11.3.13

Klab Filsafat Tobucil: Tao

Senin, 11 Maret 2013

Arden (kiri) menjadi pemasalah dalam diskusi mengenai Tao.
Klab Filsafat Tobucil mendadak berbenah diri. Maksudnya, para peserta datang tepat waktu dan menyiapkan topik yang dirasa lebih berbobot dari biasanya. Ada apa gerangan? Karena katanya, akan ada tiga orang asal Jakarta yang khusus datang ke Tobucil untuk mengikuti diskusi. Maka itu Klab Filsafat Tobucil merasa perlu untuk "menyambut" para tamu itu dengan lebih "berdandan". Namun apa mau dikata, tiga orang Jakarta yang dinanti ini ternyata tak kunjung hadir. Usut punya usut, mereka baru berangkat dari Jakarta jam lima. Padahal, diskusi dimulai pukul lima! Meski demikian, Arden tetap berbagi materi berjudul Tao.

Arden kemudian memulai pemaparannya dengan sebuah "prolog" yang panjang. Ia memulai dari mengisahkan tentang "penemu" Taoisme yang bernama Lao Tzu, "Namun jangan salah, Lao Tzu ini kita tidak bisa sebut sebagai penemu dalam arti sebenarnya. Para filsuf di Cina era sekitar 500 - 700 tahun sebelum masehi memang bertebaran mengemukakan pemikirannya masing-masing. Namun mereka mengakui -termasuk diantaranya Konfusius- bahwa pemikirannya adalah buah dari interpretasi terhadap Kitab Perubahan yang jauh lebih kuno dan terkenal dengan sebutan I Ching." Latar belakang sejarahnya pun dibahas, tentang bagaimana Cina pada masa itu mengalami satu masa yang amat carut marut dari segi politik dan ekonomi. Dampaknya, sejumlah orang menjadi merasa perlu untuk merumuskan kembali filsafat hidup orang-orang Cina untuk menata kembali kehidupan mereka yang terpuruk. Lao Tzu dan Konfusius adalah dua orang diantara para filsuf itu yang paling terkenal.

Namun Lao Tzu dan Konfusius, lanjut Arden, tidaklah sejalan dari segi pemikiran. Jika Konfusius mengajarkan banyak tentang bagaimana bertindak praktis dalam keseharian, justru Lao Tzu sangat metafisik dan susah sekali untuk menangkap apa yang dimaksud dari perkataan-perkataannya. Salah satu yang demikian multi-interpretatif adalah konsep mengenai Tao itu sendiri. Kata Arden, "Lao Tzu menganggap ada entitas yang mendasari semua ini yang tak mampu kita cerap. Ia terpaksa menamainya dengan 'Tao' agar mudah. Namun -disini letak paradoksnya- ia juga mengatakan bahwa Tao itu tidak bernama." Artinya, Lao Tzu seolah hendak mengatakan bahwa bahasa boleh digunakan untuk menamai sesuatu. Tapi "sesuatu" itu sesungguhnya melampaui bahasa. 

Arden juga mengingatkan "bahaya" dalam pemahaman mengenai Yin-Yang. Pertama, Yin-Yang sudah ada jauh sebelum Taoisme. Lao Tzu hanya melakukan interpretasi ulang tentang melihat bahwa segala sesuatu dalam dunia ini sesungguhnya bersifat dualistik. "Nah, bahayanya adalah ketika kita merasa harus memilih diantara dualisme itu: baik-buruk, hitam-putih, kiri-kanan, kaya-miskin, dst." Padahal, lanjut Arden, Lao Tzu mau mengingatkan tentang "yang tengah", yang berada di antara dualisme itu. Arden kemudian dengan cekatan menunjukkan sejumlah gambar yang mempunyai kaitan dengan Yin-Yang, dalam bentuk lingkaran yang berputar sehingga membentuk spiral -untuk lalu menunjuk pada spiral yang salah satunya ada dalam tanduk unicorn-. Ia juga menyuguhkan gambar roda yang menunjukkan bahwa, "Lao Tzu ingin agar kita seperti roda. Bukan berposisi di jari-jarinya, tapi di bagian tengahnya. Di posisi itu, seseorang menjadi stabil dan tidak ikut dalam putaran." 

Arden menunjuk sejumlah gambar roda.

Diskusi sendiri tidak berlangsung terlalu sengit karena rata-rata para peserta terlihat lebih asyik mendengarkan. Hanya beberapa yang aktif untuk berpendapat. Misalnya, Junaedi mempunyai pendapat cukup panjang, tentang kesamaan antara mistisisme ala Tao dengan Sunda Wiwitan. Rudy juga terlihat bersemangat dalam memaparkan Buddhisme Zen yang merupakan sintesis antara Taoisme dan Buddhisme. Kata Rudy, "Buddhisme mengajarkan disiplin, Taoisme mengajarkan paradoks bahasa. Keduanya bertemu menjadi Buddhisme Zen yang disiplinnya justru adalah melalui paradoks bahasa." 
Tak cukup dengan menyuguhkan gambar, Arden pun menggambar sendiri.
Meski diskusi tampak tidak terlalu seru, tapi peserta membawa pulang hal yang cukup penting: Pada tingkat mistisisme, sesungguhnya banyak agama-agama mencapai kesepahaman. Keributan biasa terjadi pada tingkat permukaan seperti ritual dan kitab suci.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin