Senin, 27 Agustus 2012
Klab Filsafat Tobucil sore itu untuk pertama kalinya kedatangan dua
narasumber sekaligus. Narasumber pertama, untuk kedua kalinya, Tayo Sandono
bersedia untuk mengisinya –ini hampir selalu terjadi jika memang pembahasannya
punya kaitan dengan sains-. Narasumber kedua adalah muka baru tapi lama. Joko
Supriyadi sering hadir di pertemuan Madrasah Falsafah Sophia tahun-tahun silam,
namun untuk Klab Filsafat Tobucil ini ia baru pertama menghadirinya. Datang
dari Tangerang, ia mau menyempatkan untuk berbagi, bersama Tayo, tentang
Filsafat Fisika.
Tayo diberi kesempatan untuk
bicara duluan. Ia berpegang pada makalah yang ditulisnya sendiri dengan judul
“10 Masalah Filsafat Fisika”. Pada mulanya Tayo membedakan antara fisika dan
matematika. Perbedaan keduanya terutama, fisika berbicara tentang sesuatu yang
ada, sedangkan matematika yang tidak ada (tentu saja ada dan tidak ada disini
mengacu pada dunia empirik). Tayo kemudian memetakan bahwa ketika berbicara
tentang sesuatu yang ada, maka fisika juga “berkawan” dengan kimia, biologi,
psikologi, sosiologi dan juga kedokteran. Setelah menjernihkan istilah fisika
itu sendiri, Tayo memasuki beberapa tema besar yang biasa dibahas dalam
filsafat fisika:
- Kritik Einstein terhadap fisika kuantum.
- Pertanyaan: Mungkinkah rumus-rumus matematis bisa mewakili realitas fisika?
- Apakah kosmologi merupakan sebuah bidang ilmu fisika? Jika ya mengapa? Jika tidak, apa alasannya?
- Masalah penyatuan antara teori kuantum, teori Newton dan relativitas umum.
- Masalah waktu. Meski sudah dibuat standarnya, namun apa itu waktu tetap tidak berhenti dijadikan perdebatan.
- Kekaburan. Ilustrasinya seperti ini: Apakah seratus helai jerami dapat disebut satu tumpuk jerami? Jika bisa, bagaimana dengan 99 helai? Berapa helai yang dibutuhkan untuk status satu tumpuk jerami?
- Tentang kebermulaan alam semesta: Apakah ada awal waktu atau tidak?
- Kontradiksi Karl Popper: Ia mengatakan bahwa sains hanya dapat mendekati realitas, tidak dapat menggambarkan realitas sepenuhnya. Tapi sebaliknya ia mengatakan juga ada teori sains yang sudah mapan dan tidak perlu diganti.
- Penganut teori multijagad mengatakan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari tak terhingga alam semesta. Dalam arti kata lain, ada kembaran kita di alam semesta lain.
- Masalah epistemologi: Apakah betul kita dapat mengetahui “keinginan” alam semesta?
Pemaparan cukup panjang ini
mulanya dipahami secara tertatih-tatih terutama oleh peserta yang kurang akrab
dengan istilah seperti “kuantum” atau “relativitas”. Maka itu, agar tidak
terjebak pada istilah yang kurang umum bagi semua, pembahasan diawali dari
hakikat matematika. Bagi Sadhra, salah seorang peserta yang menggeluti fisika,
matematika adalah alat untuk melihat konsepsi di belakang sesuatu. Ketika
konsepsi itu bisa dipahami, maka matematika bisa mengajak untuk memahami lebih jauh,
misalnya: Menambahkan satu benda dengan benda lain, mengurangi, mengalikan,
dsb. Hal yang kemudian juga menimbulkan pertanyaan bagi Fio, “Bagaimana dengan
1 + 1 = 2 sendiri? Apakah konsensus juga bermain di belakang matematika?” Kata
Tayo, “Bisa saja 1 + 1 = 3, sah-sah saja. Tapi dampak bagi penghitungan yang
lain bagaimana?”
Sophan Ajie, mentor Klab Nulis
Tobucil yang kebetulan mengikuti diskusi, mengajukan beberapa pertanyaan, “Apa
yang tertinggi dari fisika? Maksudnya, lapisan yang paling inti, paling keras.
Dalam bahasa, yang tertinggi adalah diam. Dalam seni, yang tertinggi adalah
absurditas. Pertanyaan kedua, bagaimana cara menghumanisasikan sains?” Tayo
menjawab pertanyaan pertama Sophan dengan, “Determinisme. Paling ultimate dari fisika adalah kenyataan
bahwa alam semesta ini harus dipandang sebagai deterministik sebelum kita masuk
pada ranah hipotesis, eksperimen, dsb.” Sedangkan Mas Joko akhirnya angkat
bicara dengan menjawab pertanyaan yang kedua, “Bagaimana dengan tawaran yang
lain, alih-alih kita bicara humanisasi sains, mari mencoba saintifikasi
humaniora. Ada
penelitian yang mencoba memodifikasi respon emosi manusia terhadap apa yang
membuatnya bahagia ataupun sedih. Pada titik ini, sesungguhnya humanisme malah
bisa disaintifikasi.”
Mas Joko kemudian melanjutkan,
bahwa fisika sebenarnya sudah merupakan filsafat bagi dirinya sendiri. Dalam
arti kata lain, jika salah satu syarat filsafat haruslah menyentuh tiga problem
yaitu ontologi (hakikatnya), epistemologi (batas-batasnya) dan aksiologi
(manfaat praktisnya), maka dalam fisika ketiga-tiganya sudah terkandung. Orang
pertama-tama punya curiousity, lalu
melanjutkan kepenasaranannya dengan mengajukan hipotesis, lalu menyelidiki dan
membuktikan, serta pada ujungnya, ia memberi makna atau hakikat pada apa yang
sudah ia lakukan. Meski demikian, Ping
kemudian menyinggung bahwa curiousity
tidak semata-mata dipunyai fisika dan tidak semata-mata mesti dilanjutkan
secara fisika. Ada
banyak cara memenuhi curiosity, salah
satunya juga dengan seni.
Meski diskusi ini berpusat pada
sains, namun masing-masing peserta bisa mengungkapkan sudut pandangnya
masing-masing. Misalnya, Liky yang kekuatan pemahamannya ada pada ideologi
kiri, menyatakan bahwa dalam sains juga pastinya terkandung klaim-klaim
kekuasaan. Hal yang diakui sendiri oleh Ibu Fitri yang berasal dari latar
belakang sains, menyatakan bahwa diantara para saintis juga ada unsur-unsur
politik dan ekonomi. Menyimak dua pernyataan terakhir ini, bisa direlevansikan
dengan sebaris kalimat yang dicetuskan Nietzsche, “Penemuan sains didorong juga
oleh emosi dan intuisi, sehingga hasilnya kadang bertentangan dengan hakikat
sains itu sendiri,”
Minggu depan, Klab Filsafat Tobucil akan berkumpul di Layarkita.
Lokasinya IFI Bandung,
Jalan Purnawarman no. 32. Diskusi akan diawali dengan nonton bareng film
garapan Garin Nugroho berjudul Mata Tertutup. Gratis dan terbuka untuk umum.
Bookmark this post: |