25.1.13

Klab Nulis: Penokohan

Jumat, 25 Januari 2013

Tanpa Sophan dan Puji, dua tutor andalan Klab Nulis, kelas harus tetap berlanjut. Imbasnya, secara darurat, saya yang didaulat menjadi pengajar. Hanya ada dua peserta yang menghadiri Klab Nulis hari itu yakni Ibu Shuang dan Aziz. Satu orang lagi adalah peserta dadakan yang sebelumnya tidak punya maksud mengikuti kelas, namun menjadi ikut karena kebetulan sedang duduk-duduk di beranda. Pirhot Nababan, demikian namanya, bahkan menjadi ikut aktif dalam mencatat. 

Topik hari itu, sesuai amanat Sophan, adalah tentang penokohan. Namun sesaat sebelum kelas mulai, Ibu Shuan mengajukan complain. Katanya, "Klab Nulis ini sering sekali berganti-ganti tutor sehingga penyampaian materi menjadi kurang sistematis. Lalu khusus Sophan, ia berulangkali berjanji untuk mengirimkan e-mail pada saya terkait dengan materi yang sudah pernah disampaikan, namun ia selalu ingkar. Hingga hari ini ia tidak pernah mengirim." Keluhan ini memang ada benarnya. Sophan sering sekali mengirimkan tutor lain secara mendadak. Imbasnya, tutor dadakan sering sekali tidak menerima informasi yang cukup tentang kesinambungan materi. Walhasil, para peserta pun mendapati materi yang tidak berkorelasi antara satu dengan lainnya.

Tentang penokohan, saya memulai dengan pertanyaan, siapakah tokoh favorit para peserta? Baik Ibu Shuang maupun Aziz, keduanya sulit untuk menjawab karena begitu banyak tokoh yang disukainya. Aziz akhirnya mengambil contoh dari komik. Ia menyebut nama Hanamichi Sakuragi dari komik Slam Dunk. Alasannya, "Ia contoh pribadi yang nakal tapi baik hati." Pirhot menyebut nama Darth Vader dari film Star Wars, seorang antagonis yang menyadari pilihannya mengikuti dark side. "Meski demikian," lanjut Pirhot, "Darth Vader tetap mempunyai rasa sayang pada anaknya. Ia mengajak sang anak untuk bersama-sama menguasai galaksi." 

Umumnya, orang menentukan dulu ceritanya seperti apa, lalu kemudian membuat tokoh-tokoh yang terlibat. Tapi bisa juga dicoba untuk dibalik. Bagaimana jika tokoh terlebih dahulu yang dibuat, untuk kemudian tokoh itu sendiri yang menentukan cerita. Ini disetujui oleh Ibu Shuang. Katanya, "Memang saya sering sekali membuat tokoh dulu alih-alih ceritanya. Saya yakin, tokoh yang kuat akan juga menghasilkan cerita yang kuat."

Pembahasan kemudian berkembang menjadi membahas tentang eksistensialisme. Tentang bagaimana sesungguhnya tokoh itu bisa saja menarik, selama memang bisa menyajikan dirinya dalam situasi yang otentik. Maksudnya, tugas pengarang salah satunya justru memberikan perspektif baru tentang eksistensi si tokoh. Misalnya, jika seorang ustad secara stereotip adalah orang yang rajin berbuat kebaikan. Maka akan lebih menarik jika pengarang sanggup memaparkan sisi buruk -baca: sisi manusiawi- seorang ustad. Ada juga penjahat yang secara stereotip kerap bersikap buruk, bisa ditampilkan juga sisi lain yang sanggup membuat pembaca terenyuh. "Contohnya," Pirhot mencoba menangkap, "Film Godfather mungkin ya." Ia memaparkan bahwa secara stereotip, tentu saja mafia adalah organisasi kejahatan. Namun dalam film itu, ditunjukkan sisi yang lain, misalnya, "Bagaimana mafia tersebut digambarkan cinta keluarga, menghargai perempuan, dan selalu menepati janji."


Kelas ditutup dengan pekerjaan rumah. Para peserta diminta untuk membuat tokoh secara detail, -sedemikian detailnya- sehingga sanggup menjadi sentral cerita untuk cerpen yang akan menjadi tugas akhir Klab Nulis.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin