5.3.13

Klab Filsafat Tobucil: Cita-Cita

Senin, 4 Maret 2013

Akibat hujan deras yang mengguyur, hingga pukul enam peserta Klab Filsafat Tobucil belum beranjak dari jumlah empat. Ada Iqbal, Ping, Nino, dan Syarif duduk di beranda berharap ada orang datang lagi. Namun, ketika waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas, diskusi diputuskan untuk dimulai dengan orang seadanya. Topik yang dilontarkan justru berasal dari orang yang belum hadir, namanya Nugraha Sugiarta alias Nunuw. Topik apa gerangan yang ia ingin diskusikan? Yakni: Cita-cita.

Diskusi dimulai dengan mempertanyakan cita-cita masing-masing di masa kecil. Iqbal mengaku dari kecil tidak pernah punya cita-cita yang itu-itu saja. "Aku selalu bermain dalam imajinasi. Aku tidak punya cita-cita, dan bahkan hingga sekarang masih bersikap seperti anak kecil," tegasnya. Ping secara mengejutkan mengaku bahwa cita-citanya sedari kecil adalah menjadi pastur. Mengapa? Ia menjawab spontan, "Karena sepertinya dalam perjamuan, ia makan roti dan anggur paling banyak." Ketika ditanya, apakah sekarang masih bercita-cita menjadi pastur? Ping menjawab, "Tidak, setelah saya mengenal cinta." Maksudnya, ia menyadari bahwa keinginannya untuk mempunyai pacar pastilah bertentangan dengan cita-cita menjadi pastur yang salah satu syaratnya adalah dilarang menikah. Sedangkan Nino, secara serius menjawab bahwa cita-citanya sedari kecil adalah tentara. Cita-cita tersebut bahkan terus menerus diupayakan agar terwujud bahkan hingga lulus SMA. "Namun cita-cita tersebut kandas karena kebetulan tentara waktu itu tidak menerima lulusan IPS!" akunya. 


Kemudian timbul pertanyaan: Apakah cita-cita itu harus selalu berkaitan dengan yang realistis? Atau cita-cita itu justru apa saja, tidak terikat oleh apapun? Iqbal punya pernyataan yang menarik, bahwa cita-cita itu harus "dalam bayangan pun tervisualisasikan" -ia punya kesamaan dengan cipta ataupun citra-. Iqbal seolah bersikap menentang posmodernisme yang pasti menjawab bahwa cita-cita adalah hasil konstruksi kekuasaan. Kata Iqbal -yang cukup menarik-, "Cita-cita itu pasti berkaitan dengan sesuatu yang 'menyihir', secara metafisis ia persuasif bagi orang banyak." Meski terdengar absurd, namun Iqbal memberikan sejumlah contoh yang cukup meyakinkan: pilot, presiden, musisi, dokter, atau apapun yang berkaitan dengan "tangan penyihir", pasti dijadikan cita-cita. Dengan sudut pandang yang menarik, Iqbal menyoroti bahwa tangan selalu menjadi sentral dalam cita-cita. Meski tidak langsung bisa dipahami, namun gaya berpikir semacam ini cukup lain juga -mengingat arus posmodernisme yang sedang tren sehingga apa-apa langsung dituduh sebagai konstruksi-.

Nugraha Sugiarta.
Setelah waktu hampir menunjukkan pukul tujuh, barulah sang pemasalah, Nunuw hadir. Setelah Nunuw, Arden dan Satrio datang menyusul sehingga jumlah kami sekarang menjadi tujuh. Karena perasaan bersalah akibat datang terlambat, Nunuw langsung duduk dan memulai pembicaraan. Kegelisahannya akan cita-cita disebabkan oleh benturannya dengan realitas. Misalnya, ia punya cita-cita menulis buku A. Namun di tengah jalan, ketika proses penulisan, selalu saja ada yang bertanya, "Memangnya bakal laku?" Nunuw seringkali menjawab antara ragu dan yakin, "Sepertinya sih bakal laku!" Kata "sepertinya" ini, kata Nunuw, menjadi faktor penting dalam upaya seseorang mengejar cita-cita. "Harusnya mungkin," kata Nunuw berefleksi, "Cita-cita itu mestilah lepas dari faktor-faktor riil. Ia dikejar dengan gairah, dengan passion. Karena gairah dan passion inilah maka hidup menjadi berharga. Cita-cita itu jangan-jangan tidak pernah berkaitan dengan tercapai tidaknya. Justru cita-cita digantung setinggi langit agar kita naik terus menerus." 

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin