24.1.13

Klab Filsafat Tobucil: Inner Galau

Karena Syarif tidak hadir, maka Irwan tampil sebagai moderator. Hal yang menjadi pembahasan adalah tulisan Syarif berjudul Seni dan Agama. Tulisan tersebut, atas usul Arden, diangkat dalam sebuah tema berjudul "Inner Galau". 

Sebelum berdiskusi, para peserta menyempatkan diri foto bersama.

Kelas dimulai dengan bagan empat pilar peradaban yang menurut Ping adalah seni, sains, agama dan filsafat. Wacana tersebut lantas disusul dengan pertanyaan.: Apa ada tengah antara keempatnya, yang menyatukan empat pilar tersebut? Pertanyaan ini cukup sulit dijawab secara langsung, sehingga masing-masing berupaya menjawab dengan berbagi pengalaman secara acak. Misalnya, Tisqa Titis, yang datang dari Jakarta khusus untuk mengikuti diskusi, melontarkan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan topik, "Bagaimana sesungguhnya awal mula sebuah kata menemukan makna?" Kemudian Rudi menyusul. Ia menceritakan kegalauannya  di masa SD, ketika gurunya mempertanyakan tentang alasan Rudi beragama. Irwan, dipicu sebuah game, ternyata bisa juga membawanya pada makna kehidupan. Kharisma tak mau kalah, ia juga mempertanyakan esensi dari keragaman definisi. Dengan perangkat tersebut: Bahasa, alasan hidup, makna hidup, dan esensi atas definisi, perjalanan pencarian tengah antara keempat pilar pun bergulir.



Setelah menampung sejumlah curhat, ternyata ada semacam "kesepakatan" bahwa bahasa adalah perangkat penting dari masing-masing pilar. Sains mengedepankan bahasa yang tertata dalam metodologi ilmiahnya. Seni dengan bahasa estetikanya baik rupa, suara maupun lisan dan tulisan. Demikian halnya dengan filsafat. Ia tentunya tak bisa lepas dari bahasa dalam penyampaiannya. Arden kemudian mengungkapkan bahwa dalam salah satu agama Timur Tengah yaitu Islam, dijabarkan bagaimana wahyu hanya turun berdasarkan bahasa yang dimengerti umatnya. 

Pembahasan mengenai bahasa kemudian menggiring diskusi ke pembicaraan bahwa dalam hubungannya dengan fungsi otak. Bahasa menempati kedua belahan otak yaitu kiri dan kanan. Otak kiri bertugas menjadi wadah perbendaharaan bahasa, sedangkan otak kanan mengemban fungsi kreatif untuk memilih satu kata dari sekian perbendaharaan untuk diaplikasikan dalam kalimat. Ia menyesuaikan diri dengan lawan bicara yang dihadapi, tergantung kondisi lingkungan dia berada, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Satu hal yang pasti: bahasa itu sendiri sangat tergantung dengan kesepakatan para pengguna bahasa untuk dapat memaknai suatu hal. Maka mungkin dengan begitulah cara kata menemukan makna, yang mana tidak lain adalah kesepakatan simbolisasi suara atas dalam menandai sesuatu. 

Pembahasan berjalan mengalir, yang walau senantiasa berusaha berdiri di atas rel tema diskusi, tidak menutup kemungkinan untuk berjalan kemanapun obrolan membawa. Di tengah-tengah obrolan menarik tersebut, Tisqa Titis terpaksa undur diri karena harus pulang ke Jakarta. Setelah kepergian Titis yang disayangkan banyak pihak ini, topik kembali pada keempat pilar. Forum berusaha melakukan brain mapping dalam menentukan kata apa yang memiliki makna lebih universal namun tetap esensial untuk mewakili keempat pilar. Munculah kata-kata seperti keindahan yang mewakili seni, ketenangan dan kebenaran yang mewakili religi, kepastian mewakili sains, dan kata kebijaksanaan yang mewakili filsafat. Kata-kata tersebut kemudian ditukar-tukar dan disandingkan dengan pilar-pilar yang lainnya. Hasilnya ternyata tidak terlalu masalah. Sains, bahkan, pada tingkatan tertentu, kalaupun itu tingkatan minimal, terkandung di dalamnya keindahan. Bahkan Irwan menambahkan bahwa kemungkinannya sangat besar para ilmuwan menemukan keindahan dari hal-hal yang bersifat empiris. Sementara seni, dalam tingkatan tertentu terkandung di dalamnya kebijaksanaan dan kebenaran. Bisa jadi tidak melulu bicara tentang kebijaksanaan moral, namun juga dalam kebijaksanaannya dalam memilih satu warna antara ribuan warna lainnya. 

Kata kebijaksanaan adalah kata yang cukup menguras waktu dalam pembahasannya.. Sebagian sepakat bahwa kebijaksanaan ditentukan oleh banyaknya variabel pilihan pertimbangan sebagai dasar pengambilan keputusan atas suatu tindakan (dimana diam pun adalah tindakan). Semakin banyak kuantitas pertimbangannya, semakin bijaksana kualitas keputusannya. Pendapat lain mengatakan bahwa kebijaksanaan adalah sesuatu yang melalui pemikiran mendalam. Dan pendapat lain mengatakan tentang pengalaman dan wawasan yang luas. Ketika kembali lagi ke bagan empat pilar, ternyata mencari tengah antara keempatnya cukup menguras energi. Pembahasan malah sempat menyinggung kata paradoks, spiral energi, dan menyinggung pula masalah ada dan tiada. 

Diskusi akhirnya berakhir dengan menyisakan ruang kosong. Sebuah ruang kosong yang semoga selalu ada, sehingga kebijaksanaan akan selalu memiliki wadah untuk dia tempati.. Karena siapa tahu, mungkin "kosong" itu sendirilah yang mampu menyatukan keempat pilar tersebut. Atau, seperti kata Irwan, mungkinkah yang tengah adalah manusia?

Ayam Salam bin Alam





NB: Di berbagai kebudayaan dan di berbagai kenyataan. Apa sih yang menarik dari spiral-spiral itu?



Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin