Monday, July 30, 2012

Klab Filsafat Tobucil: Memahami Absurditas lewat Waiting for Godot (2001)


Senin, 30 Juli 2012


Berbeda dengan pertemuan biasanya, Klab Filsafat kali ini mengadakan nonton bareng sebelum memulai diskusi. Filmnya adalah usulan Kape, judulnya Waiting for Godot. Film ini diadaptasi dari naskah drama tahun 1953 karya Samuel Beckett dengan judul yang sama.  

Kenapa film ini yang dipilih? Jawab Kape, “Karena eksistensialisme banget.” Setelah itu diputarlah Waiting for Godot yang berdurasi satu jam 53 menit itu. Apa isinya? Film ini berkisah tentang Vladimir dan Estragon yang keduanya menanti seseorang bernama Godot. Namun apa yang terjadi? Godot yang ditunggu tak pernah datang. Ada Pozzo dan Lucky muncul di tengah-tengah mereka, namun itu bukan Godot. Ada seorang anak membawa kabar berita dari tuan Godot bahwa tuannya baru akan datang besok. Tapi keesokan harinya anak itu datang kembali memberi tahu bahwa tuannya baru akan datang besok. Ad infinitum.

Film ini, tentu saja membosankan, karena memang demikianlah yang ingin ditawarkan Beckett. Atau apa yang Mas Daus katakan sebagai, “Non-referensial, diskontinyu, dan fragmentaris.” Non-referensial artinya, kita tidak tahu baik Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan si anak, datang darimana dan mau kemana. Bahkan kita tidak tahu lokasi tempat menunggu Godot itu dimana. Kita hanya tahu mereka ada di sana, terlempat, dan begitu adanya. Diskontinyu artinya percakapan mereka tidak ada yang berkelanjutan, hanya berputar-putar saja. “Coba saksikan film tersebut hingga dua puluh menit saja, kita akan tahu apa yang mereka bicarakan adalah meaningless, nonsense, tidak membawa kemanapun.” Sedangkan fragmentaris berarti, masing-masing punya pemikiran sendiri tentang siapa Godot di kepalanya. Bahkan secara mendalam dapat diartikan, bahwa obrolan antar orang per orang bisa jadi sedang membicarakan sesuatu yang berbeda di kepalanya.

Albert mencium film itu sebagai, “Ajakan agar kita merasakan betul bagaimana perasaan keberulangan hidup yang absurd dan kadang memuakkan. Seperti mitos Sisifus-nya Albert Camus.” Sedangkan Ping menyebut film itu sebagai Nietzschean, “Selain curiga bahwa Godot adalah akronim dari Got is tott-nya Nietzsche, film ini juga valueless, seolah-olah menunjukkan absence of god. Kita juga bisa melihat tokoh Lucky sebagai apa yang disebut dalam Zarathustra-nya Nietzsche sebagai fase unta.” Namun kenirmaknaan Waiting for Godot dinetralisasi oleh Kang Ami. Katanya, “Justru tugas kita adalah memaknai ulang hidup ini adalah apa. Menihilkan segala sesuatu bukanlah tahap final. Setelah semuanya nihil, kita membangun sesuatu yang baru diatas puing-puingnya.”



Google Twitter FaceBook

Sunday, July 29, 2012

Inspirasi vs Plagiarisme

Minggu, 28 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Playlist kali itu tidak seperti biasanya yang mewajibkan masing-masing pesertanya membawa satu lagu. Kali ini peserta mesti membawa dua lagu karena ada yang harus dipersandingkan. Topiknya adalah tentang inspirasi vs plagiarisme. Jika ada satu lagu mirip dengan lagu lainnya, kita bisa pertanyakan: Apakah itu inspirasi, ataukah itu plagiasi?

Meski yang hadir tidak terlalu banyak, namun edisi playlist kali ini justru menyuguhkan lagu cukup banyak. Selain karena memang yang dibawa masing-masing orang adalah dua, tapi penyebab utamanya adalah keberadaan Rahardianto yang membawa hingga belasan lagu. Katanya, "Mudah sekali menemukan lagu Indonesia yang mirip dengan lagu asing. Bahkan di youtube pun ramai-ramai mempersandingkan." Berikut adalah beberapa lagu yang kemarin diputar, yang dirasa punya kemiripan:

1. Le Marseilles (Lagu Kebangsaan Prancis) dengan Dari Sabang Sampai Merauke. Kemiripan ini cukup identik, meski yang sangat persis hanyalah dua bar pertamanya. Namun jika dicermati, bar-bar berikutnya dari lagu Dari Sabang Sampai Merauke hanyalah variasi sedikit dari Le Marseilles.

2. Frozen (Madonna) dan Ma Vie Fout Le Camp (Salvatore Acquaviva). Kemiripannya ada di beberapa bar bagian verse. Konon Acquaviva menggugat Madonna dan memenangkannya. Lagu Frozen pun dilarang diputar di Belgia. 

3. Kopi Dangdut (Fahmi Syahab) - Moliendo Cafe (Hugo Blanco). Siapa yang tidak kenal lagu Kopi Dangdut? Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia tahu lagu dangdut populer ini. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Moliendo Cafe nyaris tidak punya perbedaan dengan Kopi Dangdut. 

4. Jangan Sakiti Aku Lagi (Radja) - No More Lonely Night (Paul McCartney). Rahar menyebut persamaan kedua lagu ini sebagai "persamaan pada intinya". Atau sekilas berbeda, tapi intinya sama-sama saja. Dalam arti kata lain, ini masuk kategori "plagiasi yang samar-samar".

5. Mari Bercinta (Aura Kasih) - Give it To You (Sean Paul). Kemiripan ini sangat identik. Hanya karena Aura Kasih memainkannya dengan beat disko dan Sean Paul hip-hop, maka bagi orang awam tidak akan terlalu kentara. Namun melodi lagunya sungguh persis.

6. Pupus (Dewa) - Life is Real (Queen). Ahmad Dhani terlihat sekali terinspirasi Queen dalam banyak lagunya. Rahar juga mengategorikan kemiripan ini sebagai cukup samar dan lebih terasa sebagai inspirasi daripada plagiasi.

7. Mak Comblang (Potret) - Alright (Supergrass). Kemiripan ini tidak terlalu jelas, namun terasa sekali dari ritem dan "semangat"-nya. Bahkan konsep video klip diantara keduanya pun punya kemiripan.

8. Bagaikan Langit (Potret) - Good Life (Weezer). Rahar mencium persamaan ini pada fill-in drum dan juga bagian tengah, semacam bridge dan solo-nya. Melly mengambil style yang luar biasa identik meski terlihat ia mengubahnya sedikit-sedikit.

9. Take em All (Cockspringer) - Iwa Peyek. Iwa Peyek orisinil? Tunggu sampai mendengarkan bagian reffrain lagu Cockspringer tersebut!

Ada cukup banyak lagu yang diputar, belum termasuk yang dihadirkan oleh Diecky -yang dengan niat ia sudah potong-potong lagu tersebut ke dalam satu file-. Namun yang lebih terpenting adalah membahasnya. Kata Diecky, dalam aturan hak cipta sendiri, lagu baru dianggap plagiasi jika menjiplak hingga delapan bar. Kenyataannya, banyak musisi, walaupun mirip, tapi secara cerdik berhasil menghindari aturan hingga delapan bar tersebut (simak Dari Sabang sampai Merauke yang cuma dua bar). "Selebihnya," lanjut Diecky, "Dikembalikan pada harga diri si musisi itu. Jika memang terasa menjiplak walaupun tidak bisa dibuktikan, ia bisa mendapat sanksi dari masyarakat berupa cap plagiator yang tidak resmi." 


Tapi apa bedanya kemiripan seperti ini dengan misalnya Marcel Duchamp yang melukis monalisa dan hanya menambahkan kumis? Lanjut Diecky, "Beda, kalau Duchamp ada semacam mocking yang terang-terangan. Persis seperti parodi yang dilakukan oleh Project Pop. Namun musisi-musisi ini, sepertinya sengaja 'terinspirasi' oleh musisi yang kurang terkenal, yang asumsinya tak bisa dilacak oleh masyarakat banyak. Sedangkan 'menjiplak' Monalisa itu kasus lain, siapa yang tak tahu lukisan Monalisa?"  Inilah yang menjadi persoalan: Ketika akses terhadap internet sudah semakin marak, orang sudah bisa melacak lagu-lagu ke seluruh dunia, tidakkah sebaiknya pencipta lagu malah harus semakin mawas diri dalam mencipta?


Google Twitter FaceBook

Monday, July 23, 2012

Klab Filsafat Tobucil: Membahas Evolusi bersama Tayo Sandono



Senin, 23 Juli 2012


Tayo Sandono (merah)



Klab Filsafat Tobucil menggelar pertemuan perdananya di bulan Ramadhan. Meski dijadwalkan dimulai pukul lima, namun banyak peserta lebih memilih datang menjelang buka puasa. Walhasil, diskusi pun dimulai pukul enam.

Pada edisi kali ini, diundang pemasalah khusus bernama Romi Fattah a.k.a. Tayo Sandono. Materi yang dibahas adalah mengenai evolusi yang tadinya menurut Tayo, “Maunya evolusi secara umum, namun saya sempitkan menjadi evolusi Darwin saja dulu,” ujarnya merujuk pada judul makalahnya yang cukup komprehensif “Teori Evolusi Darwin dalam Sains dan Filsafat Sains”. Meski ketika pada awal pemaparan Tayo, peserta tidak terlalu banyak, namun lambat laun orang berduyun-duyun datang memenuhi beranda Tobucil hingga dua bangku terisi penuh. Hal yang tidak membuat Ping ataupun Albert terkejut, “Bang Tayo ini sudah menjadi legenda, pasti banyak yang mau mendengarkan ceramahnya.”

Sejalan dengan makalahnya, pemaparan Tayo juga sangat komprehensif. Ia menerangkan mulai dari definisi evolusi, perbedaan antara evolusi dengan perkembangan, serta perbedaan evolusi dan revolusi. Akhirnya definisi yang disepakati bagi evolusi adalah “perubahan biologis bertahap yang terjadi dalam generasi berbeda”. Tayo melanjutkan penjelasannya pada pemikiran filsuf klasik mengenai evolusi mulai dari Empedokles, Mulla Sadra, Guru Nanak, hingga Denis Diderot. Kemudian ia masuk ke abad ke-19 ketika Charles Darwin sudah menyuarakan teorinya. Tayo menyarikan pemikiran evolusi Darwinian dalam lima poin:

  1. Spesies mengalami perubahan seiring waktu (teori dasar evolusi – ketidaktetapan spesies)
  2. Seluruh makhluk hidup yang ada sekarang memiliki satu leluhur yang sama di masa lalu (evolusi bercabang)
  3. Dari leluhur bersama tersebut terjadi perubahan-perubahan bertahap secara populasi hingga ke bentuk sekarang (graduasi, bukan saltasi (mendadak) bukan pula transformasi (dari bentuk asal))
  4. Spesiasi terjadi karena kondisi yang ada sedemikian rupa (misalnya lewat isolasi geografi) hingga perubahan yang ada bersifat permanent dalam populasi (asal usul keanekaragaman)
  5. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh seleksi alam (seleksi alam)

Selain berkutat di wilayah sains, Tayo juga masuk ke wilayah filsafat. Ia melihat beberapa cara pikir filsafat yang diwariskan dari cara pikir Darwinian yang menyejarah (yang sebetulnya juga diwariskan oleh Hegel -red). Misalnya Karl Kautsy, filsuf Marxis yang memopulerkan ekonomi dan filsafat Marx dan merintis pertanyaan tentang agrarian dan asal usul Kristen dari perspektif evolusi. Tayo juga menyinggung Thomas Kuhn yang menggunakan cara pikir evolusi dalam kerangka perubahan sains. Terakhir, Tayo menutupnya dengan memaparkan kritik filsafat terhadap teori evolusi. Katanya, filsafat sering mengritik teori evolusi dalam tataran teori tersebut cuma membolak-balik eksplanasi dari akibat ke sebab. Misal: Sebelum ada teori evolusi, jika ada yang bertanya mengapa bulu beruang kutub berwarna putih? Jawabannya adalah agar dapat berkamuflasi. Setelah ada teori evolusi, jika ada yang bertanya hal serupa, jawabannya: karena ia berkamuflase. Hanya membolak-balik antara akibat menjadi sebab.

Pemaparan Tayo ini menimbulkan diskusi menarik. Irwan bertanya, “Apakah evolusi ini punya tujuan sebagaimana dialektika Hegel dan Marx?” Hal yang mula-mula dijawab Liky, katanya, “Marx punya tujuan yaitu sosialisme utopis, sedangkan Hegel punya tujuan yaitu roh absolut di Prussia.” Tayo menjawab bahwa evolusi tidak mempunyai tujuan, tapi buta, yang disebut sebagai blind watchmaker. Selain Tayo, Albert juga berperan menjawab pelbagai pertanyaan mengenai evolusi –yang tampaknya ia juga cukup menguasai-. Bahkan ia bisa melihat bahwa segala sesuatu punya cara pikir evolusi. Misalnya media, media juga sebagai “lingkungan” bisa mempengaruhi spesies untuk bertahan hidup, misalnya dengan memilihkan pasangan yang dianggap ideal.

Pertanyaan agak filosofis datang dari Kape, ia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang eksistensial. Artinya, ia bisa berkehendak bebas, bukan melulu dikendalikan oleh lingkungannya. Tayo menetralisir pertanyaan ini dengan mengiyakan pernyataan Kape, seandainya memang percaya bahwa kehendak bebas itu ada. Tapi ada juga yang percaya bahwa segala sesuatu ini deterministik, sudah ditentukan oleh rumusan alam semesta. Jika memang iya demikian adanya, maka pilihan-pilihan bebas itu tidak ada, atau pilihan bebas adalah sesuatu yang berguna untuk keberlangsungan evolusi.

Karena Tobucil tutup pukul delapan, maka diskusi seru ini tidak bisa dilanjutkan terlalu larut. Tayo menutupnya dengan kalimat yang bagus, “Sains adalah ilmu dengan aturan dan dengan tujuan. Agama juga merupakan ilmu dengan aturan dan dengan tujuan. Filsafat adalah satu-satunya yang tidak punya aturan meskipun ia tetap mempunyai tujuan. Jadi filsafat adalah elemen penting untuk mengritik sains ataupun agama, semata-mata karena baik sains maupun agama –karena punya aturan- seringkali terkungkung oleh aturannya sendiri.” Applaus panjang pun menutup Klab Filsafat Tobucil malam itu. 

Google Twitter FaceBook

Sunday, July 22, 2012

Mengapresiasi Nosferatu (1922): Kesan Seram bukan Melulu dari Musik

Minggu, 22 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Nonton kali ini, Yunus Suhendar sebagai koordinator membawa film klasik Nosferatu karya F. W. Murnau. Karena di waktu yang sama, di beranda Tobucil sedang ada acara Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maka acara nonton dipindahkan ke bagian dalam Tobucil.

Nosferatu adalah film bisu berdurasi 97 menit yang diambil dari novel Bram Stoker yang terkenal berjudul Dracula. Berkisah tentang Jonathon Harker yang mendapat surat dari Count Dracula untuk berkunjung ke kastilnya. Untuk apa? Dracula ingin mencari rumah di dekat warga, ia meminta orang untuk membantu surveinya. Namun Harker mencium ada banyak keanehan dari Dracula ini, misalnya, ketika tangannya berdarah karena tergores pisau, Dracula terlihat bergairah dan langsung mengisap darah itu dari tangan Harker. Harker juga di suatu pagi menemukan bahwa lehernya ada dua tanda bekas digigit. Beruntung ada istri Harker bernama Ellen yang sedemikian punya firasat kuat terhadap apa yang terjadi pada suaminya. Setelah membaca buku panduan Dracula, ia menemukan bahwa Dracula bisa dimusnahkan jika seorang wanita dengan hati bersih menyerahkan darahnya untuk dihisap. Ellen berkorban, Count Dracula mati, Harker pun selamat.

Meski musiknya terbilang datar dan tidak ada kejutan-kejutan khas film horror, namun Nosferatu membuat kita tercekam lewat sosok drakula-nya itu sendiri. Ditambah lagi, film yang hitam-putih membuat fokus menjadi lebih tertuju pada sosoknya, bukan dilapisi oleh pesona warna-warni seperti dalam Dracula versi Francis Ford Coppola. Dracula yang disebut terakhir ini, memang juga memiliki sosok Drakula yang menakutkan, namun “keberwarnaan” si film membuat sosoknya tetap nyaman bagi mata.

Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik. Kata Yunus, “Film horror Indonesia misalnya, lebih menekankan pada efek kejut lewat audio. Sehingga jika kita ingin menghindari rasa takut, lebih baik menutup telinga daripada menutup mata. Namun Nosferatu ini kita begitu dihantui oleh visualisasi Count Dracula yang diperankan Max Schreck.” Ia sendiri mengaku mendapat rekomendasi film ini dari Ismail Reza, yang mengatakan bahwa inilah Drakula paling seram sepanjang masa. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi Tobing Jr., penggiat komunitas Layarkita yang juga menjadi peserta nonton bareng kemarin, bahwa film horror Indonesia sudah diwarnai ketidakbermutuan seperti Nenek Gayung atau Mama Minta Pulsa. “Mereka semestinya belajar dari film horror seperti Nosferatu ini. Kebanyakan sutradara lokal minim referensi. Hanya berkarya dan berkarya, tapi jarang mengacu pada film-film bagus. Sehingga karyanya menjadi kurang baik. Efeknya? Apresiasi penonton menjadi rendah. Lihat betapa kosongnya bioskop ketika Lewat Djam Malam-nya Usmar Ismail diputar. Berbanding terbalik ketika film-film seperti Pocong diputar.” 

Pernyataan kritis seperti ini selalu direspon secara klasik: Realistis dong, hidup ini kan butuh uang. Siapa yang mau bayar untuk nonton film seperti Nosferatu?


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Monday, July 16, 2012

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Blue Velvet (1986) dan Krisis Oedipal

Senin, 16 Juli 2012

Klab Filsafat Tobucil, oleh sebab perubahan jadwal yang dilakukan oleh Layarkita, kembali mengadakan diskusinya di Auditorium IFI-Bandung. Ini lebih tepatnya disebabkan oleh tanggal 16 Juli yang sebelumnya Layarkita tidak ada kegiatan, jadinya ada. Pada kesempatan ini, film yang diputar dan dibahas adalah Blue Velvet karya David Lynch tahun 1986.

Blue Velvet adalah film yang berkisah tentang pemuda bernama Jeffrey Beaumont yang tengah berada di kota kecil bernama Lumberton. Keberadaan dia di kota tersebut adalah dalam rangka menjenguk ayahnya yang sakit. Kehadiran dia di Lumberton membawanya pada suatu petualangan yang tak terkira. Mulai dari menemukan kuping manusia, melakukan kegiatan mengintip (voyeurism) dua orang yang bercinta dengan kasar, terlibat percintaan di antara dua wanita, hingga Jeffrey sendiri membunuh pria bernama Frank Booth dengan pistol.

Keseluruhan kisah yang dikarang Lynch ini, membelah penonton menjadi dua bagian, ada yang paham dan ada yang tidak. Sekilas film ini memang ada plot yang cukup sederhana, namun jika memahami karakter film-film Lynch sebelumnya, ia seringkali tidak membiarkan penonton bisa memahami secara sederhana. Film Blue Velvet ini bahkan menjadi yang paling banyak dibahas dalam film dokumenter Pervert’s Guide to Cinema yang isinya adalah analisis film oleh Slavoj Zizek.

Analisis Zizek sendiri tidaklah simpel. Ia menilai bahwa Blue Velvet adalah film yang sangat berbau krisis Oedipal Freudian. Sigmund Freud, pakar psikoanalisis, pernah memaparkan tentang anak laki-laki yang di waktu lahir pada mulanya amat mencintai ibunya (karena pengalaman seksual pertama bayi adalah menyusui yang mana adalah persentuhan pertamanya dengan “yang lain”), namun lama kelamaan ia merasa terancam dengan keberadaan ayah yang senantiasa “merebut” perhatian ibunya dari dia. Inilah momen yang bagi Zizek, begitu terekam dari bagaimana kelakuan Jeffrey dalam memperlakukan Dorothy Vallens (yang dicap Zizek sebagai ibunya) secara penuh cinta, berbalik dengan perlakuannya terhadap Frank Booth (yang dicap sebagai ayahnya).

Selain soal krisis Oedipal, Blue Velvet juga bisa ditafsirkan sebagai sebuah film yang dipenuhi unsur voyeurism. Adegan mengintip Jeffrey, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang membawa ia ke dunia lainnya. Karena pada hakikatnya, voyeurism bukanlah sekadar mengintip, sesungguhnya kita melibatkan fantasi kita ke dalamnya. Hal tersebut membuat voyeurism dianggap sebagai hiburan seksual paling menyenangkan dan tidak menimbulkan rasa bersalah. Voyeurism juga pada titik tertentu adalah semacam petualangan ke dunia yang kita ciptakan sendiri. 





Google Twitter FaceBook

Tuesday, July 10, 2012

Kelas Filsafat Manusia (Penutupan): Apakah Manusia Masih Pusat Segala Sesuatu?

Selasa, 10 Juli 2012



Kelas Filsafat untuk Pemula angkatan keempat ini memang secara kuantitas tidak sebergairah angkatan-angkatan sebelumnya. Pesertanya bertiga, itupun yang hadir kerapkali timbul tenggelam. Yang rajin datang hanya satu, namanya Jae Aditia. Namun hal tersebut tidak menyurutkan kedua tutor, yakni Rosihan Fahmi dan Syarif Maulana untuk tetap menyelesaikan proyek yang sudah dijanjikan, yakni buku kecil yang isinya adalah hasil refleksi peserta. 

Pertemuan pamungkas, Kang Ami lebih banyak mengajak refleksi ketimbang memaparkan teori. Katanya, “Setelah memahami manusia dari jaman Yunani, Abad Pertengahan, Renaisans, hingga Posmodern dan menyeberang ke Timur, apakah Jae akan memilih salah satunya?” Jae menggeleng. “Apa yang akan Jae lakukan?” tanya Kang Ami kembali, seperti dialog Plato dan Sokrates. “Tergantung situasi,” jawab Jae. Jawaban tersebut memberi kesimpulan bahwa Jae cukup memahami apa yang sudah dipelajari dalam tujuh pertemuan: Bahwa manusia adalah makhluk yang menjadi terus menerus. Mempelajari manusia Renaisans bukan berarti kita harus membekukan diri dalam figur manusia semacam itu, pun dengan hal yang lainnya. 

Ada suatu paradigma yang rasanya bisa diusangkan, yakni manusia sebagai sentral segala sesuatu (seperti yang didengungkan Rene Descartes dan pemahaman Renaisans). Hal tersebut, dibahas Kang Ami, menjadikan manusia dan alam terpisah. Manusia melihat alam semesta sekitarnya hanya sebagai objek yang bisa diekploitasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Disinilah jalan masuk filsafat timur dan filsafat Heideggerian, yang mengritik bahwa kehancuran alam semesta hari demi hari, justru diakibatkan tidak adanya kesadaran tentang alam semesta ini sesungguhnya punya “rasa”, bisa bertindak sebagai subjek yang saling mengisi dengan subjek lainnya yaitu manusia. 

Orangtua jaman dahulu, seringkali dikisahkan, mereka menebar benih sambil menyanyi; membuat tahu sambil main kecapi. Hal yang oleh masyarakat modern dikatakan sebagai irasional, kata Kang Ami, justru punya nilai tersendiri. “Coba baca Celestine Prophecy untuk lebih memahami,” kata Kang Ami menyarankan pada Jae. Dari bacaan tersebut dan pengalaman-pengalaman lainnya, kita bisa tahu, -lanjut Kang Ami- bahwa ada tanaman yang hijau, yang tumbuh lebat, namun “kering”, dalam artian tidak ada cinta di dalamnya; tidak ada chemistry antara tanaman dan perawat (hal yang disebut Heidegger sebagai hubungan Besorgen, bukan Fuersorgen). Namun ada juga satu tanaman, misalnya bawang saja, yang dirawat dengan cinta kasih, maka bawang tersebut juga akan menimbulkan rasa nyaman bagi seluruh rumah tersebut. Hal tersebut, sekali lagi, hanya irasional dalam kacamata modernis. 

Kelas Filsafat untuk Pemula, mulai dari angkatan keempat ini, tidak akan menutup kelasnya hanya dengan pembagian sertifikat. Kang Ami mewanti-wanti dari awal, bahwa para peserta wajib menutupnya dengan tulisan renungan tentang re-definisi manusia itu sendiri. Kumpulan tulisan itu kemudian akan dibukukan. Sampai jumpa di angkatan berikutnya! 

Google Twitter FaceBook

Monday, July 9, 2012

Klab Filsafat Tobucil @Layarkita: Mishima (1985) dan Jeritan Anti-Modernitas

Senin, 9 Juli 2012



Klab Filsafat Tobucil, seperti biasa, menyempatkan diri sekali dalam sebulan untuk bergabung bersama komunitas Layarkita. Apa yang mereka selenggarakan? Yaitu acara nonton bareng rutin. Yang menjadi menarik bukanlah semata-mata nonton barengnya, tapi kualitas film yang sering disajikan oleh Layarkita itu sendiri. Filmnya bukan tipikal box office, melainkan film yang agaknya jauh dari hingar bingar pop-culture. Film yang bagus untuk dijadikan renungan. Film yang filosofis. 

Untuk tanggal 9 Juli itu, yang diputar adalah film garapan Paul Schrader yang berjudul Mishima. Film tahun 1985 itu adalah semacam autobiografi novelis Jepang yang cukup kontroversial bernama Yukio Mishima. Film berdurasi 121 menit ini, -yang musiknya digarap oleh komposer kenamaan Amerika, Philip Glass- dibagi dalam empat bagian: pertama, yaitu Beauty. Kedua, bagian Art. Ketiga, bagian Action. Lalu ditutup dengan bagian Harmony of Pen and Sword.

Film dimulai dengan adegan dimana Mishima tengah menjalani hari terakhirnya. Ia bersiap untuk melakukan coup d'etat terhadap militer Jepang yang dianggap pro-kapitalisme dan tidak lagi menganut nilai-nilai tradisi jepang seperti semangat bushido ataupun rasa hormat terhadap kaisar. Setelah itu,alur cerita menjadi flashback. Schrader hendak menjelaskan pelan-pelan bagaimana latar belakang hidup Mishima dari ia kecil, membentuk karakter, filosofi, jiwa seni, dan juga keputusan ia untuk mati dalam usia relatif muda.

Meskipun Mishima dikenal sebagai seorang penulis, namun Schrader tidak hendak memperlihatkan sisi karirnya yang itu. Schrader lebih suka menunjukkan bagaimana Mishima terus menerus merenungkan tentang tubuhnya. Mulai dari kegagapan ia di masa kecil, pengalamannya bersentuhan dengan wanita -mulai dari yang berstatus kekasih, hingga wanita tua yang "membeli" Mishima demi pembebasan hutang ibundanya-, ketekunannya dalam body building, hingga pembentukan ideologi anti-kapitalismenya. Di akhir cerita, ia berupaya menggoyang kapitalisme dengan melakukan persuasi terhadap militer. Ia gagal, dicemooh, dan sebagai konsekuensinya, Mishima melakukan seppuku (bunuh diri terhormat dengan menancapkan belati ke perut).

Hal tersebut menjadi bahasan cukup menarik. Pembahas dari Layarkita yakni Ronny P. Tjandra, memaparkan lebih banyak soal bagaimana etos kerja orang Jepang dari sisi nilai-nilai tradisi Samurai. Kata Pak Ronny, "Samurai itu, jika ia terbangun di pagi hari, ia harus merasa bahwa hari itu adalah hari kematiannya." Pak Ronny juga melanjutkan tesisnya tentang seppuku, "Hanya Jepang, yang mempunyai alasan bunuh diri bukan atas dasar putus asa, melainkan kehormatan." Pembicaraan berlanjut, hingga masuk ke pengaruh Mishima bagi orang Jepang hari ini. Bagaimanapun, kata Pak Ronny, meski novelnya cukup diakui, namun tindakan Mishima untuk melakukan seppuku, tetap menjadi pertanyaan banyak orang. Itulah yang menyebabkan, salah satunya, mengapa film Mishima baru boleh diputar di Jepang tahun 2005.

Mishima bukan film yang terlalu mudah untuk dicerna. Alurnya maju mundur secara cepat (kadang tanpa ancang-ancang) dengan cara berkisah yang tidak lazim untuk sebuah penceritaan autobiografi. Kita tidak akan menemukan perasaan-perasaan "tergugahkan" seperti selesai menonton film Gandhi, Che, atau bahkan Spartacus. Ada perasaan bingung bagaimana menyikapi "heroisme" Mishima yang begitu absurd dan seolah-olah meaningless

Namun ada konsep yang barangkali bisa dijadikan suplemen untuk memahami Mishima. Gerakannya menunjukkan suatu kritik tidak hanya bagi kapitalisme, tapi juga terhadap seni itu sendiri. Mengingatkan saya pada Rudolf Schwarzkogler dari aliran Austrian Actionism pada tahun 1969 (tepat setahun sebelum Mishima bunuh diri). Kala itu, ia memotong kemaluannya hingga meninggal. Ini bukan semata-mata suatu sikap sensasional, melainkan suatu bentuk protes terhadap tubuh yang oleh kapitalisme sudah dikooptasi, dijadikan apa yang disebut Herbert Marcuse sebagai one-dimensional-man. Ini juga suatu serangan terhadap kredo art for art's sake yang mewabah di Eropa,yang membuat seni seolah terpisah dan eksklusif dari masyarakat. Maka itu aksi menjadi tema utama, dengan tubuh manusia (tubuh sendiri) sebagai media ekspresinya. 

Inilah juga sekaligus "jalan terakhir" yang ditempuh Mishima dalam rangka menyelamatkan Jepang dari sikap anti-spiritualitas dan nilai-nilai tradisi. Mishima adalah satu dari sedikit orang yang masih mau berteriak menyuarakan kegilaan modernitas, meskipun jaring-jaring yang menjeratnya sudah terlalu kencang.

Google Twitter FaceBook

Tuesday, July 3, 2012

Klab Filsafat Tobucil: Mari Menyambut Ramadhan!

Senin, 2 Juli 2012

Setelah membahas sains yang cukup ketat di minggu lalu, Klab Filsafat Tobucil kali ini membuka bahasan yang lebih santai yaitu tentang bulan Ramadhan. Ini bukan berarti perbincangan agama lebih santai dari sains, melainkan bulan ramadhan lebih bisa dibicarakan secara keseharian bagi mereka terutama yang tinggal di Indonesia.

Mengapa? Karena bulan Ramadhan di Indonesia adalah bulan yang begitu “mencolok”. Soal suruhan berpuasa tentu saja itu tidak perlu dibicarakan lagi. Namun yang tidak kalah menghebohkan tentu saja urusan konsumerisme. Bahkan kenyataannya ya, harga-harga barang menjadi naik di bulan Ramadhan, karena kata Mba Upi, “Kita kerapkali merasa bahwa momen berbuka itu mestilah spesial.” Hal seperti ini yang dibahas mula-mula, yaitu kontradiksi bulan Ramadhan di Indonesia: Di sisi lain kita disuruh-Nya menahan nafsu, di sisi lain justru kita mengumbar nafsu via mengonsumsi dan mengonsumsi. 

Bulan Ramadhan juga terkadang menjadi problem tersendiri bagi mereka yang non-muslim. Bulan Ramadhan membuat mereka terkadang menjadi kesulitan mencari makan dan minum di luar karena himbauan (tak tertulis) bahwa warung makan seyogianya menghormati yang sedang berpuasa dengan cara tutup di waktu siang. Hal tersebut disebut oleh Irwan sebagai, “Juga kontradiksi dengan nilai berpuasa itu sendiri. Jika keimanan kita kuat, tentunya tidak perlu khawatir dengan godaan makanan di sekitar. Kita tidak bisa menyuruh orang lain tidak makan dan minum dengan alasan mereka harus menghargai kita.” 

Lantas Mba Upi membuka wacana diskusi yang menarik, “Puasanya orang Islam, kita disarankan makan yang manis-manis di kala berbuka. Ada juga puasa yang lain, yaitu puasa yoga, yang justru kita dilarang makan yang manis-manis. Bahkan durasinya lebih panjang: delapan belas jam. Inikan menjadi berbeda.” Adi Marsiella menambahkan, “Bahkan umat Katolik punya puasa yang pantangannya adalah: Dilarang melakukan apapun yang kita paling suka.” Obrolan yang bergeser ke arah reinterpretasi puasa ini membuat para peserta menyadari bahwa ternyata puasa ada dimana-mana. Bahkan di Islam sendiri, ketentuan puasa itu seringkali punya penafsirannya masing-masing. Misalnya, Sunni dan Syiah punya perbedaan dalam menafsir waktu berbuka. Sunni menyunahkan untuk menyegerakan berbuka, sedang Syiah menunggu hingga langit gelap. 

Iwan Izukage Syah (kiri) memaparkan pengalaman beragamanya.

Karena bicara penafsiran, obrolan menjadi melebar ke penafsiran-penafsiran di dalam Islam tentang segala hal. Pada sesi ini, Irwan mendadak tampil ke permukaan. Rupanya ia punya sejarah cukup panjang bagaimana agama pernah begitu melekat menjadi bagian dari kehidupannya. Irwan berkata bahwa amat wajar Islam menjadi beberapa cabang, karena banyak kalimat dalam Al-Qur’an dan hadits, tidak mungkin hanya bisa ditafsirkan dengan satu cara. Hal yang disinggung oleh Adi Marsiella sebagai, “Pada titik itu, kekuasaanlah yang mengambil alih. Tafsir siapa yang harusnya diambil, adalah tafsir penguasanya.” Obrolan ini cukup menggalaukan Aisyah yang kemudian ia bertanya, “Jadinya, Islam terbagi dalam berapa cabang?” Ikhlas kemudian menjawab dengan heroik, sekaligus menjadi konklusi cukup melegakan bagi semuanya, “Cabang dalam Islam, adalah sebanyak pemeluknya itu sendiri. Karena inilah konsekuensi dari nalar dan pengalaman manusia yang otentik.”
Google Twitter FaceBook

Sunday, July 1, 2012

Ketika Industri Indonesia Menodai Ska

Minggu, 1 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan pembicara Rahardianto. Ia adalah orang yang sama yang juga mempresentasikan tentang black metal dua bulan silam. Kali ini, pengetahuan musiknya yang luas mengajak para peserta untuk menyelami sejarah musik ska.

Rahardianto (Kanan)
Pada mulanya, pembahasan mengenai musik ska ini tidak menimbulkan ketertarikan. Alasannya, imej ska di Indonesia sudah dinodai oleh industri yang menghasilkan band-band seperti Tipe-X dan Tiger Clan. Namun kata Rahar, "Jangan khawatir, band seperti Tipe-X pun tidak terlalu dianggap serius di antara scene anak-anak ska." Dalam arti kata lain, Rahar akan memperlihatkan sejarah ska yang panjang dan tidak jarang juga mengusung misi-misi yang ideologis. Pada titik itu, barangkali kita bisa menilai bahwa ska pada mulanya tidak sedemikian punya imej hipster, setidaknya sebelum dijatuhkan oleh industri musik Indonesia.

Seperti biasa, Rahar menjelaskan kronologi musik ska ini secara runut. Pertama, ia hendak meluruskan persepsi kita bahwa reggae bukanlah akar segala musik di Jamaika. Justru ska lah yang menjadi akar dari reggae. Bahkan ska sendiri diawali oleh jenis musik lain yang bernama shuffle. Shuffle ini muncul di Jamaika dari sejak tahun 1950-an dan merupakan respons terhadap pengaruh-pengaruh "Barat" seperti jazz dan blues. Apa yang membuatnya jadi ska, adalah ditengarai sebagai hasil buah pikir Prince Buster. Ia mengubah musik yang tadinya downbeat menjadi upbeat, inilah yang menjadi kekuatan ska hingga hari ini. "Ska kekuatannya bukan di brass section, itu yang menjadi kekeliruan persepsi banyak orang," tambah Rahar. 

Prince Buster tadi memelopori apa yang dinamakan sebagai ska gelombang pertama (1st wave). Band lainnya, kata Rahar, adalah Desmond Dekker, Toot and The Maytals, dan Lord Tanamo. Setelah itu, Rahar sendiri masuk ke gelombang kedua (2nd wave) yang sering disebut juga sebagai two tone ska. Ska yang ini dikembangkan di Inggris dan digabungkan dengan punk. Band-band seperti The Specials, Madness, dan Bad Manners adalah beberapa pengusungnya. Two tone ska ini yang menurut Rahar punya pesan-pesan anti-rasisme. Two tone melambangkan hitam dan putih yang menggambarkan warna kulit. Terlihat dari personil band-nya yang memang seringkali diisi oleh personil dari kulit hitam maupun putih.

The Specials

Penjelasan Rahar yang berlangsung kurang lebih sejam ini, mengandung pengetahuan yang bergizi. Misalnya, ia menyelipkan skank, yaitu istilah untuk gaya tarian dalam merespon musik ska (bukan pogo yang selama ini kita kenal). Lalu juga istilah rude boys yang mengacu pada penggemar ska yang pada masa itu sering berdandan ala american gangster dan terlibat kriminal. Rahar juga menyinggung kemunculan 3rd wave yang muncul di AS pada sekitar tahun 80-an. 3rd wave ini pun terbagi dua wilayah, yang pertama adalah wilayah Bay Area yang lebih independen, yang kedua adalah wilayah Orange County yang notabene lebih ke arah industri. Setelah itu disinggung lebih banyak tentang perpaduan ska dengan musik-musik lain seperti skacore dan skajazz, sekaligus mempertanyakan kehadiran 4th wave yang belum sanggup dirumuskan oleh para kritikus.

Pemaparan Rahar ini membawa pada diskusi yang tak kalah menarik. Misalnya, Diecky begitu curiga bahwa musik seringkali direspon secara kreatif justru dari para kulit hitam. Ini sudah mulai sering didengungkan sejak perbincangan tentang blues, ragtime, dan jazz. Sekarang, cukup mengejutkan setelah ska ternyata juga dikembangkan oleh orang-orang kulit hitam. Jazzy mempercayai hal tersebut sebagai, "Setiap ada manusia berkumpul, pasti mereka menciptakan kultur. Ini agaknya lumrah dalam segala kondisi. Hanya patut diakui bahwa apa yang diusung oleh orang-orang kulit hitam ini survive. Menurut saya, ada kok kebudayaan yang tidak survive karena selain tidak dilanggengkan oleh kekuasaan, mereka sendiri tidak mempunyai 'kebagusan' dalam dirinya sendiri."

Memang pada akhirnya mesti diakui. Jika berbicara soal kekuasaan, biasanya kita bicara orang-orang kulit putih. Orang kulit putih seringkali "berjasa" dalam melakukan resureksi musik-musik orang kulit hitam. Dan tidak seperti dugaan banyak orang bahwa musik orang kulit hitam itu lantas dijadikan musik borjuis orang-orang kulit putih, kata Rahar justru orang kulit putih itu juga memakainya di kalangan working class alias buruh. 

Apa yang dipaparkan Rahar panjang lebar mengubah mindset para peserta diskusi 180 derajat. Membuat ska yang sempat dicap sebagai musik hipster di kalangan penggemar di Indonesia, ternyata punya sejarah panjang dan bernilai. Ini lagi-lagi sebuah kritik serius terhadap industri musik Indonesia yang seringkali tidak pernah menghasilkan band-band yang "mengerti" betul nilai-nilai historis. Walaupun ada, kata Rahar, seperti Jun Fan Gung Foo yang katanya cukup punya banyak referensi. Sekali lagi, ketika musik hanya ditujukan agar menjadi ledakan sesaat diantara para hipster, maka jangan sedih jika selera musik masyarakat juga timbul tenggelam, tidak ajek, dan -yang paling parah- tergantung pada apa yang dimaui industri.


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin