19.3.13

Klab Filsafat Tobucil: Puisi

Senin, 18 Maret 2013

Seharusnya, Klab Filsafat Tobucil sore itu, atas dasar usulan Arden, membahas soal cinta. Namun ketika hendak memulai diskusi, tiba-tiba para peserta setuju untuk mengganti topiknya dengan "puisi". Kata Kape yang juga disetujui Rudy, "Membahas cinta itu terlalu luas. Bisa-bisa segala hal yang dibicarakan jadi cinta." Forum pun menyatakan kata sepakat.


Pendapat itu dicetuskan bukan tanpa sebab tertentu. Setelah dibacakan sebuah puisi karya Rabindranath Tagore yang berjudul Jalan Pilihan, Rachmat tiba-tiba mengusulkan untuk secara spesifik membahas puisi. Pembahasan ini kemudian menarik Mba Upi -yang pernah ikut serta dalam antologi puisi Rona Kata- untuk duduk dan ikut berdiskusi. Mba Upi menyebutkan bahwa puisi, bagi dia adalah, "Suatu medium untuk menyembunyikan perasaan." Pengakuan ini dirasa mengejutkan ketika bagi Dini misalnya, puisi justru merupakan medium untuk mengungkapkan perasaan. "Dibandingkan dengan prosa atau drama, pengungkapan dengan puisi justru memang lebih singkat tapi sekaligus juga sulit karena dikurung oleh bahasa yang 'harus sedikit," tutur Dini yang ditimpali oleh Kape dengan kata, "Harus efisien." Meski demikian, efisiensi ini tentu saja tidak bisa diterapkan begitu saja pada puisi-puisi semisal milik Rabindranath Tagore, Kahlil Gibran, atau Goenawan Mohamad sekalipun. Mereka biasa bertutur panjang yang Mas Daus katakan sebagai "puisi yang prosais" atau "prosa yang puitis". 

Kemudian muncul pertanyaan: Apa yang membuat puisi menjadi indah? Beberapa mengatakan bukan dari maknanya, melainkan struktur kalimatnya. Namun ada juga puisi seperti yang biasa ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, yang justru berasal dari struktur kalimat yang sederhana, namun punya makna yang "entah kenapa sedemikian punya daya magi" -demikian Ijal dan Dini seolah kompak melukiskan kehebatan puisi Sapardi-. Remy Sylado dalam Puisi Mbeling malah bertindak sangat ekstrim dengan memasukkan rangkaian penyusunan kalimat (menjadi bentuk tertentu) sebagai bagian dari puisi juga. Hal ini sudah pernah dilakukan oleh seorang Prancis bernama Guillaume Apollinaire. Ijal kemudian terinspirasi sesuatu setelah Rudy membacakan puisi miliknya sendiri. Katanya, "jeda" pun merupakan bagian dari sentra-estetika dalam puisi. Dini mengiyakan hal tersebut ketika Mas Daus pernah mengritik puisi miliknya karena ada kalimat yang terlalu panjang sehingga kurang baik dalam menghasilkan jeda. 

Kemudian pembahasan menjadi sedikit lebih mendalam setelah membahas Heidegger yang menyebutkan "language is the house of being" alias "bahasa adalah rumah dari ada". Bagi Heidegger, diantara sejumlah bentuk kesenian, puisi lah yang paling "tepat" dalam menghadirkan "yang ada". Bagi Heidegger, puisi sangat mampu untuk "berkelit" ke balik-balik fenomena untuk secara presisi mengangkat yang "yang ada". Arden kemudian memahami maksud Heidegger ini dengan mengatakan, "Memang bahasa itu selalu berupaya merepresentasi kenyataan, tapi sialnya kenyataan itu sendiri tak pernah mampu tersentuh oleh bahasa. Bahasa menarik karena ia selalu tentang persitegangan antara yang tidak ada dengan yang ada." 

Bahkan, Arden juga berpendapat bahwa dalam setiap orang berbicara, seringkali ia melibatkan tangannya untuk membantu bicara. Kata Arden, "Orang bicara itu biasa, hanya kata-kata. Jangan-jangan yang puisi adalah gerakan tangannya." Kalimat yang muncul dari Arden tersebut menimbulkan permenungan tentang bagaimana ternyata masing-masing orang punya caranya sendiri untuk mengungkap kerinduan terhadap "yang ada". Selain dengan puisi, orang punya musik untuk mengungkapkan "yang ada" -Mazzani berkata, "Music is the harmonious voice of creation; an echo of the invisible world."-, seni rupa, teater, bahkan ada tingkat yang paling dasar: gerakan tangannya dan "ketebalan" verbal. Maka itu, seperti kata Pak Bambang, "Seorang relijius yang mengatakan 'Tuhan itu ada' dengan seorang Sigmund Freud yang melalui pencarian panjang lantas berkata hal serupa, pastilah punya 'ketebalan' yang berbeda meski sama-sama berkata 'Tuhan itu ada'." Itulah mengapa barangkali, ungkapan "yang ada" via puisi selalu lebih tebal daripada yang diungkapkan kata-kata non-puitik.


Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin