ditangkap oleh ikan. Tapi ada air minum yang mengklaim punya kandungan oksigen. Argumen saintifik itu ya yang membuat produk mereka sangat menjual.”
Google Twitter FaceBook

Meski Sains Mendekati, Musik Tetaplah Misteri

Minggu, 27 Mei 2012 

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan Dien Fakhri Iqbal Marpaung sebagai pembicara. Topiknya adalah “Terapi Musik bagi Jiwa, Raga, dan Bangsa”. Kebetulan wilayah kajian Iqbal adalah psikologi dan kerapkali merambah bidang neurosains yang belakangan sedang cukup populer itu. 

Diecky (kiri) dan narasumber Iqbal.

Sebelum diskusi dimulai, Iqbal memberi semacam jalan masuk berupa video tentang kajian neurosains. Video dokumenter tersebut beberapa bagian di dalamnya adalah wawancara dengan musisi ternama semisal Yo Yo Ma dan Bobby McFerrin, dihubungkan dengan kajian pengaruh musik terhadap otak. Selain itu, ada semacam penelitian menarik tentang universalitas musik. Ada peneliti yang masuk ke pedalaman Afrika dan menemukan suku yang tidak pernah tersentuh musik Barat. Suku tersebut bahkan tidak punya padanan bagi kata “musik” dalam bahasanya. Ternyata beberapa musik klasik yang disajikan dengan tema senang, sedih, dan takut, mendapat reaksi yang sesuai setelah diperdengarkan pada mereka. Artinya, memang ada yang universal dalam musik, meskipun yang semacam ini bisa diperdebatkan. 

Setelah video diputar sekitar hampir satu jam, Iqbal baru memulai pembahasannya. Pembahasan tentang musik terapi ini, saking menariknya, menjadi timbul banyak pertanyaan. Iqbal mendapat bombardir. Misalnya, apa sebenarnya pengaruh musik bagi otak? Yang beredar kebanyakan adalah tentang aktivasi otak kiri yang isinya intuisi dan kreativitas. Otak kiri berbeda dengan otak kanan yang katanya khusus untuk berpikir rasional dan matematis. Pemikiran semacam ini keliru, karena musik berguna untuk sinkronisasi otak kiri dan otak kanan. Seorang musisi yang integral seyogianya juga cerdas dalam berpikir rasional. 

Neurosains, meski menjadi bidang keilmuan yang cukup canggih, namun tetap tidak bisa menyentuh inti musik di titiknya yang terdalam. ”Tetap,” kata Iqbal, ”Sebelum melakukan terapi, seyogianya kita menggeluti perilaku si pasien.” Artinya tidak ada musik yang universal bisa dipakai sebagai terapi, ia tetap abstrak dan tak bisa ditangkap objektivitasnya. Misalnya, musik yang mengandung suara air dipercaya bisa menenangkan pasien. Tapi bagaimana jika pasien dulunya adalah korban tsunami? 

 Maka itu, kata Iqbal, penguasaan akan filsafat juga dibutuhkan dalam pemilihan musik terapi. Seseorang harus memahami filsafat bahagia, yaitu semacam orientasi pasien tentang apa yang membuatnya bahagia. Iqbal menawarkan empat yang membuat seseorang bahagia, apakah itu pemenuhan kebetuhan, bertahan dalam penderitaan, keseimbangan, atau misteri. Jika itu bisa digali terlebih dahulu, maka nantinya bisa menjadi pedoman dalam menentukan musik apa yang cocok untuk terapi. 

 Musik agaknya tetap menjadi msalah satu misteri terbesar dalam kehidupan. Sains, filsafat, hingga teknologi tidak bisa memecahkan betul-betul secara akurat apa sesungguhnya musik itu. Musik adalah sebuah pengejawantahan metafisika yang paling ”mendekati”, maka itu ia paling absurd dan tidak bisa ditangkap. Jika menyerah, maka jawaban yang tepat untuk menerjemahkan arti musik barangkali adalah berdasarkan tujuan musik itu sendiri. Schopenhauer mengatakan, ”Musik adalah pengalaman keterlepasan dari ruang dan waktu. Dengan musik, manusia akan dengan serta merta menyadari eksistensi dirinya sendiri yang menyedihkan.” Definisi yang absurd, tapi agaknya akurat. 

Google Twitter FaceBook

Monday, May 21, 2012

Klab Filsafat: Menebar Romansa Demi Diri yang Utuh


Senin, 21 Mei 2012

Setelah Senin minggu lalu Klab Filsafat Tobucil “berpaling” sejenak ke IFI – Bandung untuk mengikuti diskusi film 2001: A Space Odyssey yang digelar oleh LayarKita, senin kemarin klab ini kembali lagi ke Jalan Aceh. Tujuannya satu: Mendiskusikan topik pilihan Kharisma Prima berjudul “Poliamori”.

Topik yang diangkat ini cukup menarik karena untuk pertama kalinya Klab Filsafat Tobucil membincangkan sesuatu yang agaknya termasuk paling sulit didefinisikan yaitu soal cinta. Berdasarkan pemaparan Kharisma Prima alias Kape, poliamori berasal dari bahasa Yunani yaitu poly yang berarti banyak dan bahasa latin amor yang berarti cinta. “Poliamori dapat diartikan sebagai posisi atau praktek yang memiliki lebih dari satu hubungan romantis terbuka pada suatu waktu,” kata sang pemasalah. Kata kuncinya terletak pada keterbukaan dan non-posesif, “Saya bisa jalan dengan wanita lain di satu waktu, asal wanita pendahulunya bisa menerima keputusan ini secara terbuka.” Poligami, katanya, adalah cabang dari poliamori yang terinstitusikan.

Pertanyaan berikutnya datang dari Ping: “Apa bedanya poliamori dengan persahabatan misalnya?” Difa menjawab: “Ada hormon yang tidak ada dalam persahabatan, jika ditinjau secara sains.” Memang, Kape menekankan dalam makalahnya, bahwa dalam pandangan materialis, cinta dan hasrat seksual merupakan hasil aktivitas sumber yang sama, yakni hormon oxytocin di dalam otak. Itu sebabnya poliamori mesti terbatas dalam hubungan romansa, hubungan yang sekiranya melibatkan hormon tersebut. Meskipun Kape menekankan, “Romansa itu tidak selalu dengan seks.”

Perbincangan mengenai poliamori ini awalnya mandeg di seputaran batas-batas poliamori itu sendiri sebelum Freddy hadir untuk membeberkan pengalaman pribadinya, “Poliamori itu setia pada komitmen, bukan pasangan. Intinya, kita mencari apa yang melengkapi kebutuhan kita, tapi tidak bisa dilayani oleh satu pasangan saja, bisa dua, tiga, atau lebih dari itu.” Namun ditekankan juga oleh Freddy, komitmen mesti ditekankan dari awal, “Saya mau pacaran sama kamu, tapi saya juga boleh dong jalan sama cewe lain. Begitupun kamu, kamu boleh juga jalan sama cowo lain.”

Di tengah diskusi, Kape juga membentangkan beberapa pengalaman poliamori dari kisah cinta di luar sana. Misalnya, gerakan hippies di AS tahun 60-an pada golongan tertentu menunjukkan kecenderungan poliamori dengan berkumpul bersama-sama di karavan dan bercinta bergantian. Meskipun Kape juga menekankan bahwa poliamori tidak harus selalu diidentikkan dengan seks, yang jika demikian maka namanya “kumpul kebo”. Lalu ada kisah filsuf-filsuf yang mengalami poliamori juga, seperti segitiga Soren Kierkegaard-Regina Olsen-Frederik Schlegel, lalu Friedrich Nietzsche-Lou Andreas Salome-Paul Ree, dan Jean-Paul Sartre-Simone de Beauvoir-serta “orang lain” yang sering diajak bercinta bertiga oleh pasangan tersebut.

Meski poliamori dianggap asyik oleh orang tertentu karena mencari kelengkapan diri dari banyak pasangan, namun tidak semua orang dalam forum diskusi setuju. Pertama, kelengkapan diri itu bisa saja ilusi. Nyatanya, diri kita tidak pernah puas dan selalu merasa tidak lengkap. Kedua, ada nilai-nilai yang masih agung dari bagaimana menerima pasangan tentang lebih dan kurangnya. Justru ketika seorang monoamori menerima kekurangan pasangannya yang satu-satunya itu, bisa jadi ia tengah melengkapi sang diri.


Google Twitter FaceBook

Merayakan Kehidupan lewat Lagu Kematian




Minggu, 20 Mei 2012

Hari Minggu kemarin KlabKlassik Edisi Playlist menyajikan topik yang agaknya ”kontroversial”. Sesuatu yang gelap, misterius, tapi nyata, yaitu kematian.

Ini bukan semata-mata tentang kematian. Sang koordinator, Adrian Benn, menyulap pengantarnya jadi agak ceria, yaitu: ketika kita mati, lagu apa yang ingin kau perdengarkan pada orang lain, yang mengingatkan mereka merayakan kehidupanmu. Walhasil suasana jadi agak gloomy, karena setiap orang jadi merenungkan kematiannya. Inilah dia lagu-lagu yang dihadirkan yang totalnya ada sembilan lagu.

  1. Tori Amos – Crucify (Margaretha Nita)
Lagu pembuka ini meskipun terdengar riang, namun isinya adalah kemarahan. Sesuatu yang kata Nita demikian lekat dengan tema-tema musik Tori Amos pada umumnya. Untuk lagu ini, kemarahan ditujukan pada agama, nilai-nilai masyarakat, dan kekecewaan pada mereka yang kerap membesar-besarkan konsep kematian. Nita menginginkan kematian yang tidak usah menyusahkan yang hidup. Sendiri, di hutan, dan tenggelam bersama keabadian bumi.

  1. Enya – It’s in the Rain (Permata Andhika)
Lagu pilihan Mata ini mulanya ditujukan pada kematian kucing-kucingnya yang ia tinggal seharian tanpa diberi makan. Tidak ada niat buruk di balik itu, Mata hanya berpikir bahwa karena kucing itu punya induk, maka sudah seyogianya sang induk mencarikan makanan. Rasa bersalah akan kematian kucing-kucingnya itu bisa dibuat lega oleh lagu Enya yang sedemikian terkesan “naturalistik”. Dekat dengan alam, seolah memang kucing Mata adalah from dust to dust.

  1. Metallica – Fade to Black (Syarif Maulana)
Lagu dari Syarif ini semacam keinginan pribadi, bahwa ketika kematiannya, mesti ada grup band Metallica menyanyikan lagu ini. Namun terlepas dari itu, lagu tersebut memang mengisahkan kematian. Bahwa kematian adalah sesuatu yang membebaskan: There is nothing more for me, need the end to set me free.

  1. The Gaslight Anthem – We’re Getting divorce, You Keep a Diner (Rahardianto)
Rahar adalah pribadi yang unik, ia menginginkan dan sekaligus meramalkan bahwa kematiannya akan berlangsung tragis dan mungkin saja menyakitkan. Maka itu ia memutar lagu yang juga tragis. Tentang perkawanan yang kemudian bercerai berai karena masing-masing orang mempunyai kehidupan sendiri. Rahar seolah mau mengatakan bahwa kematian pun seyogianya adalah urusan kesendirian, seperti dalam novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam, “Manusia lahir sendiri-sendiri, mati juga sendiri-sendiri. Tidak ramai-ramai seperti pasar malam.” 

  1. Rollies – Salam Terakhir (Esa Esoy)
Lagu pilihan Esoy ini mengingatkan pada pergaulan ayahnya bersama kelompok rock 70-an Indonesia kala itu yang akrab dengan obat-obatan. Gito Rollies, sang vokalis The Rollies, termasuk yang keberadaannya cukup melekat di memori Esoy. Katanya, Gito menutup hidupnya dengan menjadi ustad, sesuatu yang kontradiktif dengan hidup masa mudanya. Ini adalah sebuah upaya untuk khusnul khatimah, mati dengan baik, mengucap salam terakhir pada kehidupan yang pernah membawanya pada puncak dunia. 

  1. Diecky and The G-Spot Tornado Ensemble Modern – Gogoleran (Diecky K. Indrapraja)
Kematian bagi Diecky adalah seperti orang yang baru bangun tidur. Ia sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, tadinya mau bangun tapi tidur lagi, atau dalam bahasa Sunda disebut gogoleran alias tidur-tiduran. Maka itu musik hasil komposisinya ini ditutup dengan fade out yang “nanggung”. Seperti mau habis tapi bunyinya muncul lagi sayup-sayup sebelum habis total.
  1. Libera – Going Home (Adrian Benn)
“Kematian yang damai”, dengan bidadari yang mengangkat roh menuju ke surga. Kira-kira inilah kesan yang disematkan pada lagu pilihan Ben yang dibawakan oleh kelompok paduan suara anak-anak bernama Libera. 

  1. Jethro Tull – Skating Away on The Thin Ice of The New Day (Muhammad Al-Mukhlisiddin)
Lagu Jethro Tull ini agak optimistis. Ini adalah tentang berselancar di es yang tipis. Meski es itu kelak retak, harus tetap skating away. Suatu ungkapan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya, lebih baik menghadapinya dengan sukacita. Namun sisi magis dari lagu ini adalah keberadaan instrumen tabla asal India yang demikian lekat melatari si lagu, membuat kematian mengepung suasana playlist di sore yang habis hujan itu.

  1. Omar Faruk Tekbilek, Yair Dalal & Azam Ali – Inshallah (Dien Fakhri Iqbal Marpaung)
Lagu instrumental kedua setelah musiknya Diecky tersebut, otomatis membawa pendengarnya pada suasana gurun pasir yang sepi dan tak bertuan. Namun titik berat Iqbal bukan pada kesendirian itu, melainkan pada judulnya yaitu inshaallah. Kata Iqbal, kata insha tidak punya padanan dalam bahasa apapun. Itu adalah bentuk perbatasan transsendental antara yang khalik dan yang makhluk.

Lagu dari Iqbal tersebut rupanya menjadi penutup. Yang hadir di edisi playlist itu sendiri ada dua belas orang namun tidak semua membawa lagu. Yang tidak memutar lagu, tetap asyik mengikuti jalannya ritual dan diskusi yang gelap dan galau.

Mati adalah niscaya, apa yang kita lakukan untuk menunggu gong itu berbunyi?
Google Twitter FaceBook

Sunday, May 20, 2012

Pameran: Those Good Old Days

klik gambar untuk membaca lebih jelas

nos•tal•gia a wistful desire to return in thought or in fact to a former time in one's life, to one's home or homeland, or to one's family and friends; a sentimental yearning for the happiness of a former place or time.

Pameran ini berangkat dari kerinduan akan masa lalu, yaitu dasawarsa 1990-an. Seluruh peserta pameran ini, bahkan termasuk panitia dan kuratornya, tumbuh besar di tahun-tahun tersebut. Sebagian mengalami masatersebut sebagai anak-anak, sebagian lainnya sebagai remaja. Sekarang, sebagai orang dewasa, kami ingin melihat kembali apa saja yang menemani kami tumbuh dewasa.

Nostalgia di usia 20-an mungkin dapat dikatakan terlalu dini, namun hari-hari ini, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi(yang diwakili oleh kecepatan perpindahan data digital), sepertinya waktu juga ikut berjalan lebih cepat. Perubahan terjadi begitu pesat, dan sekarang kita mendapati diri kita di tahun 2012, melihat sejauh dua dekade ke belakang.

Sebagai seniman-seniman muda, para peserta pameran membawa semangat zaman postmodern dalam karya-karya mereka. Secara cerdas, mereka mengapropriasi citraan-citraan yang banyak ditemui di dekade 90-an dan bermain-main dengannya. Banyak dari karya yang dipamerkan memiliki kualitas kitsch dan secara terang-terangan menunjukkan kedangkalan. Hal tersebut tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan kreativitas seniman dalam membuat karya yang ringan, renyah, dan sarat akan unsur humor.

Seniman yang turut berpartisipasi:

Aditya Lingga
Agugn
Alfiah Rahdini
Alrezky Caesaria
Andi Nadya Aurora
Bandu Darmawan
Bennanda Putrawan H.
Fajar Abadi
Gonogini (Rizaldi Fakhruddin & Putri Purnamasari)
Sarden Saleh
Mayang Pitaloka
Misha Ahmad A.
Mufti Priyanka A.K.A Amenk
Muhammad Akbar
Nurrachmat Widyasena
Radi Arwinda
Rega Ayundya Putri
Reska Dwi Addry
Risa Tania
Sekarputri (Puti)
Sendi Adrianov
Stevanus Rionaldo
Trie A. Harijoto
William Wahyu Waluyo
Zaenal Abidin


Pembukaan :

waktu : Sabtu, 26 Mei 2012
pukul : 19.00-selesai
tempat : Galeri Kita, Jalan LLRE Martadinata 209, Bandung


Juga diiringi oleh penampilan musik dari:

Artis Ibukota
Berdendang SR
Swell 
Google Twitter FaceBook

Thursday, May 17, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #13 - A Song of Remembrance



Minggu, 20 Mei 2012
Jam 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum


Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.
 
Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Keberadaan manusia dalam dunia ini hanya sementara. Sebuah studi menyebutkan rata-rata jangka hidup manusia adalah 67 tahun. Kematian adalah sebuah kepastian yang tidak terhindar.

Tidak, edisi playlist kali ini bukan membahas tentang kematian, tetapi tentang mengenang kehidupan. Itulah sejatinya sebuah upacara pemakaman, yaitu menghidupkan dia yang berpulang sekali lagi di dalam hati kita untuk selamanya, dengan mengenang masa hidup yang telah berlalu.

Nah, seandainya kelak dalam upacara pemakamanmu, ada kesempatan untuk diputarkan atau dimainkan sebuah karya musik untuk merayakan kehidupanmu, karya apa yang akan kau pilih?
Google Twitter FaceBook

Kelas Filsafat untuk Pemula: Manusia Yunani

Selasa, 15 Mei 2012

Sore itu Klab Filsafat untuk Pemula memulai pertemuannya yang kedua. Peserta yang jumlahnya harusnya empat -namun yang hadir cuma tiga- itu datang untuk mencoba mendefinisikan manusia. Namun sebelum mendefinisikan secara mandiri, ada baiknya mendengarkan beberapa penjelasan tentang definisi manusia secara umum dengan menunjuk beberapa periode, peradaban, atau bangsa, tertentu. Kelas dimulai dengan membahas Manusia Yunani.

Kelas dimulai dengan pertanyaan, "Jika kalian lapar, apakah akan makan atau datang kemari?" Jae menjawab: "Terang saja saya makan dulu, sebelum kesini." Inilah titik pijak manusia Yunani, bahwa kesanggupan mereka memikirkan alam semesta, datang setelah urusan-urusan "logistik" keseharian. Konon, tahun 500 SM itu, ketika Thales menyerukan suatu pernyataan "filosofis pertama" bahwa alam semesta ini terbuat dari air, keadaan wilayahnya ketika itu tidak sedang mengalami kegawatan. Bahkan urusan-urusan rumah tangga banyak dikerjakan oleh para budak sehingga para tuan bisa punya waktu untuk memikirkan segala sesuatu yang lebih abstrak. Bandingkan misalnya dengan sekitar tahun yang sama di Cina, ketika Konfusius berpikir tentang apa yang seharusnya diperbuat secara praktis, oleh sebab negara yang tengah kacau di kala itu. 

Secara garis besar, periode manusia Yunani pra-Sokrates ditandai dengan proyek filsafat yang lebih mengarah pada alam. Pertanyaan seperti: "Alam semesta ini terbuat dari apa?" menjadi umum untuk dibacarakan oleh Thales, Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, hingga Demokritos. Pada titik ini posisi manusia Yunani dibanding dengan alam adalah kira-kira seperti ini:


Pemaparan menjadi menarik ketika memasuki Yunani di masa Socratic Era. Penjelasan hanya seputar Sokrates dan Plato saja karena Aristoteles dianggap lebih mempunyai pengaruh ke Abad Pertengahan. Sokrates mulai mengarahkan proyeknya pada manusia tanpa mengaitkan dengan dominasi keberadaan alam. Sokrates mulai berbicara etika, tentang "apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia". Ia bicara tentang pengetahuan dari dalam, yang absolut, yang membawa pada eudaimonia (kebahagiaan). Kata Sokrates, manusia seyogianya berbuat baik bukan karena aturan ataupun konsekuensi, tapi oleh sebab keutamaan, karena ia tahu apa yang baik.

Plato bisa jadi merupakan "pelopor" bagaimana manusia dipandang terdiri dari dua unsur, yaitu jiwa dan tubuh. Tubuh bisa mati dan merupakan pengindra yang tidak stabil, berubah-ubah, serta rapuh. Sedang jiwa di dalamnya terkandung pikiran yang seringkali mempunyai kontak dengan dunia ide nan abadi, tetap, dan kokoh. Cara pikir Plato ini mengilhami cukup banyak cara pandang terhadap manusia yang barangkali masih relevan hingga saat ini: tentang keabadian jiwa, tentang kerinduan ruh terhadap kebenaran Ilahi, hal yang sedemikian menyenangkan ketika dibicarakan dalam agama-agama. 

Dalam Manusia Yunani sebenarnya banyak terpilah lagi beberapa gaya pikir yang tidak bisa diseragamkan. Namun agar dapat mudah memahami peta kognitif, tidak ada salahnya juga melakukan generalisasi semacam itu. Manusia Yunani adalah manusia yang agaknya mengawali banyak cara memandang manusia, terutama manusia sebagai entitas yang selalu berupaya menjadi otentik. Karena di pertemuan berikutnya, di Manusia Abad Pertengahan, akan ada pembahasan ketika manusia tidak punyai nilai otentisitas di hadapan otoritas Gereja dan Kitab Suci.



Google Twitter FaceBook

Tuesday, May 15, 2012

Red Beard (1965): Isu Nasionalisme atau Kegilaan?

Minggu, 13 Mei 2012

Hari itu, pukul tiga, KlabKlassik mengadakan acara nonton bareng yang dipandu oleh Yunus Suhendar. Apa yang hendak ditonton bukan film yang bisa dibilang ringan. Film yang diputar adalah film berdurasi 185 menit, hitam putih, berbahasa Jepang, garapan Akira Kurosawa, dan bertemakan mengenai rumah sakit jiwa. 


Acara nonton sore itu menjadi agak ramai oleh sebab kedatangan beberapa mahasiswa antropologi yang berniat untuk meneliti perihal KlabKlassik dan aktivitasnya. Setelah KlabKlassik menjawab beberapa pertanyaan singkat, Diecky "memaksa" para mahasiswa itu untuk ikut serta dalam acara nonton bareng sebelum kemudian merumuskan hasil penelitiannya. Sebelum itu juga, Yunus memberikan sedikit pengantar mengenai film tersebut. Katanya, "Ini film yang sepertinya menginspirasi banyak sekali film yang bertemakan rumah sakit jiwa seperti One Flew Over a Cuckoo's Nest."

Film Red Beard secara garis besar mengisahkan tentang dokter muda bernama Yasumoto yang baru pulang dari Belanda pasca studi kedokteran. Di Jepang, ia ditempatkan untuk mengurusi rumah sakit jiwa pimpinan "Si Janggut Merah", julukan bagi sang pemimpin yang memang punya janggut merah. Konflik terjadi karena ternyata pengetahuan Yasumoto yang sudah dianggap mumpuni dan modern, tidak banyak berarti apa-apa di rumah sakit tersebut. Bertentangan dengan Si Janggut Merah yang rupanya lebih banyak mengandalkan pengalaman serta cara-cara yang dianggap "tradisional" ketimbang kedokteran modern. 

Red Beard rupanya memang bukan film yang terlalu mudah untuk dicerna. Yunus sendiri di tengah-tengah film mengakui sendiri bahwa ia menonton film tersebut dengan sering jeda dan istirahat. Maka dengan sangat menyesal film itu mesti diakhiri sebelum waktunya karena terlihat banyak peserta tidak sanggup lagi berkonsentrasi. Film diselesaikan ketika durasi baru menunjukkan 90 menit saja atau setengah dari total 185 menit.  

Namun hal tersebut tidak mengurungkan suasana diskusi yang justru hidup. Jazzy melihat Red Beard itu sebagai analogi dari Si Janggut Merah yang juga merupakan julukan yang disematkan bagi Frederick I Barbaroosa. Jazzy melihat hal tersebut sebagai simbol nasionalisme. Barbaroosa memang seringkali dikaitkan dengan isu nasionalisme, salah satunya disebabkan oleh penggunaan nama tersebut oleh Adolf Hitler dalam salah satu operasi perangnya. Sama halnya dengan Red Beard  di film Kurosawa yang sedemikian lekat dengan isu nasionalisme. Tambahnya, "Ya, Red Beard mengajarkan kita  bahwa nilai-nilai Barat tidak selalu universal. Ada nilai-nilai nasional, atau bahkan lokal, yang barangkali bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu, dalam hal ini isu kesehatan." 

Para mahasiswa antropologi tampak kebingungan karena bagaimana bisa acara nonton seperti ini dikaitkan dengan menonton musik klasik? Ada sebetulnya, dan juga dijelaskan dalam diskusi kemarin. Bahwa mengapresiasi kegiatan seni memang ada yang bisa dikategorikan hiburan, ada juga yang bisa digolongkan sebagai kegiatan seni yang serius dan butuh apresiasi tinggi. Sebagaimana halnya dengan mengapresiasi film-film Kurosawa, mengapresiasi musik klasik juga agaknya membutuhkan sedikitnya stamina. Setelah stamina mulai terbiasa, baru yang dibutuhkan berikutnya adalah pengetahuan dan kerendah hatian. Dua yang terakhir ini menjadi hal terpenting bagi penonton manapun sebelum menerima sesuatu yang tampil di hadapan. Jika itu sukses dilakukan, maka tinggal tunggu seni menampilkan keajaibannya, menari di kedalaman batin kita.


Google Twitter FaceBook

Monday, May 7, 2012

Klab Filsafat: Video Game, antara Hasrat dan Realitas

Senin, 7 Mei 2012

Klab Filsafat sore itu membahas tema cukup menarik yaitu tentang video game. Sang pembahas, Irwan Izukage Syah, tampaknya adalah orang yang sedemikian menguasai seluk beluk video game oleh sebab dirinya juga merupakan pelaku aktif.

Dari makalah yang dibagikan oleh Irwan, poin pertamanya adalah kenyataan bahwa banyak video game memberikan pesan filosofis tertentu. "Pesan filosofis bisa sampai cukup kuat," kata Irwan, "Karena video game menyuguhkan interaksi dan intensitas yang tinggi." Maksudnya, seseorang bisa menghabiskan waktu di depan video game lebih banyak dari medium seni lainnya seperti misalnya film atau novel. Ini tentu saja tidak terlepas dari kenyataan bahwa video game punya daya tarik grafis juga. Pesan filosofis itu Irwan kutip dalam bentuk tagline dari beberapa game:

"How do you prove that you exist? Maybe we don't exist." -Vivi, Final Fantasy IX-
"War.. war never changes." -Fallout 3-
 "A man chooses, a slave obeys." -Andrew Ryan, Bioshock-

Namun lebih dari itu, ketika orang-orang mulai berbagi pengalamannya, rasanya video game juga mewakili hasrat tertentu. Misalnya, Kape menceritakan tentang video game Grand Theft Auto yang memberi pilihan bagi si pemain untuk berlaku membunuh dan merusak kota. Agaknya, kata Kape, video game menyuguhkan suatu opsi untuk membangkang pada norma tanpa harus berisiko melanggar hukum atau norma-norma itu sendiri. Hal tersebut juga diamini Mayang, yang bermain The Sims secara serius dan jujur (tanpa cheat) namun kemudian ketika keluarga yang ia bangun sudah lengkap dan bahagia, ia merasa harus men-delete beberapa anak agar tidak menyibukkan dirinya. Ini juga menjadi semacam hasrat yang hampir mustahil dilaksanakan di dunia nyata, ketika kita menyikapi anak yang ribut dengan men-delete-nya.

Ada beberapa video game, kata Irwan, yang bukan cuma menyalurkan hasrat tapi juga mengaburkan realitas. Ia mencontohkan video game berjudul Majestic yang ketika awal mulai main, kita diwajibkan melakukan entri alamat e-mail dan nomor hape. Nantinya pihak game akan menelpon, SMS ataupun mengirimkan via e-mail, tugas-tugas kita sebagai agen rahasia. "Sehingga," kata Irwan, "bisa jadi di tengah-tengah tidur ada SMS yang menyuruh kita untuk melaksanakan misi!". Satrio bahkan mengenal orang yang meninggal dunia oleh sebab bermain bertahun-tahun lamanya di game online hanya makan coca-cola dan mie. Meskipun video game yang dimainkan almarhum bukan real time, tapi yang demikian adalah contoh bahwa realitas dan virtual sudah dikaburkan. Seseorang tidak sanggup lagi menjalani kehidupan yang dipijaknya dan hanya sanggup tampil di dunia cerita dalam video game.

Majestic. Game berbasis Real TIme.
Namun, ternyata dari video game ada juga hal-hal positif yang bisa diperoleh. Albert misalnya, menyatakan bahwa video game menjadi perkenalan pertama yang baik bagi anak-anak untuk bahasa asing. Selain itu, dengan video game juga seseorang bisa mengetahui bidang kehidupan yang lain seperti militer, sepakbola, ataupun kedokteran misalnya. Irwan menambahkan, ia juga pernah menyelesaikan konflik dengan seseorang oleh sebab bermain video game bersama. "Hasrat kekerasan sudah terlampiaskan lewat video game sehingga selesai bermain kami sudah enak perasaannya," tutupnya. 

Google Twitter FaceBook

Musik Sore Crafty Days: Berkah Pasca Hujan

Sepanjang enam edisi Crafty Days Tobucil, ada dua tradisi yang tidak pernah hilang. Yang pertama adalah hujan, yang kedua adalah musik sore. 

Hujan, meskipun membawa kericuhan karena mesti membereskan stand-stand bazaar di halaman untuk menghindari kebasahan, namun lama-lama Mba Tarlen sang penggagas menyebutnya sebagai, “Berkah.” Pun demikian dengan musik sore. Meskipun juga membawa kericuhan karena mesti menyiasati mungilnya beranda di Tobucil untuk menjadi panggung bagi beberapa kelompok band yang agaknya sudah cukup sering tampil di panggung-panggung “betulan”, namun sama seperti hujan, musik sore juga adalah berkah bagi Crafty Days. 

Berkah karena, pertama, penonton disuguhi sajian gratis sebagai rangkaian penutup bazaar. Kedua, suasana yang dihadirkan juga tergolong lain. Biasanya, dalam pentas musik pada umumnya, panggung itu berupa level. Agar setidaknya para performer sedikit lebih tinggi dari penonton sehingga punya jarak dan mendapat perhatian. Namun inilah yang disebut berkah bagi Crafty Days, ketika level itu tidak ada. Ketika pemain dan penonton tidak punya jarak. Atas dasar itu penonton tidak mesti tengadah ataupun fokus. Mereka bisa saja mengobrol atau celingukan di tengah-tengah permainan musik para pemain. Di sisi lain, ini juga merupakan tantangan bagi para pemain untuk tampil maksimal sehingga sanggup merebut perhatian penonton. Musik sore adalah alur energi dinamis yang terkonsentrasi.

Musik sore, seperti biasa, digelar di hari kedua Crafty Days yaitu hari Minggu. Yang tampil hari itu ada empat kelompok, yaitu Ririungan Gitar Bandung (RGB), Tesla Manaf Effendy dan Rudy Zulkarnaen, Mr. Bean and The Teddy Bear, serta ditutup dengan penampilan Seeblink. RGB adalah kelompok ensembel gitar untuk umum yang rajin ikut berlatih di Tobucil setiap hari Minggu. Mereka membawakan empat karya mulai dari klasik hingga pop. Lagu pertama adalah Romance karya Mozart, lalu La Cumparsita karya Matos Rodrigues, dilanjutkan dengan Tico Tico no Fuba karya Zequinha de Abreu, lantas ditutup dengan Drive My Car dari The Beatles. Penampilan RGB ini dilakukan tanpa sound system sehingga suaranya agak sayup-sayup.

Ririungan Gitar Bandung (RGB) di Musik Sore. Foto oleh Lava.

Tesla dan Rudy bermain memukau. Dua musisi jazz cukup malang melintang di Bandung ini tampil dengan empat karya dengan rincian: Tiga karya dari Pat Metheny (Better Days Ahead, H & H, dan James) dan satu karya ciptaan Tesla (After Her). Duet gitar dan kontrabas itu bermain sangat apik dan terdengar amat bebop oleh sebab cabikan bas Rudy yang begitu "tak henti-hentinya berjalan". Pun gitar Tesla dengan amat dinamis berupaya mengimitasi melody Metheny yang kita tahu, amatlah njelimet. Lagu karya Tesla sendiri menjadi anomali, ketika tiga lainnya demikian cepat dan berderap, lagu miliknya begitu sendu dan galau. Membuat Rudy mesti mengeluarkan busur basnya untuk menggesek senar sehingga terdengar menyayat. 

Penampilan Tesla dan Rudy. Foto oleh Lava.

Setelah penampilan duet Tesla dan Rudy, aroma jazz masih mendominasi Tobucil. Adalah Mr. Bean and The Teddy Bear, yang berformasikan empat orang, memainkan lagu-lagu berirama bossa-nova. Empat lagu termasuk diantaranya dua karya Antonio Carlos Jobim berjudul How Insensitive dan The Girl from Ipanema, mengalir dari sang solis berinstrumen klarinet bernama Adit. Keberadaan gitar, bas, dan cajon membuat ritmis bossa-nova semakin kental, plus melodi yang muncul dari klarinet menimbulkan karakter gloomy yang cukup-cukup membuat beranda Tobucil pasca hujan menjadi sendu. 

Penutupan musik sore dan juga sekaligus Crafty Days adalah penampilan meriah dari Seeblink. Meski hanya berdua, yakni Lava dan Gatot, namun Seeblink meriah oleh sebab perlengkapannya yang elektronis. Lagu yang mereka bawakan konon hanya satu, namun ternyata satu itu berdurasi lima belas menit dan berisikan beberapa lagu yang dimainkan secara medley (Bubuy bulan, Amy Winehouse "You know I'm No Good", Mashup live remix Seven Nation Army vs Rihanna "Only Girl", lagu Seeblink sendiri "Rise & Fall", "2 Sides" dan "Nyong Ondos"). Penampilan Seeblink ini menjadi anomali ketika tiga penampil sebelumnya berformat akustik, mereka tampil dengan turntable dan banyak sekali efek untuk menghasilkan bunyi-bunyi chorus, delay, flanger, dan segala bunyi yang mustahil muncul dari instrumen akustik. 

Duo Seeblink: Gatot dan Lava.
Penampilan puncak tersebut menjadi klimaks, oleh sebab audiens Tobucil telah diajak untuk bertamasya dari keheningan RGB ke pamungkas gemerlapnya sound-sound Seeblink. Setelah Seeblink mengakhiri musiknya, beranda Tobucil kembali hening dan orang menyadari bahwa tempat itu adalah sekadar beranda. Namun pada momen tertentu, Tobucil sanggup menyulapnya menjadi tempat yang asing, yang sanggup membawa pendatangnya lari sejenak dari dunia keseharian yang begitu mumet. Sampai jumpa di Crafty Days dan Musik Sore berikutnya!

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin