12.2.13

Klab Filsafat Tobucil: A Separation (2011)

Senin, 11 Februari 2013

Dua minggu sebelum pertemuan ini, Klab Filsafat Tobucil selalu merangsang pertemuannya lewat media film.  Setelah Bande à part dan Waking Life menjadi bahan diskusi, Klab Filsafat Tobucil masih saja mengawali perjumpaannya dengan menonton film di pertemuan Senin kemarin. Sulhan mengusulkan A Separation (2011), sebuah film asal Iran, untuk diangkat menjadi bahasan.

Menurut pengakuan Sulhan, si pemberi usul, film ini menarik karena mengangkat topik mengenai kejujuran. Ia mempertanyakan dua kutub etika yang seringkali bertentangan yakni etika teleologis dan etika deontologis. Gugatan ini ia ajukan lewat pertanyaan dalam tulisannya: Apakah anda akan berbohong demi keselamatan anda sendiri atau tidak berbohong karena itu adalah dosa? 

Etika teleologis berarti melakukan segala sesuatu karena konsekuensi. Misal: Berbohong itu dikatakan baik jika dilakukan demi perbuatan baik -Sulhan, dalam tulisannya, menyebut dengan white lie-. Etika utilitarian masuk ke dalam kategori teleologis. Etika deontologis persis kebalikannya, kita melakukan segala sesuatu karena memang sesuatu itu kita ketahui mengandung hal yang tidak baik. Misal: Kita tidak korupsi karena tahu korupsi itu, dalam pemahaman kita, tidak mempunyai kebaikan -kita tidak sungguh-sungguh mengetahui konsekuensinya-. Etika imperatif kategoris Kant dan etika dalam agama bisa dimasukkan ke dalam deontologis.

Pembahasan berlanjut dengan pemaparan dari Irwan, "Ada perbedaan antara kejujuran dan kebenaran. Kejujuran artinya berkata sesuatu berdasarkan apa yang kita ketahui. Kebenaran artinya berkata sesuatu berdasarkan fakta yang disepakati secara komunal." Arden mempertanyakan, bagaimana kita memahami sesuatu yang komunal? Dari mana? Dari mana munculnya "fakta". Obrolan ini menjadi jatuh pada kritik terhadap etika teleologis. Bagaimana kita mengetahui kebenaran dari suatu konsekuensi, jika kita sendiri tidak punya kontrol akan konsekuensi yang kita hasilkan dari suatu perbuatan?

Misal, Ping mencontohkan pengalamannya dalam bermain Sbobet, sebuah permainan online. "Tendangan penjuru dalam sebuah permainan sepakbola adalah hal yang remeh dibandingkan nilai sebuah gol. Tapi petaruh yang mempertaruhkan jumlah corner hidupnya bisa berubah gara-gara satu atau dua corner yang terjadi dalam pertandingan," ujarnya yang ditimpali oleh Irwan dengan istilah yang lebih terkenal: buterfly effect. Konsekuensi dari etika teleologis ini tidak mudah sama sekali untuk diperhitungkan. Bisa jadi kita mempertimbangkan A dengan konsekuensi B, ternyata jadinya malah C, D, dan hal-hal lain yang justru sama sekali di luar bayangan. "Bahkan, kita berdiam diri tak melakukan apa pun, bisa jadi masalah besar untuk orang lain," timpal Arden.

Demikian halnya dengan kejujuran seperti topik awal yang dilontarkan Sulhan. Ketika kita melakukan white lie, maka konsekuensi itu sendiri tidak pernah satu dan linear. Selalu ada konsekuensi-konsekuensi di luar perhitungan. Apakah itu artinya, kita harus kembali pada kenyataan bahwa berbohong adalah sesuatu yang selalu tidak boleh dilakukan?

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin