18.2.13

Klab Filsafat Tobucil: Teknologi

Senin, 18 Februari 2013

 

Klab Filsafat Tobucil sore itu untuk ketiga kalinya meminta Irwan Syah untuk berbagi. Pertama, ia pernah berbagi pengetahuannya yang cukup mendalam tentang game. Kedua, ia juga cukup punya pengalaman tentang keagamaan ketika KFT berbincang mengenai Ramadhan. Ketiga, Irwan sepertinya cukup menyiapkan diri ketika ia diminta berbicara mengenai teknologi.

Menyikapi penugasannya untuk berbicara tentang teknologi ini, Irwan memulainya justru dengan meminimalisasi penggunaan teknologi. Bagaimana caranya? Alih-alih menggunakan seperangkat teknologi canggih seperti power point, laptop, dan proyektor, ia memilih memakai kertas yang ditulisi di atasnya poin-poin pemaparan (poin tersebut ditulis oleh pulpen). Irwan, dengan bermodalkan kertas lecek bergaris di tangannya, memaparkan dengan fasih sejumlah renungan mengenai teknologi baik yang dikutip maupun menurut dirinya sendiri. Misalnya, ia mengutip pada salah satu filsuf yang cukup peduli perihal teknologi yaitu Martin Heidegger. Irwan berkata tentang physis dan poiesis. Katanya, "physis adalah kecenderungan benda-benda yang berada secara natural seperti bunga atau pohon. Ia tidak bisa diketahui secara jelas esensi dan eksistensinya. Sartre menyebutnya dengan etre en soi. Sedangkan poiesis adalah aktifitas praktikal dalam mencipta -yang erat kaitannya dengan teknologi-. Dalam poiesis, eksistensi cukup jelas yaitu proses eksternalisasi ide sehingga jadi benda. Esensinya juga jelas yaitu tujuan dari benda itu diciptakan."

Tidak berhenti disitu, Irwan juga kemudian memaparkan tentang konsep deus ex machina. Pada mulanya, deus ex machina adalah istilah yang muncul dari dunia teater. Biasanya deus ex machina adalah tokoh yang muncul sebagai penyelamat di saat-saat genting. Kenapa menggunakan istilah machina atau mesin? Karena kemunculannya seringkali menggunakan bantuan mesin -seperti dikatrol dari atas atau naik dari bagian bawah panggung-. Konsep tersebut bersambung pada apa yang dipaparkan Irwan, "Manusia dapat menjadi dewa dengan bantuan teknologi, yaitu ketika semua limitasi organnya sudah terlewati dengan bantuan teknologi. Seperti penggunaan handphone, ia membuat manusia dapat melewati limitasi organnya. Ia dapat berkomunikasi dengan seseorang ribuan kilometer jauhnya." Namun, lanjut Irwan, konsep deux ex machina ini menimbulkan masalah. Yaitu jenjang antara yang memiliki akses terhadap teknologi dan yang tidak menjadi semakin melebar. Karena ya itu tadi, yang memiliki akses terhadap teknologi merasa dirinya sanggup menjadi dewa.

Setelah pemaparan cukup panjang dari Irwan, diskusi mulai dengan memaparkan pemaparan masing-masing tentang pengalamannya bersentuhan dengan teknologi. Rudy angkat bicara pertama kali dengan memerhatikan bahwa di sekitarnya sungguh bertebaran orang-orang yang duduk berdekatan tapi tanpa bertegur sapa dan hanya sibuk dengan gadget-nya. "Memang teknologi bisa membantu manusia, tapi ia kemudian bisa mendehumanisasi manusia juga," ujarnya. Dini kemudian dengan lantang menentang Heidegger yang mengatakan tentang "benda yang teronggok begitu saja". Kata Heidegger, kita sadar bahwa kita sedang menggunakan teknologi, setelah justru ketika teknologi itu rusak. Dini membantah dengan mengatakan bahwa ia sering menamai benda-benda di sekitarnya sehingga teknologi menjadi terpersonifikasi. Teknologi menjadi dekat dengan perasaannya. "Dengan demikian, ketika dia rusak, saya tidak serta menganggapnya hanya sebagai benda. Saya akan melihatnya sebagai seseorang yang sakit. Saya akan memperbaiki sekaligus mendoakan dan menyayangi."

Irwan kemudian menimpali lagi. Menyebutkan bahwa apa yang Dini lakukan adalah investasi emosi. Kadang-kadang ini terjadi ketika teknologi bersentuhan dengan aspek-aspek emosional seperti kerja keras atau hubungannya dengan cerita romantika tertentu. "Namun," kata Kape, "Ini tidak berkaitan betul-betul dengan si teknologi, karena kita bisa menginvestasikan emosi pada hal apapun." Arden kemudian juga mengaitkan antara teknologi dengan estetika. Teknologi, dulu, adalah alat untuk berkesenian. Misal: Pelukis menggunakan teknologi kanvas dan kuas, pemusik menggunakan teknologi gitar dan piano. Namun sekarang, teknologi sendiri menentukan estetika. Ia bisa memanipulasi dan mereproduksi karya.

Menanggapi hal itu, lagi-lagi Irwan memberi pernyataan manis, "Dulu Aristoteles menyebutnya dengan techne. Orang yang ahli dalam hal-hal teknis, akan sekaligus juga terampil di bidang seni seperti pematung atau pengrajin guci. Tapi era modern memberi pemisahan bahwa mereka yang berkutat di bidang techne adalah tukang. Tukang berbeda dengan seniman yang menciptakan sesuatu tanpa fungsi praktis dan hanya untuk seni itu sendiri. Sekarang, dengan keberadaan teknologi, orang kembali bias dikotomi antara tukang dan seniman. Mereka yang bisa menguasai teknologi dapat menjadi tukang sekaligus seniman."

Diskusi dilanjut hingga larut, membahas Artificial Intelligence...

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin