26.3.13

Klab Filsafat Tobucil@Kongkow Buku: Perjalanan ke Titik Nol bersama Agustinus Wibowo

Senin, 25 Maret 2013

Selain sesekali mengunjungi komunitas LayarKita untuk diskusi film, ternyata Klab Filsafat Tobucil juga mempunyai inisiatif untuk mengikuti acara diskusi buku yang bernama Kongkow Buku. Artinya, Klab Filsafat Tobucil sekali dalam sebulan tidak berdiskusi di Tobucil saja melainkan menyambangi komunitas lain. Buku yang dibahas kali ini adalah buku karya Agustinus Wibowo yang berjudul Titik Nol.

Acara yang dimoderatori oleh Tobing Jr. itu diadakan di Kampus STIKOM. Kongkow Buku mewajibkan para peserta yang akan mengikuti diskusi untuk membaca bukunya terlebih dahulu sehingga diskusi dapat berlangsung lebih lancar dan mendalam. Buku Titik Nol adalah buku tentang perjalanan Agustinus Wibowo mengunjungi sejumlah negara seperti Nepal, Cina, Mongol, India, dan Pakistan. Yang menarik dari Titik Nol bukan hanya terletak dari deskripsi-deskripsi penulis tentang negara yang "tidak umum", melainkan juga gaya penceritaannya yang sangat sastrawi sehingga menghasilkan respon emosional yang cukup kuat. Dalam Titik Nol, Agustinus mendeskripsikan kondisi ibunya yang pada masa itu tengah sakit keras. Untuk menghiburnya, penulis membacakan catatan harian perjalanannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun pada ibunya yang terbaring di ranjang.

Acara diskusi itu pun berlangsung menarik. Agustinus memulainya dengan menyanggah bahwa travel writing adalah kegiatan yang dianggap orang sangat menyenangkan. "Mungkin orang beranggapan bahwa kegiatan saya ini sangat menyenangkan karena dibiayai untuk jalan-jalan," katanya. "Namun," ujarnya, "sebenarnya perjalanan semacam ini tidak mudah dan penuh bahaya. Terlebih lagi ketika saya menuliskan Titik Nol, saya sedang berada dalam fase yang sangat emosional karena harus menghadapi kenyataan bahwa ibu sedang sakit keras." Agustinus juga menyatakan perjuangannya tidak hanya ketika dalam perjalanan, melainkan juga ketika meyakinkan orangtuanya bahwa pilihan hidupnya untuk melakukan perjalanan adalah suatu prinsip yang tidak bisa ditawar. "Orang-orang Tionghoa percaya bahwa hidup yang baik adalah kestabilan. Dengan kepergian saya jalan-jalan yang tak bertujuan, tentu saja hal ini bertentangan dengan prinsip hidup dalam tradisi kami."

Agustinus Wibowo (kiri) dan moderator Tobing Jr.
Pemaparan dari Agustinus ini berlangsung cukup singkat. Setelah itu, Tobing mempersilakan para peserta untuk bertanya atau berkomentar apa saja berkaitan dengan buku Titik Nol ini. Ada yang berkomentar tentang betapa kagumnya ia terhadap gaya penulisan dari Agustinus. Ada juga yang bertanya seperti misalnya, "Apakah yang dimaksud dengan titik nol?", "Apa pendapat Mas Agus ketika orang ke luar negeri punya tujuan mengunjungi objek wisata?", "Bagaimana pandangan politik Mas Agus tentang negeri Tibet?", "Apakah Mas Agus punya tujuan menjadi penulis sebelum jalan-jalan, atau setelah jalan-jalan kemudian memutuskan untuk menulis?", "Mas Agus dulu pergi untuk membuktikan bahwa Mas Agus tidak takut keluar rumah. Sekarang, ketakutan apa yang tersisa dari Mas Agus?", "Bagaimana cara Mas Agus menguasai banyak bahasa?".

Keseluruhan pertanyaan tersebut dijawab satu per satu oleh Agustinus dengan sabar dan sekaligus mendetail. Secara umum Agustinus menyatakan bahwa kepergiannya untuk jalan-jalan tidak didasari oleh suatu kepentingan praktis. Ia hendak mengatakan bahwa inilah passion-nya sedari lama. Kemudian terselip suatu pesan yang sangat menarik darinya, "Jika kamu pergi untuk mencari sesuatu, maka paling banter kamu akan mendapatkan sesuatu itu (itupun kalau dapat). Tapi jika kamu pergi dengan tidak mengikatkan diri pada tujuan yang spesifik, kamu akan mendapat lebih banyak kejadian yang tak terduga dan memberimu pelajaran."

Syarif Maulana

Para personil Klab Filsafat Tobucil.

Google Twitter FaceBook

No comments:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin