28.1.13

Klab Filsafat Tobucil@Layarkita: Memasuki Godard lewat Brecht

Senin, 28 Januari 2013


Klab Filsafat Tobucil, seperti biasa, selalu meluangkan setidaknya satu kali dalam sebulan untuk mengapresiasi film di IFI - Bandung. Pemutaran film yang diselenggarakan oleh Layarkita ini menampilkan sejumlah film yang tidak terlalu umum diputar di bioskop-bioskop. Kali ini, yang ditampilkan adalah film Bande à part (1964) karya Jean Luc Godard.

Film ini sesungguhnya cukup singkat, hanya sekitar 97 menit. Namun sudah menjadi karakteristik film-film Godard, bahwa apa yang ditampilkannya cenderung membuat penonton merasa bosan. Hal itu terasa dari cerita film yang tidak mempunyai gravitasi -atau dalam arti kata lain, tidak mempunyai kejelasan akan "jatuh ke mana", dialog yang absurd, dan teknik pengambilan gambar yang cenderung eksperimental. Walhasil, meski pada mulanya sempat tertawa-tawa karena terdapat banyak adegan lucu, namun menjelang satu jam film, satu per satu penonton mulai kehilangan konsentrasi bahkan beberapa diantaranya memilih keluar ruangan.

Bande à part berpusat pada tiga tokoh yaitu seorang perempuan bernama Odile (Ana Karina), dan dua orang pria bernama Franz (Sami Frey) dan Arthur (Claude Brasseur). Hubungan ketiga ini sekilas menyerupai hubungan romantika berbentuk segitiga. Namun ternyata Franz dan Arthur menyimpan kepentingan untuk mencuri harta milik tante Odile bernama Victoria (Louisa Colpeyn). Mereka bertiga pergi bersama-sama untuk mengalami sensasi antara romansa dan intrik sekaligus. Di film ini juga terdapat sejumlah adegan yang cukup monumental, diantaranya adegan one minute silence dimana ketiga tokoh ini hanya berdiam selama kurang lebih satu menit, adegan Madison scene ketika ketiganya menari bersama, dan Louvre scene yaitu di saat ketiganya berlari mengelili Museum Louvre di Paris dalam waktu sembilan menit. Dua adegan monumental yang disebutkan pertama dapat dilihat kemiripannya dengan adegan di dalam film Pulp Fiction.

Setelah selesai film tersebut diputar, terjadi diskusi menarik yang dimuai dari pertanyaan, "Bagaimana cara mengapresiasi film semacam ini?" Salah seorang peserta menjawab dengan ragu-ragu, "Apakah dari ceritanya yang jenaka?" Peserta lain menjawab, "Apakah dari teknik pengambilan gambarnya yang terkadang mengejutkan?" Lainnya lagi tidak berkata lebih lanjut dan hanya menyebut, "Aneh."

Godard tergabung dalam suatu aliran dalam sejarah sinema Prancis yang bernama French New Wave (La Nouvelle Vague). Bersama dengan orang-orang seperti François Truffaut, Éric Rohmer, dan Claude Chabrol, mereka mengaplikasikan suatu teori bernama auteur theory. Teori ini mengatakan bahwa sebagaimana halnya karya seni lainnya yang mana pemilik hak cipta adalah pembuatnya (misal: pemilik hak cipta sebuah novel adalah penulisnya, pemilik hak cipta sebuah karya rupa adalah pelukisnya, dst.) maka film pun harusnya menjadi penuh milik si sutradara. Sebagai konsekuensi logis dari pemikiran semacam itu, maka sutradara menjadi berhak untuk melakukan segala eksperimentasi terhadap film karena film tersebut memang merupakan wadah untuk meluapkan ekspresi-ekspresinya.

Walhasil, sutradara semisal Godard, memang memperlakukan filmnya seperti seni yang menganut kredo art for art's sake: ketika seni yang adiluhung adalah seni yang jauh dari fungsi praktis. Seni yang tinggi adalah seni yang digarap dengan tujuan pencapaian artistik setinggi-tingginya dan lepas dari kepentingan apa pun -Kant menyebut salah satu ciri seni tinggi haruslah disinterestedness-. Ia tidak membuat filmnya untuk tujuan praktis seperti menghibur, membuat terenyuh, atau memotivasi. Ia membuatnya untuk kepentingan keindahan semata.

Godard kemudian lebih banyak bereksperimen dengan segala hal yang berkaitan dengan teknik. Ia tidak mau terpaku pada hal-hal "di luar film" seperti cerita, music scoring, ataupun akting. Hal-hal yang luaran ini hanya sebagai bumbu, selebihnya ia mencoba memaksimalisasi apa yang murni dipunyai oleh film yaitu teknik montage dan mise-en-scène. Godard seringkali menggunakan angle yang mengejutkan, melakukan editing yang tak diduga-duga, dan bahkan membuat "keanehan-keanehan" semisal tiba-tiba hening tanpa suara sedikitpun dalam adegan one minute silence atau dalam film lain berjudul Alphaville, Godard tiba-tiba membuat gambarnya menjadi citra negatif seperti dalam rol kamera.

Setelah memahami auteur theory, cara lain memasuki Godard adalah dengan memahami teori teater Berthold Brecht. Brecht menentang teori sebelumnya yang digagas oleh Constantin Stanislavski yang mengatakan bahwa teater yang baik haruslah menghanyutkan, melodramatik, dibuat seolah-olah penonton terlibat bahkan harus tidak merasakan bahwa ini adalah sebuah teater. Sedangkan Brecht sebaliknya. Ia menganggap teater haruslah punya jarak. Penonton harus dibuat tetap menyadari bahwa ini hanyalah teater. Agar apa? Kata Brecht, "Ketidakterlibatan dalam emosi ini akan membuat penonton senantiasa kritis." Cara untuk menciptakan jarak itu misalnya dengan penggunaan narator, akting yang menunjukkan "bahwa ia memang tengah berakting" -tidak seperti kredo Stanislavian yang mana akting adalah sebuah kegiatan internalisasi diri dengan penghayatan sempurna-, adegan-adegan "aneh" yang surealistik, hingga apa yang disebut breaking the fourth wall yaitu momen ketika aktor berbicara pada penonton. Kesemuanya itu adalah upaya dari Brecht -yang juga ditiru Godard- untuk menciptakan suatu jarak kritis antara seni dan apresiator.

Setelah dipaparkan teori Brecht ini, sejumlah peserta diskusi menjadi paham mengapa film Bande à part berulangkali menggagalkan ekspektasi para penonton. "Ketika saya mengira ini film romantik, langsung dipatahkan oleh sutradara dengan menunjukkan bahwa ini film tentang kriminal. Ketika menyimpulkan bahwa ini film kriminal, langsung ia ganti temanya dengan bumbu-bumbu komedi. Teris menerus kita dibuat bingung," kata seorang peserta bernama Dini. Godard tidak memberi kesempatan bagi penonton untuk menghanyutkan diri bersama film. Ia terus menerus menciptakan jarak kritis. Hal ini ditambah pula dengan metode-metode Brechtian yang lain seperti penggunaan narator, aktor yang lebih banyak bermain gestur daripada penghayatan diri, serta adegan-adegan sureal yang kata Pak Moko, "Tidak mungkin terjadi di dunia nyata."


Ping, salah seorang peserta lain, punya kesimpulan menarik yang sejalan dengan apa yang diungkap oleh Pak Moko, "Mengapresiasi film yang baik kadang-kadang adalah dengan tanpa ekspektasi. Bagai anak kecil, kita justru menanti kejutan demi kejutan apa yang disajikan." Hal itu ditambahkan Andika dengan menggarisbawahi film tertentu saja. "Karena ada film yang sedari awal, diakui atau tidak, ia sudah menciptakan suatu ekpektasi. Seperti halnya film romantic comedy yang dari awal kita sudah tahu bahwa kedua orang ini akan saling jatuh cinta di kemudian hari. Namun khusus film semacam Godard, memang tanpa ekpektasi adalah cara yang paling efektif. Saya sendiri, tentang film ini, meski membuat ngantuk, namun sangat menikmati teknik-teknik pengambilan gambarnya," ujarnya.

Jadi, ketika ada film yang justru setelah lama kita tonton tidak membuat hanyut sama sekali. Curigai bahwa ia mengandung konsep Brechtian.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin