Minggu, 20 Mei 2012
Hari Minggu kemarin KlabKlassik Edisi Playlist menyajikan topik yang
agaknya ”kontroversial”. Sesuatu yang gelap, misterius, tapi nyata, yaitu
kematian.
Ini bukan semata-mata tentang kematian. Sang koordinator, Adrian Benn,
menyulap pengantarnya jadi agak ceria, yaitu: ketika kita mati, lagu apa yang
ingin kau perdengarkan pada orang lain, yang mengingatkan mereka merayakan
kehidupanmu. Walhasil suasana jadi agak gloomy, karena setiap orang jadi
merenungkan kematiannya. Inilah dia lagu-lagu yang dihadirkan yang totalnya ada
sembilan lagu.
- Tori Amos
– Crucify (Margaretha Nita)
Lagu pembuka ini meskipun terdengar riang, namun
isinya adalah kemarahan. Sesuatu yang kata Nita demikian lekat dengan tema-tema
musik Tori Amos pada umumnya. Untuk lagu ini, kemarahan ditujukan pada agama,
nilai-nilai masyarakat, dan kekecewaan pada mereka yang kerap membesar-besarkan
konsep kematian. Nita menginginkan kematian yang tidak usah menyusahkan yang
hidup. Sendiri, di hutan, dan tenggelam bersama keabadian bumi.
- Enya – It’s in the Rain (Permata Andhika)
Lagu pilihan Mata ini mulanya ditujukan pada
kematian kucing-kucingnya yang ia tinggal seharian tanpa diberi makan. Tidak
ada niat buruk di balik itu, Mata hanya berpikir bahwa karena kucing itu punya
induk, maka sudah seyogianya sang induk mencarikan makanan. Rasa bersalah akan
kematian kucing-kucingnya itu bisa dibuat lega oleh lagu Enya yang sedemikian
terkesan “naturalistik”. Dekat dengan alam, seolah memang kucing Mata
adalah from dust to dust.
- Metallica – Fade
to Black (Syarif Maulana)
Lagu dari Syarif
ini semacam keinginan pribadi, bahwa ketika kematiannya, mesti ada grup band
Metallica menyanyikan lagu ini. Namun terlepas dari itu, lagu tersebut memang
mengisahkan kematian. Bahwa kematian adalah sesuatu yang membebaskan: There is nothing more for me, need the end
to set me free.
- The Gaslight Anthem – We’re Getting divorce, You Keep a Diner (Rahardianto)
Rahar adalah
pribadi yang unik, ia menginginkan dan sekaligus meramalkan bahwa kematiannya
akan berlangsung tragis dan mungkin saja menyakitkan. Maka itu ia memutar lagu
yang juga tragis. Tentang perkawanan yang kemudian bercerai berai karena
masing-masing orang mempunyai kehidupan sendiri. Rahar seolah mau mengatakan
bahwa kematian pun seyogianya adalah urusan kesendirian, seperti dalam novel
Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan
Pasar Malam, “Manusia lahir sendiri-sendiri, mati juga sendiri-sendiri.
Tidak ramai-ramai seperti pasar malam.”
- Rollies – Salam
Terakhir (Esa Esoy)
Lagu pilihan
Esoy ini mengingatkan pada pergaulan ayahnya bersama kelompok rock 70-an Indonesia kala
itu yang akrab dengan obat-obatan. Gito Rollies, sang vokalis The Rollies,
termasuk yang keberadaannya cukup melekat di memori Esoy. Katanya, Gito menutup
hidupnya dengan menjadi ustad, sesuatu yang kontradiktif dengan hidup masa
mudanya. Ini adalah sebuah upaya untuk khusnul
khatimah, mati dengan baik, mengucap salam terakhir pada kehidupan yang
pernah membawanya pada puncak dunia.
- Diecky and The G-Spot Tornado Ensemble Modern – Gogoleran (Diecky K. Indrapraja)
Kematian bagi
Diecky adalah seperti orang yang baru bangun tidur. Ia sedikit demi sedikit,
perlahan-lahan, tadinya mau bangun tapi tidur lagi, atau dalam bahasa Sunda
disebut gogoleran alias
tidur-tiduran. Maka itu musik hasil komposisinya ini ditutup dengan fade out yang “nanggung”. Seperti mau
habis tapi bunyinya muncul lagi sayup-sayup sebelum habis total.
- Libera – Going
Home (Adrian Benn)
“Kematian yang
damai”, dengan bidadari yang mengangkat roh menuju ke surga. Kira-kira inilah
kesan yang disematkan pada lagu pilihan Ben yang dibawakan oleh kelompok paduan
suara anak-anak bernama Libera.
- Jethro Tull – Skating
Away on The Thin Ice of The New Day (Muhammad Al-Mukhlisiddin)
Lagu Jethro Tull
ini agak optimistis. Ini adalah tentang berselancar di es yang tipis. Meski es
itu kelak retak, harus tetap skating away.
Suatu ungkapan bahwa kematian adalah sesuatu yang niscaya, lebih baik
menghadapinya dengan sukacita. Namun sisi magis dari lagu ini adalah keberadaan
instrumen tabla asal India
yang demikian lekat melatari si lagu, membuat kematian mengepung suasana playlist di sore yang habis hujan itu.
- Omar Faruk Tekbilek, Yair Dalal & Azam Ali – Inshallah (Dien Fakhri Iqbal
Marpaung)
Lagu
instrumental kedua setelah musiknya Diecky tersebut, otomatis membawa
pendengarnya pada suasana gurun pasir yang sepi dan tak bertuan. Namun titik
berat Iqbal bukan pada kesendirian itu, melainkan pada judulnya yaitu inshaallah. Kata Iqbal, kata insha tidak punya padanan dalam bahasa
apapun. Itu adalah bentuk perbatasan transsendental antara yang khalik dan yang
makhluk.
Lagu dari Iqbal tersebut rupanya menjadi penutup. Yang hadir
di edisi playlist itu sendiri ada dua
belas orang namun tidak semua membawa lagu. Yang tidak memutar lagu, tetap
asyik mengikuti jalannya ritual dan diskusi yang gelap dan galau.
Mati adalah niscaya,
apa yang kita lakukan untuk menunggu gong itu berbunyi?