7.1.13

Klab Filsafat Tobucil: Resolusi

Senin, 7 Januari 2013

Untuk pertama kalinya sejak 17 Desember tahun kemarin, Klab Filsafat Tobucil berkumpul kembali. Sehubungan dengan pertemuan ini diadakan di awal tahun, maka tema yang dirasa tepat adalah soal resolusi. Meski ini adalah pertemuan pertama setelah sekian lama tidak jumpa, namun para peserta diskusi tidak sebanyak biasanya. Yang hadir hanya ada Ping, Rudy, Freddy, Kape, Satrio dan Rachmat.

Diskusi dimulai dengan mempertanyakan apakah diantara kita yang hadir disini ada yang membuat resolusi untuk tahun 2013? Semua menggeleng kepala. Mereka memilih untuk menjalani hidup mengalir seperti air. Tanpa rencana. Nunuw menukas, memecah kebuntuan, "Saya makin kesini agak males bikin resolusi. Karena dari sekian banyak yang saya rencanakan, hanya segelintir yang tercapai." Nunuw menceritakan juga bahwa ada kawannya yang sedemikian tergila-gila pada resolusi. Ia memampangkan sejumlah target di kamarnya, untuk kemudian dituliskan sejauh mana rencana itu direalisasikan. Ada juga, masih kata Nunuw, orang yang sedemikian mengalir. Merasa bahwa yang terpenting adalah merebut hari ini.

Namun jika melepaskan diri dari konteks tahun baru, adakah setiap saat kita membuat resolusi? Para peserta yang tadinya serentak menggeleng, sekarang kompak mengangguk. Kata Satrio, "Jika resolusi adalah sama dengan harapan, tentu saja kita menciptakan harapan baru setiap harinya." Hal demikian juga diakui Rudy yang rajin menciptakan resolusi-resolusi pendek alih-alih yang tahunan. Ia setuju dengan Ping, yang mana mengutip Heidegger, "Seyogianya kita setiap hari bersikap seperti pemula. Menjadikan setiap yang kita lakukan adalah seperti dilakukan pertama kali. Maka itu kehidupan menjadi terbuka, menampakkan dirinya."

Ini tentu saja bertentangan dengan mereka yang membuat resolusi dengan mengupayakan bahwa segala sesuatunya harus terlaksana tanpa celah. Setidaknya, resolusi yang dibuat, harus punya pori-pori seperti yang diungkap oleh Wina via BBM ke hape Freddy: 

"Kalau gua pribadi sih bisa bikin rencana, tapi nggak menutup untuk improvisasi, kadang suka spontan juga. Jadi gua lebih menikmati hidup, nggak kaku, santai tapi ada tujuan. Resolusi, harapan, tujuan atau apalah itu namanya, cuma perlu tiga hal: fokus, fokus, dan fokus. Selepasnya? santai, improvisasi, spontanitas, buat hidup penuh kejutan."

Karena sepertinya obrolan mengenai resolusi itu sendiri tidak bisa banyak diperbincangkan secara filosofis, maka diskusi beralih tentang resolusi Klab Filsafat Tobucil di tahun 2013. Rencana pertama adalah mengadakan Pesta Filsuf yang merupakan warisan dari Madrasah Falsafah Sophia -klab filsafat sebelumnya-. Setelah itu, Klab Filsafat Tobucil juga berencana menyusun jadwal secara bulanan agar lebih sistematis.  

Minggu depan, Klab Filsafat Tobucil akan mengadakan nonton bareng film Sunset Limited yang melibatkan aktor Samuel Jackson dan Tommy Lee Jones.
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin