15.1.13

Klab Filsafat Tobucil: The Sunset Limited

Senin, 14 Januari 2013

Setelah lama tidak mengapresiasi film pasca Waiting for Godot beberapa bulan lalu, Klab Filsafat Tobucil kembali memutar film di berandanya. Kali ini adalah film yang diusulkan oleh Irwan. Judulnya The Sunset Limited.


The Sunset Limited bukanlah film yang menawan mata. Ia hanya berisikan dialog antara dua orang sepanjang filmnya. Film tahun 2011 ini diperankan oleh Tommy Lee Jones sebagai White dan Samuel L. Jackson sebagai Black. Alasan Irwan membawa fim ini, katanya, "Ada beberapa bagian yang tidak saya pahami meski sudah menonton berulang kali. Semoga dengan diskusi ini, saya bisa memahami bagian-bagian yang luput tersebut." 

Film berdurasi sembilan puluh menit itu berkisah tentang seorang profesor (yang tidak disebutkan namanya dalam film, namun di kredit akhir diberi julukan White) yang gagal dalam upayanya bunuh diri. Kegagalan tersebut -entah bagaimana- membawanya pada ruangan apartemen tempat Black tinggal. Mereka berdua berbincang terutama mengenai tema-tema yang sifatnya eksistensial seperti kematian, agama, etika, dan realitas sosial. Ditunjukkan dengan gamblang tentang posisi keduanya: White adalah seorang ateis tulen, sedangkan Black, ia adalah seorang teis yang mencapai keyakinannya lewat sebuah perjalanan panjang dan berliku -secara tersirat ditunjukkan bahwa ia pernah dipenjara karena kasus pembunuhan-. White dan Black berbincang, saling bertukar pandangan, dan dialog-dialog bergizi tersebut yang dijadikan bahan diskusi.

Yang menarik dari film The Sunset Limited -salah satunya- adalah cara pandang kedua tokoh tersebut tentang etika. Misalnya, Black melihat kebaikan manusia sebagai hakiki, dan keburukan menjadi semacam cacat. Sedangkan White, ia melihat dunia ini berisi keburukan dimana-mana. Ia sendiri bahkan mengaku jarang sekali punya perasaan happy. Hidupnya, bagi dirinya sendiri, adalah sebuah kesalahan, sebuah tragedi. "Bagi saya, hidup itu ya dualisme. Ia tidak berhakikat kebaikan ataupun keburukan. Keduanya saling mengadakan satu sama lain," ujar Irwan, yang diiyakan dua pendatang baru: Patrick dan Jamal. Bahkan dua nama terakhir ini mengakui bahwa lingkungan dan kekuasaan punya andil serius dalam menentukan baik dan buruk. Namun hal semacam ini juga menyisakan pertanyaan: Kita hanya mengatakan bahwa lingkungan dan kekuasaan menentukan individu, namun dari mana lingkungan dan kekuasaan ia mengetahui kebaikan dan keburukan? Apakah semata-mata cuma kesewenang-wenangan belaka?

Meski disinggung dalam film tersebut tentang "kepercayaan kaum ateis", yang mengganti Tuhan dengan misalnya kebenaran-kebenaran lain yang diyakininya -film tersebut menunjukkan kepercayaan White pada buku-buku sejarah, namun ia tidak mempercayai Bibel. Hal ini ditentang Black sebagai "ketimpangan", karena meyakini buku satu benar padahal buku lain tidak hanya berdasarkan asumsi keimanan-, namun hal ini tidak diangkat dalam diskusi. Pembahasan masuk juga ke seputar siapa sesungguhnya diantara White dan Black yang "mengingkari takdirnya": Apakah seorang ateis berupaya mati-matian menggugat Tuhan tidak ada padahal bertentangan dengan hati nuraninya, atau seorang teis berupaya percaya pada Tuhan padahal hati nuraninya mengarah pada keyakinan bahwa Tuhan tidak ada?




Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin